Allah pun Sampai Heran Lho Sama Kelakuan Kita

Andaikan saja orangtuamu berkata padamu berkali-kali agar jangan pulang malam karena rawan bahaya. Dengan pelbagai cara, orangtuamu menjelaskan risiko-risiko melanggarnya, bahaya-bahayanya, dan celaka-celakanya.

Ditambahkan lagi, jika kamu mematuhinya, kamu akan diberi hadiah-hadiah mewah yang sangat diimpikan oleh semua anak. Tetap saja dilanggar!

Kamu ngeyel, tak percaya, bahkan menyangka sedemikian rupa bahwa peringatan orangtuamu hanyalah kebohongan dan kepura-puraan yang tak masuk akal. Buat apa mematuhi hal-hal yang tak masuk akal, tak pernah terbukti kebenarannya.

Itu hanya khayali, mitos. Mematuhinya sama dengan kesia-siaan. Mematuhinya hanya akan menjebakmu dalam kecupetan, tidak gaul, dan bodoh.

Orangtuamu tentu saja terheran-heran sama segala bentuk pelanggaranmu. Sungguh tak bisa dimengerti, bagaimana mungkin kamu yang dilahirkannya, dibesarkannya, dijaganya, dicukupinya, diwanti-wantinya agar selalu sehat dan selamat, begitu saja menganggapnya mitos khayali belaka. Sungguh tak bisa dimengerti.

Itulah kita, manusia, di hadapan Allah Swt.

Al-Infitar ayat 6-8 memperlihatkan “betapa herannya” Allah sama manusia yang enteng saja tidak mengimaniNya, melanggar perintah-perintahNya, dan melakoni larangan-laranganNya. Allah sangat heran sama bebalnya kita, kerasnya hati kita, dan sombongnya kita yang berani benar menentang-nentangNya.

Padahal Dia lah yang menciptakan kita, yang menjadikan kita ada dari setitik nutfah saja, lalu disempurnakannya dalam susunan yang seimbang sedemikian rupa, sehingga jadilah kita manusia yang sempurna.

Padahal Dia lah yang memberi penghidupan pada kita, dari minuman dan makanan, melimpahkan karunia-karuniaNya yang kita pinta dan tak sempat kita pinta.

Padahal Dia lah yang memberikan otak kepada kita sebagai sumber akal dan pengetahuan, yang dengannya kita menciptakan ragam kemajuan sains dan teknologi dan menjadikan kehidupan kita menjadi lebih luas, mudah, dan praktis.

Tetapi kita menentangNya, melanggar aturan-aturanNya. Bahkan kita—dengan sadar dan sengaja—tak memercayai keberadaanNya, kemahakuasaanNya, apalagi karunia-karuniaNya. Kita menganggap semua capaian kehidupan ini sepenuhnya berkat kecerdasan akal kita, kemajuan sains kita, dan kehebatan teknologi kita.

Allah dianggap hanya mitos, khayalan, dan igauan orang-orang yang kolot, kuno, terbelakang, buta sains dan teknologi. Allah dipikir omong kosong ketiadaan yang hanya diyakini oleh orang-orang primitif yang bersumber pada kitab yang primitif.

Begitu juga memercayai adanya kiamat, hari pembalasan, surga dan neraka, dll., hanyalah akan memapatkan kejeniusan dan peradaban manusia.

Maka Allah heran luar biasa atas kedurhakaan manusia.

“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”

Ya, ya, begitulah memang ulah kufur manusia. Penyebab adanya pun diingkari. Pencipta dan pemberi rezekinya pun dikhianati.

Apa lagi gerangan yang kurang sesungguhnya dari bukti-bukti keberadaan Allah dan kemahakuasaanNya?

Tak ada. Sejatinya, semua bukti itu telah nyata paripurna. Baik dalam ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah.

Pangkal segala bentuk kedurhakaan pada Allah itu adalah tiadanya iman di hati. Hati yang tak diselimuti keimanan pada Allah akan benar-benar dikuasai oleh hawa nafsu dan angkara murka. Isi pikirannya kemudian sudah pasti hanyalah tentang kehebatan akalnya, kejemawaan pengetahuannya, dan kedahsyatan teknologinya. Tak ada hal-hal yang berskala batiniah-spiritual di dalamnya.

Maka wajar bila segala yang dipandangnya tak rasional dan tak empiris, diklaimnya igauan, omong-kosong, dan mitos. Akhirat adalah mitos. Hari kebangkitan adalah omong-kosong. Surga neraka hanyalah candu kedustaan.

Al-Qur’an menjuluki manusia yang mengherankan itu dengan gelar “seperti binatang, bahkan lebih bodoh lagi”.

Na’udzubillah min dzalik.

Oleh: Edi AH Iyubenu

Tinggalkan Balasan