Aku Punya Rasa Sama Kamu, Tapi ya Sudahlah

Aku Indah, seorang siswi kelas delapan di salah satu SMP Yogyakarta. Aku ingin menceritakan tentang cowok yang menurutku paling cuek sejagad raya. Namanya Rama Prayoga, anaknya kurus tinggi, berkulit putih, memiliki lesung pipi yang kalau tersenyum membuat hati ini gaduh.

Kulihat jam di tangan menunjukkan pukul enam lewat dua puluh. Hampir saja aku mengeluh karena lamanya menunggu dia lewat. Eh, pucuk dicinta ulam pun tiba, begitu pribahasanya. Dia lewat bersama teman-temannya. Meski pun enggak satu sekolahan, tapi kami searah untuk beberapa meter, sebelum sebuah perempatan harus memisahkan kami.

Aku segera mengeluarkan sepeda, lalu mengayuhnya mengikutinya dari belakang. Entah kapan pertama kali aku mulai melakukan hal ini; menunggu dia lewat dari teras rumah, lalu berangkat ketika dia melintas.

“Senyumannya itu loh, Mit. Manis banget!” Aku bercerita kepada teman dekatku.

“Kamu sadar enggak kalau hampir tiap pagi ngomongin ini?”

Saat itu pun aku tertawa. Menertawakan diriku sendiri tepatnya, “Biarin!”

“Aku justru kasihan sama kamu, Indah,” ujar Mita menatapku serius.

Aku bingung dengan kalimat itu, “Kasihan kenapa?”

“Iya, kamu sebegitu mengejar-ngejar dia, tapi dia? Masih dengan jalannya sendiri. Sampai kapan?”

Bel pun berbunyi, mengakhiri perbincangan seru di kantin. Kami pun melangkah menuju kelas.

***

Aku jadi kepikiran ucapan terkahir Mita di kantin, ‘Sampai kapan?’. Iya, sampai kapan aku seperti ini? Tapi kan, toh dia juga enggak punya pacar, menurutku ini bukan masalah yang harus kuakhiri.

Keesokannya seperti biasa, aku menunggu Rama lewat terus berangkat mengikutinya dari belakang. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda, dia tersenyum ke arahku ketika aku berjalan mengeluarkan sepeda, ‘Oooh, ya Tuhan…. Kuatkan hamba, kuatkan hamba.’ Aku pun membalas senyumnya dengan salah tingkah, semoga dia enggak menyadari kebodohanku saat ini.

Dari belakang rombongan mereka, aku hanya bisa melihat punggung dia. Ya sesekali tawa manisnya ketika sedang menoleh ke arah teman sebelahnya.

“Indah kok lihatin Rama segitunya.” Suara Dika mengaggetkanku. Ternyata dia sudah berada di samping kanan sepedaku.

“Emm, enggak kok, biasa aja,” jawabku dengan tetap menatap lurus ke depan.

“Halaah…, kamu suka kan sama Rama?”

Apa-apaan ini? Aku mengabaikan anak yang memang dikenal paling usil itu. Aku pun sengaja berhenti. Membiarkan Dika melaju bergabung kembali bersama teman-temannya di depan.

“Woi, tunggu!” teriak Dika lalu mengayuh sepedanya lebih cepat.

Jujur. Ketika itu degup jantungku sudah enggak terkontrol lagi, seakan darah mengalir lebih cepat.

Begitu sampai di sekolahan, setelah memarkirkan sepeda, aku melihat Mita sedang berjalan ke arah kelas. “Mita!” teriakku.

Cewek itu pun berhenti, lalu menoleh ke belakang. Aku mempercepat langkah, “Mitaa! Kamu harus tahu. Ini sejarah banget, dia tadi tersenyum ke arahku. Aaaarh…, rasanya.”

“Kamu benar-benar ya.” Mita melanjutkan langkahnya.

“Tapi, Mit. Ini pertanda kalau dia juga menaruh rasa yang sama.” Aku menyamakan langkah kaki Mita.

“Di pikiranmu sepertinya sudah tertutup oleh Rama ya, Ndah? Sampai-sampai kamu  enggak sanggup untuk berpikir jernih.”

“Ah, kamu enggak asyik.” Aku bete dengan respon Mita yang seolah-olah aku salah. Apa yang terjadi pada hatiku ini salah? Apa kita menyukai seseorang itu salah?

Mita duduk lalu melihat ke arahku yang ikutan duduk, “Maaf, Indah. Enggak bermaksud bikin kamu kesel. Tapi, kamu dari kelas tujuh menceritakan hal ini. Apa hatimu enggak capek?”

Aku terdiam.

“Gini deh. Kamu punya nomor teleponnya?” tanya Mita lanjut.

“Boro-boro. Sepertinya memang dia belum punya hape deh.”

“Yaa…. Kalau gitu gimana kamu bisa berkomunikasi sama dia?”

Aku mengangkat bahu.

“Kamu berani enggak bilang cinta ke dia?”

Setelah tadi pagi di jalan aku mendengar hal gila dari Dika. Kali ini dari Mita, teman sebangkuku. “Ya enggak mungkinlah! Haha. Masa cewek yang nembak duluan.”

“Ya apa salahnya? Daripada kamu tergantung gini, kayak jemuran yang lama gak diangkat-angkat. Coba tanyain sama teman-teman cowok di sana. Siapa tahu si Rama idolamu itu sudah punya pacar.”

“Kamu bisa saja. Kalau soal itu sudah ditanyakan ya. Kata anak-anak sih dia juga jomblo. Coba deh nanti aku cari tahu lagi.”

***

Setiap sore di lapangan yang enggak jauh dari rumah, ramai karena anak-anak cowok pada main bola. Saat itu juga menjadi waktu dan tempat yang favorit. Karena bisa melihat dia dari jauh saja rasanya sudah berbunga-bunga hati ini. Ada Dika yang sedang istirahat di pinggir lapangan, aku pun menghampirinya.       

“Ciee… Pasti lagi ngeliatin Rama,” goda cowok usil itu ketika melihatku mendekat.

“Apaan sih. Dik, aku mau tanya boleh?”

“Apa?”

“Ada enggak cewek di sekolahan kalian yang suka sama Rama?” tanyaku lalu menggigit bibir.

“Ada,” ucapnya.

Aku seketika terdiam.

“Tapi itu beberapa minggu yang lalu,” tambahnya.

“Kamu bisa serius sedikit enggak sih?”

“Haha…. Gini nih, beberapa minggu yang lalu. Ada cewek yang bilang suka sama dia. Ceweknya cantik. Tapi Rama justru menjauh, menjaga jarak dengan cewek itu. Entah kenapa? Katanya dia sih nggak mau pacaran dulu.”

Tiba-tiba ada bola menggelinding, menyenggol kakiku. Si Rama berlari mendekat dan mengambilnya. “Eh, ada Indah,” ucapnya lalu nendang bola ke dalam lapangan, “Ayo, Dik, aah lemah!” ucapnya ke arah Dika, tapi Dika hanya menggeleng. “Main dulu ya, Ndah.”

Aku mengangguk. Anak laki-laki itu kembali ke lapangan.

Entah kenapa sekarang ada perasaan lega di hatiku. Setidaknya ini lebih baik, sebuah kepastian yang membuatku berhenti berharap terlalu jauh padanya. Aku sekarang mengerti kenapa kamu cuek, Rama.

Oleh: Nurwa R.

Tinggalkan Balasan