Dasar kamu laki-laki nggak bertanggung jawab. Penipu! Kamu jahat, Mas! Kamu jahat! Aku benci sama kamu!

Adegan pertengkaran seorang wanita dengan seorang lelaki muncul di televisi warteg langgananku. Itu sinetron kesukaan Bu Lela, si pemilik warteg. Di sinetron itu, sang wanita berambut panjang marah-marah ke seorang laki-laki berbaju setelan kemeja dan celana jeans. Tangannya menunjuk-nunjuk ke depan, matanya melotot, badannya sedikit membungkuk, suaranya melengking tak sedap di telinga.

“Dasar lelaki nggak bener. Udah tahu pacarnya baik, malah ditinggalin kayak gitu. Apa dikira gampang nyari cewek baik-baik zaman sekarang?”

Gara-gara sinetron, Bu Lela baper. Padahal, drama itu selalu dibuat berlebihan. Ceritanya nggak realistis. Tapi, ada saja yang larut dalam perasaan karena nonton sinetron itu. Aku juga suka terbawa perasaan, sih. Tapi, perasaan kesal. Duh, lebay banget sih itu sinetron.

“Ibu, itu kan cuma sinetron. Kok sampe kesel gitu? Hehehe,” ujarku meledek Bu Lela.

“Iya, Neng. Iiih, Ibu kesel, deh. Tapi, ada lho Neng kejadian nyata kayak gitu. Cewek cowok pacaran baik-baik, udah mau nikah, eh tiba-tiba cowoknya minta putus, alesannya kagak jelas. Tu, tetangga Ibu sampai stres, nggak mau keluar rumah.”

“Ya Allah, kasihan banget, Bu. Duh Gusti, semoga nggak kejadian sama saya ya, Bu.”

“Ah, insyaallah nggak, Neng. Kan Ibu udah pernah ketemu sekali sama calonnya Neng. Dia mah cowok baik, Neng. Ibu doain kalian segera nikah ya.”

“Aamiin. Makasih ya, Bu.”

Bu Lela sudah seperti ibuku sendiri. Hampir tiap hari aku makan di wartegnya yang cuma berjarak 200 meter dari kantorku. Tak jarang aku curhat atau sekadar duduk berlama-lama sambil nonton TV di wartegnya. Bahkan, dia juga sudah mengenal Yuda, calon suamiku yang sekarang di Belanda.

Aku mengajak Yuda ke warteg Bu Lela enam bulan lalu. Kali itu dia pulang ke Indonesia untuk urusan pekerjaan dan sekaligus menyatakan keseriusannya ingin melamarku. Jika tidak ada halangan, tahun depan aku akan melamarmu. Itu katanya kala itu. Artinya, enam bulan lagi dia akan kembali ke sini. Bu Lela tahu tentang ini semua, bahkan dia juga tahu kisah awal perjumpaanku dengannya.

Kala itu Bu Lela bertanya padaku, “Neng, udah punya pacar belum?”

“He-he-he. Sudah, Bu.”

Kisah perkenalanku dengan Yuda hampir mirip adegan di drama Korea. Awalnya kami bertemu di pesawat dari Malang ke Jakarta. Yuda duduk tepat di sampingku. Saat aku membuka buku berjudul “The Geography of Bliss, Kisah Seorang Penggerutu yang Berkeliling Dunia Mencari Negara Paling Membahagiakan”, Yuda tak bisa menahan keinginannya berkomentar.

“Sudah pernah mencoba bersepeda di Belanda?” tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan itu muncul karena isi buku yang kubaca. Di bab pertama, buku ini membahas tentang pencarian makna kebahagiaan di Belanda. Yuda yang pernah membaca buku ini dan sudah dua tahun tinggal di Belanda memandu pengetahuanku tentang negeri berjulukan Negeri Kincir Angin itu.

Dari sanalah kami semakin dekat dan menjalin hubungan jarak jauh. Meski kata orang-orang, pacaran LDR itu “ngeri-ngeri sedap”. Namun, kami berhasil mematahkan anggapan itu. Setidaknya, itu terbukti dengan keseriusan Yuda untuk melamarku, enam bulan lagi.

***

Lima bulan sudah berlalu. Tinggal satu bulan lagi, jika tak ada halangan, Yuda akan datang ke Malang, menemui orangtuaku. Biasanya, dua bulan sebelum berangkat, Yuda akan mengabari jadwal penerbangan dan rencana perjalanannya selama di Indonesia. Namun, sudah tinggal sebulan, Yuda belum juga memberi kabar. Kupikir dia memang sedang sibuk dan lupa mengabari. Tapi, ternyata bukan karena itu.

“Fia, maafkan aku, aku belum bisa pulang bulan depan. Franz tiba-tiba resign dan membuat pekerjaanku menumpuk.” Franz adalah rekan kerja satu tim Yuda yang sering diceritakannya selama ini.

Aku terdiam sejenak, menghela napas dalam-dalam setenang mungkin, agar Yuda tak mendengar kegelisahanku di ujung telepon, “Hemm … ya, mau gimana lagi. Memangnya belum ada pengganti Franz?”

Aku tahu, pertanyaan itu sudah pasti akan dijawabnya dengan panjang lebar. Bahwa dia sudah mengatakan kalau Franz resign mendadak dan serentetan pekerjaannya itu sangat penting dan lain sebagainya. Yuda adalah orang yang detail. Dia ahlinya untuk menjelaskan sesuatu seterang-terangnya, sampai orang yang diajaknya bicara mengerti, benar-benar mengerti.

Aku pun akhirnya menerima alasannya. Hingga seminggu setelah itu, Yuda mengirimkan pesan singkat melalui whatsapp.

Assalamu’alaikum. Fia, maaf aku harus kasih tahu kabar ini. Aku baru bisa pulang ke Indonesia tahun depan. Maukah kamu menunggu setahun lagi?

Yuda juga menyertakan alasannya yang panjang lebar, tentang kekacauan yang disebabkan oleh Franz, gejolak ekonomi Eropa, bahkan terkait masalah apartemen yang dia singgahi pun diceritakannya. Hatiku sungguh kacau kalau begini. Ingin marah, tapi aku juga tak mau kehilangannya.

Wa’alaikumsalam. Sebentar, aku jawab nanti. Aku mau berpikir dulu.

Masih ada waktu sebelum menjawab permintaan Yuda. Pikiranku pun beredar ke mana-mana. Aku jadi ingat yang pernah disampaikan mentor kajian waktu SMA, khususnya saat membahas bab “virus merah jambu”. Hindari laki-laki yang sepertinya terlihat serius, tapi memintamu menunggunya lama. Kamu akan dibuatnya berharap, tanpa kepastian dan kesucian hatimu taruhannya.

Namun, aku tidak pernah meragukan keseriusan Yuda. Tak ada salahnya menunggu laki-laki yang serius, kan? Toh ini semua untuk kebaikan kita nantinya. Aku masih menemukan 1001 alasan untuk menunggunya dengan setia. Segenap harapan bertumpu dan menjadi kekuatanku untuk mengiyakan permohonan Yuda. “Iya, aku akan menunggumu,” jawabku.

Jadilah kini aku seorang wanita dalam penantian. Alhamdulillah, Bapak, Ibu, Kakak, semua bisa menerima keputusan ini. Kami pun melanjutkan hari-hari ke depan seperti biasa. Eh, tapi sebenarnya aku punya kebiasaan baru.

Akhir-akhir ini aku sering melakukan riset tentang Belanda. Aku membaca buku-buku, melihat postingan di instagram dan juga video-video di youtube tentang negeri yang terkenal dengan bunga tulipnya itu. Aku sudah membayangkan kelak akan bersepeda mengitari gedung-gedung tua di Amsterdam bersama Yuda. Lalu kami mampir ke sebuah kafe berarsitektur kuno, sambil menikmati secangkir cokelat hangat. Ya Allah, semoga Engkau meridai jalan kami. Lancarkan ya Allah. Doaku di setiap waktu.

***

Tak terasa, hari yang kuhitung satu per satu, dari hitungan puluhan hingga ratusan, sudah hampir berada di ujungnya. Ini sudah tersisa (tinggal) dua bulan sebelum genap satu tahun. Harusnya dia sudah mulai berkabar tentang rencana kepulangannya. Tapi, dia belum juga membuka pembicaraan ke arah yang kuharapkan.

Bagaimana aku bisa tenang? Kami harus merencanakan acara lamaran. Kapan harinya? Bagaimana acaranya? Kapan Yuda pulang? Hingga akhirnya, aku pun memberanikan diri untuk bertanya padanya. Di sore yang mendung, masih di dalam Bus Transjakarta yang cukup sesak, aku mengirimkan pesan singkat.

“Assalamu’alaikum. Yuda, sudah hampir setahun, kamu masih ingat janjimu, kan?”

Pesan itu tak kunjung berbalas hingga sepekan lamanya. Sampai membuat darahku mendidih. Aku pun akhirnya menelponnya.

“Kenapa WA-ku nggak dibalas? Kamu nggak jadi pulang? Kamu lupa janjimu?” Pertahananku runtuh, suaraku tak lagi tenang saat bicara dengan Yuda.

“Fia … maaf, aku nggak bisa menepati janjiku. Aku juga mau membatalkan rencana melamarmu. Tolong kamu mengerti. Maafkan aku”

“Apa maksudmu membatalkan?”

“Ya, aku nggak bisa pulang dan nggak bisa melamarmu sekarang. Kita putus aja.”

“Yud … kamu kenapa? Kamu udah gila? Putus?”

“Iya, putus. Jangan lagi menungguku.”

“Jelasin alasannya, Yud. Kamu, kan, biasanya bisa jelasin semuanya.”

“Kamu tahu kerjaanku banyak. Belum lagi kerjaan peninggalan Franz. Terus aku dapat project baru dari KBRI. Ya, banyak hal, lah.”

“Terus itu jadi alasan untuk membatalkan rencana kita menikah? Franz lagi masalahmu? Perusahaanmu besar, Yud. Separah itukah kondisinya? Nggak ada solusi lain?”

“Kan sudah aku jelasin semua. Kamu nggak ngerti juga, ya?”

“Iya, aku nggak ngerti. Seorang yang pintar dan hebat sepertimu melakukan ini semua ke aku. Aku nggak ngerti, Yud.”

“Ya sudah aku bilang yang sesungguhnya. Aku bosan sama kamu, Fia. Sudah, kita putus aja.”

“Gilaaaa!! Kamu sudah gila, Yud. Kamu jahat!! Amoral! Penipu! Nggak bertanggungjawab!!”

Masih ingat adegan percakapan di sinetron yang pernah kulihat bersama Bu Lela? Tak kusangka aku mengulang adegan itu sekarang. Aku ingat wajah Bu Lela yang kesal dan juga ekspresi pemain wanita yang begitu berlebihan. Aku ingin mengulangi semua adegan itu di depan Yuda. Persis seperti yang dilakukan artis itu. Kalau perlu, aku akan menambahi adegan melempar vas bunga atau sepatu ke arah lelaki itu.

***

Apa yang terjadi pada Yuda? Benarkah dia bosan padaku? Ataukah dia hanya cari-cari alasan saja?

Setelah sekian hari aku masih saja dihantui patah hati. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Bahkan, setiap jam tiga pagi aku terbangun seakan masih menerima telepon dari Belanda. Sampai suatu hari, aku terbangun dan yang kulihat pertama adalah sajadah. Kenapa aku tak menggelarnya saja dan lalu bersujud di hadapan-Nya?

Sungguh, malam itu aku merasa ada jarak yang seakan menggulung di antara aku dan langit. Rasanya Allah begitu dekat, tepat di hadapan dan menyelimutiku dengan rahmat-Nya.

Oh, Yuda, jika saja kamu tahu nikmatnya munajatku malam itu …. Sungguh, aku berterima kasih padamu, Yud. Sudah lama aku tidak membanjiri sajadah dengan air mata di ujung sujudku. Begitu kering hatiku hingga tahajud terakhir yang kulakukan, entah itu kapan. Sampai aku katakan pada-Nya, Jika memang ujian patah hati ini adalah cara-Nya menarikku ke titik ini Ya Rabb, hamba rela, hamba ikhlas.

***

Oleh: Mariana Suci Swastika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: