SUDAH tiga hari lebih, sikap Dwi berubah. Apa karena lolipop waktu itu? Masa iya, karena aku kasih lolipop ke Merlin membuatnya marah. Aku memang belum cerita sih, kenapa aku enggak suka permen.

Dulu, waktu aku berusia lima tahun kalau enggak salah. Saat itu sedang Lebaran, ada banyak makanan ringan terhidang di meja ruang tamu. Aku yang saat itu sangat suka permen warna-warni, permen dengan bungkus transparan, biasanya yang beruntung akan mendapatkan permen susu yang beda dengan permen yang lainnya.

Nah, sedang asyik makan permen, ada suara letusan apa dari luar. Aku kaget, sampai membuatku tersedak oleh permen yang sedang kuemut. Aku nangis sambil berlari ke belakang, sambil menjulur-julurkan lidah. Karena rasanya sangat enggak nyaman di kerongkongan.

Ibu yang mengetahui aku tersedak, langsung menepuk-nepuk punggungku. Sesekali berusaha merogoh ke kerongkonganku dengan telunjuknya. Tiba-tiba ada rasa mual, aku pun memuntahkan permen oranye itu.

“Sejak saat itu, aku sudah enggak mau lagi berurusan dengan benda manis tersebut.”

Lulu menyimak dengan ekspresi serius. “Kalau gitu, Dwi harus tahu soal ini.” Lulu berdiri, tapi aku tarik lagi untuk duduk.

“Jangan. Kenapa juga dia harus tahu? Seharusnya dia enggak harus mempermasalahkan hal sepele ini, dong.”

“Ini, nih, yang membuatmu jomblo abadi. Kamu itu enggak bisa memahami mana cowok yang suka sama kamu,” ucap Lulu sambil berusaha berdiri lagi, tapi tetap aku cegah.

“Enggak usah macam-macam.”

“Aku mau ke toilet, Lu!” Cewek dengan poni menutupi dahi itu menggelembungkan kedua pipinya. “Kamu cegah sekali lagi, jangan salahkan aku kalau kelas ini bau pesing.”

“Iiih, jorok! Ya sana pergi.”

***

Enggak seharusnya aku kayak gini. Masa hanya karena perasaanku, hanya karena egoku, hanya karena lolipop, aku harus menjauh dari sahabatku dan orang yang kusukai. Tiga hari ini aku terjebak oleh perasaanku sendiri. Aku merasa sakit, merasa kesel sama Habil, sedangkan dia mungkin bersikap biasa aja, karena memang yang dia sadari, enggak ada masalah denganku.

Ya, diriku sendiri yang bermasalah. Aku menghela napas panjang. Habil kurasa enggak terlalu menyadari perubahan sikapku, karena buru-buru pulang kemarin juga beralasan. Sekarang aku bingung bagaimana harus memulai hubungan baik ini dengan si Lulu. Aku sadar sikapku belakangan ini enggak bersahabat, dan mungkin saja melukai perasaannya.

Begitu sampai sekolah, aku langsung menuju ke ruang OSIS. Mencari bahan atau apa pun agar bisa berkomunikasi lagi dengan Lulu. Ternyata di ruang OSIS sudah ada pak pembina. Aku menyalaminya sejenak.

“Dwi, kamu tahu di mana buku daftar hadir saat seminar kemarin?”

Aku berusaha mengingat-ingat. Hingga, mataku menangkap jawabannya dari melihat meja Lulu.

“Lulu yang simpen, Pak.”

“Kalau gitu, kamu hubungi Lulu suruh dia ke ruangan saya, ya,” ucap pak pembina lalu melangkah ke luar.

Ternyata mestakung—semesta mendukung, ada sesuatu yang bisa menjadi alasan untukku menghubungi si Lulu. Aku segera ke kelas untuk menaruh tas, kemudian menuju kelasnya Lulu.

***

“Oh iya! Aku ingat kalau ada janji sama Kak Bandiyah!” ucapku bersemangat, membuat Merlin yang ada di samping sedikit kaget. Alhasil, aku mendapatkan pukulan dari buku yang dibacanya. “Ya, maaf. Aku tinggal, ya.”

Merlin hanya mengangkat jempolnya, tanpa melihat ke arahku. Kedua matanya sudah fokus dengan novel barunya, ya jadi gitu. Aku melangkah ke luar. Kelas dua belas berada di lantai dua, dan letaknya paling belakang.

Aku pun mengambil jalur yang enggak melewati ruang OSIS. Males aja kalau harus bertemu si Dwi. Bukan, bukan aku benci. Hanya menjaga mood aja. Melihat tatapannya yang asing itu aja membuatku bertanya-tanya sampai sekarang, Ada apa, sih?

Ternyata Kak Bandiyah sudah menunggu di depan kelas. Terlihat ada buku Iqra’ di tangannya. Aku tersenyum. Ya, kemarin aku membuat janji dengannya untuk diajakan ngaji. Karena memang belum pernah tamat Iqra’, aku pun disuruh Kak Bandiyah baiknya mengulang dari dasar. Enggak masalah bagiku.

“Kak Bandiyah,” ucapku ketika hanya berjarak satu langkah dengannya.

Dia menatapku, lalu tersenyum manis. “Wa’alaikumsalam … sini-sini, duduk.”

Aku beruluk salam dengan malu-malu. Kemudian duduk di sampingnya.

“Huruf hijaiyah, sudah hafal?”

Aku cuma nyengir.

“Coba.”

“A, ba, ta …,” aku berusaha keras mengingat-ingat, “… da, ja, ro, ja.”

“Beda, za sama dza beda.”

“Maaf, menggangu.” Suara Dwi yang tiba-tiba hadir berhasil membuatku enggak menyangka. Dia tersenyum kepada kami.

“Ya, ada apa?” tanya Kak Bandiyah.

Dwi menatapku sesaat, sebelum melihat ke arah Kak Bandiyah. Kemudian berkata, “Maaf, Kak. Lulu dipanggil oleh pembina Osis.”

Kak Bandiyah sekarang yang menatapku. “Gimana kalau besok, belajar ngajinya di rumahku aja.”

“Boleh, Kak. Nanti alamatnya via WA aja ya, Kak.”

Setelah saling melempar salam, aku dan Dwi menjauh dari kelas Kak Bandiyah. Masih seperti ada jarak di antara kami. Aku memilih diam, sampai kami menuruni anak tangga.

“Maaf, ya,” ucapnya.

Aku menoleh. “Untuk?”

“Emm, ya itu.”

“Oh, Kak Bandiyah santai kok orangnya.”

Dia menggaruk kepalanya. “Bukan.”

“Terus?”

“Soal kemarin aku cuek sama kamu.”

Aku tersenyum puas melihat ekspresi penyesalannya. Dia jadi terlihat lucu begini. “Oalah, karena lolipop,” ucapku sengaja, “harusnya aku yang minta maaf. Haha.”

“Dasar jelek.” Dia menjulurkan lidahnya ke arahku.

***

Aku senang. Ya, ternyata aku yang terlanjur baper soal lolipop. Setelah dia menceritakannya, aku sekarang mengerti. Duh, sangat memalukan memang kalau diingat-ingat, apa yang kulakukan beberapa hari yang lalu.

Dia sama sakali enggak berubah, senyum manisnya, mata indahnya. Apa-apaan ini? Sadar-sadar! Aku harus sadar, kalau kemungkinan besar sahabatku juga memiliki perasaan yang sama. Kurasa Lulu memang lebih cocok bersama Habil.

Haruskah secepat ini aku merelakannya? Entahlah, biarkan waktu yang nanti menjawabnya. Terima kasih ya, Lu, setidaknya aku masih diberi kesempatan untuk bisa melihat senyummu lagi.

***

Oleh: Nurwa R.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: