Ah, Soal Hati Memang Harus Hati-Hati

Sakit. Ya, kata itu yang sedang kurasakan. Bagaimana tidak, aku yang berpikir dia sudah menaruh rasa padaku, dengan mem-followback akunku, dan mengajak ketemuan, ternyata ponselnya hilang dan sedang digunakan oleh manusia yang tidak bertanggungjawab. Jadi, dia yang ada di-chat tidak sama dengan dia yang ada di sekolahan—Kak Jhony.

Aku mendengar Aya berteriak memanggil namaku. Aku terus berlari, menembus derasnya hujan. Mencoba mengabaikan apa yang telah kudengar, terlalu sakit juga untuk menoleh ke belakang di mana pasti ada cowok itu berdiri di sana bersama orang yang dia sayang, mungkin.

Melihat cara mereka berjalan, bercanda, dan bagaimana cara Kak Jhony menatap si model itu, aku sih yakin ada sesuatu dengan keduanya. Wajar, si cowok idola lapangan, dan si cowok idola panggung cat walk. Sedangkan aku? Entahlah, apa aku ini kalau di mata dia.

***

“Kenapa hujan-hujanan?”

Aku mengenal suara ini. Segera aku percepat langkahku, tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Dia pun berusaha menarik gas motornya, menyamakan dengan langkah kakiku.

“Aku tahu kamu sedang sedih,” ucapnya lagi dengan suara yang ditinggikan. Hujan siang ini cukup deras, kalau tidak begitu, maka suaranya akan hilang, menguap begitu saja.

Kali ini aku menatap tajam ke arahnya, berharap dia tidak mengikutiku.

“Naik atau aku ikuti ke mana kamu pergi?”

Aku berhenti lalu menoleh ke arahnya. “Mau kamu apa sih, Kak?”

“Mau kamu naik, atau aku ikuti ke mana kamu pergi?” tanyanya ulang. “Biasanya orang yang patah hati itu mudah putus asa. Aku takut kamu terjun dari jembatan sana,” ucapnya sambil menunjuk ke arah jembatan yang tidak jauh dari sekolah.

“Gak gitu juga kali,” gerutuku yang dibalas dengan tawa ringan darinya. Benar-benar menyebalkan.

“Sudah naik aja, daripada juga kamu naik angkot basah kuyup gitu.”

Tidak ada pilihan lagi, aku pun naik motornya. Duduk manis di belakang teman dari cowok yang kuidolakan.

***

Hujan sudah reda sejak sepuluh menit dia pergi dari perkarangan rumahku. Entah kenapa, seketika aku merasa geli sendiri. Terlalu baper perihal karena IG, eh patah hati setelah tahu hp-nya ternyata hilang. Dan, barusan pulang diantar oleh temannya Kak Jhony.

“Sudah, gak usah dipikirin,” ucapnya sambil sedikit menoleh ke samping.

“Emang mikirin apa?” tanyaku.

“Jhony, kan?”

Aku terdiam. Kok dia sampai tahu, sih, batinku.

Tidak ada komunikasi lagi. Mungkin dia merasa salah ucap, yang sebenarnya ya, benar. Kami berada dalam keheningan sampai motor berhenti di depan rumah.

“Makasih ya, Kak,” ucapku, “gak mampir dulu?”

“Emm, jangan dulu, deh. Nanti malah disangka pacarmu.”

Aku mengernyit. “Emang kenapa? Malu ya kalau pacarnya aku.”

Dia tertawa renyah, lalu menggeleng. Kemudian pamit, melajukan motornya yang sebelumnya tersenyum manis ke arahku.

***

Ah, gak boleh! Jangan baper dulu, Ety. Saking gemesnya, aku mengacak-acak rambut sendiri. Aku pun membuka akun instagram, ternyata ada pesan dari akun Kak Jhony yang jelas palsu.

Hai, manis. Lagi apa?

Sekarang aku merasa ilfil membaca pesan itu, yang entah siapa yang mengendalikannya di sana. Tidak apalah, sebagai hiburan.

Lagi capek. Kak. Kakak lagi apa?

Menunggu dia selesai mengetik.

Em … kamu sayang gak sama kakak?

Sayang, Kak, balasku sambil menahan geli. Ya, ampun gini banget hidupku. Sekalinya dicintai sama dia yang palsu.

Ketemuan, yuk, ajaknya, tapi kamu sendiri aja.

Aku semakin menyadari kalau ini sudah gak baik. Aku ingin menemuinya, pengin tahu dia siapa sebenarnya yang pakai hp Kak Jhony. Tapi, hatiku menolak keras. Bagaimana kalau nanti dibius, terus dibawa ke semak-semak, terus di …. Aarg, aku bergidik membayangkannya.

Maaf, ya. Aku bukan cewek bodoh. Sebaiknya kamu kasih balik hp ini kepemiliknya, deh, balasku dengan sedikit gemetar. Lama tidak ada balasan, setelah kucek, aku pun diblokir.

Ah, manusia aneh.

Entah kenapa, aku jadi penasaran dengan akun Kak Aryo, cowok yang tadi nganterin pulang. Aku coba search namanya, muncul banyak pilihan namanya tapi ada satu yang aku yakin itu dia. Foto profil di lapangan basket. Aku pun meng-klik akunnya, ternyata benar.

Aku mau tekan follow tapi entah mendadak ada gengsi yang harus menahan itu. Hingga akhirnya suara bel rumah memaksaku untuk beranjak dari kursiku.

***

Aku membuka pintu. Seketika itu juga kaget, ada dia berdiri di depan pintu. “Kak Aryo, tumben ke sini, ada apa?” tanyaku heran.

Kak Aryo hanya tersenyum manis.

“Oh, iya. Masuk-masuk,” tawarku.

“Gak usah, di sini aja,” ucapnya menunjuk kursi yang ada di teras.

Saat ini juga jantungku seakan di-drible olehnya. Tidak pernah terpikirkan dia bakal ke sini. “Boleh, boleh. Tunggu sebentar ya, Kak.”

“Mau ke mana?”

“Buatin minum.”

“Gak usah, gimana kalau kita makan dan minum di luar saja?”

Ya Tuhan … Kenapa aku jadi salah tingkah begini. Tahan, Ety … tahan. “Aku masuk dulu, ya.”

Segera aku berlari sambil mengeluarkan ponsel. Mencoba menghubungi si Aya.

“Aya, ada Kak Aryo di rumah,” ucapku begitu panggilan terhubung.

“Hah, ngapain dia di sana?”

Aku memindahkan posisi ponsel. “Dia ngajakin aku jalan.”

“Lah, si Kak Jhony?”

Aku memutar bola mataku. “Panjang ceritanya, Ya. Besok aku ceritain. Terus Kak Aryo gimana?”

“Emm … ya sudah kalau kamu ada waktu ya jalan aja.”

“Sumpah. Aku deg-degan banget, nih. Apa ini yang dinamakan cinta?”

“Halah! Jangan ngomongin cinta kalau baru ketemu sebentar, itu bisa jadi nafsumu saja karena ngebet punya pacar.”

Buset, benar juga. Ini yang aku suka pada Aya, dia selalu blak-blakan dalam berkomentar. Seketika aku malu sendiri, menginat bagaimana sikapku tadi pagi yang terlanjur baper sama akun Kak Jhony.

“Hehe … ya sudah, aku siap-siap dulu, ya.”

***

Jangan ngomongin cinta kalau baru ketemu sebentar, itu bisa jadi nafsumu saja karena ngebet punya pacar.

Kalimat dari Aya terus terngiang di kepalaku. Kejadian perihal baperku tadi, seharusnya bisa lebih hati-hati soal hati. Aku tetap pergi dengan Kak Aryo, dia mengajakku makan bakso kesukaannya.

Biarkan begini saja dulu, sementara. Menikmati masa-masa apa yang orang disebut dengan PDKT.

Oleh: Nurwa R.

Tinggalkan Balasan