ujian jelang menikah

Allah, Aku Mohon, Jagalah Cintaku Untuknya

Bahwa benar kata orang, pasti akan ada ujian menuju hari pernikahan. Itulah yang kualami dua bulan sebelum hari sakral itu tiba.

“Hati-hati ya, Rin. Nanti pasti ada saja godaan atau ujian menjelang hari nikahmu,” tutur Pak Setyo.

Pak Setyo, salah satu karyawan di tempatku bekerja. Lelaki yang sudah berkeluarga dan tiga anaknya masih sekolah. Pak Setyo adalah tempat bercerita yang asyik. Meskipun ia sudah berkeluarga, kebanyakan dari teman-teman suka mencurahkan cerita mereka kepada beliau.

“Boleh percaya boleh tidak. Aku cuma bisa mengingatkan saja. Hati-hati.”

“Semoga saja nggak ada.”

Memang, semenjak lelaki yang menjadi pilihan Bapak itu datang ke rumah dengan tujuan melamarku, hari-hari yang aku lalui baik-baik saja. Aku maupun lelaki itu jarang bertemu. Setiap kali bertemu hanya di tempatku bekerja. Terkadang juga jika pulang kerja sampai larut malam, dia bersedia mengantarku. Tapi kami membawa motor sendiri-sendiri, jadi tidak ada hal romantis antara aku dan dia.

 “Waktu sampeyan mau menikah dulu, ada godaannya to Pakdhe?” tanyaku pada Pak Setyo.

Pakdhe, begitulah aku memanggilnya, karena semua karyawan maupun bos sendiri juga memanggil begitu.

“Ya pasti ada.”

“Apa?” Aku penasaran.

Pakdhe hanya terkekeh, kemudian berlalu melayani pembeli yang datang. Aku menghela napas pelan. Jika apa yang dikatakan Pakdhe benar, berarti aku harus hati-hati dalam melangkah.

Tiba-tiba ponselku yang tergeletak di etalase berdering. Tidak ada namanya, hanya nomor baru. Aku mengerutkan kening. Biasanya jika ada nomor baru kalau bukan orang iseng, ya, salah satu teman yang ganti nomor baru. Akhirnya aku menggeser panel hijau yang ada di layar ponsel.

Assalamualaikum, Mbak. Gimana kabarnya?”

Waalaikumsalam, siapa ya?” Aku ragu-ragu.

“Masa lupa? Aku Yudi.”

Tiba-tiba ada sesuatu yang membuat tenggorokanku tercekat. Entah aku harus bahagia atau sedih mendengar suara lelaki di seberang telepon. Kenyataannya setelah hampir 5 tahun tidak pernah berkomunikasi mengingatkanku pada sakit hati yang diciptakan olehnya.

“Yudi? Ke mana aja selama ini?” Aku berusaha menahan buliran bening yang hendak jatuh.

“Maafin aku, Mbak. Semua begitu rumit dan panjang jika aku jelaskan di telepon.”

“Dapat nomorku dari siapa?”

“Dari Agung.”

Iya, aku sangat ingat bahwa mereka adalah soulmate. Sejak dari sekolah dasar, SMP, kemudian SMA, meskipun mereka memasuki SMA yang berbeda. Agung, oh iya, dia adalah adik keponakanku yang menjadi teman setia Yudi. Kisah hidup mereka hampir sama, sama-sama tumbuh dalam janin seorang ibu tanpa pertanggungjawaban dari seorang lelaki. Jahat sekali bukan?

“Mbak, katanya mau menikah ya? Kapan?”

Mendadak hatiku merasa perih. Jika saja boleh aku minta, jangan lemparkan pertanyaan seperti itu karena hanya menyiksa hatiku saja.

“Kenapa kamu baru datang sekarang? Lupakah kamu pada janjimu dulu, huh?” Aku mulai tidak bisa mengontrol diri.

“Semuanya terlalu panjang, Mbak.”

“Kamu sudah berbohong, Yudi.”

“Sekali lagi, aku minta maaf, Mbak,” suara memelas lelaki itu di seberang telepon.

Hening sejenak. Kubiarkan buliran bening dari sudut mata menetes, dengan begitu akan mengurangkan sedikit dari rasa sesak di hati.

“Bagus. Kamu datang saat aku akan menikah, lalu bilang minta maaf. Apa itu semua cukup untuk mengganti rasa penantianku selama ini? Kamu lupa bagaimana janjimu dulu? Kamu akan datang ke orangtuaku dan melamarku. Tapi apa? Sejak aku pulang dari tanah rantau kamu menghilang begitu saja. Dan sekarang …. Ya Allah.” Aku mulai sesenggukan.

“Mbak.”

Ah, aku malas dia memanggilku mbak lagi. Meski kenyataan bahwa umurnya setahun lebih muda dariku.

“Semua yang terjadi tidak perlu disesali, itu sudah garis-Nya. Mbak nggak boleh begitu,” ujar Yudi di seberang telepon. “Aku pergi waktu itu dengan alasan yang kuat. Aku mencari ayah kandungku yang ternyata masih hidup.”

Yudi pun bercerita tentang perjalanannya ke Pontianak untuk mencari ayah kandungnya. Penemuan sebuah liontin dalam tumpukan baju almarhum ibunya serta secarik kertas berisi alamat tidak begitu jelas karena tulisannya sudah pudar, membuat Yudi nekat melakukan pencarian ayah kandungnya seorang diri.

“Kemudian kamu datang saat aku sudah dilamar orang? Kamu tidak tahu kan, kalau aku selalu mengharap kamu yang datang melamarku.”

“Siapapun pilihanmu, cintailah dengan sebaik-baiknya.”

Aku tertawa kecut, lebih tepatnya menertawakan diriku sendiri.

“Dia bukan pilihanku. Bapak yang sudah memilih lelaki itu untuk datang melamarku.”

Kami diam beberapa menit. Aku yang sudah terbawa emosi semakin tidak terkontrol, sementara Yudi. Entahlah.

Ah, apa ini godaan yang dibicarakan Pakdhe? Kenapa harus Yudi? Lelaki yang sejak dulu kuharapkan bisa menjadi imam dalam rumah tangga. Lelaki yang selalu kunantikan kedatangannya. Namun, dirinya juga yang telah meluluhlantahkan hatiku. Ah, dipikir apa aku ini? Hanya mainan sesaat?

“Apa Mbak benar-benar masih mencintaiku?” tanyanya ragu-ragu.

“Jika iya, apa kamu mau menikahiku?” tanyaku balik.

“Itu tidak mungkin, Mbak. Kamu sudah dilamar orang, sebentar lagi akan menikah.”

“Apanya yang tidak mungkin. Aku akan bilang ke Bapak untuk mengembalikan lamaran lelaki itu. Toh, baru lamaran saja, belum ada khitbah. Lagi pula, lelaki itu bukan pilianku sendiri. Jika beliau tidak setuju, kita bisa kok kawin lari.”

“Jangan, Mbak. Bagimanapun restu orangtua sangat berarti untuk anaknya. Jangan jadi anak durhaka, Mbak. Kita tidak tahu kapan Allah akan memanggil orang-orang terdekat kita. Maka dari itu bahagiakan orangtuamu. Jadilah anak yang berbakti untuk mereka.”

Aku menangis sesenggukan. YA Allah, kenapa ujiannya harus menyangkut hati ini?

“Maafin aku ya, Mbak. Dari jauh aku berdoa, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Juga, sampaikan maafku kepada Bapak dan Ibu.”

Setelah telepon ditutup, aku tidak bisa fokus bekerja. Bahkan saat perjalanan pulang pun, pikiranku sudah tidak keruan. Jalanan di kota sangat lengang pada malam hari. Angka di spedometer motor terus merangkak naik mencapai angka 80 km. Motor melaju begitu kencang, bahkan saat melewati lampu merah yang selalu berganti warna hijau. Perjalanan pada angka 80 km itu cukup kencang bagiku. Aku pun juga tidak memikirkan bagaimana jika tiba-tiba motor yang kunaiki menabrak motor lain atau melesat ke parit tepi jalan. Ah, biarlah. Lebih baik begitu bukan?

***

Hari pernikahanku tinggal menghitung hari. Sejak telepon dari Yudi itu aku mulai sadar, bahwa dia bukan jodoh yang dipilihkan Allah. Tidak semua permintaan kita akan langsung dikabulkan oleh-Nya. Allah lebih tahu mana yang baik buat hamba-Nya dan mana yang tidak. Hanya saja kita yang salah mengartikan.

Mungkin kawin lari adalah jalan pintas untuk bisa bersama dengan Yudi, namun apakah Yudi akan langsung bersedia menikahiku? Apakah ia akan meyayangiku sepenuh hatinya? Atau malah dia hanya menganggapku seperti mainan, jika sudah bosan ditinggal pergi, kemudian cari mainan baru. Sungguh, hanya ALLAH yang tahu.

Terakhir kali aku bertemu Yudi 2017 kemarin dengan statusku yang sudah menjadi istri Mas Andi. Tiba-tiba dia datang ke rumah dan menyampaikan maaf kepada Bapak dan Ibu. Setelah itu, entahlah bagaimana kabarnya, semoga dia selalu dalam lindungan-Nya.

Ya Allah, maaf jika hati hamba-Mu terlalu lemah. Maaf juga karena telah berpikir dengan ide gila itu. Tolong Ya Allah, jagalah cinta yang baru bersemi ini untuk imamku, lelaki yang sudah dipilihkan Bapak.

Oleh: Ririn S.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan