Liburan semester, seharusnya jadi momen yang ditunggu. Bahkan kalau bisa, diperpanjang aja deh biar bisa bangun siang setiap hari. Kebebasan, mungkin itu yang didapat dari hari libur. Sore tanpa les atau malam tanpa PR. Tapi bagiku, liburan artinya kerinduan. Aku tidak bisa ketemu dengan Mas Amrul. Bagi jomblo akut yang mengidap kesepian kronis sepertiku, menyukai seseorang rasanya seperti suplemen. Penambah daya tahan saat melawan kesendirian.

Otakku sedang kegirangan menyambut datangnya masa istirahat. Ia membuang rumus-rumus matematika dan fisika serta tanggal-tanggal peristiwa sejarah bangsa yang kutumpuk selama satu semester. Tapi hatiku sebaliknya, ia mengundang bayangan-bayangan laki-laki yang setahun ini kusukai. Duh, kenapa kami tidak bertetangga supaya bisa tetap bertemu meski sedang libur?

Malam, saat aku melamun, melukis wajah laki-laki tampan itu, Febri mengirim sebuah pesan.

Hey, aku punya kabar soal Mas Amrul. Tapi kamu jangan kaget, ya!

Aku membacanya dengan hati berdebar, mirip seperti bedug masjid yang dipukul tanpa aturan. Pesan itu tak langsung kubalas, terlihat di layar bahwa Febri masih mengetik …

Ternyata, Mas Amrul itu pacarnya Maryam. Anak kelas X-3, teman SMP-mu dulu.

Deg! Patah lagi, kesekian kali. Kenapa tidak ada satu pun laki-laki yang pernah menyambut perasaanku? Selalu saja, seorang yang kutaksir sudah punya pacar. Ya Allah, aku hanya ingin punya pacar seperti teman-teman seusiaku.

Aku mengabaikan pesan Febri, sampai dia kembali mengirimkan pesan.

Kamu sedih ya, Nad? Maaf ya, aku kasih tahu berita buruk. Lebih baik aku segera kasih tahu, daripada kamu makin banyak berharap nanti.

Aku berterimakasih atas niat baik sahabatku. Selain itu, tidak ada yang bisa kukatakan lagi. Malam jadi malam panjang, saat mataku sembab. Ingin sekali memejam. Tapi, otakku tidak berhenti bekerja. Kembali lagi, butiran bening mengalir menyentuh kedua pipiku.

***

Hari pertama masuk sekolah.

Hatiku masih sedikit sendu, sinar mentari pagi belum cukup hangat untuk mencairkan beku kecewa yang tersisa. Diantara patah hati yang kualami, ini yang paling dalam kurasakan. Barangkali karena telah lama menyukai Mas Amrul. Pun menggantung tinggi harapan agar dia bisa jadi pacar pertamaku. Bukankah tiada kisah kasih paling indah selain kisah di sekolah? Begitu setahuku, seperti lirik lagu yang sering Ayah dengar.

Ada sedikit hiburan, sebuah kenyataan bahwa aku berhasil masuk ke kelas IPA-1. Kelas unggulan yang berisikan siswa-siswa pilihan, mereka yang memiliki rangking 10 teratas di seluruh kelas X. Setidaknya, aku yang tidak terlalu pintar bisa terlihat keren. Aku mengalahkan Maryam, yang kini masuk di kelas IPS-6, satu kelas dengan Febri. Setidaknya, meski tidak dipilih jadi pacar Mas Amrul, aku memenangkan persaingan akademik dengan kekasihnya itu.  

Tapi yang tidak aku sangka, aku bisa duduk sebangku dengan Rossi. Perempuan cantik yang populer di sekolah. Belum lagi, ia berpacaran dengan Angga—si laki-laki paling tampan di angkatan kami. Aku dan Febri sering membincangkannya, sepasang kekasih yang bak di drama korea. Manis dan romantis.

Kadang, aku merasa ingin menjadi Rossi. Cantik, pintar dan banyak dibicarakan. Bagi siswa biasa yang sama sekali tidak populer, sebangku dengan Rossi jadi kesenangan tersendiri. Bagiku, ini jadi pelipur lara yang kedua.

***

Menjadi teman sebangku Rossi, membuatku berperan menjadi saksi kisah cintanya yang amat manis. Hampir setiap pulang sekolah, Angga sudah duduk di dekat tempat parkir menunggu kekasihnya.

