cara cepat menjadi penulis

3 Cara Agar Naskah Novel Kamu Cepat Terbit!

Jujur ya, dibandingkan penulis buku nonfiksi, penulis novel fiksi jauh lebih berat perjuangannya. Serius ini.

Kok bisa?

Apalagi temen-temen penulis yang ikut jalur reguler: mengandalkan garapan novelnya dan hendak diterbitkan penerbit mayor. Ini saya kasih sedikit bocoran ya. Andai di meja redaksi dalam satu minggu mendapat kiriman naskah nonfiksi sebanyak 25 naskah, itu dalam waktu yang sama, ada kiriman 50-75 naskah novel fiksi? Padahal ya, jumlah terbitnya berbanding terbalik lho. Kalau buku nonfiksi bisa terbit 4 judul. Lha itu novel fiksi hanya terbit 2 judul saja!

Apakah naskah novel fiksi jelek-jelek? Sampai penerbit tidak memilih banyakin terbitkan novel? Bukan soal naskahnya saja, melainkan juga porsi modal untuk menerbitkannya. Faktanya, data penjualan buku masih menunjukkan, bahwa menerbitkan novel fiksi itu masih kayak gambling saja.

Kok bisa begitu?
Ini saya bicara dari sisi pasar buku di toko dulu ya. Novel seringkali dipengaruhi oleh musim temanya. Ketika tema religi lagi rame, semua menulis tema religi. Begitu sudah banjir novel religi, ya sudah tenggelam. Lalu pindah lagi tema K-Pop, dan semakin banjir novel-novelnya, dan akhirnya pun habis. Siklus tema yang cepat ini membuat penerbit kudu lebih jeli dan seleksi dalam memilih naskah novel. Jangan sampai sudah terbit, eh malah menumpuk di gudang.

Karena tema yang cepat berlalu seperti itu di toko, maka penerbit juga kejar-kejaran untuk memenuhi naskah novel tema tersebut. Jadi naskah novel yang sudah terlanjur masuk di email redaksi dan tidak sesuai temanya, ya maaf, tersingkir. Logis banget.

Lha emangnya kalau mengajukan tema lain tidak bakal diterbitkan?

Bisa saja terbit, asalkan penulisnya sudah terkenal lho ya. Bhahaha … maaf. Karena memang faktanya seperti itu. Bahkan beberapa penulis yang sudah terbukti jagoan dan hasil jualan novelnya tinggi, pasti dipesan itu naskahnya. Justru redaksi yang menunggu naskahnya. Bahkan diberikan uang muka royalti jauh sebelum naskahnya rampung digarap. Ups!

Lalu gimana solusinya biar penulis novel fiksi bisa cepat naik daun dan tidak terlalu berat perjuangannya di dunia perbukuan?

Pertama, ikuti lomba dan jadilah juara. Ini tidak main-main. Karena siapa pun yang lolos menang di lomba, itu adalah bukti nyata kalau dirinya sudah lolos soal penggarapan ide dan teruji keterampilan menulisnya. Satu lagi yang pasti, namanya bakal terangkat lewat juara itu. Ini adalah modal awal yang menarik buat temen-temen penulis novel.

Ikuti saja lomba-lomba menulis novel tingkat nasional, ataupun tingkat penerbit (maksudnya penerbit yang mengadakan lomba). Itu adalah cara keren untuk melambungkan karya dan juga nama penulis. Temen-temen harus akui, bahwa untuk menjadi penulis, kita butuh daya ungkit. Nah, menjadi juara lomba ini adalah daya ungkit yang paling pas dan keren. Tapi gimana kalau sudah ikut lomba dan tidak menang? Silakan langsung belajar pada para juaranya ya.

Fakta: redaksi penerbit benar-benar meminta naskah dari para pemenang lomba. Selain naskah pemenang lomba diterbitkan, naskah baru mereka juga ditunggu-tunggu untuk diterbitkan juga!

Kedua, cara yang akhir-akhir ini mulai rame di Indonesia. Apa itu? Ya, menulislah di media online dan kumpulkan banyak-banyak komentar pembaca. Cek apakah mereka menyukai cerita yang kalian buat atau tidak? Ini bisa melalui grup online, atau media lain seperti blog, akun FB/IG, atau juga Wattpad.

Intinya adalah buat uji coba atas tulisan kalian sendiri. Semakin banyak peminat jalan ceritanya, otomatis semakin menarik untuk diterbitkan. Tentu saja ini kudu jujur ya, seperti follower harus benar-benar follower murni, bukan abal-abal. Bhahaha ….

Kenapa harus lakukan uji coba tulisan seperti itu?

Saya kasih bocoran ya. Begini, dulu ada sebuah penerbit besar yang ingin menerbitkan novel remaja. Nah, mereka telah menerima setidaknya puluhan naskah. Dari semua naskah, dipilih 10 naskah yang menurut mereka bagus. Kemudian dari 10 naskah itu, untuk seleksi lagi, mereka mengundang anak-anak remaja (SMP dan SMA) ke kantor mereka. Untuk apa? Ya, untuk ikut menyeleksi 10 naskah itu. Mereka dibayar lho. Hasil pilihan dari merekalah yang akhirnya diterbitkan. Serius, ini benar-benar terjadi sebelum zamannya novel Wattpad rame lho.

Artinya apa?

Jelas, tulisan kalian harus diuji dulu melalui lomba maupun melalui media bebas agar dibaca lebih banyak orang. Silakan cek itu sekarang ada lomba novel dari penerbit besar yang memberikan syarat unik: posting tulisan kalian di website mereka dan siapa pemenang pilihan pembaca? Ialah tulisan mereka—di website itu—yang jumlah likes, reviews, dan ratingnya tertinggi!

Kalau zaman dulu, penerbit melakukan seperti itu dengan cara membayar kepada para pembaca awal, sekarang semuanya telah disediakan free melalui website!

Bukankah itu sebuah peluang? Daripada kirim naskah ke email penerbit dan sama-sama ‘buta’ dengan pasar novel, ya mendingan ikutan yang begitu itu. Nah, karena tulisan ini bukanlah media online dari lomba tersebut, jadinya ya silakan cari sendiri ya informasi lombanya. Bhahaha ….

Ketiga, ini yang terakhir deh, cara cepat agar kalian teruji dalam membuat naskah novel fiksi. Ikutilah komunitas penulis dengan jumlah anggota yang banyak dan mereka adalah pembaca aktif. Kalau ada 6.000 anggotanya, setidaknya ada ratusan dari mereka yang suka membaca dan yang terpenting: mau kasih komentar yang membangun atas tulisan kamu. Atau, gabung di komunitas penulis dengan jumlah anggota sedikit, tetapi isinya para penulis andal.

Dari proses awal itu, kalian bisa melihat respon awal orang lain setelah membaca naskah kalian. Jadi, ketika naskah diberikan kepada penerbit, kalian bisa memberikan data riil atas respon naskah kalian. Redaksi penerbit tidak repot-repot menilai secara detail, karena kalian sudah memberikan data respon dari pembaca. Atau, jika beruntung, justru redaksi penerbitlah yang akan meminta naskah kalian langsung.

Fakta: banyak editor yang sekarang gabung di komunitas penulis dan mencari-cari penulis berbakat serta naskah-naskah yang layak terbit.

Jadi, kalau kalian pakai cara lama dengan berdiam diri di rumah dan garap naskah sendirian, lalu kirim begitu saja ke redaksi penerbit, ya perjuangan kalian bakal berat banget. Itu cara lama, cara reguler, cara konvensional banget.

Coba pakai cara-cara di atas, itu pun masih lumayan berat lho berjuangnya. Ya kan? Apalagi sekarang banyak penulis novel fiksi yang baca tulisan ini dan bareng-bareng melakukan hal yang sama. Bhahaha ….

Fakta: untuk bisa bertahan menjadi penulis, kalian jangan hanya mengandalkan keterampilan menulis saja. Karena bagi seorang penulis, keterampilan menulis itu sudah menjadi kewajaran dan bahkan kewajiban, bukan keunggulan!

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan