Alhamdulillah, Aku Masuk Sekolah Favorit!

Sumber: SMPN Yogyakarta

Bisa masuk ke sebuah sekolah favorit tentu menjadi impian setiap siswa. Begitu juga denganku. Aku sangat berharap setelah lulus dari sekolah dasar, aku bisa melanjutkan sekolah di sebuah sekolah menengah pertama negeri terbaik di daerahku.

Tapi siapa aku waktu itu? Aku hanyalah siswi yang selalu menduduki deretan rangking sepuluh terbawah di kelas. Jangankan berharap untuk masuk ke sekolahan bagus, bisa lulus sekolah saja sudah untung katanya.

“Jangan mimpi terlalu tinggi bisa masuk ke sekolah itu!”

Bahkan untuk bermimpi, sesuatu yang gratis tanpa harus mengeluarkan sepersen pun biaya saja aku dilarang. Mereka begitu pesimis dengan kemampuan yang aku miliki, sehingga aku tak boleh berharap begitu banyak. Karena jika terjatuh dan gagal akan terasa sakitnya.

Memang mereka tak salah, biasanya yang pergi mendaftar ke sekolahan itu rata-rata memang siswa-siswa yang pintar dengan nilai-nilai yang bagus. Bagi siswa yang memiliki nilai di bawah rata-rata seperti aku, biasanya akan mengamankan posisi untuk masuk ke sekolahan negeri kelas dua atau kelas tiga. Tapi beruntung, untuk tahun ini, pendaftaran sekolah tidak ditentukan oleh nilai dari ujian kelulusan. Penerimaan siswa baru akan di lakukan dengan tes. Masih ada kesempatan.

Aku tak peduli bagaimana orang memandangku dengan sebalah mata. Keinginanaku seperti sesuatu yang tak akan mungkin dapat terjadi di mata orang-orang. Waktu itu aku tak menjawab segala cibiran yang ditujukan padaku, aku justru anggap semua itu sebagai motivasi untuk lebih giat belajar.

Dini hari saat langit masih gelap aku sudah bangun. Aku tinggal di kaki lereng Gunung Merapi, jadi bisa dibayangkan bagaimana udara yang begitu dingin menusuk-nusuk kulit saat aku harus mengambil air wudhu yang dinginnya seperti air es.

Sebelum menjelang tes aku tak pernah melewatkan sholat tahajud. Aku sering mendengar kata guru ngaji, kalau Allah akan mendengar doa hamba-Nya saat mereka bangun malam dan memanjatkan doa. Tangan kecilku menengadah. Merapalkan doa dengan sangat khusuk, berharap Allah akan selalu membantu dan menyertai aku dalam segala hal.

Guru agama aku juga pernah bilang, “Bahwa orang yang sungguh-sungguh dalam berdoa dan dia bersungguh-sungguh dalam berusaha niscaya, Allah akan memudahkan jalannya untuk meraih sesuatu yang diinginkannya.”

Setelah sholat tahajud aku langsung belajar. Aku membuka-buka dan mempelajari lagi pelajaran yang pernah aku lewatkan. Aku memanfaatkan waktu yang tersisa dengan belajar begitu giat.

Ini merupakan sebuah pertaruhan yang cukup berat sebenarnya bagiku. Bila dari awal aku memilih SMP yang biasa saja, tentu kesempatan untk diterima paling tidak 70%. Tapi jika aku gagal dalam ujian ini, maka aku tak bisa bersekolah di SMP negeri dan harus berlapang dada masuk ke sekolah swasta. Karena ujian masuk sekolah negeri semua diadaan serempak.

“Pikirkan dulu baik-baik,” kata kedua orangtua aku saat aku memutuskan untuk mendaftar ke sekolah impian aku.

Kedua orangtuaku mendukung segala keputusanku, mereka tak menghalangi aku. Namun mereka menyuruh aku untuk tidak terlalu memaksakan diri agar nanti tak ada penyesalan.

Aku percaya dengan kemampuan aku sendiri. Aku yakin, aku bisa. Aku sudah memilih jalan ini, di kemudian hari menang atau kalah sudah jadi risiko yang akan aku terima kelak tanpa ada penyesalan sedikit pun.

Satu minggu setelah tes akhirnya hari pengumuman tiba. Jantungku tak berhenti melompat-lompat karena tegang. Dan diantara ratusan siswa yang mendaftar, ada namaku tertulis di urutan dua puluh besar. Alhamdulillah. Tak ada yang tak mungkin. Selain karena usaha, aku yakin semua ini karena campur tangan Tuhan.

Oleh: Reni Soengkunie.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan