Aku Tahu, Pacarmu Selingkuh

Ryan mondar-mandir di depanku. Itu membuat tali skiping yang sedang kumainkan berhenti mengayun. Aku tidak sempat menyeka keringat. Napas juga masih belum stabil. Sekilas, aku melihat ada kekesalan dari aura wajah yang ditimbulkan cowok bertinggi di atas 178 cm itu. Bibir yang biasanya mengoleksi seribu senyum, hari ini raib entah ke mana.

“Bisa tolong duduk sini, Lu?”

Aku bengong.

Dari mana datangnya kamus, kalau orang sedang olah raga diminta duduk? Belum juga pendinginan. Dan parahnya, belum selesai olah raga. Terus, itu Ryan kan paham banget soal demikian. Sama-sama orang olah raga. Kenapa bikin peraturan seenaknya? Pasti ada hal yang mendesak, hingga membuatnya berlaku demikian. Tapi, apa?

Biar hati berontak, karena melihat mendung yang sudah pekat di wajahnya, aku pun duduk. Sambil mengatur napas, menyelonjorkan kaki, dan menggulung tali skiping. Aku sengaja tidak bertanya dulu, apa maunya. Biar saja dia mau ngomong apa.

Ryan adalah teman satu tim kami di satu cabang olah raga seni bela diri. Kemarin, pacarnya, aku dan beberapa teman lain yang satu tim baru saja ikut latihan gabungan, sekaligus ujian sabuk hitam. Saat itu, Ryan tidak ikut.

“Gimana kelakuan Ria di sana?”

Nah, nah …

Aku tahu sekarang. Ryan menanyakan perihal pacarnya. Pacar yang katanya mau diseriusin, tapi entah berapa tahun lagi. Karena mereka sama-sama masih kuliah. Ria sendiri baru semester satu. Baru masuk kuliah beberapa bulan. Belum ujian semester.

“Ya biasa aja si,” jawabku kalem.

Sejujurnya. Aku ingin banyak bercerita. Tapi, aku kan tidak punya pacar. Dan kebetulan, dulu, aku sempat punya rasa dengan Ryan. Sayang, Ryan tidak membalas rasaku. Bila aku mau, saat itu, aku bisa menyalip Ria dan menggaet Ryan ke dalam hidupku. Bersyukur, karena aku mulai fokus dengan planing latihan, tidak sedang tertarik untuk pacaran. Apalagi mengambil kesempatan dalam kerumitan hubungan Ryan dan Ria.

Jika aku bercerita dan memojokkan Ria, kemudian Ryan bubaran dengan Ria, maka aku akan menjadi bumerang di antara hubungan yang mereka cipta. Bisa jadi, aku menjadi tertuduh bahwa aku sengaja akan merebut Ryan dari Ria. Oh. Kenapa pikiran ini mendadak keruh?

“Aku dengar, dia punya gebetan baru?”

“Kalau cuma dengar, mbokyao tanya sana sama Ria. Apa benar apa yang kamu dengar?”

Ryan mendengus. Dia berdiri dan meregangkan tangan.

“Masalahnya dia sekarang beda. Dan kamu kan ikut ke sana saat latihan bersama?”

Ryan masih memburu tanya dengan menyebut satu tempat di mana kami latihan bersama.

“Kupikir, ini memang resiko kalau kalian pacaran.”

Mendadak, aku merasa sok bijak. Tapi, aku berkata apa yang sebenarnya.

“Resiko kalau kamu khawatir bakal kehilangan Ria. Beda banget kalau kalian udah merit.”

Ryan membelalak.

Aku tahu, jawabanku pasti terdengar mengentil.

Married?

“Kamu kan tahu. Ini belum saatnya?”

“Dan kamu juga tahu kan, kalau ini adalah resikonya?”

Mungkin, pupus sudah harapan Ryan untuk mencaritahu apa yang bercokol sebagai tanda tanya di hatinya. Hari ini, aku sudah tidak peduli itu. Aku mengatakan apa yang aku tahu. Aku baca. Dan aku pahami. Meski memang pemahamanku masih minimalis.

“Resiko orang pacaran, cemburu bukan pada yang dimilikinya. Sudah jelas itu mempermainkan rasa sendiri.”

Ryan diam.

Aku ikut diam.

Setelah apa yang kukatakan, kami seperti merenung dengan hati masing-masing. Ryan tidak akan mendapat jawaban yang diinginkannya dariku. Mulutku sendiri tidak mungkin menceritakan apa yang kulihat saat bersama Ria dan teman-teman.

“Boleh aku lanjut lagi, ya?”

Ryan meninju pundakku.

Dia mengangguk, serta mengupayakan senyum.

Maafkan aku, Ryan. Aku tidak bisa mendetailkan apa yang terjadi. Jika memang ada kosa kata “selingkuh” dalam pacaran. Aku tahu, pacarmu memang baru melakukannya. Aku tahu, dia bersama-sama ke mana-mana dengan orang lain. Bila memag ada juga istilah cinta lokasi, itu yang terjadi pada Ria.

Beberapa tahun kemudian, kami berpisah.

Aku masih bertanding, dan saat itu Ryan sudah menikah. Bukan dengan Ria. Kabarnya, Ria juga sudah menikah. Ya pasti juga bukan dengan Ryan. Pengalaman beberapa tahun sebelumnya sangat membuatku kembali berpikir, alangkah menambah beban pikiran orang yang menjalani aktivitas pacaran. Mereka bilang happy-happy, tapi nyatanya ruwet. Keruwetan yang diciptakan sendiri.

Oh ya.

Dan sosok yang menjadi selingkuhan Ria itu, juga menikah dengan gadis lain.

Allah sayang padaku saat memisahkan rasa ini dengan Ryan.

Allah sayang padaku ketika semua teman pacaran, dan aku menahan gejolak dengan memilih fokus latihan. Tentu saja aku normal. Aku tertarik dengan laki-laki, tapi aku lebih tertarik dengan bagaimana aku bersikap kepada laki-laki.

Terima kasih, Ryan.

Terima kasih, Ria.

Terima kasih sosok yang tak mungkin kusebut namanya di sini.

Kalian sudah menjadi pelajaran dalam hidupku. []

Oleh: K. Mubarokah.

Tinggalkan Balasan