Ilustrasi dari Hipwee.

Ah, Sudahlah, Mungkin Memang Saya Selalu Kurang di Mata Mereka

Aku duduk di hadapan para owner dan pengurus perusahaan, sekarang. Ini hariku menerima pengumuman hasil penilaian kinerja. Seperti tahun-tahun sebelumnya, selama tujuh tahun aku menjadi pimpinan, setiap tahunnya ada evaluasi kinerja pimpinan. Barangkali hari ini hasilnya pun sama: kinerjaku belum baik.

Ah, sudahlah. Apapun hasilnya, yang penting aku sudah berusaha sebaik-baiknya menjalankan tugas, batinku menangkan diri.

Jika melihat capaian prestasi perusahaan, seharusnya ada peningkatan dari tahun sebelumnya. Aku bersama tim manajemen perusahaan telah berhasil meraih beberapa award tingkat nasional. Bahkan beberapa target sertifikasi mutu juga tercapai dengan hasil yang baik.

Lihat saja, sekarang banyak perusahaan lain yang meminta study banding ke sini. Menginginkan sharing pengalaman bagaimana cara kami meraih prestasi-prestasi itu. Bukankah ini merupakan bukti bahwa perusahaan sudah menjadi benchmark bagi perusahaan lain?

Tentu saja perusahaan mendapatkan income tambahan dari kegiatan study banding ini. Dari kegiatan sharing, juga permintaan untuk mengisi forum pendampingan mutu di perusahaan lain. Meskipun tak begitu banyak, tapi cukup untuk menambah anggaran pengembangan SDM perusahaan. Yang paling penting adalah nama perusahaan ini semakin dikenal luas oleh masyarakat. Dari kegiatan itu, tentu juga akan meningkatkan mutu dan kualitas sumber daya yang ada di perusahaan.

Tetapi yang membuatku heran, kenapa nyali anak buahku menciut ketika berhadapan dengan owner, pengurus perusahaan. Seolah-olah aku tidak mampu membersamai mereka mewujudkan visi misi perusahaan. Padahal ketika mereka berhadapan dengan perusahaan lain, mereka terlihat menonjol. Punya kelebihan dengan baju perusahaan yang telah meraih berbagai award dan sertifikasi mutu.

Namun di mata pengurus perusahaan, mereka seperti manajer yang setiap tahun seolah-olah selalu butuh pembekalan ilmu dasar yang diulang-ulang. Bayangkan saja setiap akhir tahun mereka selalu diberi pemaparan materi dasar-dasar pembuatan program kerja. Padahal seharusnya kan mereka sudah ke tahap pengembangannya. Bukan mendapatkan materi yang sama, diulang-ulang setiap tahunnya.

Apa jangan-jangan memang benar, aku tak mampu menjadi pemimpin yang baik bagi perusahaan ini?

Siapa yang tidak berpikiran demikian ketika hasil penilaian kinerjanya selalu gagal memberikan nilai terbaik?

Memang bisa juga karena sebab sistem manajemen yang masih perlu diperbaiki. Iya, atas dasar itu pula aku kemudian mencoba merombak struktur organisasi dan tata kelola manajemen. Aku coba terapkan sistem cross fungsional, semoga saja bisa memperbaiki kinerja manajemen. Karena selama ini para manajer selalu bergantung pada instruksi direktur. Bahkan aku terpaksa harus ngurusi hal-hal teknis yang seharusnya tidak menjadi wilayah kerjaku sebagai direktur.

“Maaf, Pak.” Sekretaris pengurus perusahaan membangunkanku dari lamunan. “Silakan memberi tanggapan atas hasil penilaian yang sudah dipaparkan.”

“Baik. Terima kasih atas pemaparan hasil penilaian kinerja yang telah disampaikan. Secara keseluruhan saya terima hasil penilaian terhadap kinerja saya yang masih menunjukkan kinerja “cukup baik” sebagai direktur perusahaan ini. Memang kenyataannya masih banyak hal yang perlu diperbaiki yang ada dalam diri saya, juga terkait sistem kerja manajemen. Saya sadari hal itu. Mungkin inilah saat yang tepat bagi saya untuk mengajukan kembali surat pengunduran diri. Tidaklah pantas bagi saya yang tidak mampu memimpin perusahaan dengan baik untuk terus menjadi direktur di perusahaan ini.”

Aku sodorkan sebuah surat pengunduran diri. Ini bukanlah yang pertama kali wacana pengunduran diri kuajukan ke pihak pengurus perusahaan. Namun, selama ini selalu tidak disetujui dan aku tetap diminta melanjutkan memimpin perusahaan ini. Entahlah, barangkali memang sulit mencari pemimpin yang tepat untuk perusahaan ini.

Setelah menerima surat pengunduran diri, owner dan pengurus perusahaan belum bisa memutuskan apakah akan menyetujui atau menolak. Mereka mengatakan perlu membahasnya terlebih dahulu di forum pemilik dan pengurus perusahaan. Iya, memang seharusnya seperti itu. Semoga saja ini adalah keputusan terbaik untuk masa depan perusahaan ini.

****

Saya belajar banyak mengenai arti pengorbanan dari kisah di atas. Meskipun kisah di atas bukanlah kisah yang saya alami, tapi saya menyaksikan sendiri kisah tersebut pernah dialami oleh seseorang. Mungkin tidak sama persis dengan yang saya tuliskan. Namun, beberapa kejadian dan pesan dari kejadian itu saya potret apa adanya.

Saya menangkap bahwa, sebaik apapun prestasi dan kebaikan-kebaikan yang kita wujudkan, tetap saja ada orang yang menilai kekurangan kita. Meskipun kita telah mati-matian berkorban mewujudkannya. Karena sejatinya manusia kan bukan makhluk sempurna. Selalu ada kelebihan dan kekurangan.

Barangkali sebagian orang menilai kita memiliki kelebihan dan keunggulan dibanding lainnya. Begitu kagum dengan prestasi kita. Sangat antusias ingin belajar bagaimana menjadi sukses seperti kita. Namun, sebenarnya ada sebagian lainnya yang justru menilai kita belum apa-apa, masih penuh dengan kekurangan. Biasanya mereka adalah orang yang paling dekat dengan kita. Yang sudah sehari-hari berinteraksi dengan kita.

Lalu apakah kita harus terpedaya dengan penilaian negatif itu? Terpuruk merasa tidak dihargai. Frustasi lalu menyiksa diri.

Ada saatnya kita harus berkorban. Entah sebatas perasaan, tenaga, atau pikiran untuk mewujudkan prinsip hidup yang kita yakini. Yakin saja jika yang kita lakukan akan memberi manfaat untuk orang lain. Kalau pun saat ini kita tidak mendapat balasan kebaikan di dunia, tentu Allah Swt akan memberikan kebaikan di akhirat.

“Kalau kamu merasa tidak dianggap oleh orang yang ada di sampingmu, jangan bersedih atau kecewa. Jadikan sebagai motivasi untuk memperbaiki diri. Di luar sana masih banyak tempat untuk menunjukkan potensi. Kita tidak akan pernah tahu akan menjadi apa lima tahun mendatang. So, jangan biarkan orang terdekatmu, atasanmu, menghalangi jalan untuk mengembangkan karier.”

Oleh: Seno Ners.

Tinggalkan Balasan