AKU selalu yakin bahwa, semua yang terjadi pada kehidupan ini enggak ada yang kebetulan. Sudah Allah atur sejak kita belum lahir. Termasuk soal pertemuanku sama kamu.

Kamu ingat? Saat kita pertama jumpa, kamu menolak berjabat tangan denganku. Tami mengenalkan kamu sama aku. Dia bilang, kamu butuh bantuan untuk mengelola blog toko online.

Ah, tentu saja dengan senang hati aku akan membantumu. Job-job semacam itu kan enggak begitu sulit buat bloger sepertiku. Untukmu, tanpa dibayar pun aku mau.

Selain karena rasa ingin kenal lebih jauh denganmu, juga karena senyuman itu. Iya, sepertinya otakku sudah kecanduan senyum di antara lesung pipimu. Teduh. Tentu juga karena terlalu banyak cerita-cerita tentangmu yang kudengar dari Tami, sahabatku.

Tami seperti sukses membuatku menilaimu sebagai cewek spesial. Seorang cewek yang katanya bakal bisa mengubah hidupku menjadi lebih terurus.

“Nizam.” Kuulurkan tangan, tapi kamu hanya menyambutnya dengan mengangguk sambil menelangkupkan telapak tangan di depan dada. Njir! batinku.

“Zahra.”

Sedikit ada rasa malu sih sebenarnya. Kenapa hal sepele seperti itu aja aku enggak tahu. Aku lupa, ada beberapa teman di kampus yang memang menjaga diri untuk enggak bersentuhan dengan lawan jenis. Mereka pernah bilang, itu bagian dari syariat Islam yang harus dijaga.

Mungkin kamu termasuk cewek istimewa seperti mereka. Maka, aku harus hargai sikapmu dan juga memahami bahwa begitulah Islam menjaga kehormatan kaum hawa.

Aku hanya garuk-garuk kepala waktu itu, setelah menirukan gerakan mengangguk dan menelangkupkan tangan di depan dada. Sebenarnya enggak gatal, sih. Hanya sekadar mengalihkan perhatian biar enggak kelihatan canggung.

Pertemuan itu enggak berlangsung lama dan aku hanya sempat mendengarmu mengucap satu kata. Menyebutkan namamu. Selebihnya, Tami yang bicara. Namun, waktu yang singkat itu ternyata bisa terpatri lama di lubuk hatiku.

Kita saling bertukar nomor whatsapp. Sejak aku tekan save untuk menyimpan nomor ponselmu, detik itulah aku mulai merasa gila. Iya, gila karena kiblat lamunanku kemudian tertuju kepadamu. Selalu.

***

Entah kamu sudah tahu hal ini atau belum. Sebenarnya jauh hari sebelum pertemuan itu, aku sudah mengenalmu. Meskipun enggak mengenal secara langsung, sih. Tami selalu cerita tentang kamu, hingga kemudian diam-diam kuikuti akun media sosialmu.

Tami pernah cerita kalau kamu suka baca tulisanku di blog. Memang isinya agak sedikit curcol, tapi aku selipkan di sana cerita-serita fiksi yang dekat dengan kehidupan kampus.

Entah Tami sudah cerita apa aja ke kamu tentang aku. Hingga kemudian dia bilang, kamu pengin dibantu mengelola blog toko online. Padahal selama ini aku lebih sering mengelola blog portal berita dari pada toko online. Tapi tenang saja, aku pernah belajar mengelola toko online.

Sejak pertemuan itu kita lebih sering bertemu. Kadang sekadar membicarakan tampilan blog, hingga hunting produk unik yang bisa dijual online. Kadang juga ngobrolin tentang hal-hal yang bersifat pribadi. Pelan-pelan akhirnya kita bisa saling mengenal.

Semakin hari aku mulai merasa nyaman ketika bersamamu. Banyak sekali waktu luang yang kuhabiskan untuk sekadar memikirkanmu. Kadang juga kita habiskan dengan video call dan chatting.

Di hari-hari ketika enggak ada jadwal kuliah, kita sering janjian bertemu di perpustakaan kota. Kadang di toko buku, sesekali juga di café dekat alun-alun kota.

Pada suatu sore, kita pernah sepakat untuk saling menjaga hati masing-masing. Janji untuk enggak berbagi hati dengan orang lain. Aku senang, meskipun saat itu kamu meminta agar aku merahasiakan hubungan ini dari siapa pun.

Remang sore oleh senja waktu itu seperti milik kita berdua. Enggak seorang pun tahu bahwa hari itu aku telah menemukan separuh jiwaku.

***

Aku pernah mendengar dari teman-teman di kampus, seharusnya seorang muslim yang taat itu enggak boleh pacaran. Waktu itu mereka juga ngasih tahu dalil-dalilnya. Entah kenapa kemudian aku jadi teringat tentang hubungan kita. Apakah kamu menganggap hubungan ini pacaran?

Ini yang membuatku gelisah. Aku tahu selama ini kamu tipe muslimah yang taat. Selalu menjaga interaksi dengan lawan jenis. Namun, ketika kita sedang berdua, sikapmu berbeda dengan yang biasa kulihat ketika berinteraksi di depan teman-teman kampus.

Aku sempat mencari tahu soal ini. Dan saran dari beberapa teman adalah segera saja menikah. Agar hubungan itu halal dan enggak menimbulkan fitnah.

Sesungguhnya aku ingin sekali menjaga kehormatanmu, pun menjaga komitmen yang pernah kita sepakati. Maka, kuberanikan diri untuk lebih serius menjalin hubungan denganmu.

Aku sudah memikirkan bekal masa depan, pun sudah meminta pendapat dari kedua orangtuaku. Alhamdulillah mereka bisa mengerti dan merestui jika aku hendak menikah dalam waktu dekat.

Maka malam itu aku bilang sama kamu, “Zahra, aku ingin menghalalkan hubungan kita.”

“Kamu serius? Maksudmu menikah gitu?”

“Iya, aku serius dan kedua orangtuaku sudah memberi restu.”

“Ta … tapi kita kan masih kuliah.”

“Enggak masalah, memangnya kenapa kalau masih kuliah?”

“Zam, aku enggak yakin orangtuaku akan ngijinin nikah ketika kuliahku belum selesai. Ayah pernah berpesan soal ini. Dia khawatir jika nantinya kuliahku enggak tuntas.”

“Izinkan aku bertemu orangtuamu.”

“Aku belum siap, Zam. Tolong beri aku waktu.”

Setelah malam itu aku merasa banyak yang berubah dari dirimu. Kamu sering beralasan sedang sibuk dengan kuliahmu ketika kuminta untuk bertemu. Kadang juga beralasan ada acara keluarga, sehingga untuk bicarain urusan toko online pun kamu enggak punya waktu.

***

Zahra, kapan kamu ada waktu?

Kukirimkan pesan singkat ke kontak whatsapp-mu. Bukan tanpa alasan. Aku sudah begitu yakin dengan pilihan itu. Karena begitu sulit menemuimu, maka aku coba komunikasi melalui whatsapp.

Zahra, tolong. Aku ingin ketemu dan menyelesaikan ini secara baik-baik.

Kukirimkan pesan whatsapp lagi, dua hari setelah pesan sebelumnya enggak kamu balas. Ada tanda centang dua warna biru, aku yakin pesan itu sudah kamu baca.

Aku bisa mengerti jika kamu sulit menjawabnya, tapi bukan berarti enggak mampu membalas chat whatsapp dariku.

Maaf, Zam. Mulai hari ini tolong jangan ganggu aku lagi. Kita enggak ada lagi hubungan apa-apa.

Rasanya seperti berada di antara alam nyata dan mimpi. Antara percaya dan enggak ingin percaya. Layar ponsel masih menyala, menyuguhkan kalimat pesan singkat darimu. Kupandangi cukup lama, hingga ada sesuatu yang mendidih di kepala.

BRAK!

Kubanting ponsel itu, berharap semua kenangan tentangmu turut remuk berkeping-keping, lalu lenyap bersama pesan whatsapp-mu. Aku enggak habis pikir, setan apa yang ada di otakmu. Hingga dengan mudahnya memutus hubungan kita melalui pesan 17 kata.

Apa aku salah jika berharap hubungan kita bisa lebih serius lagi? Andai kamu tahu jika semua itu kulakukan untuk menjaga kehormatanmu, apa kamu akan tetap melakukan semua ini?

Apa jangan-jangan kamu malu jika orang tahu mengenai hubungan kita yang sembunyi-sembunyi ini?

Iya, aku tahu semua ini memang sudah terlambat, tapi kenapa enggak kita selesaikan secara baik-baik. Aku sebenarnya juga enggak masalah kalaupun harus merahasiakan hubungan ini hingga kamu lulus kuliah.

Kamu tahu, beberapa hari sejak saat itu aku enggak bisa tenang memikirkanmu. Aku masih enggak percaya kalau semua itu kamu lakukan karena alasan belum lulus kuliah. Maka, pagi itu aku nekat ke rumahmu. Berharap bisa bertemu dengan orang tuamu dan mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari mereka.

Meski sedang gerimis, aku enggak peduli. Hari itu kuterabas jalanan basah untuk menemuimu.

Apa yang kudapat setelah sampai di rumahmu? Tragis. Orangtuamu memberitahu kalau mereka sudah menyiapkan calon untuk jadi suamimu. Seketika itu juga aku mencoba untuk pura-pura bahagia. Mengaku senang bahwa kamu memang perempuan baik yang layak mendapat lelaki yang baik.

Aku bisa apa? Sekeras upayaku untuk mendapatkanmu mungkin akan sia-sia. Sepertinya Allah memang telah menggariskan yang demikian. Aku dan kamu hanya ditakdirkan saling menjaga hati dalam diam.

Sekarang, sepertinya aku harus ikhlas dengan pilihanmu. Aku masih meyakini bahwa, semua yang terjadi pada kehidupan ini enggak ada yang kebetulan. Maka, aku akan terus berdoa agar Allah memberi yang terbaik buatku, juga buat kamu.

Maka hari ini, aku hadir di acara pernikahanmu. Aku doakan agar kamu bahagia hidup bersama orang yang kamu cinta. Meski kita enggak ditakdirkan hidup bersama, tapi aku bahagia pernah menjadi salah seorang spesial di hatimu.

***

Ditulis oleh: Seno Ners.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: