Sudah kubilang pada Mama jika aku tidak sedang cari jodoh dan ingin buru-buru menikah. Namun, Mama tetap memojokanku untuk mulai belajar membuka hati pada pria yang sedang mendekatiku. Adikku yang masih duduk di semester lima sudah meminta izin menikah dengan pria pilihannya selepas lulus kuliah. Laki-laki itu pernah beberapakali berkunjung ke rumah.

“Tahun 2020 kamu harus sudah menikah, Yul. Mama tidak mau adikmu mendahuluimu. Nanti kamu susah ketemu jodoh.” Itu adalah kalimat kesekian yang pernah Mama lontarkan saat kami sedang bersama.

Mama masih saja percaya mitos, jika seorang kakak dilangkahi sama adiknya, itu akan menjadi penghalang sang kakak mendapatkan pasangan hidup.

Umurku 23 tahun, masih muda dan ada banyak hal yang ingin kucapai. Bukan berarti aku menolak nikah muda, tapi untuk urusan jodoh aku tidak ingin ambil pusing. Aku percaya, jika sudah tepat waktunya, jodohku pasti akan datang. Kami akan dipertemukan dengan cara tak terduga. Dan sekarang saatnya untuk memperbaiki diri juga mengembangkan kemampuan yang dimiliki seoptimal mungkin.

Tidak banyak hal yang sebenarnya perlu Mama khawatirkan tentang jodoh anak-anaknya karena adik bungsuku masih duduk di sekolah dasar. Keluarga kami tidak akan kesepian hanya karena Mama belum memiliki seorang pun cucu. Dan kelulusan adikku masih dua tahun lagi. Namun, kedatangan salah seorang saudara di suatu hari yang bermaksud mengenalkanku dengan anak dari temannya membuat Mama memaksakan kehendak.

“Anak ini baik, Yul. Putih, tinggi. Mama tahu masa kecilnya. Kamu mau lihat fotonya?” Tanya mama di ujung telpon saat aku berada di luar kota.

“Nggak, Ma. Besok saja pas lebaran kan dia juga mudik, dan kalau memang dia serius pasti datang ke rumah,” ujarku yang sebenarnya malas menanggapi.

Sebenarnya, untuk perkara jodoh, aku lebih suka memilih sendiri. Dan dalam kamusku, jodoh itu tidak cari-mencari, tetapi saling menemukan. Jadi ibaratnya nih kami sama-sama sedang melakukan perjalanan dan di kilometer kesekian kami berpas-pasan, saling tertarik, jatuh cinta, kemudian saling menyadari tentang perasaan masing-masing. Sesederhana itu. Indah dan mudah. Dan tentu saja setiap orang boleh memiliki persepsi yang berbeda tentang bagaimana penyatuan sepasang kekasih itu bekerja.

“Maksud Mama, biar kalian bisa saling kenalan dulu lewat telepon. Yul, jodoh itu  perlu usaha. Kamu nggak bisa diem aja terus tiba-tiba dia nongol begitu aja.”

“Mama kenapa sih buru-buru amat nyariin Yuli jodoh. Emangnya udah nggak sabar pengin momong cucu? Tuh Egar aja masih kecil,” ledekku, sambil meyebut adik bungsu yang selalu menemani hari-hari mama di rumah.

“Bukan gitu, Yul, maksud Mama. Atau jangan-jangan Yuli udah punya calon?”

“Udah belum, ya? Jujur nggak, ya?” Aku berusaha meledek, dan tertawa.

“Tuh kan, Yuli nggak mau terbuka sama Mama.”

Kepalaku mendadak pusing saat Mama sudah membahas tentang aku yang dikiranya main rahasia-rahasiaan tentang calon pasangan hidup dan tidak jujur. Selepas ini biasanya obrolan kami tidak akan lama lagi. Mama atau aku akan pamit dan menutup telepon lebih dulu.

***  

“Lihat! Ini Yuli … sholehah dan cantik,” ujar wanita paruh baya yang biasa kupanggil bude, “Kamu mau ya, Yul, sama Kak Soleh? Anaknya tinggi, badannya berisi, putih. Pokoknya ganteng, Yul. Sekali aja kamu lihat pasti langsung ternganga, lupa kedip deh, Yul. Anaknya sudah mandiri dan mapan, juga soleh seperti namanya. Kalau saja aku punya anak perempuan, Yul, sudah aku jodohkan dengan anakku.”

Bude terus memuji laki-laki yang pernah Mama bicarakan lewat telpon sambil mencubit pipiku yang sedikit tembem. Sedang wanita yang berada di seberang jalan—mantu pertama bude—terlihat dengan susah payah hendak menyebrang.

“Yuli, ini Yuli?” Dia tampak tak percaya. Maklum, terakhir kami bertemu saat usiaku masih sekolah dasar. Selain jarak rumah kami terpaut jauh, sudah tahunan aku mengenyam pendidikan di luar kota, “Ya Allah, makin cantik saja kamu, Yul. Udah dewasa aja kamu. Gimana, mau sama Kak Soleh?” lanjutnya diakhiri kalimat tanya.

“Kalau ditanya gini Yuli jadi bingung mau jawab apa.”

“Kok bingung, atau Yuli udah punya calon?”

“Calon sih belum, tapi Yuli kan belum mau nikah, Bude.”

Bude tertawa. Katanya, “Tenang, Yul, Kak Soleh nggak maksa cepet-cepet nikah, kok. Dia mau menunggu. Tapi kalau Yuli mau ijab bulan depan pun, Kak Soleh siap.”

Aku hanya bisa meremas jari sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Sejujurnya, aku sedang tidak ingin sibuk memikirkan jodoh dan pernikahan. Ada saatnya nanti untuk serius memperjuangkan pasangan hidup. Dan sekarang, saatnya untukku menerapkan ilmu yang pernah kudapat semasa kuliah di dunia kerja.

“Besok, boleh Bude main ke rumah Yuli?”

“Tentu boleh, dong, Bude. Nana seneng kalau Bude mau berkunjung,” serbu adik aku yang sedari awal diem.

“Besok, Bude mau minta nomor Yuli dan kita lanjutkan obrolan ini. Yang penting Yuli kenalan dulu sama Kak Soleh. Masalah cocok atau nggak, itu urusan akhir.”

Aku mengangguk pasrah. Mereka melanjutkan perjalanan yang berlawanan arah dengan tempat tujuanku. Sedang adikku masih cengar-cengir meledek.

“Ayolah, Mbak. Mau saja. Menikah kan membuka pintu rezeki. Jadi nanti aku bisa minta uang,” ucapnya tanpa beban. Aku begitu saja melotot, sedang dia terkikik.

“Mbak, buat apa coba Mbak terlahir cantik, tapi sampai umur dua puluh tiga tahun masih jomblo juga?” tanyanya dengan nada yang super nyebelin, “Mendingan juga muka pas-pasan, tapi udah punya calon.”

Aku tidak bisa memungkiri jika terus diledek seperti ini kadang rasanya kesel juga. Padahal, aku yang jomblo: aku. Dan aku baik-baik saja. Bahagia. Namun, kenapa jadi mereka yang ribut sih?

Oleh: Nunuk Priyati.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: