Adakah yang Lebih Kejam dari Pengkhianatan?

Ada kerinduan yang menggantung di peron stasiun Kota Baru. Sulur-sulur waktu seolah kian setia menyuarakan dalam diam. Menjelang senja yang temaram di suatu petang, seorang wanita perlahan berjinjit dan mulai menggantungkan kerinduan. Ujung kerudungnya bergoyang diempas angin yang ikut menyampaikan salam kerinduannya.

Berbulan-bulan lalu ia tidak sendiri di sana, seseorang yang membuatnya merekahkan senyum tiap mereka bertemu tengah berdiri di hadapannya.

“Bisakah kau tidak pergi?” tanyanya menatap manik mata yang akan ia rindukan di tengah kerumunan penumpang yang berjejal di peron menanti kereta senja tiba. “Atau paling tidak, bawa aku bersamamu.” lanjutnya setengah memohon.

Kedua tangan lelaki itu mencengkeram lengan Amanda, menguatkan. “Percayalah, senja akan mengantarku kembali, jaga hatimu buatku, ya!”

Tidak ada yang keluar dari mulut Amanda yang terkatup rapat. Hanya isakannya yang terdengar pelan. Air matanya tumpah. Baginya perpisahan adalah pisau paling tajam yang mampu menggores hati sesakit-sakitnya, meski janji akan kembali itu terucap dari bibir lelaki yang ia cintai. Namun belum cukup menenangkan hatinya.

“Keretanya sudah tiba, hapus air matamu, Manda. Kau tahu aku tidak sanggup pergi jika kau terus menangis.” Gemuruh mesin lokomotif terdengar semakin dekat.

Amanda menghapus air matanya. Sesekali menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia tak bisa mencegah lelakinya untuk tidak pergi. Penugasan dari tempat kerja ke luar pulau membuat mereka harus berpisah dan menunda pernikahan yang tadinya telah mereka rencanakan dalam waktu dekat. Kenyataannya, penawaran menggiurkan dari kantor tak mampu ditolak.

“Demi masa depan kita. Jika tugas ini selesai setahun paling cepat, aku akan menjemputmu. Sebenarnya aku ingin kita menikah terlebih dahulu, tapi kau tahu bosku tidak menyediakan pengunduran keberangkatanku.” Lelaki itu berdalih, meyakinkan Amanda, dalam hatinya memang bertekat akan kembali.

Amanda mengangguk. Ia percaya bahwa lelaki itu juga akan menjaga hati untuknya. Cinta adalah alasannya bertahan. Dan kerinduan yang terus bertunas ia sampirkan pada langit-langit stasiun sesering mungkin. Tempat itu tak pernah luput ia kunjungi jika memang rindu tak sanggup lagi ia tinggalkan di tempat lain.

Dua belas purnama berlalu, bulan-bulan pertama komunikasi menjadi sesuatu yang paling ampuh mengobati kerinduan itu, meski tak ada yang benar-benar mengobati sebuah kerinduan selain pertemuan.

Dua belas purnama kedua berlalu, dan kabar penundaan kepulangan mengempaskan angan Amanda untuk dapat segera bersua dengan kekasihnya.

“Tidak bisakah kau pulang barang sebentar?” tanyanya memohon, seperti saat ia memohon agar lelaki itu tidak pergi. “Atau aku boleh mengunjungimu? Aku rindu.”

“Bersabarlah, sibukkan dirimu dengan hal lain.”

Amanda memang semakin sibuk, ia sibuk menumpuk kerinduan di peron stasiun. Dua tahun terakhir ia tak pernah lelah berharap ada seseorang yang turun dari pintu kereta dan berlari memeluknya yang tengah begitu lama menunggu.

“Sampai kapan kau akan menunggu lelaki itu?” Seorang teman bertanya.

“Sampai ia kembali dan menepati janjinya.”

“Kau tahu, kau sudah kehilangan banyak waktu dan banyak hal selama ini. Bahkan kau menutup kesempatan bertemu jodoh terbaikmu.”

“Dia jodohku.”

“Amanda …,”

“Jangan takuti aku, kumohon.”

Terkadang, sebuah nasihat tak akan mempan bagi perindu yang terlalu yakin bahwa nas kerinduannya akan terbalaskan. Entah atas dasar apa.

Menjelang dua belas purnama ketiga dan ia rasakan komunikasi mereka mulai kacau. Tak serutin dulu. Berkali-kali panggilan telepon terabaikan. Pesan chat yang hanya centang biru tanpa berbalas. Amanda mulai gusar. Semakin sering ia mengunjungi stasiun dan berharap kekasihnya sengaja mengatur sebuah skenario untuk kejutan terindah atas balasan dari penantian selama ini. Amanda tak berhenti berharap. Namun ia lupa bahwa berharap pada manusia adalah seburuk-buruk pengharapan.

“Jika harus aku menyusulnya ke sana dan mencari tahu alamatnya dari bosnya.”

“Jangan gila,” seorang teman tempatnya berkeluh kesah tampak menyerah dengan kegilaan yang mulai ditunjukkan Amanda. “Menunggu selamanya akan membuatmu kehilangan kewarasan dan menghalangi jodoh terbaikmu, Manda.”

“Kenapa kau tak yakin, sedangkan aku yang menjalaninya yakin bahwa dia akan datang.”

“Apa benar kau yakin? Jika benar, maka kau tak akan segusar ini.”

Amanda memutuskan untuk mencari keberadaan kekasihnya lewat kantor lama yang berada di kota itu. Ia menyesal kenapa tidak mencari tahu sejak dulu dan dapat memberikan kedatangannya pada sang kekasih di pulau seberang.

“Kau tidak perlu ke sana, bulan depan masa tugasnya berakhir dan seminggu kemudian dia akan pulang. Kami telah mengatur kepulangannya, mulai dari dari tiket kereta sampai segala perlengkapannya.” Beruntung Amanda dapat bertemu langsung dengan manager perusahan tersebut dan mendapatkan kabar yang berhasil melambungkan kegalauannya saat itu.

“Benarkah, Pak? Mohon kabari saya waktu tepatnya.” Amanda berjingkrak bahagia lupa bahwa dia sedang berada di ruang kerja bos kekasihnya.

Lelaki berjas rapi itu mengangguk. Anggukan yang ganjil jika saja Amanda memerhatikan, tapi ia terlalu bahagia dan hanya membayangkan kepulangan lelakinya.

Dan senja sore ini akan menjadi saksi sulur rindu yang akan tertanggalkan sebab kerinduan milik dua orang manusia akan tuntas. Sebulan terakhir tak ada kabar dari kekasihnya, namun Amanda tidak curiga, ia meyakini bahwa itu pasti cara kekasihnya memberikan kejutan, bahkan di percakapan terakhir sebulan lalu juga tak ia bahas tentang kepulangan itu. Amanda akan mengejutkannya dengan penjemputan yang tak lelaki itu sangka.

Gerung mesin lokomotif menderu berisik, namun tak seberisik debaran dada Amanda yang tak sabar ingin memeluk kekasihnya. Ia berbangga dapat bertahan selama ini, dan semua akan terbayarkan. Angin senja berembus bersama kedatangan kereta. Suara mesinnya menderu lalu berdecit saat akan berhenti. Peron riuh oleh penjemput, Amanda salah satunya.

Pandangan Amanda menyapu semua pintu kereta, ia tak sempat bertanya pada bos kekasihnya berada di gerbong berapa lelakinya. Satu menit, dua menit, Amanda masih mencari di tengah wajah-wajah asing para penumpang. Tiga menit, ia belum menemukan kekasihnya. Tidak mungkin bos kekasihnya berbohong.

Empat menit, lima menit, saat peron mulai sepi, sebuah manik mata bertemu pandang dengan mata Amanda. Tangannya menurunkan koper dari pintu kereta. Rautnya mendadak beku menatap Amanda berlari mendekatinya dengan rona merah bahagia.

Seorang wanita seusia Amanda tampak dari pintu kereta bersama gadis kecil berusia dua tahunan yang tengah turun dari kereta dibantu wanita itu dan berlari kecil meraih tangan kekasihnya dari belakang lalu menggandengnya. Langkah Amanda sontak terhenti di jarak hanya beberapa meter dari mereka.

Hati Amanda remuk. Kenyataannya perpisahan bukanlah pisau paling tajam yang mampu menggores hati sesakit-sakitnya. Masih ada yang lebih tajam, ialah pengkhianatan. []

Oleh: Ummu Ayyash

Tinggalkan Balasan