“Pak … beli.” Tata memanggil penjual es cendol di depan asrama. Sayang, ada santri putra yang lebih dulu melambaikan tangan ke Pak Cendol. Setelah penjual es cendol berhenti di hadapan santri itu, keduanya bersitatap bingung. Dia hanya menggaruk kepalanya yang botak, lalu pergi meninggalkan penjual es. Sedangkan penjual esnya hanya menggelengkan kepala seraya melanjutkan perjalanan menghampiri Tata.

Tata memperhatikan lelaki itu dari jarak yang tak begitu jauh. Tata penasaran dengan  cara bicaranya. Mungkin, karena penampilan lelaki itu yang jauh berbeda dengan santri putra biasanya.

“Yaaaah!” Tata menghempaskan napas ketika melihat sikap santri yang aneh itu.

Masyaallah! Itu santri sini beneran? Cakep banget. Gak mungkin deh, gak mungkin santri sini. Bajunya saja rapi, celananya, sepatunya juga rapi semua. Sudah gitu tinggi, putih lagi. Bikin deg-degan aja. Benar, gak mungkin santri sini.

***

Saat mengambil jatah makan siang, Tata pergi ke dapur, bersamaan dengan dua santri putra, tapi langkah mereka berhenti sesaat, hanya mengintip dari celah ruangan. Tata menyelidik.

“Sini aja! Hanya ada aku di sini, mau ambil nasi, kan? Aku ambilin.”  Ternyata dua santri itu adalah pengurus asrama, Tata mengenalnya.

“Eh itu kamu, Ta? Oke, tolong ambilin, ya. Soalnya spesial nih, makanannya. Sekalian aku sama Alif mau ngembaliin teko.

“Makanan spesial apaan? Emang ada tamu?”

“Iya, nih. Buat si bocah di belakangku.”

“Hah, Alif?”

“Bukan! Buat si dia, nih. Oh ya ini tekonya.” Alif memberi celah untuk lelaki di belakangnya, sembari menyerahkan teko.

Hi,” sapanya.

Tata tertegun melihat santri yang baru datang di belakang Alif, ternyata dia adalah lelaki yang gak jadi beli cendol kala itu.

“Ini siapa?” tanya Tata ke Wawan dan Alif.

“Mikael, yang baru datang dari Australia,” jelas Wawan.

“Hah?” Tata semakin tertegun.

“Iya, dia mah ngerepotin, soalnya gak bisa ngomong bahasa Indonesia, makanya aku sama Alif suruh nemenin.”

Tata menatapnya sekilas, raut wajahnya kebingungan. Dengan cepat Tata langsung mengambilkan nasi untuknya.

“Hi, what’s your name?” sapa Tata sembari menyerahkan nasinya.

Do you can speak in English? It’s so glady to hear someone speaks in English here.”

“So, you’re not Indonesian?”

“Yes, I came from Australia. My name is Mikael, may I know your name?”

She is my friend, Tata, Boy!” sela Wawan.

Yes, I’m his friend. Sorry, I have to go, now. Let’s continue our chat tomorrow or next time. Nice to meet you,” sambung Tata.

Oke, don’t mind! Nice to meet you too.”

Setelah kejadian itu, Tata menjadi biasa bertemu mereka bertiga, seringnya ketika mereka minta tolong ambilkan nasi. Anehnya, esok hari yang datang hanya Alif.

“Loh, Wawan sama Mikael mana? Tumben kamu sendiri.”

“Ini buat kamu.” Alif menyodorkan bungkusannya.

“Apaan ini? Oleh-oleh?”

“Bukan, emm … ya sudah, aku pergi dulu, ya.” Alif berlalu begitu saja, Tata bingung. Dia membuka bungkusan dari Alif, ternyata isinya cokelat dan selembar surat. Setelah surat itu selesai dibaca, Tata langsung merobeknya, khawatir jika ada santri lain yang tahu.

Duh, kenapa Alif memberi surat cinta untukku? Padahal aku menganggap dia seperti adik. Ya karena dia lebih muda satu tahun dariku. Mau nolak langsung, tapi gak tega. Takut patah hati nanti. Dia juga imut banget, tapi tetap saja dia aku anggap adik.

Saat makan siang, Wawan dan Mikael datang ke dapur. Alif tidak ikut. Mungkin dia malu atau belum berani bertemu Tata lagi.

“Kamu dapat surat, Ta?” tanya Wawan.

“Loh, kamu tahu ternyata?”

“Ya tahu, lah.”  Wawan terkekeh.

“You got a letter from Alif? Can I read it?”

“No you can’t, I’ve throw it away.”

“Are you sure?”

“Yes, I’am sure.”

“Fine, just tell me what he said!”

“Oh, that’s nothing.  I’ve forgot it.”

“Just a little.”  Mikael mulai mendesak.

Akhirnya Tata cerita, meski hanya inti dari isi surat itu saja.

Will you accept him?”

No, I won’t.”

Why?”

“He is younger than me.”

“That’s means, you’ll reject him?”

“Yeah.”

“Really?”

“Yes.”

“YES!

“Hah? Yes?” Tata semakin bingung.

“Alif, sini! Tata nolak kamu katanya,” seru Wawan, Tata mendelik. Ternyata Alif sejak tadi bersembunyi di balik tembok sambil mendengar semuanya.

“Alif? Kalian kok gak bilang kalau Alif di sini?”

“Supaya dia dengar kalau kamu pasti nolak dia. Habis sih, dia gak percaya kalau kamu bakal nolak,” timpal Wawan.

“Gak gitu juga sih. Maaf, Lif.”

“Gak apa-apa, Kak. Aku pergi duluan, ya.”

Alif berlalu dengan tubuh lunglai, sedangkan Tata merasa bersalah. Betapa berat kepedihan yang disimpan Alif. Dia begitu tulus mencintai Tata. Sejak dulu, pertama kali dia masuk asrama dan mengenal Tata. Seringkali mereka berbagi tugas ketika ada acara besar. Mereka saling dekat, dan kedekatan itu menimbulkan benih cinta dari Alif. Sayang, ternyata Tata hanya menganggap Alif sebatas adiknya.

“Ih kamu mah, Wan! Kasian Alif ….”

“Ya gak apa-apa kali, Ta. Kamu kan punya orang lain yang kamu suka, kan?”

“Tapi kasian Alif. Eh diam! kamu gak ngasih tahu dia, kan?”

“Ngasih tahu Alif atau orang yang kamu suka, nih?” ledek Wawan.

“Dua-duanya.”

“Alif gak perlu dikasih tahu dia pasti sadar kok.”

What are you talking about, Guys?” Mikael menyela di sela-sela kebingungannya.

There is no something we talk,” jawab Tata, Wawan terkekeh tak henti-henti.

“Why is he laughing?”

“Fine. I am just not really clear about that.”

“Ok, then, why not accept Alif? If the problem is only because he is younger? He’s good.”

“Well, I reject it.”

“But, sure?”

“Sure.”

“Tata sudah punya orang yang disuka, Boy,” Seloroh Wawan.

What?”

Nothing. Diam kamu, Wan!”

What are you talking about?”

She like someone else!” jelas Wawan bersemangat.

Really? She likes other men? Who?”

Mikael bingung, sedangkan Wawan masih terkekeh.

Do you like someone?”

“I don’t have!”

“Ngomong, Taaa …. beiuuhh,” sela Wawan. Suka jail ni orang.

“I just wanna know what kind of man you like.”

“I haven’t.”

She like you, lah! Who else?” ini Wawan gak bisa nahan ngomongnya gitu, yah. Asli, aku malu banget.

Tata kabur karena merasa malu dihadapan Mikael.

Sejak semua itu terjadi, Tata cukup menjaga jarak supaya tidak sering bertemu dengan Mikael. Rasanya berat menghadapinya. Karena rasa itu akan semakin tumbuh jika sering bertemu dengan Mikael. Paling tidak, satu hari cukup sekali saja. Di sisi lain, Tata masih merasa bersalah sama Alif. Dia menghindar dari Tata, dan hanya nitip Wawan saja jika mau ambil nasi untuk makan.

***

Dua minggu kemudian, Tata pamit sama mereka untuk pulang, karena dia lagi kurang sehat.

“When do you come back?” tanya Mikael.

“I don’t know, when I will come here again.”

“Okey, GWS, Ta.”

Thanks! Bye!”

Ur welcome, bye.”

“Hati-hati, Kak,” timpal Alif.

Bai, bai, Tata. Cie cie, tetew,” seloroh Wawan.

Ada yang berbeda di hati Tata. Tatapan indah Mikael justru terlihat semu, tak seperti biasanya. Entah apa yang disimpan lelaki itu. Meski di situ ada Alif, justru Alif sudah berani menghadap Tata lagi. Tak menghindar seperti sebelumnya. Sayang, wajah imut yang menyejukkan hati itu kalah spesial dibanding Mikael—bagi Tata.

***

TATA

Kamu tahu betapa perihnya rasa yang telanjur mengharap begitu tinggi, lalu kau jatuhkan begitu saja? Ya … apalagi kamu sudah berani mengutak-atik hati ini. Kita dekat dan terlalu dekat. Jika aku bisa terlahir kembali, aku ingin menjadi orang asing bagimu, agar aku bisa mencintai tanpa rasa takut kehilanganmu.

Kamu pergi, setelah beberapa hari terjalin manis. Kamu pergi meninggalkan banyak kenangan, pun kekelaman. Kamu pergi dan dengan mudah menitipkan hatiku ke lelaki lain. Mengapa tidak kamu bawa saja hatiku ke sana? Aku rela kok, meski nyatanya raga ini akan terpisah jauh, tapi, kamu jahat. Kamu begitu ringan mengatakan, “Good bye” dan memindahkan hatiku yang selama ini kutitipkan ke kamu. Semudah itu aku akan menerima semua? Tidak!

***

ALIF

Aku hanya ingin mengingatkan kamu, Mik. Perempuan yang sering kamu lihat senyumnya itu, sebenarnya sering menangis. Dia hanya tak ingin memperlihatkannya padamu. Bukan karena dia kuat, tapi karena dia tahu kamu tak bisa lakukan apa-apa untuknya.

Ingat, Mik. Perempuan yang begitu terlihat tegar itu sebenarnya mudah menangis juga. Lagi-lagi dia tak mau menunjukkan tangisnya di hadapanmu. Dia pikir rasanya itu bukan sebuah kesedihan yang butuh belas kasian.

Bagiku, cukup aku saja yang mengalami patah hati. ya … meski harus berkali-kali atau selamanya. Tapi, tolonglah jangan kau patahkan hati seseorang yang aku cintai. Sebab semua itu, membuatku semakin patah, padahal hati ini sudah retak sebelumnya.

Dear, Tata, jika seseorang meninggalkanmu dan pergi dari hidupmu, didik hatimu untuk merelakanya. Tak baik bila memaksakan hati menerima kenyataan pahit. Mikael tetap akan pergi. Andaikan jika dia ingin tetap, hatinya sudah bukan untukmu lagi. Dan itu semakin menyakitimu. Cinta adalah perjuangan. Dan orang-orang yang berjuang akan memeroleh cinta yang istimewa.

***

Sepulang Tata ke rumah, Mikael memutuskan untuk kembali ke Australia, tanpa alasan apa pun, kecuali bosan. Mikael hanya menitipkan pesan ke Alif, supaya Alif bersedia menjaga Tata, bersedia menjadi Imam di kehidupan masa depan Tata. Namun, semua itu berat bagi Alif, sebab Alif sadar bahwa dirinya hanya sebagai Adik di mata Tata.

Sejak Alif mengetahui perasaan Tata yang sebenarnya, dia bertekad untuk belajar hijrah dari cintanya. Alif sadar bahwa rasa dan cinta yang selama ini ada, itu hanya akan menambah dosa jika terus dipupuk. Semua adalah titipan, dan dengan titipan itu manusia diuji oleh-Nya. Maka, Alif hanya bertekad untuk memperbaiki kualitas diri selama masih diberi kesempatan hidup oleh-Nya.

Di bilik lain, Tata berselimut sendu. Dia sering tidak fokus melakukan kegiatan apa pun, di rumah atau pun di asrama. Matanya begitu sayu berhari-hari. Alif mengetahui itu, hanya saja tak ada yang bisa dilakukan Alif selain mendoakannya. Berdoa supaya Tata kembali pulih dari kegalauannya.

***

Oleh: Sayyidatina Az-Zahra.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: