Peringatan: tulisan ini mengandung nyinyiran setajam silet, jika gampang baper mending baca artikel lain.

Hayoo, siapa yang sudah kebelet banget pengin punya buku? Biar disebut penulis, ya? Entah apa sih enaknya jadi penulis, sehingga begitu banyak banget peminatnya yang kian tumbuh di tiap harinya.

Nah, untuk kamu yang mau menjadi seorang penulis beneran, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan, loh. Sila disimak!

Tidak Membaca.

“Lah, kan mau jadi penulis, bukan pembaca,” kilahmu.

Baiklah, mulai sekarang kamu tulis atau ketik naskahmu dengan mata terpejam, ya! Jelas tidak akan bisa tanpa membaca. Entah kamu sadar atau tidak, ketika kamu menuangkan opini, argumentasi, atau kisah-kisahmu pada sebuah media baik itu kertas nyata atau dari aplikasi, kamu akan membaca tulisanmu sendiri. Iya, nggak?

Ah, gimana mau jadi penulis beneran kalau dengar perintah membaca saja sudah malas-malasan gitu. Sudah, jadi pembaca saja!

Tidak Riset.

Untuk menjadi seorang penulis kudu-wajib hukumnya menjadi periset.

“Ribet juga, ya!” komentarmu.

Jika sampai sini saja sudah merasa terbebani, sudah urungkan saja niatmu untuk menjadi penulis. Aku serius. Jangan sepelehkan proses ini, bisa fatal akibatnya.

Tulisan apa pun itu, mau nonfiksi atau fiksi harus dengan riset terlebih dahulu.

Contoh tulisan tanpa riset:

Tiket pesawat sudah kupegang, sudah cukup lama aku menunggu di Stasiun Adisutjipto ini. Namun, pesawat yang seharusnya menjemput pun tak kunjung take off. Padahal aku harus melakukan penerbangan Jakarta-Amerika dan harus sampai di sana satu jam lagi.                   

Bagaimana setelah membaca paragraf di atas? Kalau kalian berpikiran penulisnya bodoh, ya itu sah-sah saja. Nah, itulah perlunya kita menjadi periset terlebih dahulu sebelum menjadi penulis.

Tidak Terima Kritik.

Sudah tidak mau riset, terus tidak terima dikritik pula. Ampun, deh.

Sampai bingung sendiri mau ditulis apa di poin ini. Perlu kalian ketahui, di balik dari nama penulis-penulis yang bukunya sering berada di rak TOP TEN, ada seseorang yang siap untuk memberi kritikan pada buku mereka, entah itu anak, suami, istri, teman, kerabat, siapa pun itu. Dengan begitu, kita akan tahu, apa yang harus disesuaikan lagi, mungkin ada pembahasan yang kurang pas, dan lain sebagainya.

Caranya gampang, sodorkan naskah yang kita garap, lalu cari orang yang memang minat baca, suruh deh dia nilai naskah kita. Di saat seperti itu, lapangkan hati dan pikiran untuk menampung segala penilaiannya.

Ini baru memiliki followers 1K di akun media menulis saja sudah melangit, bahkan sampai tidak terima ketika dikritik oleh editor sekalipun, yang notabene partner untuk naskahnya, dan untuk kebaikan kedepannya. Ckckck.

Tidak Sabar.

Selain sabar akan kritikan, seorang penulis juga harus sabar menanti kabar dari redaksi, apa pun itu baik penerbit atau media cetak. Biasanya memang ada beberapa penerbit yang sudah memberikan informasi lengkap perihal kabar konfirmasi atau pemberitahuan. Nah, tugas kita hanya menunggu, ya kecuali kalau memang kabar tersebut sudah lama banget, ya layak untuk ditanyakan.

Ada kejadian kocak, cerita dari seorang editor kalau ada seorang penulis pemula yang ingin menerbitkan bukunya, baru satu hari naskahnya dikirimkan, dia sudah bawel menanyakan kapan terbitnya, padahal untuk kepastian diterima atau tidaknya belum ada. Alhasil, ya naskah tersebut dikembalikan. Karena orang-orang seperti ini akan mengganggu jalannya sistem kerekdasian.

Tips ya, kalau sudah kirim naskah, sebaiknya lupakan buat naskah lainnya. Daripada jalan di tempat hanya mengurusi satu naskah, tidak akan berkembang nantinya. Tenang, rezeki tidak akan ke mana, kok.

Jadi, kalau mau cari pendamping, carilah penulis andal, karena sabarnya kebangetan. Eaaaa ….

Tidak Menulis dengan Baik dan Benar.

Pernah ada inbox masuk:

Aj4r1 akU doNg, Aq maw Jd peNuliS nich.

Atau.

Kk, gmn y spy aq bs nls bgs kyk kk?

Apa yang kalian rasakan setelah membaca tulisan di atas? Kening secara otomatis berkerut? Ya, sama.

Nah, mulai sekarang ubah, ganti, bila perlu buang kebiasaan menulis seperti di atas kalau mau jadi penulis beneran. Itu bukan seni! Sama sekali bukan.

Biasakanlah menulis dengan baik dan benar. Karena menulis bukan hanya soal bakat, tapi keterampilan. Layaknya sebuah pisau, yang semakin diasah akan semakin tajam, begitu juga dengan menulis (hal ini pun berlaku untuk semua keterampilan) semakin rutin menulis, maka akan semakin luwes jemari dan pikirannya dalam bermain kata-kata.

Bagaimana mau jadi penulis kalau membaca saja ogah?

Bagaimana mau jadi penulis kalau riset saja merasa ribet?

Bagaimana mau jadi penulis kalau dikritik saja panik?

Bagaimana mau jadi penulis kalau sabarnya saja pudar?

Bagaimana mau jadi penulis kalau tulisannya saja miris?

Kalau untuk pertanyaan di awal, apa sih enaknya menjadi penulis? Jawabannya ada pada dirimu sendiri ketika sudah mempunyai karya nyata (baca: buku). Kalau kata Mas Dwi Suwiknyo, “Jangan ngaku jadi penulis deh, kalau belum punya buku sendiri.”

Jleb, kan? Banget, nyeseknya sampai ke tulang. Buku apa pun itu, tidak penting mayor atau indie. Yang penting, ada sebuah karya yang terlahir dari kamu yang ingin dapat pengakuan sebagai penulis, jelas dengan adanya buku dengan namamu di sampulnya.

Sekian, semoga bermanfaat. Maaf, jika ada yang kesindir, karena memang sengaja untuk menyindir.

Semangat ya! Kita masih sama, kok. Sampai sekarang pun masih harus banyak belajar. Ditunggu namamu ada di rak buku nasional, hihi!

Salam Literasi (L).

Oleh: Nurwa R.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: