Allah Bersama Para Pembaca Kitab-Nya

Saya dilahirkan dalam kondisi keluarga yang serba kekurangan. Anak kedua dari lima bersudara. Bapak hanya seorang pedagang kecil. Penjual cabe yang tidak memiliki kepastian bisa berjualan tiap hari. Patut disyukuri bahwa Bapak seorang guru ngaji. Orang tercantik dalam keluarga hanyalah Ibu rumah tangga. Ibu yang sesekali membantu perekonomian keluarga. Beliau menitipkan kue-kue di warung tetangga.

Kami  tinggal menumpang di rumah keluarga besar. Keadaan di rumah selalu memanas. Terutama biasa terjadi ketika menjelang ujian sekolah. Wacana untuk menjual rumah selalu mengemuka. Bahkan sampai pernah hampir diusir dari rumah. Hanya gara- gara masalah sepele. Ketika kakak perempuan saya diterima tanpa tes di universitas negeri Sumatera Selatan. Jurusan kedokteran, itulah penyebab semuanya. Saudara-saudara ayah berfikir untuk biaya kuliah anaknya pasti menjual rumah. Secara jurusan kedokteran membutuhkan biaya yang tinggi. Alhamdulillah walaupun Bapak anak tertua di keluarga dan memiliki kemampuan itu, tidak terbesit sedikit pun keinginan untuk menjual rumah.

Bapak dan Ibu tetap bersikeras agar kakak tetap kuliah. Rezeki dapat dicari. Seiring perjalanan waktu kakak saya dapat mengikuti perkuliahannya. Selain itu juga mendapatkan bantuan berupa beasiswa. Sampailah pada tahun 2003. Tahun dimana saya akan mengikuti ujian nasional tingkat SMA. Saya sudah terpikir keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Ingin kuliah seperti kakak saya.

Mungkinkan saya bisa kuliah? Membesarkan lima orang anak saja bukan hal yang mudah. Apalagi dalam kondisi yang serba kekurangan. Bagaimana dengan biaya kuliah? Walaupun pada saat itu saya bekerja sambilan. Saya membagikan brosur ke sekolah-sekolah. Itu pun cuma mendapatkan beberapa rupiah saja. Untuk biaya sekolah saja masih kurang, apalagi mau kuliah. Seperti mimpi rasanya dapat kuliah.

Satu pertanyaan yang membuat saya hampir menangis. Ketika Bapak membolehkan saya untuk melanjutkan pendidikan. Lantas dari mana biayanya? Dari Allah, itu jawaban Bapak. Singkat, padat dan jelas. Berdoalah dan minta kepada Allah. Guru mengaji yang dibayar dengan seikhlasnya. Apakah mampu untuk membiayai anaknya kuliah? Akhirnya, saya mengatakan tidak usah terlalu difikirkan. Jika tidak mampu tidak perlu dipaksakan.

Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang belajar Al-Qur’an dan yang mengajarkannya (HR. Bukhori). Hadist ini salah satu pegangan Bapak dalam hidupnya.  Yakinlah Allah akan selalu bersama orang yang dekat dengan Al-Qur’an. Entah darimana rezeki itu selalu hadir. Saya dan kakak kuliah serta adik-adik dapat sekolah. Kadang datang dari dagangan yang laris. Orang tua dari murid Bapak dan juga dari jualan titipan Ibu yang habis.

Tepat empat tahun saya dapat menyelesaikan kuliah saya. Tidak ada hambatan yang terlalu besar dalam menyelesaikan kuliah. Bersyukur untuk semuanya. Tetapi di sini dimulai cobaan dari Allah. Pertama Bapak yang mulai sakit-sakitan. Kemudian jualan Ibu mengalami penurunan drastis. Banyak yang tidak laku. Kakak perempuan yang masih berkutat dengan kuliahnya. Beban itu datang ketika saya harus menjadi tulang punggung. Tulang punggung yang mungkin dapat membuat patah keluarganya. Pada saat itu saya masih pengangguran. Hampir tiga bulan saya belum mendapatkan pekerjaan.

Sudah banyak lamaran yang saya kirim. Tanpa ada hasil yang memuaskan. Tabungan Bapak mulai menipis. Selain untuk biaya berobat juga untuk biaya keluarga. Entah apa lagi yang harus saya lakukan. Saya hampir berputus asa akan keadaan. Di tengah keputusasaan, Bapak hanya menyuruh untuk terus berdoa dan mengajar mengaji.

Awalnya saya menolak. Saya merasa kurang mampu. Belum pantas untuk menjadi seorang pengajar. Bapak terus memaksa. Akhirnya, saya menuruti perintahnya. Mulailah saya terus berdoa dan mengajar mengaji anak-anak. Satu minggu selepas itu. Semuanya masih seperti biasa. Lamaran banyak yang ditolak. Kalau ada panggilan kerja, hanya sebatas pada wawancara saja. Tanpa ada kelanjutan yang berarti. Selain di perusahaan swasta, saya juga mengikuti tes CPNS. Walaupun kecil kemungkinan untuk  saya lulus.

Suatu ketika saya sangat mengantuk. Kemudian datanglah seorang anak kecil untuk belajar. Awalnya saya menyuruhnya pulang. Anehnya anak tersebut tidak mau pulang. Masih menunggu untuk belajar. Akhirnya karena rasa iba, saya mengajarkannya mengaji. Selesai mengaji anak itu hanya mengatakan semoga Kakak sukses. Tidak ada perasaan apa pun setelah itu. Sampai akhirnya ketika melihat pengumuman hasil tes CPNS nama saya tertera di situ.

Ayah mulai berangsur-angsur sembuh dari penyakitnya. Satu lagi adik laki-laki yang baru lulus SMA diterima bekerja. Dia berhasil masuk di salah satu perusahaan BUMN. Alhamdulillah kehidupan kami mulai berubah. Tanpa memutuskan silaturahmi, saya dan keluarga pamit untuk mengontrak sebuah rumah. Sebuah rumah yang sederhana. Rumah sebagai tempat tinggal dan juga mengajar mengaji.

Oleh: Khoiril Anwar.

1 thought on “Allah Bersama Para Pembaca Kitab-Nya”

Tinggalkan Balasan