Ilustrasi dari Kompas

Aku Kangen Bapak. Kangen Banget.

Pulang dari Yogya, aku demam. Ditambah aku lupa menutup jendela sebelum tidur. Sukses masuk angin. Semalam aku mimpi ketemu bapak. Dalam mimpiku itu bapak ngompres aku sambil nembangin Asmaradana

Poma-poma wekas mami,
Anak putu aja lena,
Aja katungkul uripe,
Lan aja duwe kareman,
Marang pepaes donya,
Siang dalu dipun emut,
Yen urip manggih antaka
.”

Artinya kurang lebih, pesan untuk anak cucu agar hidup jangan sampai terlena dengan kemilau dunia, siang malam harus ingat kalau suatu saat hidup kita di dunia ini akan berakhir. Kita akan menemui yang namanya kematian. Maaf nggak pinter menerjemahkan.
Bangun-bangun aku sudah nggak demam, tinggal masuk anginnya. Langsung aku ambil wudhu untuk salat.

Soal ingat sama bapak ini sebenarnya sudah kemarin pas aku main ke tempat teman di Yogya. Dia lagi nggenjrengin gitar terus aku diminta nyanyi lagunya Mbah Gesang. Aku bilang aku nggak hafal, tepatnya aku nggak bisa nyanyi. Kalau hafal sih sebenarnya hafal, cuma aku cukup tahu diri untuk tidak membuat horeg padepokan itu. Bisa pecah semua gelas di situ kalau aku nekat nyanyi, haha.

Lalu aku cerita bahwa satu-satunya keahlian bapak yang tidak diwariskan ke aku adalah nembang, nyanyi, main musik dan hal yang berhubungan dengan itu. Eh, temanku itu malah masih nyuruh aku nembang Gambuh. Sudah tahu aku nggak bisa nembangin, cuma hafal tembangnya saja.

Sungguh aku jadi kangen bapak. Beliau itu enaaaak banget kalau nembang. Kalau pulang ke rumah itu yang selalu kurindukan dari beliau. Bapakku dulu adalah guru SD sekaligus guru ekskul Macapat dan nulis aksara Jawa. Murid-murid yang dibimbing beliau itu seringnya juara. Kalau ada lomba yang aturannya harus membawakan tembang karangan sendiri, bisa dipastikan tembangnya itu adalah karanganku.

Iya, aku selalu jadi tim belakang. Orang nggak lihat siapa yang membuatnya, yang mereka nilai adalah yang tampil. Aku sering marah sama bapak kenapa anaknya sendiri nggak pernah diajarin nembang? Bapak nggak pernah ngomong alasannya kenapa.

Begitu juga dengan musik. Bapak itu bisa main alat musik macam seruling atau organ begitu. Kalau gamelan, beliau pasti bisanya. Tapi anaknya sendiri buta nada. Paling mentok aku hanya bisa main recorder sama pianika. Hukz. Itu juga aku nggak dibeliin. Bisa main itu karena di SMP diajarin.

Pas SMA aku nekat beli gitar di Purwodadi, pakai uang tabungan yang kukumpulin tiap hari dari uang saku. Sampai rumah cuma dilihatin aja. Aku belajar sama Omnya temenku, ngerti kunci sedikit-sedikit. Lagu yang bisa kugenjrengin utuh waktu itu adalah “Bintang” dari Anima Band. Lalu bisa genjrengin lagu-lagunya Peterpan. Kalau sekarang, sudah lupa semua, gitar juga sudah diambil sepupu.

Aku pernah nangis karena merasa nggak disayang bapak. Keluargaku itu kan cukup mampulah ya kalau cuma beli pianika. Apalagi aku kan ranking 1 terus sejak SD, tapi nggak pernah yang namanya dibeliin apa kek atau dirayain gimanalah. Padahal teman-temanku yang rankingnya di bawahku dapat hadiah dari ortunya, barang mewah lagi.

Kata bapak ya buat apa perayaan, kamu kan orangnya memang rajin belajar, kalau dapat ranking 1 ya wajar, tidak ada yang harus dilebih-lebihkan. Eh jangankan pianika, seruling recorder aja aku belinya harus ngumpulin uang saku juga, mana bapak itu pelit ngasih uang jajan..

Tapi suatu hari pas aku pulang sekolah, aku lihat bungkusan. Aku tanya Bue, katanya itu hadiah dari bapak, buka aja. Pas tak buka ternyata itu casio. Nggak tahu kenapa bapak nggak mau beliin pianika malah belinya casio. Kata bapak biar aku belajarnya di rumah aja dan biar mas-mas personel terbangan/kelompok barzanzi itu bisa minjem casio di sini. Yaelah Paaak tetep aja mikirin orang laiiiiin.

Ya begitulah bapak. Nggak mau ngajarin anaknya sendiri soal musik. Sebenarnya dalam hal apa saja juga nggak diajarin e. Bapak hanya mengoreksi jika aku salah. Termasuk ngaji, bapak akan mengoreksi jika tajwidku salah. Aku belajarnya tetep sama orang lain, Kiai kampung. Padahal ya beliau sendiri pinter ngajinya.

***

Jadi walau aku anak bungsu, nggak ada yang namanya dimanjain. Apa-apa kalau bisa dikerjakan sendiri, kerjakan sendiri. Urip samadya, hidup nggak usah terlalu dibikin berat. Adanya itu ya sudah nikmati itu. Jadi dari kecil aku nggak pernah yang namanya merajuk pengin jajan ini jajan itu. Apa yang di hadapanmu suka nggak suka ya dimakan. Barang kalau masih bagus ya dipakai saja, nggak usah beli baru.

Soal tanggungjawab juga, beliau serius soal itu. Kalau berbuat kesalahan ya harus minta maaf, terima konsekuensinya. Ini kebawa sampai aku besar. Pernah ya aku kemaleman sampai di terminal Purwodadi. Itu aku nggak dijemput malah disalah-salahin nggak bisa mengatur waktu. Ya sudah aku mau tidur di terminal saja. Tapi Bue yang uring-uringan, lalu nyuruh orang buat jemput.

Pas sudah kuliah, aku nggak pernah yang namanya minta uang lebih kalau nggak kepepet dan itu memang kebutuhan yang penting. Soalnya bapak nggak bakalan ngasih. Kalau aku minta duit SPP atau bayar kos ya pasti sesuai nominalnya, nggak berani aku melebihkan berapa. Soalnya pasti jadi nggak berkah. Makanya aku dulu nyambi nulis, ngelesin, jual koran, cari beasiswa atau apalah yang penting nggak minta ortu. Ini bukannya aku sok-sokan jadi anak berbakti, tapi ya memang ortu nggak bakalan ngasih di luar uang kuliah, makan, bayar kos. 
Bapak itu selalu pakai ilmu burung.

Katanya burung dilepas aja bisa cari makan mosok manusia yang punya akal nggak bisa cari makan. Aku selalu ngeyel kalau alam sekarang sudah rusak, burungnya sudah susah cari makan. Makanya aku dilepas di manapun ya nggak mbok-mboken.

Pertama kali tinggal di Solo ya rasanya nggak kangen-kangen banget gitu sih sama rumah. Biasa aja. Aku juga terus langsung ke mana-mana, tanya-tanya orang kalau nyari ini di mana nyari itu di mana, naik bus sendiri. Kata bapak kan jangan kalah sama burung. Lha wong aku juga nggak pernah dimanja e, mau telpon sambat gitu ya malah diketawain bapak.

Soal kemandirian itu aku sudah didoktrin bapak dari kecil. Bapak suka ngarang-ngarang lagu, yang paling aku ingat yang ini,

Kucing cilik nubruki buntute mbokne
Nggo latian nubruk mangsan
Suk yen gedhe bisa golek pangan dhewe
Ra njagakke pawehe biyunge
.”

Lagu itu menceritakan kucing kecil yang suka mainin ekor induknya, untuk latihan menangkap mangsa, besok kalau sudah besar bisa nyari makan sendiri, tidak bergantung pada induknya lagi. Begitu kira-kira.

Tapi bapak juga bilang ada kalanya kita butuh bantuan orang lain juga, tidak selamanya bisa sendiri. Tapi selama bisa sendiri ya lakukan sendiri.

Kalau orang lain lihat, bapak itu memang tega. Jangankan orang lain, ibuku juga bilang begitu. Sering aku lihat Bue berantem sama bapak. Biasanya masalahnya karena bapak dianggap terlalu memikirkan orang lain, keluarga sendiri nggak dipikirin. Bue tu kadang pengin kayak istrinya orang kebanyakan yang dibeliin baju lah, dikasih uang lebih lah.

Ya walau Bue juga kerja sih. Tapi bapak ya memang bukan tipe romantis. Kata bapak yang penting kebutuhan keluarga nggak kurang, jadi lebihnya itu bisa dikasih orang lain yang lebih membutuhkan. Banyak orang yang ngaku sudah dibantu bapak, kadang aku juga nggak kenal siapa mereka. Aku akui bapak temannya banyak dari kalangan manapun.

Bapak orangnya nggak pernah iri dengan orang lain, hidupnya lugu, sering dibohongi orang karena saking baiknya, kayak gitu ya nggak marah. Malah Bue yang nggak terima. Bapak itu prinsipnya kayak ajaran itu loh: kalau pipi kananmu ditampar, kasih pipi kirimu. Eh koreksi kalau salah. Nggak heran pas bapak meninggal, yang layat banyak, nyolatinnya sampai bersesi-sesi.

Memang aku nggak pernah dimanjain bapak dengan harta, lha wong beliau meninggal pun nggak ninggalin harta juga. Ingat itu ya yang sering nuduh aku dapat warisan tanah sekian hektar. Masa kecilku dengan bapak yang kuingat adalah beliau tiap pulang mengajar selalu bawa buku bacaan dari sekolahnya dan bawain jajan, seringnya putu ayu. Kadang karena stok buku di sekolah sudah aku baca semua, beliau cari majalah-majalah bekas.

Aku juga nggak nanya dapatnya dari mana. Dulu seringnya dibawain majalah Si Kuncung dan Bobo. Tapi aku juga baca majalah-majalahnya bapak sakingan sudah nggak ada bacaan lagi. Karena sering baca itu aku jadi ingin nulis juga. Aku nulis, bapak yang ngoreksi. Diajarin cara ngirim ke kantor pos. Pas sudah gede gini beliau jadi kritikus paling pedas kalau baca tulisanku, terutama yang pakai bahasa Jawa.

Wis lah entek pokoe, ra enek benere. Tapi kata Bue, bapak sering pamer ke teman-temannya, ke Om yang guru bahasa Jawa juga, majalahnya dikumpulin buat dipamerin. Padahal kalau sama anaknya ngomongnya tulisannya elek banget.

Bapak itu gengsian kalau kangen sama anaknya. Biasanya nelpon nggak penting.
“Bahasa Inggrise babi apa?”
“Pig,”
“Lha ngapa ta, Pak?”
“Rapapa. Lagi ngisi TTS. Yawis ngono wae.”
Nggak jelas banget, bilang aja nyuruh anaknya pulang. Wkwkwk. Emang beliau suka ngisi TTS sih. Aku kalau pulang kan bawa majalah banyak banget.

Ya Allah, aku kangen bapak. []

Oleh: Impian Nopitasari

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan