apa sih enaknya pacaran

Aku Sadar, Masa Mudaku Amatlah Berharga

Patah hati bisa membuat dua orang menjadi dekat, bahkan bersahabat. Barangkali karena saling berempati. Keduanya berbagi kesedihan karena kisah yang hampir serupa, hingga masing-masing tak merasa jadi manusia paling bersedih. Aku tidak tahu, adakah teori yang membenarkan analisis sok tahu ini. Tapi, teori itu kudapat dari pengalamanku sendiri.

Anggita Kurniawati, perempuan manis berkulit sawo matang. Teman sekolahku sedari SMP dan mulai akrab ketika masuk SMA karena masih satu sekolah juga. Anggi pernah diselingkuhi, sementara aku adalah korban PHP dari sahabat dekat pacar Anggi—eh, kalau sekarang sudah mantan. Tapi tidak perlu kuceritakan, biar saja itu menguap bersama perih lukanya.

Selain menjadi pelajaran, kisah masa lalu adalah perekat persahabatan kami. Sampai-sampai kami janji untuk tidak pacaran setidaknya sampai jadi mahasiswa. Komitmen itu berhasil dipertahankan sampai kami diterima di kampus, bahkan fakultas yang sama. Anggi mengambil jurusan Biologi sementara aku lolos di jurusan Kimia. 

***

Telah lebih dari sebulan memulai perkuliahan, dua minggu belakangan aku menemukan perubahan pada diri Anggi. Itu dimulai ketika dia bergabung di rohis jurusan Biologi. Aku tidak menyangka, Anggi bukan sosok yang menyukai kegiatan keagamaan sejak bangku sekolah. Ketika kutanya, ia memberitahu keinginannya untuk menyeimbangkan hidup dunia dan akhirat.

“Ngajiku masih kacau, daripada bingung belajar di mana mending gabung rohis,” Ia menambahkan alasan.

“Enak juga ya, bisa belajar sekalian pas di kampus,” Aku menjawab, tidak merasa perlu mencegah niat baik itu.

Kini, Anggi tampak lebih tenang dan lembut. Selepas maghrib, ia jadi rutin mengaji. Akhir pekan lalu pun, ia lewatkan untuk datang ke kajian masjid kampus. Tidak main-main, kajian itu di mulai jam 8 pagi. Waktu di mana mahasiswa masih merasa perlu berebah di kasur. Penampilannya pun mulai diubah, ia tak lagi pakai celana jeans.

“Rin, Sabtu ke toko buku aja, yuk. Ada buku yang mau aku cari, nih.” Ajak Anggi.

“Duh … maaf, aku udah ada janji sama Kak Ditto.”

“Oh, ya sudah kalau gitu.” Jawab Anggi yang kemudian langsung menyeruput habis es coklatnya. Kulihat raut mukanya berubah.

Ada satu perubahan yang menggangguku. Anggi tidak setertarik dulu ketika merespon cerita soal Kak Ditto—senior yang seminggu lalu jadi pacarku. Aku jadi suudzan, akankah Anggi berubah jadi ukhti antipacaran dan menyuruhku putus? Belakangan, aku tidak begitu nyaman bercerita soal Kak Ditto padanya.

Di sisi lain, aku membutuhkan saran Anggi. Semasa sekolah, ia pernah dua kali pacaran sementara aku hanya sempat merasakan di-PHP. Pengalaman pertama pacaran membuatku butuh seorang penasihat. Selain Anggi? Aku belum bisa terbuka dengan orang lain. Galau lah aku.

***

 “Besok Rabu aku tanding futsal nih. Kamu nonton ya,” Pinta Kak Ditto ketika kami sedang duduk di pinggir taman kota. Kami baru selesai berkeliling di festival kuliner tahunan.  

“Aku enggak suka nonton futsal ….” Aku menjawab dengan ragu.

“Ini pertandingan bergengsi loh, pemenangnya dapat hadiah lumayan. Bisa buat traktir kamu bahkan aku bisa beli hadiah spesial buat kamu.” Laki-laki berhidung mancung itu sedikit merayu.

“Tapi … nanti aku nonton sama siapa?” Aku mulai cemberut.

Kak Ditto masih ngotot, “Tenang aja, biasanya temanku ada yang bawa pacar juga. Nanti kamu kenalan aja biar teman kamu makin banyak.”

Aku terus beralasan. Dari dulu aku memang tidak suka menyaksikan pertandingan olah raga karena banyak laki-lakinya.

“Lagian cuma sebentar, enggak sampai tiga jam kali. Ayolah, please.” Kak Ditto masih bersikeras.

Kami terus saling ngotot hingga di perjalanan pulang. Semakin aku melempar alasan, semakin Kak Ditto pandai membuat rayuan. Sampai depan indekosku, akhirnya aku kalah—lebih tepatnya mengalah. Kencan pertamaku, berakhir dengan mood yang terobrak-abrik. Tapi, apa daya. Aku tidak ingin membuat kekasihku kecewa.

Aku buru-buru merebahkan diri ke kasur dengan ponsel di tangan. Menyempatkan diri untuk mengecek instagram. Ternyata, Kak Ditto menandaiku dalam sebuah unggahan. Foto candid diriku yang sedang memegang minuman. Tak ketinggalan sebuah caption manis ia tulis ‘Thanks for today, cantik.’ Aku tersenyum malu menatapnya, kukomentari dengan emote bentuk hati.

Pacarku memang pintar membuatku tersanjung. Mood-ku mulai membaik. Sepertinya, aku harus belajar menyukai futsal. Untuk pacar seharusnya aku bisa menyesuaikan diri. Mulai hari itu, aku menyugesti diri agar nyaman menonton pertandingan futsal esok Rabu.

***

Waktu berganti, melesat secepat kilat. Aku telah tiba di ujung semester pertama dan masuk di pekan ujian akhir. Perjalanan awal kuliah tidak begitu mulus karena fokusku terpecah. Selain kuliah, ternyata Kak Ditto menjadi medan magnet yang kuat. Semua perhatian dan pikiran kadang harus teralihkan kepadanya.

Hubungan kami bak roller coaster. Pacarku posesif. Meski demikian, aku tetap menyukainya dan berharap hubungan kami akan semakin baik seiring berjalannya waktu. Kupikir kami masih perlu adaptasi. Momen monthversary, alias perayaan 5 bulan hubungan kami akan kumanfaatkan untuk membuat Kak Ditto bahagia. Bagaimana pun, kami harus saling memperjuangkan. Malam hari, tanggal 28, aku sudah membuat janji untuk makan berdua meski ada jadwal ujian esok hari.

***

Aku sedang demam ketika harus menepati janji makan bersama. Kak Ditto tidak kuberitahu kalau sejak hari Selasa aku tidak enak badan. Biar saja lah, aku kan ingin membuatnya senang di malam perayaan jadian. Meski kami tidak pergi ke cafe atau tempat makan bernuansa romantis. Tanggal tua menjadi alasan Kak Ditto memilih ayam goreng lamongan pinggir jalan. Sebetulnya dalam kondisi badan yang tidak fit, aku ingin makanan hangat berkuah.

Pacarku selalu bisa membuatku merasa baik-baik saja kalau mengalah. Ada saja cara yang dilakukan. Malam itu, ia membawa sepotong cake kecil yang dibeli dengan uang tabungan recehnya. Hadiah monthversary, katanya. Ia melengkapi aksi manisnya dengan berjanji mentraktirku di cafe, awal bulan depan. Aku tersenyum senang.

Ketika makan, tiba-tiba aku merasa mual. Kutahan dengan memberi jeda meneguk teh hangat. Ternyata, tidak kuat juga. Tersisalah nasi dan sepotong daging ayam goreng itu.

“Kok enggak dihabisin?” Tanya Kak Ditto

“Aku kenyang. Sebenarnya tadi sore udah makan, Anggi belikan. Hehe ….” Aku berbohong.

“Kenapa ambil nasinya banyak? Ya sudah, nanti biar aku habisin!” Kata Kak Ditto agak ketus. Aku sudah terbiasa dengan gaya bicaranya yang begitu.

Malam itu, kami tidak berlama-lama keluar. Sudah disepakati pukul 22.00 jadi jam maksimal pulang. Sayangnya, sesampainya di indekos aku merasa badanku tak bisa diajak kompromi. Aku memilih tidur ketika jam menunjukkan pukul 21.50. Tak lupa kusetting alarm di jam 03.00 pagi untuk bangun dan belajar.

Malangnya nasibku, Pukul 06.00 aku baru saja terbangun. Tak kudengar hp-ku menderingkan alarm. Suhu badan belum normal tapi mau tidak mau harus kuhadapi ujian mata kuliah terakhir ini. Ya ampun, aku sama sekali tidak belajar dan hanya bisa berharap datangnya keajaiban.

***

Bisa dibilang, ujianku mengkhawatirkan. Tidak ada soal yang bisa kukerjakan dengan mudah, tidak sedikit pun aku bisa mengingat rumus-rumus dengan baik. Itu juga yang membuat pikiranku tidak tenang dan kondisi badan semakin drop.

Sore harinya, aku menggigil. Badanku lemas dan terus saja aku muntah. Entah apa yang terjadi, kerongkonganku terasa pahit. Aku segera minta bantuan Anggi untuk membawaku ke dokter. Anggi yang panik, memutuskan untuk memanggil taksi untuk membawaku ke rumah sakit terdekat.

Sampai di rumah sakit, aku masuk ke IGD. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter memberitahu kalau aku terserang tifus. Untuk memastikannya, aku menjalani test darah. Kondisi fisik yang lemah membuatku harus dirawat. Tak lama, pergelangan tangan kiriku telah tertancap jarum infus. Lalu, aku dipersilakan menunggu perawat mempersiapkan kamar.

***

Aku tidak bisa membayangkan jika tidak ada Anggi. Bisa jadi, aku akan jadi pasien yang berjuang sendiri. Ayah sedang dinas ke luar kota. Di saat yang sama, Bunda tidak bisa meninggalkan sekolah. Sebagai seorang Waka Kurikulum, ia harus ada di tempat ketika ada kunjungan dari tim asessor akreditasi sekolah. Barulah di hari kedua aku opname, Ayah dan Bunda datang menjagaku.

“Rin, kamu masih nyaman memaksakan diri?” Tanya Anggi ketika sedang mengupas buah pepaya untukku.

“Maksud kamu, Nggi?” Aku balik bertanya.

“Nurina, kamu sampai sakit gini. Bukannya enggak nyaman berpura-pura kuat?” Kata Anggi lembut. Dia mirip sekali dengan Ibunya, halus dan perhatian. Aku diam berpikir, menebak ke arah mana pembicaraan ini. Lalu, Anggi meneruskan pembicaraan, memberiku masukan.

“Kamu merasa enggak kalau pacaran membuatmu tidak menampakkan dirimu yang sebenarnya? Kamu pura-pura nyaman saat nonton futsal di tengah kerumunan lelaki. Belum lagi bohong ke asisten dosen agar tidak sekelompok praktikum dengan beberapa teman laki-laki karena pacarmu cemburu. Terakhir, kamu paksa badanmu yang demam supaya pacarmu senang, akhirnya kamu tumbang.”

Aku belum bereaksi. Memang benar apa yang dikatakan Anggi, aku memaksakan diri sampai sering sakit hati sendiri. Aku sering menangis sendirian karena kesal dengan Kak Ditto.

Anggi melanjutkan, “Aku enggak akan maksa kamu untuk meninggalkan pacarmu. Tapi, coba tanya sama dirimu, apa hidupmu nyaman? Apa kamu tidak merasa waktumu ada yang terbuang?”

“Iya, Nggi. Aku sering makan hati. Aku dilarang dekat dengan laki-laki lain, tapi Kak Ditto chatting dengan mantan pacarnya. Aku selalu merasa waktu begitu lambat kalau sedang menunggu dia tanding futsal. Aku ….” Aku ragu untuk melanjutkan kalimatku.

“Aku tahu kamu sering nangis sendirian di kamar, aku dengar juga kalau kamu berantem di telepon. Sekarang, aku jarang lihat kamu baca buku. Seringnya 24 jam pegang hp, padahal di kampus ketemu sama dia.” Kata Anggi sembari memotong pepaya. Aku tidak merespon apa yang Anggi bicarakan, tapi terus kurenungkan.

***

Benar apa yang dikatakan Anggi, aku banyak mengorbankan waktu. Aku tidak menjadi diriku sendiri, memaksakan banyak hal hanya karena seorang laki-laki. Katanya sayang sih, tapi pada akhirnya aku tidak menemukan bentuk rasa sayang yang ia ungkap setiap malam sebelum aku tidur. Terbukti, lima hari di rumah sakit, ia hanya menjengukku sekali. Bahkan ketika orangtuaku datang, dia sama sekali tidak datang menemui.

Ketika aku keluar dari rumah sakit, aku berencana menemui Kak Ditto. Aku bermaksud membahas hubungan kami. Paling tidak, aku akan sedikit ‘menawar’ perjanjian, misal saja aku akan menjauhi teman laki-laki yang ia cemburui kalau dia berhenti chatting dengan mantannya. Bukankah itu lebih adil?

Sebelum menelepon Kak Ditto, kusempatkan diri membuka Sistem Informasi Akademik (SIA). Menurut kabar di grup angkatan, beberapa nilai sudah masuk ke SIA. Dengan hati berdebar, kulihat tiga kolom telah terisi huruf: A, B dan D. Aku terpaku melihat satu huruf terbawah, kenapa harus ada nilai D? Aku memukul kepalaku sendiri.

Rusaklah Kartu Hasil Studi-ku di semester satu. Itulah nilai Fisika Dasar, mata kuliah yang aku tidak belajar menjelang ujian. Aku memilih jalan bersama pacar dan malah bangun kesiangan pagi harinya. Ternyata, ini hukumannya.

Terbayang jelas dibenakku, semester ganjil depan aku harus mengulang mata kuliah itu. Belajar satu kelas dengan mahasiswa baru. Mataku berair, menggenang dan tumpah. Hanya tangis yang mewakili kekecewaan ini. Apa yang harus kukatakan pada Ayah dan Bunda nanti?

Aku segera mencari kontak Kak Ditto, tidak ingin berlama-lama menunggu untuk bertemu. Harus segera kukatakan padanya bahwa aku ingin sendiri. Untuk apa pacaran kalau prestasiku kacau dan aku justru lebih banyak menangis? Terima atau tidak, Kak Ditto harus mengerti bahwa diri dan waktuku jauh lebih berharga. Aku tak ingin masa mudaku terbuang hanya untuk merasa cemburu dan sakit hati. []

Ditulis Oleh: Hapsari TM.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan