Tak ada yang namanya manusia sempurna, begitupun dengan kehidupannya.

Karena hidup seperti roda yang terus berputar. Kadang di bawah kadang pula di atas. Kadang bahagia, kadang juga dihiasi oleh air mata. Ketika melihat orang lain bahagia dan hidupnya berkecukupan, seringkali hati ini berkata, “Kapan aku seperti mereka.”

Melihat kebaikan-kebaikan yang orang lain dapatkan dalam hidupnya, sering pula berpikir, “Enak sekali ya jadi si Fulan yang hidupnya selalu baik dan bahagia, mungkin dia tak pernah kesusahan atau kekurangan harta benda. Andai saja aku seperti dia.”

Lagi-lagi merasa minder dan merasa jika hidup kita jauh lebih buruk dibanding mereka. Padahal ya … Allahu a’lam

Memangnya siapa kita, yang seringkali melihat dan menilai kehidupan orang lain hanya karena dia terlihat baik-baik saja. Kita seringkali lupa, jika mereka juga manusia dan tak ada satu pun manusia yang luput dari yang namanya salah dan masalah.

Pernahkah kita berpikir, jika apa yang terlihat bahagia dan baik-baik saja, ternyata menyimpan luka yang mungkin kita tak akan mampu merasakannya. Kita hanyalah manusia yang tak ada kesempurnaan di dalamnya.

Dan saya rasa sifat iri melihat hidup orang lain yang lebih baik di atas kita itu wajar-wajar saja, selama tidak melanggar norma dan iman masih menjadi prioritas utama.

Pernahkah kita berada dalam situasi terendah dalam hidup ini?

Ketika tak ada seorang pun yang bisa memberikan kita kekuatan ataupun tempat bersandar. Rasanya terlalu lelah untuk mengejar dunia dengan segala gemerlapnya. Tak pernah ada kepuasan di dalamnya. Anehnya semakin kukejar, gemerlap dunia itu rasa-rasanya semakin menjauh.

Dan ketika semua terasa semakin jauh … tiba-tiba ada rasa rindu yang teramat dalam. Rindu utnutk kembali kepada Sang Ilahi. Rindu untuk berduaan dengan-Nya di sepertiga malam. Rindu untuk menumpahkan segala kesedihan dan kebahagian kepada-Nya. Rindu, untuk menjadikan Allah satu-satunya tempat terbaik untuk bersandar.

Pernahkah kita merasa, terkadang diri kita ini adalah manusia yang tak tahu diri, manusia yang tak tahu rasa terima kasih, manusia yang seringkali sombong hanya karena Allah memberi kita sedikit nikmat. Pernahkah kita berpikir jika dengan nikmat tersebut, mungkin Allah sedang menguji kita. Atau bisa jadi dengan nikmat itu Allah ingin kita lebih dekat dengan-Nya, sama seperti saat-saat kita sangat butuh pertolongan-Nya.

Dear: Allah.

Maafkan aku yang seringkali meminta kepada-Mu, bahkan setiap hari aku meminta tanpa henti. Namun, ketika sudah Engkau kasih apa yang kuminta, dengan sombongnya aku meninggalkan-Mu begitu aja. Tak lagi rajin beribadah, tak lagi sering mengingat asma-Mu.

Pada saat aku butuh pertolongan dan bantuan-Mu, rajin sekali aku penuhi dan laksanakan perintah-Mu, tapi ketika semua sudah baik-baik saja, lagi-lagi aku menduakan-Mu. Bahkan sering pula aku meminta dengan paksa kepada-Mu, ketika Engkau sudah kasih semua, lagi-lagi aku lupa jika semua nikmat itu adalah atas kebaikan-Mu padaku yang hanya makhluk tak berdaya ini.

Aku sering ingkar dan ragu akan janji-janji dalam firman-Mu. Allah, jangan biarkan imanku pergi dalam hatiku …

Ya Allah, aku malu. Bagaimana bisa aku membanggakan diriku sediri, padahal aku sama sekali tidak bisa menjamin keselamatanku di dunia, terlebih di akhirat kelak. Sungguh aku pikir dalam semua kekayaan yang aku miliki, sebagaimana aku bodoh atas semua ilmu yang aku kuasai.

Lantas bagaimana mungkin aku merasa pintar, sedang Engkau mengetahui apa yang tampak dan apa yang tersembunyi di dalam hatiku.

(kutipan dari buku Allah, Aku Rindu kepada-Mu, halaman 9)

Pernahkah kamu merasakan gejolak batin yang demikian?

Jika aku boleh menjawab, ‘Ya, aku seringkali merasakan’ yang demikian. Seringkali takut perihal dunia yang fana ini. Seringkali gelisah dengan impian yang belum juga menjadi nyata. Lagi-lagi aku takut dan gelisah hanya soal dunia. Mungkinkah imanku semakin berkurang? Semoga iman selalu bersama kita, Aamiin

Pernahkan kita mengalami masa tersulit dalam hidup ini? Rasanya ingin lari dari dunia yang fana dan penuh sandiwara ini. Bahkan ingin menjauh dari semua hiruk pikuknya. Saya rasa setiap orang pernah mengalaminya. Begitupun denganku.

***

Lima tahun lalu, bagiku adalah tahun tersulit dalam hidupku. Tahun ketika aku harus menjadi orang yang sangat keras kepala demi memperjuangkan salah satu hak dan kewajibanku sebagai seorang muslim.

Ya, hak dan kewajibanku untuk menuntut ilmu dan belajar tentang ilmu-Nya. Di usia yang baru menginjak usia tujuh belas tahun untuk pertama kalinya aku memutuskan kabur dari rumah. Ya, kabur dari rumah hanya bermodalkan dengkul dan keyakinan untuk menjemput masa depan.

“Aku ingin kuliah, belajar tentang ilmunya, hingga akhirnya aku mampu menjadi hamba yang beruntung dan takkan ada yang bisa menghentikan langkahku,” ucapku mantap dalam hati.

Ketika aku mengingat itu semua, bayangan akan penolakan dan cacian itu masih tampak jelas di sana. Namun, biarlah … ia hanya akan menjadi masa lalu dan guru terbaik dalam hidupku. Penolakan itu adalah awal dari diriku yang baru untuk menjadi seseorang yang tahan banting.

Awal mula keyakinan ‘Jika Allah akan mengangkat derajatku dengan ilmu dan melalui ilmu aku kelak bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama’ itu muncul. Kutanamkan itu dalam-dalam hingga aku mampu melewati satu per satu godaan dan cobaan yang akan menghentikan langkahku untuk mencapai itu semua.

Lima tahun lalu aku hanyalah anak ingusan yang memiliki impian dan keinginan untuk bisa bersekolah setinggi-tingginya. Bermimpi keliling dunia dan belajar bersama dengan orang-orang hebat di luar sana. Sama sekali tak ada bayangan akan kegagalan atau takut karena suatu hal.

Entahlah, rasanya hanya ingin dan percaya saja. “Toh, bagi Allah itu sangatlah mudah,” sanggahku saat itu.

Meski banyak orang yang menentang atau menertawakan, aku yakin jika pada akhirnya ‘Aku bisa membuktikannya’.

Awal kisahku baru di mulai, tapi penolakan dari orangtuaku seakan menjadi akhir dari semuanya. Aku gagal meminta restu bapak dan ibuku untuk melanjutkan kuliah. Berkali-kali aku mengungkapkan niat itu, berkali-kali pula penolakan aku terima. Bukan hanya kedua orangtuaku, tapi juga lingkungan tempat tinggalku.

Entahlah, mungkin karena faktor biaya, mengingat keluargaku hanyalah keluarga sederhana. Atau mungkin saja pemikiran ‘Jika anak perempuan itu ndak usah sekolah tinggi-tinggi, toh nantinya hanya akan menjadi ibu rumah tangga’ yang masih dianutnya.

Tidak, aku tidak menyalahkan mereka … hanya saja … ah, sudahlah …

Yang jelas aku tetap mengikuti kata hatiku saat itu. Bukan ‘Indah’ namanya, jika mendengarkan dan mematuhi semua perintah itu dan melepaskan semua mimpi-mimpiku. Bukan ‘Indah’ namanya, jika aku hanya duduk diam saja di rumah dan sibuk mengurusi hidup orang lain.

Bukan ‘Indah’ namanya, jika aku tak mampu menjemput masa depanku sendiri. Karena aku tak mau menjadi ‘Penonton’ yang melihat kesuksesan orang lain sedangkan aku hanya bisa meratapi nasibku.

Diam-diam aku mendaftar kuliah dengan sisa tabunganku semasa SMA (Sekolah Menengah Atas) dulu. Disambung dengan ikhtiar berupa mencari bantuan dari orang-orang yang sudah kuliah untuk membantuku, menuntutku, dan memberi informasi lebih mengenai proses administrasi yang harus aku persiapkan dan jalani.

Aku masih ingat saat itu. Ketika malam tiba yang disambut dengan indahnya cahaya rembulan dan gemerlap bintang-bintang, aku putuskan untuk menginap di rumah pamanku. Tujuanku hanya satu, esok pagi aku akan pergi dengan bus yang akan membawaku ke kota di mana aku mendaftar kuliah untuk melaksanakan tes seleksi. Tak ada yang tahu niatku itu, selain keluarga pamanku yang baru saja aku beri tahu.

“Paman, aku mohon izin untuk menginap di rumah paman malam ini,” izinku dengan pandangan yang terus saja menunduk. Aku menunduk, aku takut jika akhirnya aku ketahuan air mataku menetes.

“Dan besok pagi aku akan berangkat untuk ikut seleksi masuk perguruan tinggi di kota Malang,” jelasku lagi dengan suara yang mulai bergetar.

“Ke Malang? Dengan siapa? Apa orangtuamu sudah tahu?” tanya pamanku dengan nada menyelidik.

Aku menggelengkan kepala dengan sedikit senyum yang menyungging. Namun, ekspresi wajahku masih saja menampakkan raut kecemasan dan kekhawatiran. Khawatir, kalau-kalau pamanku pun menolak untuk membantuku.

Cemas, jika pada akhirnya tak ada seorang pun yang berpihak kepadaku. Tapi syukurlah, akhirnya pamanku bersedia membantu.

Hari itu pun tiba, hari di mana aku harus menjemput bola meski banyak rintangan yang menghadang. Tes seleksi berlangsung selama dua hari, dan tibalah saat yang aku tunggu-tunggu. Saat pengumuman yang akan menentukan masa depanku.

Dan akhirnya hasil yang aku perkirakan itu pun terjadi. Aku ‘gagal’ masuk perguruan tinggi incaranku dan jelas itu akan menambah daftar kegagalanku.

***

Hari demi hari berganti, disusul dengan bulan hingga satu tahun berlalu. Mimpi itu masih sama ‘Aku ingin kuliah’. Namun, tahun ini aku memutuskan untuk tidak dulu melanjutkan kuliah, karena aku lebih memilih untuk bekerja. Aku bekerja sebagai seorang penjaga toko.

Kukumpulkan pundi-pundi rupiah untuk bekalku masuk kuliah.  Aku ikrarkan dalam hati ‘Tahun ini aku tidak boleh gagal kuliah hanya karena masalah biaya, aku sudah besar dan berhak menentukan nasibku sendiri’, begitulah pembelaan yang seringkali aku ucapkan untuk meyakinkan diriku jika aku pun bisa.

Anak dari keluarga sederhana ini akan menggoreskan sendiri nasibnya. Aku akan menjemput dan mewujudkan impianku. Aku percaya dan aku yakin ‘aku pasti bisa’.

Satu tahun pun berlalu. Hari yang aku tunggu pun akhirnya datang juga. Jika dulu aku tidak mendapat restu orangtua karena keinginan kuliah di luar kota, kali ini aku putuskan untuk kuliah di dalam kota.

Letaknya tak jauh dari rumah dan aku nanti bisa menyambi kuliah dengan bekerja, itulah pikirku saat itu. Namun, lagi-lagi restu itu pun sulit aku dapatkan.

“Untuk kali ini biarkan aku putuskan sendiri hidupku,” pintaku pada bapak dan ibu. Bismillah, … aku putuskan untuk menuntut ilmu dengan cara kuliah.

***

Empat tahun berlalu, apa yang aku perjuangkan selama ini kini sudah kudapatkan hasilnya. Aku sudah menjadi sarjana, Sarjana Pedidikan seperti impianku. Dan alhamdulillah, aku adalah salah satu mahasiswi berprestasi di kampus yang lulus dengan predikat coumlaude. Satu tahap sudah terpenuhi dan yang pasti tahap selanjutnya menanti untuk segera kuraih.

Aku harus bekerja. Aku tak mau menjadi ‘Sarjana Pengangguran’ seperti yang seringkali tetanggaku katakan.

Ya, seringkali tetangga bilang ‘Jika tak punya orang dalam, mendapat pekerjaan yang baik akan susah’. Kutampik semua itu dengan ikhtiar dan usaha maksimal untuk mendapatkan pekerjaan terbaik. Aku ingin membuktikan sekali lagi. Namun, lagi-lagi takdir baik tak memihakku.

Setiap kali aku melamar kerja, hanya kata ‘Maaf’ yang aku dapatkan sebagai jawaban dari mereka. Aku ditolak dan gagal untuk kesekian kalinya. Dan fixed, beberapa bulan setelah kelulusan aku menjadi pengangguran, lebih tepatnya ‘Sarjana Pengangguran’.

Ya Allah susah sekali bagiku untuk mencari pekerjaan yang baik. Berilah kesabaran untukku dan petunjukmu, doaku sore ini sembari menatap langit yang masih setia dengan cerahnya cahaya mentari.

Satu kali dua kali, mungkin juga sudah belasan kali aku ditolak di berbagai instansi yang aku lamar. Lagi-lagi aku ingin menyerah. Ingin berlari menjauh dari takdir Allah yang tak sesuai dengan harapanku. Pun dengan usahaku dalam melamar beasiswa.

Selang beberapa bulan setelah kegagalan yang bertubi-tubi itu, Allah menggantinya dengan hal terbaik yang sangat aku butuhkan. Beberapa bulan lalu aku diterima di sebuah sekolah swasta yang sangat mengagungkan Al-Qur’an.

Hari-hariku pun selalu kumulai dengan murajaah dan memperbaiki bacaan Al-Qur’an. Maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan?Allah …

Seringkali kita memandang suatu hal dan menurut kita itu adalah yang terbaik. Tapi belum tentu juga menurut Allah juga baik. Seringkali kita meminta pada Allah, tapi belum juga Dia kabulkan, rasanya ingin menjerit dan protes dengan kehendak-Nya.

Apa yan salah denganku? Kenapa doaku belum juga Engkau kabulkan, padahal aku sudah berulang kali meminta.

Protes, marah, dan akhirnya malas untuk terus meminta.

Allah, maafkan aku yang seringkali lalai dan sering meragukan kebesaran-Mu. Andai saja kutahu bahwa di balik kegagalan-kegagalan itu telah Allah siapkan kebahagiaan yang membuat kulupa dengan rasa sakit itu.

Andai saja kupaham, jika dibalik kesuksesan yang tertunda itu Allah persiapkan pengganti yang jauh lebih baik. Allah Maha Tahu apa-apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Jalan yang terbaik untuk kita sebagai hamba-Nya adalah tetap berbaik sangka dan jangan pernah putus asa.

Judul: Allah, Aku Rindu kepada-Mu

Penulis: Dwi Suwiknyo

Penerbit: Trenlis

Cetakan: November 2018

Tebal: 167 halaman

ISBN: 978-602-52799-0-4

***

Oleh: Indah Astutik Wulan.

Ilustrasi dari sini.  

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: