Aku Memilih Resign Demi Suami dan Anakku

Aku dirundung ragu, setelah tiba-tiba rekan kerjaku mengirim pesan.

“Mbak, yakin jadi resign? Tahun depan ada dua cabang baru mau buka, loh. Ini kesempatan Mbak untuk naik posisi. Mbak kan udah jadi kepercayaan si Bos.” Lama kutatap layar handphone, menimbang-nimbang.

“Hehehe … itu mungkin rezekimu. Ambil aja kalau ada tawaran ngisi cabang baru, siapa tahu kamu ketemu jodoh di sana.” Kujawab setengah bercanda.

“Penginnya sih, gitu. Tapi Mbak kan tahu, aku bahkan pernah buat masalah sama si Bos jadi nggak mungkin aku yang dikasih tawaran duluan. Apalagi Mbak sudah lebih dulu masuk sini daripada aku. Coba Mbak bilang suami, deh.” Rekanku membalas, mendorongku untuk mengubah keputusan.

“Aku kan udah ngajuin resign, tinggal nunggu ACC aja. Nanti aku ngobrol sama suami deh, baiknya gimana” Akhirnya, kusudahi chat dengan rekanku supaya serangan ragu itu tidak semakin kencang.

Esok harinya, perbincangan soal cabang baru masih hangat dibahas di kantor. Tentu staf marketing dan beberapa orang lain yang sudah bekerja lebih dari satu tahun sangat antusias menyambutnya. Sudah jelas akan ada yang naik posisi ke level Head Marketing atau bisa juga Assistant Manager. Apalagi ada kesempatan bagus juga untuk bisa ikut training di perusahaan pusat sebelum tugas ke cabang baru. Bahkan tahun lalu, saat pembukaan cabang Jogja ada satu orang yang ditarik untuk bekerja di kantor Pusat. Bekerja di pusat memang jadi tujuan bagi kebanyakan karyawan di sini. Selain gaji yang diterima memang lebih besar, beban kerja di lapangan jauh lebih sedikit.

***

Hari itu tanggal 9 Desember, pengunduran diriku dinyatakan diterima. Maka per Januari 2018, aku sudah tidak lagi bekerja. Butuh 4 bulan untuk menunggu izin tersebut keluar, betapa rasa galau berkali-kali menghampiri. Terutama rekan-rekan kerja dan atasanku yang banyak sekali memberikan pertimbangan. Bahkan, Kepala HRD masih saja sempat merayuku ketika aku menemuinya untuk mengambil berkas pengunduran diri.

“Lisa, sudah mantap? Sayang banget, dua tahun ini kinerja kamu bagus. Pasti kamu dibutuhkan di cabang baru.” Katanya sambil menata berkas-berkas dalam stopmap biru.

“Insyaa Allah sudah, Bu. Kan sudah keluar SK pengunduran diri saya. Saya juga sudah beberapa bulan ini mempertimbangkan keputusan saya.” Jawabku.

“Memangnya setelah melahirkan nanti kamu ndak mau kerja lagi, to?” Ia menimpali dengan pertanyaan

“Tidak Bu. Ngurus anak saja nanti.” Tegasku

“Yakin? Padahal kamu masih muda. Baru hamil yang pertama kan? Saya aja dulu 3 anak bisa kok, ngurus sambil kerja. Nggak pake babysitter, Ibu saya yang bantu asuh. Sayang banget, kalau kamu cuma jadi Ibu rumah tangga.”

Aku sedikit kesal dengan cara Kepala HRD berbicara, langsung kujawab, “Iya, memang masih hamil pertama. Justru karena saya masih muda, tenaga dan pikiran saya masih fresh untuk mengurus anak. Kalau saya minta bantu Ibu saya, kok kasihan ya. Seharusnya di hari tuanya, Ibu saya bisa istirahat. Mengurus balita itu kan, juga bukan pekerjaan yang enteng.”

Kepala HRD hanya tersenyum tipis tanpa menjawab, dengan segera ia membubuhkan stempel dibeberapa surat. Lalu dimasukannya ke dalam stopmap dan ia serahkan padaku. Dalam hati, aku beristighfar. Mudah-mudahan jawabanku tak menyakiti hatinya. Aku hanya mengutarakan pendapatku saja.

“Ini ya, berkasnya bisa kamu bawa. Nanti ke Pak Manager dulu ya. Pastikan hand over pekerjaan sudah kamu disuksikan dengan beliau.”

“Terima kasih, Bu. Saya mohon pamit.” Kujabat tangannya dan segera keluar dari ruangan.

***

Di hari terakhirku bekerja, aku berpamitan dengan teman-temanku. Ada kesedihan yang kurasakan. Tapi, itu bukan karena aku merasa akan melewatkan banyak kesempatan untuk melejitkan karir. Aku hanya sedih karena artinya aku tidak lagi menghabiskan hari-hariku dengan mereka yang baik hati. Terutama sahabat dekatku, Meira. Aku biasa curhat dan makan siang dengannya. Bahkan dia yang mengenalkanku dengan Mas Farid hingga akhirnya aku dan Mas Farid menikah. Meira juga yang menguatkanku dari serangan galau akibat pendapat orang lain.

“Lis, aku yakin kamu bisa menjalani pilihanmu. Aku tahu dengan prestasi kerjamu yang cukup mentereng, godaan untuk terus berkarir itu berat. Tapi, pilihan mengurus rumah tangga juga satu hal yang hebat.”

“Makasih ya, Mei. Awalnya, ini memang permintaan Mas Farid. Dia yang memintaku untuk di rumah saja. Tapi setelah aku pikir dengan matang, aku setuju dengan permintaannya. Aku bisa fokus mengurus anakku. Kan sayang ya, kalau aku nggak bisa lihat perkembangannya. Nanti kalau aku berkarir terus, tahu-tahu aku udah tua. Pengin sama anakku, yang ada anakku sudah harus mandiri.”

“Betul, justru momen yang tepat pas anak masih kecil ya. Bangga sama kamu, Lis”

Meira tersenyum kemudian kami berpelukan.

***

Di awal memulai menjadi Ibu rumah tangga, aku sedikit canggung. Tapi suamiku sungguh baik dan supportif. Ia rajin mengirimi pesan, menanyakan bagaimana kabar janin dalam perutku. Sampai di suatu malam ia mengungkapkan rasa bersyukurnya. Katanya, suamiku akan lebih tenang, karena istrinya akan lebih aman di rumah. Ia lebih mudah memastikan kondisiku. Apalagi nanti, anaknya akan dijaga oleh istrinya sendiri bukan orang lain. Aku memang sempat ragu sebelum ini, tapi aku yakin bahwa Allah yang akan mencukupkan kami meskipun aku tidak bekerja lagi.

Oleh: Hapsari TM.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan