Ilustrasi dari Islamedia.

6 Prinsip Kepemimpinan Ala Rasulullah Saw

Seorang pemimpin dinilai bagaimana dia bersikap dan bertindak dalam kepemimpinannya, salah satu yang terpenting adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dan membuat kebijakan, efektivitas sebuah kebijakan dan bagaimana dampak atas kebijakan tersebut?

Sebuah keputusan lahir dari sebuah proses berpikir (analisa). Dimulai dari cara pandang seseorang dalam menilai sesuatu yang kemudian berpengaruh terhadap cara berpikirnya. Cara berpikir yang dilandasi cara pandang tersebut akan menjadi penentu, tepat atau tidaknya keputusan seorang pemimpin dalam mengambil kebijakan.

Kebijakan seorang pemimpin seringkali berpengaruh terhadap banyak orang dan ruang lingkup serta waktu yang lebih luas. Nah, di sini ada enam prinsip kepemimpinan Rasulullah Saw yang dapat kita jadikan teladan:

Pertama, Nabi Muhammad Saw lebih mengutamakan fungsi sebagai landasan memilih orang, bukan hanya melihat sisi performance (penampilan) saja. Hal ini dapat kita perhatikan dalam pemilihan kepemimpinan setelah Nabi Muhammad Saw.

Keempat sahabat yang dikenal sangat dekat dengan beliau yakni, Abu Bakar Assidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib adalah gambaran jelas kemampuan Nabi Muhammad Saw dalam melihat fungsi. Keempat sahabat tersebut miliki fungsi masing-masing dalam era kepemimpinan Nabi Muhammad Saw yakni:

Abu Bakar Assidiq yang bersifat sepenuhnya (totalitas) kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sahabat utamanya. Ini bermakna kepercayaan dari orang lain adalah modal utama seorang pemimpin.

Umar bin khattab bersifat kuat, berani, dan tidak kenal takut dalam menegakkan kebenaran. Utsman bin Affan adalah pedagang kaya raya yang rela menafkahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Nabi Muhammad Saw. Ali bin Abi Thalib adalah seorang pemuda yang berani, tegas, penuh ide kreatif, rela berkorban dan lebih suka bekerja dari pada bicara.

Kedua, Nabi Muhammad Saw lebih mengutamakan asas kemanfaatan dari pada unsur kesia-siaan. Tidak ada perkataan, perbuatan, bahkan diamnya seorang Nabi Muhammad Saw pun bermanfaat.

Bagaimana senangnya Nabi Muhammad terhadap orang yang bekerja keras dan memberikan manfaat terhadap orang banyak dan kebencian beliau terhadap orang yang menyusahkan dan merugikan orang lain.

Ketiga, Nabi Muhammad Saw lebih mendahulukan yang lebih mendesak daripada yang ditunda. Ketika ada yang bertanya kepadanya, mana yang harus dipilih apakah menyelamatkan seorang anak yang sedang menghadapi bahaya atau meneruskan shalat? Nabi Muhammad SAW menjawab, “Membatalkan shalat dan menyelamatkan anak yang sedang menghadapi bahaya.”

Keempat, Nabi Muhammad Saw lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Ketika datang wahyu untuk melakukan hijrah dari kota Mekah ke Madinah, Nabi Muhammad Saw baru berangkat ke Madinah setelah semuanya kaum Muslimin berangkat lebih dahulu. Padahal saat itu beliau terancam akan dibunuh, namun beliau tetap mengutamakan keselamatan kaumnya yang lebih lemah.

Ketika etnik Yahudi yang berada di dalam kekuasaan kaum Muslimin meminta perlindungan kepadanya dari gangguan orang Islam di Madinah, beliau sampai mengeluarkan pernyataan, “Barangsiapa yang mengganggu dan menyakiti orang-orang Yahudi yang meminta perlindungan kepadanya, maka sama dengan menyatakan perang kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Padahal tindakan demikian bisa menjatuhkan kredibilitas beliau di mata kelompok etnik Arab yang sudah lama memusuhi etnik Yahudi, tetapi beliau lebih bijaksana dan adil karena dalam kondisi damai.

Kelima, Nabi Muhammad Saw lebih memilih jalan yang sukar untuk dirinya dan termudah untuk umatnya. Nah, apabila ada orang yang lebih memilih mempersullit diri sendiri daripada mempersulit orang lain, maka dia adalah para Nabi dan Rasul.

Begitupun dengan Nabi Muhammad Saw. Ketika orang lain disuruh mencari jalan yang termudah dalam beragama, maka beliau memilih untuk mengurangi tidur, makan dan selalu shalat sampai kakinya membengkak.

Keenam, Nabi Muhammad Saw lebih mengutamakan tujuan akhirat daripada duniawi. Para Nabi dan Rasul adalah orang-orang terpilih sekaligus contoh teladan bagi kita. Nabi Muhammad Saw menunjukan bahwa jalan akhirat itu lebih utama daripada kenikmatan dunia dengan seluruh isinya.

Karena pandangannya yang selalu melihat akhirat sebagai tujuannya, maka tidak ada yang sanggup mengoyahkan keyakinannya untuk menegakkan kebenaran.

“Seandainya kalian letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, maka aku akan berhenti dalam menyampaikan risalah ini.

Itulah yang patut untuk kita renungkan. Siapa pun kita dan apa pun profesi kita, masih terbuka bagi kita untuk mengubah pola pikir dan pola tindak kita mengikuti jejak Rasululullah Saw.

Oleh: Tim Trenlis, dikutip dari beberapa sumber.

Tinggalkan Balasan