Ilustrasi dari brilio.

“Allah Ada, Masalah Tiada.” Inilah Nasihat dari Ustaz Hanan Attaki yang Paling Jleb Banget!

Coba renungkan, kalau di hidup ini kita ada masalah, atau rasanya hidup kita kurang baik. Nah, itu semua mucul dari keburukan-keburukan yang ada di diri kita, nggak mungkin dari kebaikan, entah keburukan hari ini atau masa lalu, atau bahkan dari niat keburukan esok yang akan datang. Tingggal kita mengevaluasinya, list keburukan kita, lalu renunginya.

Hubungan dengan Allah juga diperbaiki lagi, datangi rumah Allah terutama pada waktu subuh. Angkat tangan lebih lama lagi, terutama pada waktu-waktu Allah turun ke langit dunia, setelah itu Allah bertanya, “Hal min bihajah”, “Hal Min taib”. Ada nggak hambaku yang butuh sesuatu biar aku kasih? Iya, ya Allah butuh.

Allah kan tahu saya butuhnya apa?

Iya, kalau kamu jodoh pasti gak mungkin yang lain. Apa sih masalah jomblo selain nggak punya gandengan. Enggak apa-apa, hidup kita boleh laper, boleh nggak jelas, tapi hati harus terisi. Kalau itu sudah ada kita nggak makan pun nggak masalah.

Yuk, perbaiki lagi hubungan kita semua kepada Allah. Jika kita sudah baik, maka hubungan kita dengan Allah harus lebih baik. Semakin baik hubungan kita kepada Allah semakin mudah hidup kita.

Ada sedikit cerita, dulu sebelum hijrah dari pekerjaan yang tidak halal, beliau merasa bahwa hidup beliau penghasilannya lancar, banyak, untung besar, tapi setelah hijrah kok malah penghasilan beliau berkurang, finansial beliau bermasalah.

Singkat cerita, ternyata sebelum hijrah beliau mempunyai hutang yang tidak sedikit jumlahnya yaitu 47 miliar. Makanya beliau memutuskan untuk berhijrah.

Beliau merasa sebelum hijrah penghasilannya lancar, penghasillan yang seperti apa yang dimaksud lancar? Sedangkan beliau mempunyai hutang 47 miliyar. Itu bukan penghasilan yang lancar melainkan mines atau hutang. Sejak hijrah beliau merasa penghasilannya susah, tidak!

Justru setelah hijrah mungkin penghasilan beliau tidak bertambah, tapi minusnya nahan segitu saja jangan nambah lagi, pelan-pelan berkurang minusnya. Semisal dari 47 miliar, menjadi 20 miliar, 10 miliar dan itu uang semua, loh. Kebanyakan orang sering salah paham, dulu sebelum hijrah lancar, padahal tidak lancar penghasilannya melainkan hutangnya.

Setelah berhijrah mungkin penghasilannya seret tapi hutangnya juga seret, untuk penghasilannya Allah akan perbaiki secara bertahap, seperti halnya orang sembuh dari sakit, sembuhnya pelan-pelan.

Pertama panasnya hilang, mulai hilang radangnya, lemesnya hilang, bertahap. Artinya temen-temen nggak mungkin terlewat, kita coba untuk belajar yakin. “Waman yattaqillah pasti yaj’allahu makhraja”.

Jadi, kalau kita berbuat baik gak usah khawatir, kebaikan kita itu nggak akan sia-sia, tidak bakalan. Berdoa nggak bakalan sia-sia, aduh kayaknya sia-sia nih, kayaknya aku berdoa nggak ada hasilnya nih, kayaknya selalu rugi saja padahal aku selalu berdoa teryata nggak ada perubahan.

Nggak mungkin, doa itu ibadah, dan nggak mungkin ibadah itu merugikan kita. Terus mana hasilnya? Mungkin kita belum paham tentang fikih doa, belum paham bukan tatacaranya doa, tapi hikmah.

Bagaimana cara Allah mengabulkan doa, dikabulkan?

Pasti, kalau tidak ada penghalang. Mungkin salah satu penghalang doanya dikabulkan yaitu makanan yang tidak halal, atau silaturahim terputus. Tetapi, kita selalu memaksakan Allah mengabulkan sesuai yang kita inginkan, padahal bisa saja Allah mengabulkan yang lebih baik daripada yang kita mau atau Allah mengabulkan doa kita dengan memberikan kebaikan yang sama nanti di akhirat, kita hidup enggak sekali, tapi dua kali—di dunia dan di akhirat—dan bahkan di dunia itu kita hanya hidup sebentar yaitu 60 tahun, itu sebentar, loh. Kita enggak pernah membandingkan sih makanya kita ngerasa 60 tahun sangat panjang.

Coba bandingkan dengan umat kaum Nabi Soleh kaum ‘Ad dan Tsamud berapa usianya? Rata-rata 1500 tahun sampai 2000 tahun. Nabi Nuh dakwahnya saja 650 tahun coba bayangin berapa lama. Dan usia dari Nabi Nuh lebih dari itu. Sehingga dulu ada ibu-ibu lagi nangis di atas makam anaknya yang meninggal saat ABG, SMA saja baru lulus. Entah kecelakaan mungkin atau kenapa kurang tahu, ibunya nangis di atas makamnya sambil berkata, “Nak, kasihan kamu ya, meninggal muda belum sempat menikmati hidup lagi.”

Setelah itu lewatlah seorang ulama’ pada zaman itu lalu bertanya, “Ibu mengapa menangis?”

Si ibu menjawab, “Ini anak saya meninggal di usia muda, kasihan.”

Ulama’ itu bertanya lagi, “Memang usia berapa dia meninggal?”

“Masih ABG,” jawab ibu itu.

Lalu ulama’ bertanya lagi, “Berapa?”

Ibu menjawab, “300 tahun.”

Coba teman-teman bayangin! 300 tahun masih ABG. Terus ulama’ ini bilang “Wahai ibu, bersyukurlah dia dikasih usia 300 tahun. Karena nanti akan muncul generasi, umat dengan usianya 60 tahun.

Ibu itu kaget, “Hah … tidak salah itu manusia 60 tahun.”

Bagi kita 60 tahun itu sudah lama banget, loh, bagaimanakah 60 tahun itu tidak ada apa-apanya. Sampai ibu itu mengatakan, “Kalau saya dikasih usia 60 tahun, bakalan saya pakai tuh seumur hidup saya hanya dengan satu kali sujud.”

Bayangin, sujudnya saja 60 tahun. Kalau kita sujud panjang sedikit saja tidak bangun-bangun karena ketiduran, hehehe. Shalat, imamnya baca surat panjang dikit berdiri sebelah kaki, aduh, pegel sebelah kanan gantian sebelah kiri gitu, seperti shalat tarawih agak panjang  dikit, kan, mulai batuk pojok sana, bersin pojok sana, wah, tiba-tiba sakit, nih.

Umat Nabi Soleh ibadahnya sujudnya saja 60 tahun, bahkan Allah menciptakan malaikat setiap hari tugasnya khusus untuk sujud kepada Allah. Jadi, diciptain langsung sujud dan tidak bangkit dari sujudnya sampai hari kiamat. Setiap hari Allah menciptakan 70.000 malaikat yang tugasnya untuk sujud memenuhi “Baitu makmur”.

Seandainya “Baitu makmur” itu retak maka retakannya itu akan jatuh di atas Mekkah pas. Ketika kita hidup bukan satu kali melainkan dua kali—dunia dan akhirat, dan adegan-adegan akhirat yang kita tahu itu terlalu disingkat. Ada banyak adegan-adegan di akhirat yang akan kita lalui setelah kita meninggal.

Jika kita doa tidak dikabulkan di dunia tidak masalah, itu tetap buah kebaikan. Kita akan mendapatkannya di padang mashar. Contoh: ya Allah saya sangat ingin mobil dan saya ingin rumah, sudah dibantu dengan shalat pun, doanya tetap tidak terkabul. Apakah doa dia sia-sia, tidak! Kalau tidak dikabulkan selama hidup di dunia maka akan dikabulkan di akhirat.

Jadi, kenapa kita ragu-ragu meminta yang terbaik sama Allah. Kalau tidak dapat di dunia ya dapat di akhirat, sama kan? Orang kita sama-sama hidup kok, lagi pula di akhirat kita lebih membutuhkan dari pada di dunia.

Hikmah: Tidak ada kesalahan yang tidak bisa dibenahi, benahilah kesalahan itu ketika kita sudah mengetahuinya karena Allah selalu membuka pintu maaf buat kita yang ingin lebih baik.

Oleh: Tim Trenlis.co.

Sumber: materi bersumber dari kajian Ust. Hanan Attaki, Lc melalui cannel youtube Lampu Islam net pada 25 September 2017.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan