Bu? Boleh enggak aku benci padamu?

Seorang gadis mungil, Devi namanya, mengakui perasaannya beberapa menit yang lalu. Tentu saja, ia tak mengucapkannya langsung. Sebuah kertas pink dalam buku jurnalnya, ia jadikan pelampiasan. Devi tahu, ia seperti anak durhaka saja. Masak seorang anak tak tahu bagaimana istimewanya seorang ibu sampai-sampai ia berani benci? Tapi, Devi sudah tak tahu lagi bagaimana mengungkapkan rasa di dalam hatinya sekarang.

Pagi itu ia bertengkar. Lagi dan lagi. Siapa kagi kalau bukan ibu sebagai sparing-nya.

“Apa to Vi? Mau berangkat sekolah aja pakai ngambek enggak jelas!”

Huh! Devi melengos. Dia pergi meninggalkan ibunya yang selalu ngomel.

Kenapa selalu aku yang salah sih? Pikir Devi. Jelas-jelas tadi aku minta waktunya sebentar buat ngomong tentang jurusan yang mau aku ambil.

***

Tahun pelajaran depan, Devi bakal jadi mahasiswa. Ia sudah membayangkan dirinya jadi salah satu mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang di UNJ. Sudah setahun ini, ia sangat suka mempelajari bahasa Nihon itu. Partner bercas-cis-cus-nya siapa lagi kalau bukan Ardi, teman sekelasnya.

Beberapa hari yang lalu, Devi memang sudah bilang ke ibunya. Tadinya Devi pikir, ibunya bakal senang saat ia mau berusaha curhat kepada beliau. Tapi, kekhawatiran Devi nyata. Ibu hanya mau didengarkan. Devi hanya bilang satu kalimat, ibunya setelahnya menguasai pembicaraan.

“Ngapain toh ambilnya jepang-jepang gitu, mau jadi apa nanti?”

“Guru bahasa Jepang tuh, jarang dibutuhkan.”

“Mending jadi perawat atau bidan, loh.”

Hampir satu jam, Devi mendengarkan ibunya. Dia hanya berani menjawab ‘ya’ setelah ibunya memastikan bahwa Devi sudah paham apa yang beliau sampaikan.

Padahal, beberapa bulan yang lalu, Devi sudah pernah dengar. Bahkan dengan jelas ibunya berkata, “Kalau ada apa-apa, curhat dong. Apa-apa diam. Ibu kan enggak tahu, kamu maunya apa.”

Entah kenapa, Devi saja yang roaming kalau bicara kepada ibunya atau memang sifat ibu seperti itu. Ia hanya  akan memilih ‘ya’. Sebuah jawaban yang tak akan didebat ibu dan membuat mereka damai.

Sebenarnya, bukan kali ini, ia kesal karena tidak bisa menyentuh hati ibunya. Seringkali ia ingin mendekati ibu, seolah ada rasa canggung. Tak bebas untuk mengeluarkan semua unek-uneknya.

Ya, ibu terkesan tidak mau mendengarkan. Setiap Devi bercerita satu kalimat, akan ada berpuluh-puluh kalimat yang ibunya tambahkan sampai selesai. Maka, untuk bercerita pun, Devi merasa akan kalah.

Seperti pagi ini, Devi merasa perlu untuk berbincang. Dengan siapapun. Rasanya hati Devi bergejolak ingin segera menangis tersedu-sedu. Maka, selesai sekolah siang harinya, ia bergegas mengirimkan pesan ke Tantenya.

Tan, aku main ya.

Okay, tinggal ke sini aja.

***

“Tan, jadi aku salah lagi?” tanya Devi kepada Tante Lala.

Tante Lala, adik dari ibu Devi adalah teman yang bisa ia ajak ngomong hati ke hati. Kalau hati Devi enek, dia akan pergi menemui tante ini.

Tante Lala masih diam. Beliau lagi sibuk mengurusi toko baju miliknya. Di kursi tokonya, Devi nyerocos curhat.

“Tan, aku tuh sayang sama ibu. Aku kepengen bisa deket sama ibu. Tapi kok, kayaknya ada yang misahin kami. Ada tembok yang gedeee banget … di te-ngah-te-ngah a-ku … sa-ma i-bu. Huuhuuhuu.” Sesenggukan, Devi mencurahkan perasaannya. Hanya kepada Tante Lala, dia bisa bebas menangis.

“Sabar, Vi. Kamu kan, tau ibumu.”

“Terus, kapan ibuku ngertiin aku?”

“Tante belum tau kan alasan ibumu apa kali ini. Jadi, bisa aja memang ibu kayak gitu karena dia lebih tau dari kamu.”

“Kan bisa bilang tanpa kudu nyakitin, Tan.”

“Sabar, Vi.”

Tante Lala mendekati Devi. Diangsurkannya lengan, dia dekap tubuh keponakan yang paling akrab itu. Walaupun dia adik kandung ibu Devi, tapi dia pun kadang belum bisa menebak jalan pikiran kakak tertua itu. Masa lalu kakaknya lah yang membuatnya lebih seperti sekarang ini.

“Vi, Tante boleh cerita sesuatu ke kamu tentang ibumu?”

Devi melepaskan tubuhnya. Mencoba untuk mencari mata Tante untuk memastikan bahwa bukan hal buruk yang akan dia dengarkan.

“Dengarkan ya. Bismillah, semoga Tante enggak bikin kamu salah paham nantinya.”

Jantung Devi berdegup kencang. Demi tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia dengan saksama mendengarkan.

“Jadi ibumu seperti sekarang ini karena keadaannya. Dulu, ibumu merasa dibedakan perlakuannya dengan Kakek, dibandingkan saudara-saudaranya. Mungkin karena ibumu anak sulung, ya. Jadi kudu tanggung jawab dan mandiri. Dia jadi merasa kudu lebih, biar lebih disayang lagi. Lalu ibumu dijodohkan, dengan pilihan Kakek. Awalnya ibumu tidak sreg. Tapi karena ibumu manut (penurut), akhirnya jadi dengan bapakmu sekarang.”

“Dulu ada yang jelek-jelekin ibu dari pihak bapakmu. Nganggur, jadi beban aja. Kan dulu ibumu belum diangkat pegawai negeri. Ya, tante enggak tau siapa sih, tapi itu bikin ibumu sakit hati. Setelah diangkat, ibumu membuktikan diri habis-habisan bahwa dia tidak bisa diremehkan. Begitu.”

Meledaklah tangis Devi. Tante Lala mengusap-usap punggung keponakannya. Setelah reda, Tante Lala memberi nasihat, “Pulang sana, sudah sore. Coba kamu minta maaf sama ibumu dulu. Terus peluk dia. Tante abis baca di google kalau pelukan setelah bertengkar bisa memperbaiki hubungan.”

***

Devi kembali ke rumah. Setelah pamitan, dia dengan cepat mengambil tas ranselnya. Di perjalanan, Devi membiarkan air matanya yang terus mengalir terhapus angin.

Bu, kenapa ibu enggak pernah cerita sih. Kenapa ibu pendem aja? Kenapa malah rasa mau menang sendiri yang ibu tunjukkin ke aku?

Devi memasukkan motornya ke garasi. Dia melihat ibunya sedang mengetik di depan laptop. Dengan langkah mengendap-endap, dia masuk masuk ke kamarnya. Tas ransel di punggung sudah ia taruh di kasur. Beberapa menit setelahnya, ia mengintip keadaan di luar.

“Buuu.” Devi memanggil ibunya untuk memastikan di mana beliau.

“Ya.”

Ibu sudah selesai rupanya. Aku coba deketin ibu lagi apa ya?

Devi ragu. Tubuhnya seperti antara mau maju untuk menemui ibu, tapi di sisi lain ia takut kalau ibunya masih bete.

Ah, udah maju aja!

“Apa to?” Ibunya Devi mulai menyahut lagi. Keheningan menyeruak. Devi berjalan dengan lambat ke arah ibu. Wanita berusia kepala empat itu, membelakangi Devi. Beliau sedang duduk di teras sambil menyelonjorkan kaki. Devi mengamati dari belakang. Dari pandangannya, ibu tampak sedang cerah hatinya.

“Bu?” panggil Devi sambil memegang bahu ibunya.

“Ya, kenapa Vi? Mau ngomongin tentang jurusan jepang lagi?” sahut ibu masih dengan nada datar.

“Ehm, boleh aku peluk ibu?”

Ibu menolehkan kepalanya ke arah Devi duduk. Seperti petir di siang bolong, kata peluk yang diucapkan Devi sukses membuat Ibu terkejut.

“Kamu kenapa, Vi? Enggak ada hujan enggak ada angin, tiba-tiba pengen meluk aja?”

Sesegera mungkin Devi mendekap ibunya. Ada rasa menyesal dalam hati karena telah benci tanpa ketidaktahuan. Ah, ternyata ibuku telah melalui hal berat. Ibuuu.

“Vi? Vi? Kamu enggak kenapa-kenapa to? Ngomong dong biar ibu enggak khawatir.” Suara ibu melunak. Devi merenggangkan pelukannya.

“Bu, maafkan aku ya. Aku tadi sempet benci sama Ibu.”

Devi mendekap ibunya lagi. Beliau bergeming, tapi setelah beberapa detik, ibu menjawab, “Nak, ibumu ini selalu memaafkanmu. Apa yang sudah kamu lakukan ke ibu, ibu sudah lupakan. Tapi kenapa kamu kok tiba-tiba meluk gini? Tumben?”

“Enggak apa, Bu. Aku merasa bersalah aja. Udah durhaka sama Ibu sampai bilang benci.”

“Kapan bilangnya?”

“Ehm, tadi pagi. Di hati. Hahaha.”

Pertanyaan ibu membuat Devi lega. Ia bisa bebas tertawa, menertawakan dirinya. Menertawakan kebodohannya karena tidak memahami sang ibu.

“Bu, boleh aku tanya?” Semenit kemudian, suasana cair. Devi melanjutkan apa yang ingin ia bicarakan. Sebenarnya, Devi ingin menanyakan tentang masa lalu ibunya, tapi ia urung karena takut

“Ya, tanya aja.”

“Ehm, apa sih yang bikin Ibu nolak pilihan jurusanku?”

“Ya, karena menurut Ibu jurusan itu tak terlihat prestis. Nantinya bakal jadi apa? Guru bahasa Jepang?”

“Iya, Bu. Aku suka banget belajar bahasa Jepang. Aku pengin bisa ngajarin muridku bahasa yang aku suka.”

“Tapi, kesempatannya kecil. Coba deh ambil guru SD, banyak yang nyari.”

Devi menata kembali duduknya. Ibu sudah mulai melunak. Walau Devi masih takut-takut menjawab karena takut ‘di-smash’ ibunya lagi, ia tetap maju.

“Atau begini, Bu. Nanti kan kalau tes masuk kuliah, ada pilihannya dua. Misalnya aku ambil pilihan pertama pendidikan Bahasa Jepang, yang kedua pendidikan guru SD, boleh?”

Devi mencengkeram tangannya kuat-kuat. Matanya melihat ke sana kemari bak sedang diinterogasi.

“Ya sudah, begitu juga boleh. Kalau kamu memang suka jadi guru, Ibu izinkan. Tapi dengan syarat, kamu kudu sungguh-sungguh belajarnya ya?”

“Siap bos!” Devi kembali lagi mengangsurkan pelukannya. Kali ini, hanya ada tawa bahagia antara mereka. 

Oleh: Dhita Erdittya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: