“Vitaminnya habis, Mas. Sudah dari kemarin.” Perempuan hitam manis itu menjawab pelan pertanyaanku sambil membenarkan bantal yang digunakannya untuk alas bersandar.

Kudekati dan kupeluk erat perempuan sederhana yang sudah hampir empat tahun menemaniku itu. “Maafkan, Mas, ya? Semoga nanti ada rezeki biar bisa beli vitamin lagi.”

“Aamiin. Tapi beli berasnya dulu saja, Mas. Ini dedeknya lapar. Kasihan.”

Sontak kuciumi perut istriku yang sedikit besar dari bulan lalu. Maafkan ayah, Nak, membiarkanmu kelaparan. Sungguh, sama sekali bukan keinginanku membuat istri dan anak pertamaku tidak makan tiga hari.

Anak pertama? Ya. Setelah kami menikah selama empat tahun kurang empat bulan, ini adalah pertamakalinya istriku mengandung. Sekalipun keadaan kandungannya di vonis lemah, kehamilannya itu adalah anugerah terindah bagi kami. Sayangnya aku tak benar-benar bisa merawat mereka. Aku belum bisa memenuhi kebutuhan mereka.

“Kurang lima belas menit, nanti terlambat loh, Mas.”

Aku mengangguk. Kuciumi lagi perut istriku–pamit pada jabang bayi. “Hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa segera telfon, ya? Mas gak bawa motor, gak ada bensinnya.” Kudaratkan bukti sayang pada keningnya sekali lagi sebelum beranjak meninggalkan rumah.

***

Empat bulan sebelumnya saat pagi belum benar-benar sempurna Ibu sambungku menelfon. Ia mengabarkan bahwa Bapak sakitnya tambah parah. Semalam dibawa ke UGD-puskesmas gara-gara kambuh. Padahal baru lima hari pulang dari rumah sakit.

Sebenarnya berat sekali hati ini untuk pulang. Rasa sakit hati terhadap Bapak dan istri keenamnya itu tak bisa kupungkiri. Tapi, istriku bersikukuh mengajak pulang. ia selalu mengatakan ‘bagaimanapun laki-laki itu, dia adalah bapakmu. Tanpa dia kamu belum tentu ada’–kalimat itu selalu menjadi senjata ampuh yang melelehkan hatiku.

Empat puluh lima menit kami tempuh perjalanan menggunakan motor metik. Sesampainya di UGD, kami langsung menemui Bapak. Baru sekitar lima menit, dua orang perawat datang dan mengatakan Bapak harus di bawa ke rumah sakit yang lebih besar karena di puskesmas tidak tanggung. Setelah Ibu sambungku setuju surat rujuk pun diberikan. Dan tujuannya adalah rumah sakit terbesar di kota.

Semuanya dimulai dari sini. Aku harus sering izin tidak masuk kerja untuk menemani Bapak di Rumah sakit. Sebab, tak mungkin kubiarkan istriku ke sana ke mari, selain ia tidak bisa bersepeda motor, istriku tidak bisa terlalu capek.

Opname di rumah sakit besar tanpa BPJS adalah sesuatu bagi kami. Diam-diam aku menyalahkan Bapak dan istrinya kenapa tidak mengikuti pendataan yang diadakan petugas desa waktu itu. Kalau sudah begini … ah, entahlah.

“Iya, nggak apa kok, Mas, Bapak sama Ibu biar pulang ke sini. Biar gampang kalau kontrol.”

Duh, istriku ini hatinya terbuat dari apa? Padahal selama menikah denganku, ia mendapat perlakuan kurang baik dari Bapak-Ibu. Mereka hanya baik ketika kami berkunjung dan membawa banyak sembako dan oleh-oleh. Bahkan Ibu sambungku kerap membandingkan kami dengan keponakan-keponakannya.

Aku hanya mengangguk pasrah. “Tapi nanti kamu kerepotan loh, Dek, ngurus mereka. Apalagi Bapak sakit kayak gitu.”

Perempuan hitam manis itu tersenyum. “Tidak ada kata repot untuk merawat orangtua, Mas. Bapakmu juga Bapakku. Semoga Allah beri yang terbaik unuk Bapak. Aamiin.”

Akhirnya kami menjemput Bapak dan istrinya menggunakan taksi online. Kami membawa mereka ke kontrakan untuk mempermudah saat kontrol. Sebab jarak tempuh dari kontrakan kami ke rumah sakit hanya lima belas-dua puluh menit. Kanker di leher Bapak tak hanya menyiksanya, tapi juga aku dan istriku. Menguras tenaga juga tabungan kami. Sedang istrinya lepas tangan. Katanya terserah padaku, anaknya.

Selama hampir tiga bulan Bapak keluar masuk rumah sakit gara-gara kambuh. Melakukan lab ini-itu tapi belum kunjung dioperasi. Aku semakin sering absen kerja, dan akhirnya kehilangan pekerjaan. Tabungan semakin menipis, juga istriku yang kerap tidak enak badan. Rasanya beban di pundak semakin terasa.

Suatu petang saat Bapak kembali ngamar, aku izin tidak menemani Bapak di rumah sakit dikarenakan istriku demam tinggi. Kubiarkan istri keenamnya seorang diri yang berjaga di sana. Melihat keadaan Bapak yang makan, minum dan buang kotoran melalui slang ada nyeri tersendiri di hati. Tapi, aku berpikir mungkin ini balasan untuknya dari Allah.

“Mas, balik saja ke rumah sakit. Bapak kan mau dioperasi.” Pinta istriku setelah kami sampai di kontrakan.

Ya, nanti pukul sebelas malam Bapak mendapat jadwal operasi. Tapi bukan pengangkatan kanker di lehernya, melainkan membuat lubang pernafasan, sebab Bapak tidak lagi dapat bernafas melalui hidung atau mulutnya.

“Mas di rumah saja nemani kamu, Dek. Di sana sudah ada Ibu. Nanti telfon saja tanya kabarnya.”

“Tapi, Mas … “

Aku menghentikan kalimat istriku dengan menggeleng. “Ada Allah yang jaga. Ada dokter juga perawat. Sudahlah sekarang kamu istirahat.”

Sekitar pukul dua dini hari aku terbangun, burung kenari peliharaanku kalang kabut dalam sangkarnya, seperti kebingungan. Demam istriku tak kunjung reda. Bahkan ia mengigau. Aku ke belakang untuk mengganti air kompresan. Ketika membuka pintu dapur, ada seekor tikus tergeletak tak bergerak. Mati.

Sayangnya aku tidak peka. Pikiranku tidak menjurus ke Bapak. Hingga pukul lima usai shalat subuh aku menyalakan ponselku dan mendapati pesan untuk segera ke rumah sakit karena Bapak telah berpulang. Dalam pesan itu pula Ibu sambungku mengatakan sejak pukul dua lebih tiga puluh menit menghubungi kami tapi tidak bisa.

Segera kusampaikan kabar duka tersebut pada istriku, selanjutnya ia segera menghubungi ibunya–mertuaku. Dalam keadaan masih demam, ia turut bersamaku ke rumah sakit. Semua telah beres saat kami sampai. Kami hanya perlu menunggu keranda menjemput dan membawa Bapak ke kamar jenazah untuk kemudian di pulangkan menggunakan ambulan.

Seperti pada umumnya, banyak tetangga dan kerabat yang takziyah. Mereka sudah berkumpul sebelum kami datang. Proses pensucian dan pemakaman jenazah berjalan lancar. Sedang demam istriku semakin tinggi. Akhirnya kuhantarkan ia ke rumah mertua untuk istirahat di sana.

***

Bapak sudah tiada, tabunganku bersih, pekerjaan tak ada, kontrakan habis di depan mata. Ah, lengkap sudah hidupku. Bahkan saat istriku sakit, aku terpaksa menitipkannya di rumah mertua dengan alasan biar tenang saat mencari kerja.

Di sisa-sisa semangat ketika aku memutuskan pulang kampung karean tak kunjung mendapat kerja, sebuah kabar baik datang. Aku diterima bekerja disalah satu resto besar di kota. Ya, sekalipun sebagai seorang steward aku bersyukur. Betapa senangnya hatiku, tak sabar untuk segera berbagi pada istri dan mertua. Belum selesai kucari kontak istriku, sebuah pesan masuk. Pesan dari Ibu mertua yang kebaikan dan cintanya seperti Ibu kandungku. ‘Le, bisa pulang dulu. Istrimu sudah tiga hari gak mau makan, gak mau dibawa kedokter juga’. Segera kubalas pesan Ibu dan langsung meluncur pulang.

“Tapi nggak mau disuntik, nggak mau ngamar.” Istriku memberi persyaratan sebelum berangkat ke dokter.

Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang harus kudustakan. Satu lagi kabar baik kudapat di hari yang sama. Demam tinggi yang datang-pergi ternyata bawaan bayi. Dokter bilang istriku hamil dan usia kandungannya sudah tujuh minggu. Dokter juga mengatakan bahwa kandungan istriku lemah. Ia harus bedrest sampai kandungannya kuat.

Aku kembali ke kontrakan seorang diri. Setelah keadaan istriku membaik, mertua baru mengizinkannya untuk kujemput. Aku menurut demi kebaikan bersama. Dan kurang lebih dua minggu saat mendapat libur pertama aku baru menjemput istriku.

Sekalipun dalam keadaan kekurangan kami tetap bahagia. Kami selalu yakin cinta Allah itu dalam banyak rupa. Dan selalu ada kejutan di balik ujian-Nya. Seperti saat itu ketika kami kehabisan beras, vitamin istri habis, kerja belum genap sebulan, bensin kering. Kami tetap semangat dan berbaik sangka pada Allah.

Aku mendapat fee saat mengantar pesanan pelanggan. Jumlahnya lebih dari cukup. Sepulang dari kerja (Jalan kaki karena tidak bawa motor) aku mampir beli beras, telur dan roti tawar. Tidak lupa membeli susu ibu hamil dan vitamin untuk istri tercinta. Alhamdulillah masih sisa dan bisa buat makan sampai gajian pertama.

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: