Sayup-sayup lagu Raisa terdengar di gerbong kereta. Awalnya aku tak peduli, seakan hanya suara laju kereta yang masuk ke telinga. Namun, lama-lama suara lirih lagu itu semakin jelas terdengar. Merasuk lebih dalam, tanpa permisi, memicu gaduh di hati.

Pulang ke pelukanmu

Tentramnya telinga

Yang mendengar tanpa menghakimi

Secangkir kopi hangat

Yang kita hirup berdua

Gurauan dalam petuahmu

Ibu, ibu, ibu aku rindu

Di dalam kereta menuju Jakarta, aku duduk sendiri, menghadap jendela yang basah oleh hujan. Kemudian, lagu itu menggema, beredar di seluruh gerbong kereta. Ah, suasana ini sempurna. Duhai Mbak Raisa, “Lagu Untukmu” berhasil mengaduk perasaanku, memanggil kembali kenangan akan Ibu. Dan juga kenangan akan hari itu, kenangan yang hidup lagi seakan enggan mati di masa lalu.

Hari itu, aku ingat guratan wajah Ibu, kecuali sorotan matanya yang tak sanggup kutatap lama. Aku ingat apa yang ia sampaikan. Aku juga ingat usahaku merangkai kata untuk menyampaikan kabar itu. Kabar yang sama mengejutkannya dengan petir di siang bolong.

Oh, please, jangan nangis sesenggukan di sini. Ambil nafas, tenang, istighfar. Aku berusaha menenangkan diri sambil menutupi wajahku dengan pasmina. Dan seiring hujan yang mereda, tangisku semakin pudar. Gelombang rasa yang tadinya menggulung-gulung di hati semakin tenang diredakan istighfar.

Suara merdu Raisa sudah berganti suara renyah Rizky Febian. Bayanganku tentang hari sedih itu berubah jadi kenangan masa kecil yang campur aduk. Satu kenangan tergerus kenangan yang lain. Di saat  mengenang kebersamaan keluarga kami, tetiba kenangan akan perpisahan Bapak dan Ibu merasuk ke dalamnya. Saat berusaha memanggil kenangan tawa bersama Ibu, ingatan akan rindu sosoknya yang tak lagi di rumah, menyelinap dan menganggu.

Kala itu, aku baru kelas empat SD. Bapak dan Ibu sedang menjalani lika-liku hidup mereka dan memutuskan untuk berpisah. Keputusan itu menjadikanku anak yang tumbuh di keluarga broken home. Tapi, itu tak berlangsung cukup lama. Jelang tamat SMA, mereka memutuskan untuk kembali bersama. Sekarang, mereka menikmati masa menua berdua, sambil terus merajut rasa yang pernah sirna.

Kembalinya orangtua di masa aku bukan lagi anak kecil, memberi isyarat bahwa kebersamaan mereka harus dijaga bersama-sama. Aku dan ketiga kakakku ingin keluarga ini selalu utuh, meski kami hanya punya doa untuk mewujudkannya.

Aku, si bungsu yang paling banyak menghabiskan waktu di rumah, paling tahu kondisi saat carut marut itu terjadi. Muncul tuntutan dalam diri untuk bahagiakan mereka. Aku harus berhasil dengan masa depan dan pencapaianku.

“Teh hangat, Mbak?” Seorang pramugara kereta membuyarkan renunganku, tepat di episode akhir masa SMA. Telepon genggamku pun berbunyi, rasanya memang renungan kali ini harus terhenti.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam … Maaaaakkkk … Aku mau curhat.”

Dari suaranya, aku tahu sesuatu sedang terjadi pada temanku, Si Dini. Oke, sekarang aku harus segera merekayasa emosi. Dari aku yang baper dengan kenanganku sendiri, ke sosok yang mendengarkan curhatan orang lain, meluangkan hati untuknya di ujung sana.

Aku mendengarkan baik-baik ceritanya yang mengalir. Setiap kalimat larut dalam emosi yang bertumpahan. Suaranya terisak, timbul dan tenggelam. Kurasa air mata sudah membasahi bahkan membanjiri wajah putihnya.

Dia baru saja menelan kenyataan, rencana menikah dengan laki-laki pilihannya kandas di tengah jalan. Hatinya yang setegar karang pun tiba-tiba hancur berserakan. Ia dan laki-laki itu sudah melalui banyak ujian untuk sampai ke tahap pernikahan. Tapi sekarang, apa yang mereka upayakan usai di ujung kata pengkhianatan.

Dari membahas tentang kegagalan menikah, Dini pun bercerita tentang Ibunya. Tentang cara sosok wanita kuat itu menanggapai apa yang terjadi padanya.

 “Lalu, Mamamu bilang apa, Din?” Tanyaku di ujung ceritanya yang sudah mulai mencapai titik.

“Setelah aku menjelaskan panjang lebar, Mama sabar mendengarkan hingga ceritaku menemui ujungnya. Beliau bilang, tak apa sayang, belajar untuk ikhlas. Mama insyaallah doakan selalu dari sini. Ayuk kan selalu kuat.”

Sambil menahan tangis dia melanjutkan ceritanya, “Aku bilang ke Mama, aku merasa seperti sampah.  Mama jawab dengan lembut, bagaimana mungkin anak kesayangan Mama dan Papa yang bahkan mencuci piring pun dilarang, seorang putri yang begitu dicintai, begitu saja disakiti oleh orang lain?”

Ya Allah, kembali hatiku bergemuruh. Cerita tentang Ibu dan segala penerimaannya seakan tiada pernah mencapai batas. Entah bagaimana caranya mengukur kekuatan hati seorang Ibu. Ia bisa berubah jadi sosok yang begitu kuat berkali lipat dan bahkan melebihi kekuatan fisiknya sendiri.

“Ya udah, sekarang kamu istirahat ya, sholat dan mohon ampun ke Allah.” Saran terakhir yang bisa kusampaikan ke Dini, menyerahkan segalanya dari atas sajadah, dari sanalah bantuan dari langit akan bekerja dengan sendirinya.

Baru selesai kuucap salam, menutup obrolan dengan Dini, seorang wanita paruh baya menghampiri dan duduk tepat di sebelahku. Ia tersenyum ramah. Di tangan kanannya yang sudah berhias guratan dan kerutan, dua tas jinjing melingkar. Di tangan kirinya, satu buah kardus bertali rafia juga dijinjingnya.

Aku tak bicara banyak dengannya. Tapi, diam-diam aku mencuri dengar pembicaraannya di telepon dengan sang anak.

“Nggak, nggak berat kok mbak, orang cuma sekardus aja.” Kata Ibu itu yang kuduga sedang membahas barang bawaan.

Setelah meletakkan telepon genggamnya, aku melihat Ibu itu memijit tangannya, menekan-nekan beberapa bagian yang mungkin dirasa sakit. Entah apa yang terjadi pada wanita bersuara lembut ini. Apakah dia sudah berbohong kepada anaknya? Bahwa sesungguhnya, barang bawaannya terlalu berat untuk tubuh rentanya. Bahwa dia tak ingin anaknya khawatir dan kecewa. Bahwa dia hanya ingin membahagiakan anaknya.

Ibu, pandai sekali kau menutupi lukamu. Bagaimana mungkin kau selalu bisa memendam semua lelah sendiri. Apakah kesehatanmu itu tidak penting? Jangan sakit, Bu, bagaimana anak-anakmu nanti. Ah, rasanya aku ingin mengatakan itu kepadanya dan juga kepada ibuku sendiri.

“Nak, Ibu duluan ya.” Tetiba dia berdiri dan bersiap turun di Stasiun Cirebon. Aku pun berdiri, membantunya menurunkan barang dari kabin kereta.

“Bu, pakai porter saja,” ujarku yang dia iya kan sambil mengumbar senyum.

Selepas Ibu itu hilang dari pandangan mata, aku kembali terduduk, diam dan tenggelam dalam renungan yang belum usai. Kuharap tak ada penumpang lain yang akan duduk di sampingku, hingga kereta sampai ke tujuan akhir, Jakarta.

Kereta Senja Utama akan segera diberangkatkan

Pengumuman itu mengudara, diiringi suara jes …jes … dari kereta yang beranjak melaju. Tapi, apa yang kudengar seakan lebih dari “itu”. Kereta akan melanjutkan perjalanan, silakan dilanjutkan merenung dan menangis sampai kereta mencapai tujuan Anda. Kira-kira itulah bunyi yang kudengar.

Satu, dua, tiga, air mataku pun tumpah berhamburan. Jika saja sekarang aku ada di atas kasur, maka bantal akan bertugas menutup mukaku yang tak terkontrol lagi. Jika aku berada di dekat orang yang kusayangi, maka dia akan kupeluk erat. Jika aku ada di kamar mandi, maka keran air akan kubuka agar suara tangisku tersaingi suara derasnya. Tapi, aku tak peduli lagi di mana aku menangis sekarang. Tolong, siapa pun yang melihatku, jangan hiraukan.

“Bu, maaf, adek nggak bisa lanjutin pernikahan ini. Adek udah nggak kuat lagi, Bu.” Ibaku pada Ibu atas apa yang terjadi padaku.

Hari itu, kelabu menggelayut di setiap sudut kamarku, tempat aku mengadu pada Ibu. Kelabu itu juga yang membuat kenangan hari itu begitu khas. Seperti episode flashback di film yang sengaja diberi tone warna abu-abu.

Hari itu aku berhasil. Ya, aku berhasil meruntuhkan hati wanita yang sudah mengandung dan kesakitan melahirkanku ke dunia. Di depan sosok yang ingin melihatku bahagia, aku menelanjangi semua luka, kesalahan dan alasan untuk menyerah dengan pernikahanku.

Ibu tak mengucapkan satu patah kata pun yang menyiratkan kekecewaannya, bahkan ia mengakhiri kalimatnya dengan menyuruhku makan. Oh, Ibu, benarkah kamu baik-baik saja? Secepat itukah kamu mampu menyulap perasaanmu yang runtuh, agar tak tampak kesedihan di mataku. Oh, Ibu, sungguh maafkan aku. Bukan ini yang ingin kupersembahkan untukmu. Bukan ini yang pernah aku patrikan di hatiku. Aku benar-benar sudah berniat untuk membahagiakanmu dengan pencapaianku. Tapi, Allah punya kehendak lain, Bu.

Maafkan aku sudah gagal merawat inginmu. Terima kasih sudah menerimaku, apa adanya, mendengarku tanpa menghakimi. Persis seperti petikan lirik lagu Raisa di gerbong kereta hari ini.

Yang mendengar tanpa menghakimi

Ibu, ibu, ibu aku rindu

Oleh: Mariana Suci Swastika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: