Aku Berhenti Berharap Padanya yang Tebar Pesona

Ada yang bilang, pacar itu membuat semangat, happy, dan bisa memiliki tujuan bersama. Bisa curhat, dan saling tahu, saling memotivasi. Pas ada teman yang nyebelin, pacar bisa dijadikan tempat ngerumpi juga (heran, pacar apa penyiar info rumpi selebritis?)

Aku punya cerita yang menarik tentang pacar. Cerita yang membuatku ingin sekali mengobral airmata, tapi tidak akan bisa ada diskon perasaan. Tetap nyesek. Tetap membuat hati ingin menjaga jarak dari cowok, bila mengingatnya.

Aku pernah bergabung dengan tim karate satu kabupaten di Jawa Tengah. Sebagian besar atletnya sudah memiliki pacar. Ada yang jaraknya dekat, ada juga yang jauh. jika malam Minggu, mereka semua apel, atau diapelin. Kencan. Demikian mereka mengatakannya. Sedangkan aku, biasanya, kumpul-kumpul bersama pelatih dan keluarganya. Kami nonton TV bersama.

“Emang enak enggak ada yang ngapelin?”

Aku hanya nyengir, ketika pelatih meledek demikian. Antara mau menjawab, atau diam saja. Daripada menjawab dan ditambahi dengan pertanyaan lain, cukup diam sesudahnya. Kemudian bermain kembali dengan anak beliau yang masih TK dan SD. Kadang-kadang, pertanyaan aku alihkan juga pada anak pelatih yang sudah SMU, “Enak apa enggak, enggak ngapel?” dan dia hanya terbahak sambil mengganti chanel TV.

Ketika kami sedang asyik bercengkrama, terdengar suara salam. Orang yang mengucapkan salam langsung masuk, karena pintu ruang tamu memang terbuka. Aku tahu, jika yang berani langsung masuk setelah mengucap salam, itu berarti orang karate. Dan benar, dia adalah Kak Rezi. Cowok sabuk hitam yang berambut gondrong sepundak.

“Elah ini dia. Calon pacar datang,” ledek pelatihku.

“Tenanan po iki? Wes ayuh, siap-siap jagong manten nek ngono.”

Istri pelatihku ikut-ikutan menaggapi—Beliau memakai bahasa daerah yang artinya kira-kira begini, “Benar kah ini?” Ayo kalau begitu, saya siap mendampingi saat jadi pengantin.

Sempat salah tingkah, apalagi anak-anak pelatih juga ikut-ikutan bersuara. Bukan hanya yang sudah SMU, tapi juga dua adiknya, satu TK satunya masih SD. Ketika mereka meledek, aku sempat melihat ekspresi Kak Rezi. Dia senyum-senyum saja. Enggak bicara apa-apa.

Kak Rezi menyalami semua, kecuali aku. Dia duduk di sebelah pelatihku, tapi, pelatihku malah menghindar. Membiarkan agar aku yang duduk di dekat Kak Rezi. Tadinya, Kak Rezi duduk di sebelah kanan beliau, tapi, beliau pindah ke sebelah kanannya Kak Rezi. Niat banget sih mereka ngeledeknya?

“Lu, temenin ke rumah kakakku, mau enggak?”

“Hah?”

Aku tentu saja kaget.

Kenapa harus ke rumah kakaknya pas malam Minggu?

Apa enggak bisa besok-besok lagi?

“Iya. Sana, Rez. Lagian, Lulu juga di sini paling cuman nonton TV. Ajak main, biar fresh. Besok kan gerakannya bisa jadi lebih bagus kalau fresh. Punya semangat baru.”

Tuh, kan? Pelatihku justru yang jawab.

Benar-benar merasa tidak ada pilihan.

“Motornya ganti, ya? Aku ogah naik motor itu,” kataku kemudian mencucu.

Kak Rezi kebetulan memakai motor, yang kalau kita diboncengin, bakal nempel kayak gula sama kolak. Nah, aku jelas enggak mau lah. Aku menyarankan agar dia memakai motor milik pelatihku.

Kenapa?

Pertama, dia enggak bakal lama-lama, karena bawa motor pelatih. Kedua, aku bakal bebas dari siksaan naik motornya yang wajib menempel-nempel itu. Bukan lah, bukan bermaksud sok suci. Tapi, aku memang enggak nyaman. Bagiku, motor Kak Rezi itu cocoknya dinaikin pengantin baru. Bukan aku dan dia.

Aku pun pamit diiringi ‘cie-cie’ yang berderai dari ledekan pelatih, istri, dan anak-anak beliau. Kami segera berangkat dan menuju rumah kakaknya. Sampai sana, aku kaget karena mendapat pertanyaan, “Pacarmu Rez?”

Paling bikin mati gaya adalah, ternyata saat kami baru sampai sana, kakaknya Kak Rezi baru mau kondangan. Artinya, kami dititipin bayi, sementara dua orang pemilik bayi pergi. Duh. Bikin salah tingkah banget sih malam Minggu, bareng cowok, nungguin bayi lagi. Apalagi ada satu momen yang cukup membuatku tercekat.

“Kamu enggak pingin punya bayi?”

“Gimana mau punya bayi. Suami saja belum punya. Enggak ada pertanyaan aneh lain apah?”

“Hahahaha. Ya, maksudku. Mungkin aku bisa jadi bapaknya bayi?”

Ingin rasaku mengeplak pelipis kiri, dan kanan secara bergantian. Apalagi, saat Kak Rezi tiba-tiba meninggalkan bayi, dan menghampiriku. Darahku terasa memanas, dan debaran jantung tidak terkendali.

“Kamu mau enggak, jadi cewekku?”

U-la-la.

Ini tadi namanya ditembak, gitu, ya?

Aku menjauh.

Risih sekali telinga mendengar suaranya yang sangat dekat dengan telinga. Sengaja aku mendekatkan diri ke keranjang bayi, kemudian duduk di kursi, persis di sampingnya. Pasti Kak Rezi akan lebih pelan dalam berbicara.

“Aku butuh waktu,” jawabku.

Tentu saja aku tidak bisa langsung menolak. Apalagi langsung menerima. Butuh pikiran yang jernih, seperti filosofi yang ada dalam bela diri karate. Pikiran itu sebaiknya sejernih air jernih. Jadi, kita bisa melihat bayangan sendiri seutuhnya saat melihat segala masalah. Seperti bila kita berdiri di tepi danau yang jernih airnya. Semua bayangan kita terlihat. Jelas. PR nya adalah apakah kita akan menjadikan air itu keruh dengan tingkah sendiri, atau menjaganya untuk tetap jernih.

Ketika Kak Rezi akan menaggapi jawabanku, suara salam terdengar. Kakaknya sudah pulang. Kami belum sempat berbicara apa-apa lagi. Bayi yang kami jaga juga masih pulas. Aku saja yang merasa tidak karuan. Memang bukan tembakan cowok yang pertama, tapi, ini pertama dari kakak tingkat.

Kami pun pamit pulang.

Di perjalanan, aku banyak diam. Satu tujuanku hanya ingin lekas sampai ke rumah pelatihku. Aku memang menginap dan tinggal bersama keluarga pelatih. Sebulan sekali saja aku pulang ke rumah orangtuaku. Kadang, jika sudah sangat ingin bertemu Mamak, aku pulang sampai dua kali dalam sebulan.

Kami sampai ke rumah pelatih. Kak Rezi langsung pamit pulang. Aku masuk ke kamar, tanpa duduk apalagi bergabung dengan keluarga pelatih di ruang tengah. Aku mungkin akan menerima Kak Rezi, tapi dengan satu syarat. Mungkin kah Kak Rezi menerima syaratku?

***

Sebulan kemudian. Aku pergi ke kota lain. Aku siap menerima Kak Rezi dengan perjajian. Memberinya surat pernyataan bermaterai, dan masing-masing dari kami memiliki satu surat. Dalam surat itu, kami saling berjanji untuk tidak berkhianat. Tidak menjalin hubungan lain, dengan orang lain. Tidak mendua. Tidak punya selingkuhan. Tidak ada pegangan tangan, apalagi ciuman. Ada yang bilang aneh sih, tapi begitu lah.

Kami hanya berkomunikasi melalui telepon. Aku mulai berbunga. Membayangkan jika kami benar-benar bisa duduk bersanding di pelaminan. Memiliki anak, dan latihan karate bersama. Indah.

Suatu hari, aku sengaja ingin memberi kejutan. Aku pulang dan menuju ke rumah pelatih. Akan kutunggu Kak Rezi di sana, dan paginya, kami bisa saling bertemu. Ketika baru sampai, aku disambut dengan derai tangis adik tingkatku. Pelatihku juga tampak menenangkannya. Aku tentu saja bingung, apa yang sebenarnya terjadi?     

“Kak Rezi jalan juga sama Ayu. Ayu itu teman sekelasku. Masa tega banget sih dia macarin kami berdua.”

“A-apa tadi kamu bilang?”

“Kak Rezi punya pacar lain, selain aku, Kak.”

Aku menatap anak SMU itu. Wajahnya masih polos. Mungkin juga Kak Rezi adalah pacar pertamanya yang sangat dicintai. Aku tidak bisa marah pada anak SMU begini. Tanganku reflek merengkuhnya ke dalam pelukan.

“Sabar, ya? Mungkin lebih baik kamu tahu sekarang, daripada tahu belakangan, malah tambah sakit.”

Gadis itu mulai reda.

Aku sebenarnya menahan gemuruh yang hampir mirip dengannya. Tapi, tidak adil rasanya jika meluapkan rahasia pada gadis yang tidak tahu, bahwa aku juga pacarnya Kak Rezi.

Setelah gadis itu pulang, pelatihku menghampiri.

“Lulu, jadi, Rezi beneran enggak setia? Kamu tepat membuat surat perjanjian. Enggak rugi, Lu. Rugi perasaan saja.”

Besok pagi, entah aku akan menemui Kak Rezi, atau kembali saja ke rumah orangtua. Aku salah karena lebih kangen dengan Kak Rezi, dibanding orangtuaku. Orangtua jelas kangen anaknya, tapi, anaknya bisa berkhianat dengan merindukan pacar. Ya Allah, aku khilaf. []

Oleh: K. Mubarokah.

1 thought on “Aku Berhenti Berharap Padanya yang Tebar Pesona”

Tinggalkan Balasan