Ada satu momen yang melekat erat di ingatanku, hari di mana Rossi merasa tidak enak badan. Ketika Rossi sedang ke toilet, Angga datang ke kelas dan mencarinya. Dia bertanya padaku, “Nad, ada Rossi di dalam?” Aku menjawab, “Oh, lagi di toilet. Tunggu aja, paling sebentar lagi balik ke kelas.”

Seketika Angga memberikan sebuah kantong plastik berisi roti sobek dan susu. Ada juga minyak kayu putih dan vitamin. Sambil tersenyum dia meminta bantuanku, “Aku minta tolong kasih ini ke Rossi, dia belum sarapan tadi,” Aku terima bungkusan itu, “Bilangin maaf, aku enggak bisa nunggu karena harus segera kumpul calon anggota OSIS di ruang atas.” Dalam hati aku berkata, ‘Perhatian sekali laki-laki ini. Ya Allah, aku pengin punya pacar yang kayak gini.’

Angga berjalan sedikit terburu, suara sepatunya terderngar berirama. Laki-laki berkulit putih itu memang punya daya pikat kuat. Setiap kali seorang perempuan menatap wajahnya, matanya tidak akan lepas menangkap detail wajah rupawan itu.

Matanya coklat terang seperti milik pria keturunan Arab, sempurna berpadu dengan dua alis tebal yang terlihat tegas. Hidungnya tak begitu mancung. Lengkung bibirnya sabit, modal besar membentuk senyum menawan. Sekarang, aku bahkan tahu hatinya juga tampan karena baik kepada kekasihnya.

Kalau saja wajahku cantik seperti Rossi, mudah sekali menaklukan hati laki-laki. Jangankan Mas Amrul, Angga saja bisa jadi pacarnya. Ya Allah, sampai kapan aku jadi jomblo?

***

Ternyata, masuk di jurusan IPA tidak seindah bayanganku. Kelihatannya saja keren, tapi aku sesak napas berlari mengejar cepatnya guru memberikan materi. Bahkan, hantu paling menakutkan sejagad raya—Matematika—mengharuskan kami menghadapi kuis, tepat di bulan pertama masuk sekolah. Kami harus sering latihan soal-soal supaya makin paham materi, begitu kata Bu Erna—guru Matematika.

Ada 10 soal yang harus kami kerjakan dalam waktu 30 menit. Aku mati gaya, hanya bisa corat-coret tidak jelas berlagak menghitung angka. Nyatanya, aku hanya menulis ulang soal kuis itu. Walhasil, aku hanya memperoleh nilai 30 karena hanya berhasil menyelesaikan tiga soal. Rossi lah yang mendapat nilai tertinggi, nyaris sempurna. Hanya salah satu nomor saja.

Aku memberi ucapan selamat kepadanya, “Kamu keren! Selamat ya, Rossi.” Dia membalasnya dengan senyum.

“Aku kok enggak ngerti cara menyelesaikan soal-soal tadi, betul tiga aja, dua soal tadi cuma asal-asalan jawab.” Kataku. “Nilai matematika-ku enggak boleh jelek,” ucap Rossi. “Aku mau masuk ke jurusan Matematika di ITB, terus ambil keahlian Industri dan Keuangan. Pokoknya nanti aku mau jadi ahli finansial.”

Aku menatap Rossi yang tersenyum setelah mengucap keinginannya itu. Ada kekaguman yang menyeruak, sekaligus rasa iri. Si cantik ini memiliki mimpi besar. Pacaran jalan, prestasi cemerlang. Paras cantik, mimpi melangit. Kenapa bukan aku saja yang diciptakan jadi perempuan seperti itu? Aku benar-benar tidak tahu, apa yang bisa kusyukuri dari menjadi seorang Nada Shabira.

***

Masuk di penghujung September, Ujian Tengah Semester semakin dekat. Beberapa guru mulai mengadakan latihan, tentunya Bu Erna tidak ketinggalan menyiapkan bahan latihan untuk mata pelajaran Matematika. Seperti sebelumnya, beliau mememberi soal untuk dikerjakan dalam waktu yang relatif singkat.

Ada yang kurang di latihan UTS Matematika kali ini. Teman sebangkuku tidak masuk sekolah, tanpa alasan. Tidak ada surat izin masuk darinya, tidak satu pun teman sekelas mengetahui kabarnya. Bahkan, saat aku bertemu dengan Angga di kantin dan coba bertanya, ia tak yakin menjawab, “Kemarin dia masuk angin, sih. Tapi, sejak tadi malam aku enggak bisa menghubungi.”

Aku mencoba mengirim pesan kepada Rossi. Tidak ada balasan. Ada apa dengannya? Selama aku kenal Rossi, dia terlihat senang bercerita dan bukan sosok yang sering menutup-nutupi sesuatu. Apa ia diculik? Aku cepat-cepat menepis pikiran burukku.

Bangku sebelahku masih kosong hingga hari setelahnya.

Esoknya …

Esoknya lagi.

Terus begitu.

Hingga satu minggu.

Rossi tidak membalas pesan-pesanku. Pesan yang kukirimkan padanya, tiap hari. Teman-teman di sekolah pun dikejutkan dengan kabar dari kelas sebelah—IPA 2—Angga pun sudah dua hari tidak masuk sekolah tanpa kabar.

***

Hari Senin, saat mata kuliah Bahasa Indonesia, Bu Tuti—wali kelas IPA 1—membawa sebuah  kabar. Setelah membuka kelas dengan salam, pelan ia berbicara, “Hari ini ada kabar yang sedikit tidak menyenangkan,” ia menyapu pandang ke siswa-siswa sebelum melanjutkan pengumuman, “Sahabat kita, Rossi sedang ke Sumatra. Sekarang, dia berencana ikut Ibu kandungnya tinggal di sana.”

Semua teman di kelas baru mengetahui bahwa Rossi berasal dari keluarga broken home. Orangtuanya bercerai ketika dia kanak-kanak, setelah itu Ibunya pulang kembali ke Sumatra. Tak lama, Ayahnya menikah kembali. Rossi tinggal bersama Ayah dan Ibu tirinya di sini. Ternyata, di balik parasnya yang ayu dan sosoknya yang populer, hidupnya tak seindah itu.

“Kita doakan semoga dia senang ada di tempat barunya.” Begitu kata Bu Tuti menutup berita soal Rossi. Semua siswa kemudian membuka buku paket, memulai pelajaran. Hanya aku yang kemudian larut dalam lamunan, ‘Kenapa Rossi tidak pamit pada kami semua? Apa ada masalah besar?’

***

Desas-desus soal Rossi dan Angga memenuhi sudut-sudut sekolah. Maklum, diketahui Angga juga sempat tidak masuk berhari-hari. Ada kabar bahwa Rossi tengah hamil dan Angga tidak mau bertanggungjawab. Aku masih belum percaya, tapi memang terasa aneh. Rossi tiba-tiba pindah, sementara Angga tidak menampakkan batang hidungnya di sekolah.

Kabar miring ini kemudian dikonfirmasi oleh Bu Tuti di kelas IPA 1. Sambil memasang senyum penuh arti, ia menuturkan, “Ada kabar terbaru dari Rossi,” Bu Tuti meneruskan, terlihat menata kata-katanya, “Dia sudah kembali ke Jogja. Sekarang, sudah resmi keluar dari sekolah dan akan menikah pekan depan. Mari sama-sama kita doakan semoga pernikahannya berkah.”

Ya Allah, ternyata benar kabar itu. Rossi memang telah hamil. Spontan, aku menatap bangku kosong di sisi kiriku.

Kepastian kabar ini pun kudengar dari Febri. Ia tidak sengaja mendengar percakapan guru BK saat sedang mengumpulkan tugas di kantor guru. Rossi telah diminta mengundurkan diri dari sekolah, Angga juga telah dipanggil Guru BK. Menurut cerita Febri, Rossi telah hamil 5 bulan. Betapa mengejutkan kabar itu!

***

Angga masih diizinkan bersekolah. Beberapa hari setelah tanggal pernikahannya, ia kembali ke sekolah. Pesonanya terlihat pudar, senyumnya tidak lagi seperti sebelumnya. Belakangan, aku berpikir. Pada kenyataannya, sesuatu yang kuanggap sempurna, justru melukai mimpi seseorang.

Paras cantik dan tampan tidak selalu jadi jaminan hidup penuh kesenangan. Pacaran yang kupikir adalah hal yang membahagiakan, nyatanya bisa berbalik menyeramkan. Rossi, perempuan cantik itu kehilangan kesempatan untuk meraih cita-cita besarnya. Ya Allah, ternyata aku sempat salah menaruh rasa iri.

Dua tahun setelah peristiwa itu, kabarnya, Angga dan Rossi bercerai. Kini, Rossi mengasuh anak perempuannya sendirian. Perlahan aku sadar bahwa kesendirian adalah cara Allah untuk membuatku menjaga diri. Aku kini bersyukur, tak jatuh ke lubang jatuh cinta yang salah. Kumohon jaga aku selalu, Ya Allah. []

Ditulis oleh: Hapsari TM

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: