kisah pengantin baru

Aku Memilihmu, Karena Allah yang Menginginkannya

Sore menjelang. Aku duduk di ruang tengah bersama seorang pria berbaju toska yang hampir dua minggu ini jadi suamiku. Hatiku sedang dipenuhi bunga-bunga, kuncup yang malu-malu mulai mekar satu per satu. Hari-hari baru bersama Mas Firman memunculkan berjuta kejutan. Memang, tidak semua hal berjalan sesuai keinginan. Tapi, kebaikan lain yang tidak kuduga malah datang bertubi-tubi. Barangkali itu yang dinamakan keberkahan. Aku bersyukur pada-Mu ya, Rabb.

Aku mengarahkan pandang ke sebelah kanan. Kuamati pria berkulit putih yang sedang menyeruput secangkir teh buatanku. Pandangan itu membawaku memutar ulang rekaman, momen beberapa bulan lalu saat kali pertama kami melihat wajah masing-masing.

Penghujung Desember.

Setelah berkenalan melalui perantara selama kurang lebih dua minggu, kami memutuskan untuk saling bertemu. Tentunya didampingi perantara, bukan cuma berdua. Saat itu, hatiku belum sepenuhnya mantap memilih laki-laki ini. Usia kami sebaya, dia dua bulan lebih tua dariku. Padahal, aku ingin sekali punya suami yang paling tidak usianya tiga tahun di atasku. Kan, kalau dengan yang lebih tua, aku bisa tetap jadi perempuan manja.

Aku telah mempelajari proposal taaruf miliknya, tertulis jelas bahwa ia menginginkan perempuan salihah, dewasa, lembut dan penyabar. Itu bukan aku banget. Terus terang, aku merasa tidak sepadan dengan laki-laki ini. Pun keinginanku dengan keinginannya sebenarnya tidak banyak yang klop. Tapi entah bagaimana kami memutuskan lanjut ke tahap nadzor alias bertatap muka. Kalau aku sendiri, ingin coba berbincang. Rasanya tidak fair menilai seseorang kalau hanya hanya kenal lewat grup whatsapp—yang anggotanya aku, Mas Firman dan perantara kami.

Setelah berbincang santai sedikit basa-basi, aku menceritakan beberapa hal yang sebetulnya sudah kuceritakan melalui chat di grup. Hanya saja, aku belum benar-benar detail menyampaikannya. Termasuk juga menceritakan kesalahan di masa lalu. Aku ingin mengakui kalau pernah berpacaran. Aku ingin jujur, biar dia tahu kalau aku bukan perempuan yang alim sejak lahir.

“Saya menikah karena ingin memiliki masa depan. Kita sama-sama memiliki masa lalu, tapi yang nanti kita jalani itu masa depan, Dek.” katanya menanggapi ceritaku. Muncul perasaan lega setelah mendengar jawabannya.

Ada kesan baik yang kutangkap ketika bertemu langsung dengannya. Kami nyambung, meski punya banyak perbedaan ternyata beberapa hal bisa didiskusikan dengan baik. Seperti ketika dia bilang ingin tetap tinggal bersama orangtua setelah menikah, tapi aku sebaliknya. Ketika kuutarakan keinginanku untuk lepas dari orangtua atau mertua, dengan lembut dia bilang, “Semua kakak perempuan saya merantau dan dibawa suaminya. Kalau saya juga ikut pergi, siapa yang akan merawat keduanya?”

Aku hanya mengangguk, bisa memahami alasannya. Dia kemudian melanjutkan jawabannya, “Tapi kalau nantinya istri minta untuk tinggal terpisah, enggak masalah. Saya akan berusaha cari tempat tinggal yang dekat dengan orangtua biar mudah kalau mau jenguk.”

Aku tersenyum. Baru kali ini aku bertemu seorang laki-laki yang sebaya namun berpikiran bijak dan dewasa seperti dia.

***

Aku masih menatap suamiku. Kali ini, dia telah menghabiskan seisi cangkir. Lalu lamunanku buyar oleh suara suamiku.

“Dek, nanggung ya minum teh secangkir gini. Besok lagi kalau bikin teh buat Mas pakai gelas besar aja,” ucap Mas Firman sambil meletakkan cangkir di meja. “Kamu juga enggak perlu hemat gula. Mas enggak akan pelit uang belanja, kok.”

“Eh, kurang manis ya, tehnya?”

Mas Firman cuma nyengir menanggapi pertanyaanku. Aku pun cuma mesem. Memang begitu cara Mas Firman protes, tidak membuatku sakit hati. Malah aku merasa bahwa dia sangat membantuku mengurangi sifat manja. Ia romantis dengan caranya sendiri. Seikat bunga, ribuan rayuan gombal, berlembar-lembar puisi masih kalah manis!

Setelah mengambil gelas dari meja dan meletakkannya di bak cuci, aku kembali ke ruang tengah. Kupikir, jam santai begini tepat dihabiskan untuk menonton televisi. Segera kucari remote tv untuk menghidupkannya.

Remote tv di mana ya, Mas. Kok enggak ada, sih?” tanyaku setelah tak berhasil menemukannya.

“Belum dikeluarin. Masih di kardus atas itu, bareng sama barang-barang kecil.” Suamiku menjawab sambil mengacungkan telunjuknya ke arah tumpukan kardus.

Hari ini, kami memang baru saja pindah ke sebuah rumah kontrakan. Setelah menikah, kami sempat tinggal di rumah mertuaku. Awalnya, aku sudah menerima keputusan kalau memang suami ingin tetap tinggal di sana. Ternyata, dia juga ingin menuruti keinginanku. Jadilah kami mengontrak rumah yang tak begitu besar, lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah mertuaku. Ya … kalau naik motor paling cuma butuh waktu 15 menit.

“Males deh, kalau harus nyalain dan ganti channel pakai tombol di tv. Enggak jadi nonton tv aja kalau gitu.” kataku. Aku memang perempuan mager (males gerak) jadi paling anti ganti saluran tv tanpa menggunakan remote karena harus mendekat ke tv-nya.

“Bentar lagi magrib, baiknya sekalian nanti aja kalau mau nonton tv. Lagian nih, jam segini isinya acara-acara sinetron cinta-cintaan gitu, lho. Enggak banget pokoknya, parah. Makanya anak zaman sekarang tuh udah ngerti pacaran. Ya, karena nonton acara-acara itu.”

“Mas nyindir aku?” Mataku melirik ke Mas Firman.

Ia tersenyum sambil menatapku, “Enggak, Dek. Kesalahanmu kan sudah lewat. Sudah jadi masa lalu.”

***

Satu-satunya hal yang paling membuatku sempat ragu untuk melanjutkan taaruf adalah masa laluku. Kalau berkaca pada peristiwa di zaman kuliah dulu, rasanya tidak ada pantas-pantasnya aku bersanding di pelaminan dengan Mas Firman.

Aku punya tiga orang mantan. Dua di antaranya, teman sekelasku semasa kuliah. Satunya lagi, adik kelasku. Memang aku tak pacaran yang sampai kebablasan. Tapi parahnya, dua mantanku adalah sepasang sahabat baik. Lepas dari yang satu, aku jatuh cinta pada yang lain dan … jadian sebulan setelah putus dengan mantan yang pertama.

Dulu, pokoknya aku jadi bahan pembicaraan seantero kampus. Eh … bukan juga sih, lebih tepatnya kawan seangkatan. Barangkali kalau ada koran gosip kampus, akan muncul headline begini, Citra Salsabila: Medali Bergilir Untuk Sepasang Sahabat. Aku bingung, di mana kuletakkan hatiku dulu itu ya, kok rasa bersalahku baru muncul bertahun-tahun setelah pengalaman itu. Bisa-bisanya, omongan teman pun tak aku acuhkan. Banyak yang coba menasihatiku, tapi semua hanya jadi angin lalu.

 Untung saja, aku dan pacar keduaku ini awet menjalani hubungan. Dulu aku bangga rasanya. Ternyata meskipun harus melewati ujian celaan dan gosip teman-teman, hubungan ini bisa berjalan sampai dua tahun. Meskipun pada akhirnya, aku diselingkuhi. Kalau dulu aku menyadari bahwa itu hukuman dari keburukan yang kulakukan, pasti aku tobat detik itu juga.

Patah hatiku itu justru menyalakan bara dendam dalam hatiku. Pokoknya aku benar-benar berusaha untuk membuktikan pada mantan—yang selingkuh itu—bahwa aku bisa segera move on. Aku harus cari pengganti yang lebih ganteng dari dia. Harus. Wajib a’in.

Arya Wibisana. Adik kelas yang sering kutemui di kantin, kami juga pernah terlibat dalam kegiatan kampus yang sama. Saat jadi volunteer untuk event pentas musik yang diselenggarakan himpunan mahasiswa jurusan kami. Pokoknya Arya ini ganteng dan hobi main gitar. Biasanya, selepas dia tampil di sebuah acara, ada saja yang minta foto.

Kebetulan sekali, setelah aku putus, Arya tiba-tiba PDKT. Kusambut saja deh, daripada aku jadi jomblo ngenes ditinggal selingkuh. Hari-hariku bersama Arya berjalan selama lima bulan. Penuh gombalan, penuh pesan-pesan manis. Sayangnya, dia lebih sering memilih nongkrong dan ke studio daripada mengajakku jalan-jalan.

Malangnya aku, Arya pun selingkuh. Lebih tepatnya, aku yang jadi selingkuhannya. Dia sudah setahun berpacaran dengan seorang vokalis band lokal. Pacarnya lebih cantik daripada aku. Meski Arya ini hanya sebatas ‘pelarian’ tapi aku benar-benar sakit hati menerima kenyataan yang terjadi. Ternyata, aku hanya dipermainkan bahkan oleh adik kelasku. Tidak sopan!

Patah hati itu, akhirnya membawaku datang ke musala kampus. Berwudu lalu melaksanakan salat Zuhur. Tiba-tiba aku mengadu ke Allah, tidak peduli dengan siapa yang sedang ada di musala. Bodo amat kalau ada yang lihat mataku basah. Aku berdoa dalam hati, mengutuk Arya. Berharap keburukan sebagai balasan atas apa yang telah ia perbuat.

Ternyata, ketika itu sedang ada kajian rutin akhwat rohis. Aku yang sedang galau, ikut nguping kajian bertema adab pergaulan dengan lawan jenis. Sejak itulah hidupku jadi berubah. Allah membimbingku untuk meninggalkan keburukan, setelah patah hati yang sepatah-patahnya. Aku jadi tertarik ikut kajian akhwat rohis kampus. Pelan-pelan, aku berhijrah jadi gadis baik meski masih manja.

Sampai suatu hari, selepas wisuda aku memutuskan untuk segera menikah. Alhamdulillah, aku dikenalkan kepada seorang Ustazah oleh salah satu teman di rohis. Beliaulah yang menjodohkanku dengan Mas Firman.

***

“Kenapa Mas enggak mundur dan pilih perempuan lain yang sudah ngaji dari kecil?” tanyaku. Jauh dalam hati, ingin rasanya digombali. Terbayang alasan bahwa adalah aku perempuan paling cantik dari perempuan lain yang pernah diajaknya taaruf.

Ternyata jawabannya berbeda dari yang kubayangkan, “Allah yang pilihkan kamu untuk saya, Dek.”

“Kok Mas masih pakai ‘saya’ sih?” Aku sedikit memasang muka cemberut.

“Eh, maaf. Mas lupa, Dek.”

“Jadi … Mas lupa udah nikah sama aku?” Bibirku mencebik. Kesal. Kok bisa-bisanya dia masih merasa ngobrol sama orang asing.

“Maaf ya, Dek. Memang bawaannya kalau lagi berdua sama kamu Mas jadi lupa semua hal,” Dia menatapku dan melanjutkan kata-katanya, “kecuali … kamu.”

Dia tertawa ringan, sementara pipiku merona merah jambu. []

Ditulis oleh: Hapsari T. M.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan