Aku Sangat Yakin, Kapan Pun Aku Bisa Mati

Tiga bulanan lalu, ia sehat, waras, sat set kayak biasanya, dan tentu saja sibuk dengan rutinitas hariannya. Persis saya, kamu, dan dia. Persis semua kita, semua manusia.

Mimpi-mimpi tentu saja terus menjenterah, membentang, dan bersembulan di depan mata. Terus begitu. Sejak dulu kala.

Semakin lama hidup, semakin tua, diiringi bertambahnya pelbagai keluhan lelah dan sehat, nyatanya semua keinginan itu bukannya surut. Tidak berkurang sama sekali. Malah membengkak. Selalu ada, selalu timbul, tak terbendung.

Dulu, saat remaja, mikirnya hanya pengin lulus sekolah dan kuliah. Jelang lulus, mikirnya pengin dapat kerja dan berumah tangga. Lalu pengin rumah, kendaraan, aset, investasi. Demi anak-anak. Demi masa depan mereka yang terkasih.

Anak-anak pun jadi remaja, hidup kita makin banyak kebutuhan ternyata. Bukannya berkurang. Malah membengkak.

Waktu terus datang, terus melibas, siang dan malam tak lagi terasa bedanya. Sangat cepat berlalu. Tahu-tahu telah pagi lagi, lalu sore lagi, lalu malam lagi, lalu tidur lagi, lalu pagi lagi, kerja lagi, sibuk lagi, bahkan acap harus dikejar sampai dini hari.

Demikian terus kita, semua kita, ditekuk-lipat waktu, kebutuhan, dan keinginan.

Pada suatu pagi yang kita bilang tak disangka, kita mendengar si fulan bin fulan meninggal! Mati. DipanggilNya.

Kita kaget, sedih, teringat segala kenangan tentangnya. Senyumnya, tawanya, bicaranya, cara makannya, hobinya, banjaran cita-citanya, hingga keluhan dan curhatnya.

Lalu, lupa. Terlewatkan. Begitu saja. Kita kembali tenggelam dalam lautan kesibukan, rutinitas, kebutuhan, dan keinginan, yang bertekuk-lipat di dalam gulungan gelombang waktu.

Dan pada suatu malam, koita lagi-lagi kaget dan shock mendengar kabar dari kampung tentang saudara tua yang terkapar disergap penyakit yang tak terbayangkan. Dokter bilang, begitu infonya, secara medis tak ada harapan lagi, mari berdoa semua, semua kita sepenuhnya mutlak berada dalam kemahakuasaan Tuhan.

Hidupku, hidupmu, dan hidupnya sungguh benar-benar bagai puzzle yang teracak-acak oleh rutinitas kerja, kebutuhan, dan keinginan yang coba kita susun sedemikian gigih dan semangatnya untuk pada suatu titik tumpah-ruah tak terbendung dihajar kematian. Ya, kematian.

“Jika telah tiba ajal mereka, maka takkan pernah dimundurkan sedikit pun atau dimajukan,” begitu tutur al-Qur’an.

Kita tahu itu. Kita ngerti limit hidup itu. Kita (sebagian) iman pada hal itu. Bahwa kita akan mati. Adapun mereka yang tak iman, atau ragu, kendati berbanting-tulang membantahnya, ya tetap sama saja: sama matinya.

Ihwal mereka yang tak beriman, dan mati juga, kita skip saja. Toh, buat mereka, dapat diasumsikan bahwa hidup dan mati tak lebih dari sebuah siklus belaka. Hidup untuk survive, lalu mati untuk jadi tanah. Macam belalang atau rubah mati.

Buat kita yang beriman, yang meyakini adanya hidup setelah kematian, adanya Hari Pembalasan atas semua apa yang telah kita lakulan selama di dunia ini, yang itu akan menentukan bahagia atau sengsaranya kita di sana, pertanyaannya adalah: kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan macam apakah yang telah kita lakukan hingga kini?

Banyakan yang mana? Jika banyak amal salehnya, insya Allah kita diridhai-Nya, jika banyak kufur dan zalimnya, niscaya kita dilaknatNya?

Yang mana posisi kita?

Pastinya kita bisa meraba-raba ada di posisi mana kita kini.

Tepat di posisi apa pun kita kini, kapan saja, ya kapan saja, kita bisa mati. Dengan berbagai cara, yang terduga sampai tak masuk akal.

Sudah tahu, yakin, dan menyaksikan banyak bukti nyata atas potensi mati kapan saja itu, mengapa kita masih saja begini ini: sombong, sok yes, belagu, kasar, sok cerdas, sok mampu segalanya, sok menentukan segalanya, dan sok penting banget?

Allah karim. Astaghfiruka wa atubu ilaik. Aamiin.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan