IZZAH

Aku mematung berdiri di hadapan Rektor kampus, dia menyelempangkan sebuah selendang bertuliskan “Terbaik” untukku, kepalaku tertunduk menerimanya dengan rasa hormat. Untuk pertama kalinya aku wisuda, untuk pertama kalinya pula aku mengenakan toga dan untuk pertama kalinya aku menerima ijazah di tempat yang paling mendebarkan, panggung.

Aku memutar dimensi waktu yang sudah lama ku tembus, perjalanan panjang yang menyisakan berbagai rasa. Sedih, pilu, bahagia, dan menerima keberuntungan menjadi deretan peristiwa yang rutin terjadi. Aku menengok ke sudut waktu yang telah lama tak ku jumpai, di sebuah sudut waktu yang tidak akan pernah terulang kembali, sudut waktu yang mengantarkan aku hingga kini mampu berdiri di depan mimbar untuk sedikit memberi sambutan dan ungkapan terima kasih, menghadapi ratusan manusia yang sebagian besar tak ku kenali, sudut waktu itu ialah masa kecilku.

Selama menjadi mahasiswa, aku sering menyepi dari keramaian. Pagi, siang, hingga malam aku selalu membagi waktuku untuk belajar dan menjemput rezeki. Lelah seolah menjadi sahabat setia yang selalu mengingatkanku tentang kesabaran. Bahkan, sebagian teman mengucilkanku, mereka iri dan menganggap Tuhan tidak adil ketika melihat hasil nilainya di bawahku. Padahal mereka hanya fokus belajar, transferan uang diperoleh rutin setiap bulannya.

Ayah, kau satu-satunya lelaki yang aku sayangi, seribu bahasa telah kau kunci demi kebahagiaanku, seribu kalimat kau simpan rapi dalam kamusmu demi masa depan baikku. Ayah, aku tahu engkau pasti selama ini membuang waktu dan tenagamu lebih banyak demi menghasilkan rupiah, kan? Kau selalu berusaha mengirim uang untukku, kan? Meski aku selalu menolaknya? Tidak, Ayah! Aku ingin engkau seperti dulu. Engkau yang tidak terlalu sibuk untuk mencari nafkah, engkau yang rajin membaca Al-Qur’an sebelum subuh di sampingku sewaktu aku masih kecil. Sejak aku kuliah, duniamu menjadi jauh berbeda, itulah alasanku mengapa dulu aku tidak ingin kuliah. Aku hanya ingin terus belajar di pesantren sederhana saja.

Ayah, kau satu-satunya orang yang paling juara menyimpan segala kesulitan, ujian dan cobaan yang sedang engkau dan keluarga alami. Ketika sebagian barang di rampas oleh maling, ketika kena tipu habis-habisan dan penipunya bunuh diri, ketika hasil panen dirampok orang, ketika gaji bulanan tidak segera cair dan lain sebagainya. Kau tak pernah menceritakan itu semua kepadaku, Ayah. Aku terisak ketika pulang dan Ibu bercerita semuanya. Kenapa Ayah masih bisa mengunci lisan untukku? Ayah, aku bersedih ketika melihat rambutmu yang sedikit demi sedikit ditumbuhi uban, sedangkan aku belum bisa mengambil alih tugasmu.

Ayah, aku sadar bahwa akhir semester sebelum wisuda, engkau sering mengirim uang untukku. Seketika aku bertambah sedih karena menjadi manusia yang jahat, aku sedih karena uang beasiswaku tidak cukup untuk satu semester, tidak seperti semester-semester sebelumnya. Aku tahu, Ayah. Mungkin ini semua karena aktifitas luar yang semakin bertambah. Meski aku tak pernah sama sekali meminta atau bercerita kepadamu tentang seberapa uang yang aku perlukan setiap hari, tapi engkau tak peduli itu. Engkau seolah memiliki magnet yang kuat. Sesekali engkau bertanya kepadaku apakah aku masih memiliki uang, dan aku sering berbohong kepadamu, bahwa uangku masih aman. Artinya aku masih punya uang yang cukup untuk sehari-hari. Padahal sebenarnya tidak. Tapi, Ayah, engkau jangan khawatir, engkau jangan sedih ketika tahu semua ini. Alhamdulillah aku tidak pernah kelaparan atau kekuraangan di sini, Allah maha baik, Ayah. Dengan jalan-Nya dan arah yang sama sekali tak pernah ku duga, Allah selalu mengirim rezeki untukku.

Ibu, aku yang jauh di sini selalu menyimpan rindu erat untukmu, meski tidak sebesar rindumu padaku. Kau tahu, Ibu? Aku selalu bercerita kepadamu setiap ada keberuntungan dan rezeki yang aku dapatkan. Dan kau selalu menceritakan rahasia dibalik itu. Dulu aku bertekad untuk menginvestasikan waktuku lebih banyak untuk mengaji, meski aku masih berstatus mahasiswa. Di saat itu juga, guru ngajiku selalu membawakan nasi box ketika aku pulang. Aku rikuh, Bu. Tapi aku sama sekali tidak bisa menolaknya. Aku bercerita semua ini kepadamu tentang bagaimana hukumnya? Lalu kau menjawab ringan, “Percayalah, Nak. Itu keberkahan yang kau dapat. Selama kau diperantauan, Ibu sering berbagi makanan kepada tetangga atau teman Ibu. Dalam hati Ibu berdoa, supaya anakku di perantauan tidak pernah kelaparan, semoga anakku di perantauan diberi rezeki yang lancar.” Benar, Ibu. Doamu didengar oleh-Nya. Malaikat selalu tersenyum melihat perilakumu yang unik itu.

Ibu, kau tahu apa yang selalu membuatku sedih ketika aku izin kembali ke perantauan? Ketika kau memaksaku untuk menerima rupiah darimu. Sungguh, aku tidak pernah berharap menerima itu. Bukan berarti aku sombong, Ibu. Aku tahu engkau tidak memiliki pekerjaan, engkau adalah malaikatku dan Ayah selama ini. Tugasmu sehari-hari meluruskan jalan kami ketika kami salah arah, engkau tegakkan kami ketika iman sedikit goyah, pekerjaanmu lebih mulia dari seorang pejabat, Ibu. Justru yang aku perlukan setiap saat adalah doa darimu, meski engkau selalu berkata bahwa aku tak pernah absen dari doa-doamu.

IBU

Kedua tangan yang tetap mungil itu mencium takzim tanganku yang sudah keriput. Aku tahu, Nak. Perjalanan perjuanganmu selama ini tentunya melelahkan. Nak, tak ingatkah dulu ketika kau bilang bahwa kau akan sulit mendapat beasiswa kuliah? Kau selalu bilang, hanya orang-orang yang memiliki banyak prestasi nonakademik saja yang mendapat beasiswa.

Ketika seorang dosen menawarimu untuk daftar beasiswa tahfiz, kau menolak halus. Kau tidak ingin Al-Qur’an menjadi taruhan dalam perjuangan mencari beasiswa. Di sisi lain, seorang dosen dengan ringan menyarankan supaya kau mencoba untuk daftar beasiswa pemerintah yang disebut ‘Bidikmisi’. Ketika home visit, dosen itu berkata pada Ibu, “Bu, maaf jika nanti anak Ibu belum masuk daftar list penerima beasiswa bidikmisi. Bukan berarti kami meragukan prestasi anak Ibu yang selalu menjuarai peringkat satu ketika SMA, tapi kami mengutamakan mereka yang sangat dan sangat membutuhkan beasiswa ini. Saya yakin, anak Ibu bisa mendapat beasiswa dengan cara lain, bisa prestasi atau hafalan Al-Qur’annya.” Saat itu Ibu merasakan sendi-sendi tulang Ibu terlepas satu persatu, lalu dosen itu melanjutkan perkataanya, “Namun, jika nanti hasil seleksi ini menyisakan kuota, anak Ibu akan kami masukkan. Doa yang terbaik saja ya, Bu untuk anaknya.” Kalimat itu cukup melegakan Ibu, meski Ibu belum yakin akan hasilnya.

Nak, ingatkah dulu ketika aku memarahimu? Saat kau bercerita pernah bekerja di tempat laundry, waktumu pasti habis, tenagamu terkuras, tidak fokus belajar, meski kau selalu pulang malam diantar oleh pemilik laundry itu. Lalu aku melarangmu untuk menerima gaji yang tidak genap angka dua ratus ribu yang kau usahakan selama satu bulan, kan? Aku pun menyuruhmu untuk resign dari pekerjaan itu, sedangkan kau berusaha ikhlas menghadapi semuanya. Di tahun kedua, kau diberi amanah untuk mengajar salah satu pelajaran SDIT sekaligus guru asrama, tidak genap satu tahun kau resign, berlanjut tahun ketiga kau diberi amanah sebagai musyrifah pondok pesantren, dan kau akhiri dengan resign juga, padahal belum genap satu semester. Aku tahu, Nak. Kuliah sambil bekerja itu tidak mudah, apalagi ketika mendapat pekerjaan berat atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan dirimu. Tapi, kau tidak pernah berhenti untuk mencoba dan berusaha, Nak.

Ternyata sekarang kau benar-benar berhasil lulus menjadi Sarjana. Ibu tak pernah tahu seperti apa terjal yang kau tempuh. Kau yang selama ini tak pernah meminta sepeserpun rupiah dari Ayah dan Ibu. Kau pun berhasil menjalaninya. Padahal Ibu yakin uang saku beasiswamu tidak akan cukup jika digunakan makan dan bayar tempat tinggal, kan? Padahal kau selalu berusaha aktif di berbagai organisasi dalam maupun luar kampus. Satu hal yang selalu Ibu pesan untukmu, “Jagalah Al-Qur’an, niscaya Allah menjagamu, Rawatlah Al-Qur’an, niscaya Allah tak akan pernah membiarkanmu terlunta-lunta.” Mungkin kau masih belajar untuk istiqomah, kan? Kau selalu ingat pesan Ibu kan, Nak? Dan yang aku lihat sekarang ini adalah bukti kebesaran Allah terhadap hamba-Nya.

AYAH

Setelah sekian lama berpelukan dengan Ibu, putriku yang masih mendekap ijazah itu memandang nanar wajahku. Seketika kau menghambur di pelukanku dengan terisak. Aku baru sadar, bahwa kau sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa yang mandiri. Kau sama sekali tidak pernah mengeluh tentang keuangannya, tentang betapa rumitnya pelajaran, dan betapa sulitnya belajar mencari rupiah dengan upayanya.

Jangan pernah menolak jika aku memberimu sedikit rupiah, Nduk. Kan hanya untuk tambahan saja. Tidak rutin setiap bulan. Itupun hanya hitungan ratusan saja, kan? Memberi nafkah ialah kewajiban seorang Ayah. Aku yakin kau membutuhkannya untuk tambahan uang saku. Ayah juga pernah mengalami perjalanan sepertimu. Ketika kau sedang belajar, Ayah sama sekali tidak ingin mengusik konsentrasimu dengan masalah keluarga. Ayah hanya ingin kau fokus dengan pelajaran saja.

Sekarang, Ayah berharap, kau segera memikirkan tentang jodohmu. Sebab, menyepelekan permasalahan jodoh itu tidak baik, meski segala mimpi yang kau harapkan masih banyak. Karena hidup di masa depan itu akan dijalani lebih lama bersama calon imammu, kan? Bukan seorang diri. Perjuanganmu seorang diri itu hanyalah untuk latihan dewasa dan untuk mempersiapkan kehidupan masa depan. Keluarga yang baik, anak yang baik, akan terlahir dari didikan orang tua yang baik juga. Maka, berjuanglah juga untuk menjemput jodohmu!

Terima kasih kau yang telah berjuang keras melawan pahitnya kehidupan di tanah kelahiran orang lain, yang jauh dari tanah kelahiranmu. Kau yang selalu berpegang teguh dengan keyakinan dan amanah terbesar kami. Terima kasih telah membawa orang tuamu ke samudera kebahagiaan hari ini.

IZZAH

Ayah, Ibu. Perjuanganku selama ini tidak ada apa-apanya. Bahkan lebih kecil dan halus dari biji dzarroh. Aku masih berada di tangga pertama, Ayah, Ibu. Bagaikan pendaki, aku masih berada di start pendakian, aku akan melalui beberapa post yang belum terukur berapa kejauhannya, aku akan menjumpai berbagai tanjakan curam yang wajib aku daki. Aku akan melalui beberapa wilayah ekstrem, ngeri, dan melelahkan. Namun, nanti akan ada saatnya aku berteriak bahagia ketika berhasil menuju puncak gunung, Ibu. Aku akan bersyukur karena mampu menyentuh betapa besar nikmat Allah yang diciptakan-Nya. Aku akan mampu melihat hamparan indahnya pemandangan sebagai karunia Allah. Yang terpenting, aku bersyukur karena Allah menitipkan aku terhadap Ayah dan Ibu. A million thanks My Mom, My Dad. And Please forgive all my mistakes. I love you to the moon and back.

Oleh: Sayyidatina Az-Zahra.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: