kisah kehilangan anak

Allah, Aku Rindu, Rindu Senyuman dan Celotehnya.

Langit masih seperti kemarin, kehilangan saga, pun jingga lenyap tertutup jelaga. Mega hitam bergelayut di lengkung cakrawala. Kelam. Namun langit masih saja tetap gagah. Kilat menyambar-nyambar laksana letupan ribuan meriam, menggelegar, itu yang terdengar di telinga.

Aku makin tersudut, meringkuk tepatnya. Menelungkupkan wajah di antara bantal. Kedua telinga sengaja disembunyikan dari suara gemuruh guntur. Kedua mata pun tak sanggup melihat cahaya kilat yang terasa menusuk retina, perih. Semacam sayatan luka yang masih mengucurkan darah. Bukan darah yang merembes dari kedua sudut kelopaknya, namun buliran bening, terasa hangat. Dada sesak, terasa sakit, hingga tubuh berguncang.

Allah … sedang apa anak mungil itu di sana? Adakah rasa dingin akibat air hujan membuatnya menggigil? Ataukah suara Guntur yang menggelegar membuatnya berlari ketakutan. Rabbi ….

Gerimis makin deras, kucuran air laksana bah. Aku tergugu. Tersedu sedan, makin menjadi.

Allah … biasanya aku sangat meyukai hujan. Menikmati setiap rintiknya. Namun kali ini, hujan seakan menelungkupkanku ke dalam kubangan luka.

***

“Ayah, dede perlu di bawa ke puskesmas?” Pagi itu aku bertanya pada suami karena semalam Raihan, anak kami muntah berulang. Kebetulan suami pagi ini akan pergi ke luar daerah, dinas dari kantornya. Jadi sambil bertanya aku disibukan mempersiapkan barang yang akan dibawa suami.

“Gak usah. Gak apa-apa. Paling masuk angin.”

Jawaban suami mampu meredam kekhawatiran. Aku pikir, logika laki-laki lebih jalan di saat keadaan begini dan laki-laki jauh lebih tenang dibandingkan perempuan yang terlalu mengandalkan sisi melankolisnya.

Setelah mendapat jawaban, aku pun menyiapkan bekal dan perlengkapan salin Raihan juga, karena Raihan akan diantar ke rumah Mama, aku memanggilnya begitu, seseorang yang aku anggap orangtua, mengasuh Raihan selama aku bekerja.

Sepanjang jalan, tubuh mungil itu aku peluk. Sengaja kuselimuti dengan kain tebal dan jaket. Rasa khawatir masih ada, tapi kututup dengan lantunan doa sembari membujuk hati bahwa anak kesayangan hanya masuk angina. Di sampingku, suami fokus mengendarai, menembus dinginnya pagi.

Selain rasa khawatir karena kondisi Raihan yang sakit, tidak ada firasat apa pun. Hari itu seperti biasa aku bekerja dan sorenya anak tersayang kujemput. Lemas, begitu yang kulihat. Segera tubuhnya kugendong dan kubawa pulang. Kata Mama, Raihan sudah berobat ke puskesmas terdekat tadi pagi, tapi rasa karena khawatirku yang bertambah, malam itu juga kuajak berobat lagi diantar mertua.

Malam kian beranjak, Raihan terlihat makin lemas, segera Raihan dilarikan ke rumah sakit.

Di kamar IGD, tangan mungilnya menunjuk-nunjuk jalan pulang. Tangisannya tak bisa dihentikan. Kuelus-elus punggungnya, untuk meredakan tangis. Namun pertahananku hampir jebol ketika jarum ditusuk-tusuk ke tangan kiri berganti ke tangan kanan berulang-ulang. Sakitkah, Nak? Sabar ya Nak? Gumaman suaraku terdengar serak tak henti mendarat di cuping telinganya.

Berkali-kali perawat tak bisa menemukan urat nadi di tangan Raihan. Infus pun terpasang di kaki.

Sepanjang malam hingga pagi, Raihan merengek, menangis dalam gendongan. Infus di bawa ke sana kemari, karena tubuhnya menolak untuk direbahkan di kasur perawatan. Raihan seakan-akan ingin lekat di tubuhku. Tidak ingin dijauhkan sedetik pun dari dekapan.
Aku rela, rela menahan sakitnya bahu. Karena berat badannya lumayan gemuk untuk anak seusianya, 2 tahun kurang dua puluh satu hari.

***

Pagi, ketika matahari begitu cantik untuk dinikmati keindahannya, Raihan kejang untuk pertama kali. Tubuhku serasa ikut kesetrum ribuan watt. Gigil rasanya melihat tubuhnya kaku. Airmataku rembes sulit ditahan.

Setelah stabil. Wajahnya terlihat tenang. Bibirnya kering, kering sekali. Ya Allah, kamu kehausan, Nak? Kamu cape ya? Kamu sakit ya? Airmata tak henti-henti mengalir.

Pagi itu juga, aku mengabari suami, agar kembali, memesan tiket balik. Tidak usah mengikuti kegiatan dinas luarnya, yang rencananya akan berlangsung beberapa hari.

Jam 09.00, serangan kejang kali kedua. Aku tergagap, tubuhku ikut kaku. Jangan dia ya Allah, biar aku saja, batinku meronta.

Setelah kejang mereda. Aku sudah tidak bisa berkata-kata. Istighfar sebanyak-banyaknya, menguatkan hati.

Pukul 12.00, serangan kejang kali ketiga. Dokter pun berkunjung, melihat kondisi anakku. Kata-katanya seakan pisau menyisit perasaan yang telah terbuka, luka itu makin menganga.

“Ibu, ini bukan kejang biasa. Sepertinya anak ibu terkena serangan meningitis, radang selaput otak. Karena sehari mendapat serangan kejang sebanyak tiga kali. Kemungkinan besar, jika ia kuat dan hidup. Ia akan cacat seumur hidupnya.”

Kedua mataku sudah seperti kolam, dipenuhi genangan air, tumpah ruah tiada henti. Kalimat-kalimat penyesalan dan menyalahkan diri sendiri menghujam silih berganti, mengoyakan perasaan, semakin tak berdaya.

Pukul 19.00 di antara sujud dan untaian doa sholat Isya, aku minta kekuatan dan kesabaran. Memohon yang terbaik, apapun keputusanNya. Hanya ada dua pilihan, siap atau tidak siap aku harus menjalani takdir. Raihan hidup dengan kecacatannya atau Raihan pergi selama-lamanya dari sisiku. Aku ikhlas, ikhlas Ya Allah ….

Tidak berapa lama, setelah aku melangitkan doa, Allah berikan jalan terbaik. Raihan memilih pergi, meninggalkanku.

Nak, kamu disayang Allah. Kamu mengerti sekali, bahwa bundamu tidak memiliki kesabaran seluas samudera untuk merawat keadaanmu nanti. Kamu memilih bahagia bersamaNya,” bisikku menguatkan diri.

Raihan menghembuskan napas terakhirnya di ruang ICU, bertepatan dengan kedatangan ayahnya.

***

Tubuh mungil itu telah terkubur. Namun senyum manis itu ada di mana-mana. Aku melihat bayangannya di sudut kamar, di plafon rumah, di dapur, di ruang TV.

Beberapa hari sebelum Raihan pergi, dia sering sekali berjoget, menghibur, aku sering tertawa, karena tubuhnya yang gempal bergoyang-goyang, menggemaskan. Masih tersimpan rapi dalam ingatan, sehari sebelum dia pergi selama-lamanya, Raihan berlari-lari menyambut kedatangan ayah sambil menenteng barang bawaannya. Celotehnya masih melekat di telinga.

Allah, Aku rindu, rindu senyuman dan celotehnya itu.

Kehilangan membuat tulang seakan lucut dari tubuh. Lemah lunglai, ragaku ambruk di pembaringan. Sepuluh hari yang kulakukan hanya merebahkan badan di atas kasur, di karpet depan TV, untuk duduk pun seakan tidak bertenaga.

Hari kesebelas, aku melecut diri. Sampai kapan aku begini?

Bukannya Raihan telah bahagia di sana. Bersama Rabb, janji-Nya pasti. Raihan kelak menjadi penghuni surga Firdaus-Nya, sesuai namanya Raihan Firdaus.

Kenapa aku meratapi diri. Mengasihani diri sendiri. Seakan-akan tak bisa hidup tanpa Raihan. Raihan masih suci, tak berdosa, terjamin masuk surgaNya. Sedangkan aku? Belum tentu bisa masuk ke surgaNya.

Hari berganti. Bulan berlalu. Almanak baru terpasang. Kehilangan memang sakit. Pahit sekali. Namun, di balik itu semua, manis akan tereguk setelah mampu memahami, karena setiap makhluk bernyawa akan bertemu dengan kematian. Anakku dipilih Allah terlebih dahulu, yang nanti akan menjadi penolong di yaumil akhir.

Oleh: Nunung Nurningsih.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan