“Abah, maafkan Neng. Neng tak bisa menerima perjodohan yang Abah rencanakan untuk Neng.”

“Tapi Neng, Mustafa itu laki-laki yang pantas kau jadikan imammu. Dia yang akan menggantikan Abah untuk menjagamu. Coba, kurang apa dia, Neng?”

“Sudah, Bah. Abah nggak perlu mengulang semua kelebihan Bang Mustafa.”

“Neng, Abah ini sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Ambu (ibu) sudah pergi mendahului kita. Abah ingin kamu anak Abah satu-satunya bisa hidup bahagia dengan Mustafa. Abah sudah berjanji dengan sahabat Abah untuk menjodohkanmu dengan anaknya. Abah tak mau ingkar janji. Dosa, Neng.”

“Iya, Bah. Neng ngerti. Tapi Neng tidak mencintainya dan lagi Neng masih ingin melanjutkan sekolah. Neng mohon Abah bisa mengerti.”

“Neng, kalau cinta mah, itu bisa dipupuk nanti kalau kalian sudah menikah, seperti Abah dan Ambu dulu. Lagian Neng mah kan belum tahu seperti apa Mustafa sekarang. Dan Abah yakin, setelah menikah nanti, Mustafa pasti mengijinkan kamu melanjutkan kuliah.”

“ …. “

***

2 Februari 2018

Dear Diary ….

Neng bingung, dua bulan lagi Bang Mustafa akan meminang Neng, tepat setelah Ujian Nasional selesai. Bagaimana ini, Diary? Abah sudah meni keukeuh (sangat yakin) akan menjodohkan Neng dengannya. Padahal Neng, teh nggak mau menikah dulu.  Neng masih mau menikmati masa muda. Neng pengin kuliah yang tinggi. Tapi Abah tak mau mengerti. Rupanya Abah lebih peduli pada perasaan sahabatnya daripada perasaan anaknya.

Diary ….

Kamu tahu, kan sejak Ambu meninggal, Abah jadi sakit-sakitan. Dan baru sebulan lalu Abah divonis kena sakit jantung. Neng kasihan sama Abang, Diary. Neng juga tahu Abah nggak ingin Neng sendirian kalau nanti Abah sampai kenapa-napa, walau Neng tetap berdoa Abah bakalan panjang umur. Tapi Neng beneran belum siap menikah. Apalagi sama laki-laki yang belum Neng kenal sifatnya.

Abah emang selalu ngeyakinin Neng, bahwa cinta itu akan tumbuh setelah pernikahan, tapi Neng kok nggak percaya. Bagaimana nanti kalau ternyata Neng dan Bang Mustafa nggak cocok, terus berantem tiap hari dan akhirnya bercerai. Siapa yang sedih, ntar? Kan Neng juga, Diary.

Diary ….

Kamu pasti juga tahu, bahwa Neng dan Bang Mustafa memang belum pernah bertemu lagi setelah tiga belas tahun lalu. Neng masih ingat saat itu Abah dan almarhumah Ambu mengajak Neng ke Cibodas. Di sana kami janjian bertemu dengan Uwak Hadi–Sahabat Abah dan keluarganya. Uwak Hadi itulah ayah Bang Mustafa. Waktu itu Neng dan Bang Mustafa masih kecil, tak ada sungkan untuk bercanda dan bermain bersama dengannya. Neng tak tahu kalau saat itulah Abah dan Uwak Hadi berniat dan berjanji untuk menjodohkan kami berdua ketika dewasa nanti.

Diary ….

Kata Abah, Bang Mustafa itu sekarang sudah jadi orang besar. Atuh Abah mah aneh, ya. Ya iyalah, kan Bang Mustafa memang orang bukan kambing. Bukan Diary, maksud Abah itu Bang Mustafa sudah jadi orang sukses sekarang. Dia itu sudah lulus Sarjana S2 dari Kairo dan sekarang jadi penerus bisnis Uwak Hadi, ayahnya.

Diary ….

Neng takut kalau perjodohan itu benar-benar terjadi. Neng belum siap jadi seorang istri yang harus selalu melayani suami. Neng juga belum siap punya anak, Neng aja masih kayak anak-anak gini. Kumaha iyeu, teh? (Bagaimana ini, ya?). Haduh, kok Neng jadi membayangkan yang nggak-nggak ya, Diary? Padahal harusnya sekarang Neng lebih fokus belajar untuk persiapan ujian. Udah dulu ya, Diary. Neng mau ngerjain tugas dulu, nih. Besok bisa kena hukuman kalau Neng telat ngumpulin tugas. Met bobo, ya ….

***

“Fatima, emang bener kamu mau dijodohin dan bakal married tahun ini juga?”

“Iya, Dea. Gimana, dong. Aku takut banget, sumpah. Sebenernya aku sudah menolaknya, tapi Abah terus memaksaku. Kamu tahu, kan, Abah sudah mulai sakit-sakitan. Aku bingung musti gimana.”

“Emang kamu sudah tahu dengan siapa kamu dijodohin?”

“Namanya Mustafa, tapi aku baru sekali ketemu ama dia. Itu juga waktu aku masih kecil.”

“Ya sudah. Lebih baik kamu ikuti dulu kata Abah. Tak ada salahnya, kan, menyenangkan hati orang tua? Siapa tahu, setelah bertemu Mustafa, kamu akan bisa menerimanya. Lagian kamu juga nanti bisa minta sama Mustafa untuk mengundur pernikahan kalian, kalau memang kamu belum siap. Ya, kan?”

“Tapi, Dea ….”

“Sudah, kamu juga bisa sholat istikharah untuk mohon petunjuk pada-Nya. Insyaallah, hatimu akan lebih tenang.”

***

10 Maret 2018

Dear Diary ….

Neng pikir benar kata Dea–sahabat Neng, tadi siang. Dia memang selalu bisa menebak apa isi hati Neng. Apalagi kalau Neng sedang galau seperti akhir-akhir ini. Katanya muka Neng kelihatan jelek banget, karena selalu manyun. Dea itu sahabat Neng sejak SD, tapi Neng sudah menganggapnya seperti saudara Neng sendiri. Maklum Neng, kan nggak punya saudara kandung. Jadi selain kamu, Neng juga suka curhat sama Dea.

Jadi sekarang, Neng mau coba ikuti saran Dea, ya Diary. Semoga saja hati Neng akan benar-benar lebih tenang setelah sholat istikharah nanti. Dan Allah memberikan kemudahan untuk Neng menghadapi perjodohan ini. Eh, bukan cuma perjodohan, ding. Semoga Allah juga memudahkan Neng menghadapi ujian akhir nanti. Amin.

12 April 2018

Dear Diary ….

Seminggu lagi Neng akan Ujian Nasional. Duh, doain Neng, ya? Semoga Neng bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Alhamdulillah, sekarang Neng jauh lebih tenang dan lebih fokus belajar ketimbang memikirkan perjodohan itu.  Tapi tetap saja masih kepikiran, Diary. Huhuhu …. Entahlah, bagaimana nanti saja, biar Allah yang menggerakkan hati ini.

***

“Gimana, Neng, dua hari lagi Mustafa dan keluarganya akan datang meminangmu. Neng mau, kan nurut sama Abah?”

“Abah sekali lagi maafkan, Neng. Neng masih butuh waktu untuk menerima lamaran Bang Mustafa.”

“Mau sampai kapan lagi, Neng? Umur Abah, teh udah nggak panjang lagi. Abah pengen lihat kamu cepet menikah dengan Mustafa.”

“Abah, mah jangan ngomong gitu atuh. Neng nggak mau Abah ninggalin Neng.”

“Ya sudah, kalau begitu Neng harus nikah sama Mustafa, ya? Tolong sekali ini saja nurut sama Abah, Neng. Biar hati Abah tenang.”

***

30 April 2018

Dear Diary ….

Akhirnya Neng menurut saja apa kata Abah. Walau hati Neng sebenarnya masih ragu untuk menerima lamaran Bang Mustafa. Neng nggak tega melihat Abah. Neng takut ucapan Abah akan jadi kenyataan. Neng sayang banget sama Abah. Abah sudah sangat sabar merawat dan mendidik Neng sejak Ambu tiada. Neng tak mau melihat Abah kecewa pada Neng di masa tuanya. Biarlah Neng mengorbankan perasaan Neng sendiri, asal Abah bahagia. Duh, mata Neng udah basah, kamu jadi ikut basah, Diary.

Diary ….

Doain Neng, ya, supaya besok acaranya lancar. Kok Neng jadi deg-degan gini, sih. Ya udah, Neng mau Istikharah lagi, ya, agar Allah memantapkan hati Neng besok. Makasih, ya Diary.

***

“Fatima, apa kabarmu? Kau sudah dewasa, ya sekarang. Alhamdulillah Abang seneng sekali kita bisa bertemu lagi.”

“Alhamdulillah, kabar Neng baik, Bang. Semoga apa yang telah direncanakan kedua orang tua kita ini, diridhoi oleh Allah ya, Bang?”

“Insya Allah, Fatima. Abang bahagia mendengarnya.”

***

1 Mei 2018

Dear Diary ….

Neng tak tahu harus bercerita apa padamu. Tadi pagi Bang Mustafa benar-benar telah melamar Neng untuk dijadikan calon istrinya. Rasanya perasaan Neng masih campur aduk. Antara percaya dan tidak. Tadi Bang Mustafa dan keluarganya menyerahkan kepada Neng sepenuhnya untuk mengatur kapan tanggal pernikahan kami. Kata mereka, yang penting Neng sudah siap lahir batin. Neng benar-benar tak menyangka mereka begitu baik.

Diary …

Ternyata Bang Mustafa mah orangnya kasep pisan (ganteng sekali) mirip Sharukh Khan. Hehehe …. Benar kata Dea waktu itu, yang pernah menyarankan agar Neng menuruti saja permintaan Abah, karena siapa tahu Neng akan berubah pikiran ketika telah bertemu Bang Mustafa.

Diary ….

Tapi sebenarnya yang terpenting buat Neng mah, cuma kebahagiaan Abah. Tadi Neng lihat wajah Abah sangat bahagia menerima kehadiran Bang Mustafa dan keluarganya. Begitu juga dengan Uwak Hadi dan istrinya. Mereka senang akhirnya bisa mewujudkan perjanjian belasan tahun lalu itu.

20 Mei 2018

Dear Diary ….

Neng sedih. Sudah seminggu abah dirawat di ICU (Intensive Care Unit). Jantungnya kambuh lagi. Kondisinya sangat lemah. Kemarin Abah minta ke Neng agar mempercepat saja pernikahan Neng dengan Bang Mustafa. Gimana ini, Diary? Abah minta Neng dan Bang Mustafa menikah di depan Abah.

22 Mei 2018

Dear Diary ….

Hari ini Neng dan Bang Mustafa terpaksa melaksanakan akad nikah di ruang ICU, tempat Abah dirawat. Om Herman–adik Abah yang menjadi wali Neng, karena Abah benar-benar sudah tidak sanggup apa-apa lagi. Tapi yang penting Abah masih bisa menyaksikan pernikahan itu, Diary. Neng hanya bisa menangis. Neng nggak nyangka akan menikah dalam keadaan seperti ini, tidak seperti yang Neng bayangkan sebelumnya.

25 Mei 2018

Dear Diary ….

Tadi siang, Abah sudah benar-benar pergi. Abah meninggalkan Neng untuk selama-lamanya. Begitu cepatnya semua ini terjadi. Tapi Neng bersyukur, Neng sudah melaksanakan apa yang menjadi keinginan Abah. Abah benar, Bang Mustafa adalah imam yang baik bagi Neng. Semoga Abah bahagia di alam sana menyaksikan Neng.

***

Oleh: Nailuss Sa’adah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: