Ilustrasi dari Kompas

Aku Kangen Bapak. Kangen Banget.

Masih tentang bapak. Kali ini aku mau cerita tentang bapak dan kucing kesayangan keluarga kami. Namanya Den Bagus. Masih ada album fotonya di FB. Den Bagus ini kucing kampung jantan kembang asem yang datang sendiri. Bapak pernah protes kenapa aku ngasih namanya “Den Bagus” padahal itu sebutan buat tikus. Aku bilang karena kucingnya ganteng jadi kukasih nama Den Bagus.

Orang tuaku memang suka memelihara binatang dan menanam tanaman sih. Di rumah ada ayam, burung, kura-kura, dan kucing. Kalau ayam yang ngurusi ibuku. Yang lain yang ngrawat bapakku. Termasuk Den Bagus ini nurut banget. Sama aku lulut, tapi karena aku jarang di rumah ya lulutnya sama bapak. Tidur juga ikut dia.

Den Bagus suka nginthil bapak. Ke masjid dia ikut. Nungguin sampai selesai salat jamaah di emperan masjid, nanti kalau sudah selesai dia ikut pulang. Jamaah masjid sampai hafal. Ke warung juga dia ikut. Dia tahu kalau bapak pasti beliin cemilan favoritnya: tempe kripik. Jadi ada toples khusus buat Den Bagus. Isinya tempe kripik.

Sering juga pas habis subuhan bapak pergi ke sawah, sampai setengah jalan bapak kembali lagi ke rumah karena mulangin Den Bagus, takut nyasar nanti kalau ke sawah. Den Bagus juga sering ngikuti bapak kalau lagi mengunjungi pegawainya. Dia terkenal deh.

Dia nengok kalau dipanggil “Gus … Gus … Gus,” sampai sempat bikin salah paham pas rapat. Dikira bapakku manggil Pak Lurah yang namanya Agus. Hohoho ….

Bapak juga yang beliin makan buat Den Bagus. Dia suka ikan asin diremet dengan nasi. Ibu-ibu yang belanja itu sampai hafal.

“Pak Yoto mesthi arep mundhut gereh. Ora didhahar dhewe, mesthi nggo kucinge,” kata ibu penjual sayur kalau bapak pasti mau beli ikan asin, nggak dimakan sendiri, tapi buat kucingnya. 
“Ya nek wonge gampang isa mangan apa wae. Menungsa kan apa-apa dipangan. Duit ya doyan, aspal ya doyan, kanca ya doyan. Yen kewan mung butuh mangan panganane,” kata bapak kalau manusia gampang bisa makan apa saja. Semuanya doyan. Mau duit, aspal bahkan teman. Kalau hewan cuma makan makanan yang seharusnya ia makan. 
Oya tentu ini hal yang huwow karena bapak kan paling males mengerjakan pekerjaan yang identik dengan ibu-ibu, belanja di bakul blanjan misalnya. Tapi demi Den Bagus beliau mau melakukan itu.

Pernah waktu itu Den Bagus kejebur kalen, udah nggak mbentuk, lumpur thok. Bapak juga yang mandiin. Diangkat dibawa ke kamar mandi. Padahal selama punya kucing nggak ada yang mau dimandiin. Habis diandukin dijemur deh si empus.

Oya tetangga-tetanggaku tentu saja ada yang jahat sama kucing. Pernah waktu itu Bue nelpon katanya Den Bagus pulang dengan kepala yang berdarah-darah. Ada yang mukul pakai batu. Aku mikirnya sudah nggak ada harapan kalau Den Bagus bisa hidup. Kata Bue bapak yang bersihin darahnya. Diselimuti karena Den Bagus badannya panas, nggak mau makan.

Telaten banget bapak ngobatin Den Bagus. Ternyata Den Bagus sembuh. Pas sudah mau makan, bapak beliin Den Bagus ayam kentaki satu kardus besar, dikasih ke Den Bagus semua. Walau sembuh tapi Den Bagus jadi cacat. Matanya hilang satu. Sejak saat itu dia punya julukan baru: Si Buta.

***

Waktu PPL, aku jadi lama nggak pulang. Pas selesai PPL, aku pulang ke rumah seminggu dan selama itu Den Bagus di rumah saja, nggak pergi-pergi. Pas aku sudah balik ke Solo, beberapa hari kemudian Bue nelpon kalau Den Bagus udah nggak ada. Sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu mau ngabari tapi nggak sanggup nyusun kata-katanya, Bue tahu aku sayang banget sama Den Bagus.

Kata Bue, Den Bagus sakit. Dia mati di pangkuan Bue. Memang beda dengan kucing-kucing lainnya yang kalau mau mati, biasanya pergi nggak kembali. Yang ngubur Den Bagus Bue sendiri, dibuntel sprei. Bapak nggak tega.

Lama kami nggak punya kucing, sampai suatu saat datang kucing telon ayu, Bue yang kasih nama: Melati. Melati ini tiba-tiba ada di kuburannya Den Bagus, diambil ibuku dia nurut. Ternyata dia lagi hamil. Pas nglahirin maunya dielus-elus ibuku. Anaknya tiga. Salah satu anaknya namanya Imas, tapi jantan. Imas ini kucing kesayangan. Kurun waktu ini, kucing-kucing itu datang dan pergi. Imas ini yang bertahan lama. Pas bapak sakit parah itu dia nungguin terus, ikut nggak doyan makan. Pernah aku lihat Imas menatap bapak lama sekali. 
“Ngapa ta?” Kata bapak dengan suara yang serak.
“Aoong …” kayaknya Imas sedih banget. Lalu dia ndusel-ndusel Bapak. Kalau tidak salah seminggu kemudian bapak nggak ada.

Sekarang Imas juga sudah pergi dan tak kembali. Tinggal 3 kucing di rumah, Boy, Imas kecil dan Cemong. Tapi sudah nggak ada bapak yang merawat mereka. Tapi kucing-kucing itu nggak kekurangan kasih sayang dari Bue dan Mbokdhe sebelah yang sering ngasih sebakul ikan atau ayam rebus. []

Oleh: Impian Nopitasari.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan