Allahlah yang Selalu Lebih Tahu yang Terbaik Buat Kita

Normal belaka kita pengin meraih ini dan itu dalam hidup. Tentunya, ini dan itu tersebut merupakan hal-hal terbaik yang kita andaikan akan menjadi penyempurna kehidupan kita. Entah kita menyebutnya sarana, kebutuhan, modal, atau kepatutan. Sebagian kita di dalam hati lalu meniatkan hal-hal itu dimaksudkan untuk kian mendekatkan diri kepada Allah.

“Jika ini dan itu bisa dimiliki, niscaya aku akan lebih rajin beribadah.”

Misal, andai punya water-heater niscaya shalat tahajud akan lebih istiqamah karena jadi lebih nyaman untuk berwudhu di malam buta. Tak kedinginan di saat hujan.

Benarkah lantas hadirnya ini dan itu tersebut dalam hidup kita menisbatkan kemajuan, kebaikan, dan kedekatan diri kepadaNya?

Jauh lebih banyak yang terjadi adalah hal sebaliknya. Ada begitu banyak kisah nyata yang mendera orang-orang di sekitar kita (atau jangan-jangan kita sendiri, ya?) yang memperlihatkan bahwa selalu hanya Allah lah yang lebih tahu apa-apa yang lebih baik buat kita dan apa-apa yang malah jadi madharat buat kita. Ini dan itu yang kita angankan sebagai pelengkap menuju kebaikan ternyata begitu telah benar-benar ada malah menjorokkan kita kepada keburukan. Kita ternyata lebih baik tanpa hadirnya ini dan itu tadi.

Untuk itulah kita diajarkan oleh al-Qur’an agar senantiasa meminta pertolongan dan perlindungan dari Allah. Karena hanya dengan sikap hidup demikianlah kita akan mampu senantiasa meletakkan segalanya, apa pun yang terjadi pada hidup kita, sebagai hal terbaik dariNya: kemarin, saat ini, dan esok hari.

Surat an-Nisa ayat 135, misal, menerakan pengajaran tersebut dengan sangat jernih: “… Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.”

Dan, dalam sejumlah ayat lain, amatlah banyak ungkapan yang mengerucut pada redaksi: … sungguh Allah lah yang tahu dan kalian tidak mengetahui.

****

Tahukah kamu bagaimana proses menikahnya bapak salah satu imam mazhab fiqh besar kita, Imam Syafi’ie?

Kisah tersebut bisa kita jadikan hikmah untuk meneguhkan keyakinan di dalam hati perihal betapa agungnya tujuan Allah dalam menghadirkan apa pun ke dalam kehidupan kita, yang acap betul kita mulanya tak memahaminya, atau bahkan menganggapnya suatu musibah.

Namanya Idris. Beliau dikenal sebagai sosok yang alim dan soleh. Di masa mudanya, beliau yang sedang berada di tepian sebuah sungai melihat sebutir buah delima mengapung. Diambilnya, dimakannya.

Sehabis menyantapnya, beliau kaget. Menyesal telah memakan buah yang mengalir bersama aliran sungai itu tanpa tahu siapa pemiliknya. Beliau beristighfar dan sangat mencemaskan kehalalannya.

Maka berjalanlah beliau mengikuti aliran sungai itu ke hulu. Hingga dijumpailah sebuah kebun delima dan seorang lelaki tua yang sedang merawat kebun itu.

Idris lalu mengisahkan kejadian tadi. Lelaki tua itu membenarkan bahwa buah delima itu adalah miliknya, yang jatuh ke sungai.

Idris memohon kerelaan lelaki itu atas delima yang telah dimakannya. Tapi, tak diduga, lelaki tua itu menolak. Ia meminta Idris bekerja padanya sebulan penuh tanpa bayaran sebagai tebusan atas sebutir delima yang telah dimakannya.

Idris menerima. Semata karena takut ketidakhalalan delima tadi mengundang murka Allah.

Sebulan kemudian Idris pamit kepada lelaki tua itu. Tapi, lelaki tua itu mencegahnya. Ia meminta Idris melakukan satu hal lagi sebagai syarat sah keikhlasannya pada sebutir delima itu.

“Menikahlah dengan anakku ….”

Idris kaget. Bagaimana mungkin ia melakukannya? Ia tak pernah tahu siapa dan bagaimana rupa anak lelaki tua itu.

“Dia bisu, tuli, dan buta,” lanjut lelaki tua itu.

Idris kebingungan. Bagaimana bisa begini? Tapi akhirnya ia mengiyakan. Lagi-lagi, semata demi menebus keikhlasan sebutir delima itu. Agar tak mengundang murka Allah atas hak orang lain yang telah dimakannya sebulan lalu.

“Juga lumpuh,” lanjut lelaki itu lagi.

Idris tetap mengiyakan.

Maka dinikahkanlah Idris dengan anak pemilik kebun delima itu, yang disebutnya dalam keadaan menyedihkan: bisu, buta, tuli, dan lumpuh.

Usai ijab qabul, diantarlah Idris ke kamar istri yang sama sekali tak pernah dilihatnya.

“Masuklah ke kamar istrimu,” kata pemilik kebun delima yang telah jadi mertuanya.

Idris pun masuk, menguluk salam. Betapa kagetnya ia melihat sesosok perempuan yang sangat cantik dan sempurna di kamar itu.

Mertua itu lantas mengatakan bahwa segala hukuman yang diberikannya selama ini semata untuk menguji apakah ia benar-benar lelaki soleh dan taat kepada Allah. Ia sangat terkesan dengan kejujuran dan kehati-hatian Idris pada kehalalan delima hanyut yang kadung dimakannya.

Dari pernikahan itu, lahirlah sosok imam mazhab yang kita agungkan kini: Muhammad bin Idris Asy-Syafi’ie, pendiri Mazhab Syafi’ie.

****

Btw, apakah gerangan yang akan terjadi pada Idris andai dia memilih menuruti hawa nafsunya: peduli amat sama kehalalan delima itu, toh itu barang hanyut sendiri yang tak dicurinya? Atau, umpama ia menolak menebus hukuman kerja sebulan tanpa bayaran hanya demi sebutir delima yang jelas tak setimpal dan masuk akal itu? Atau, menolak menikahi perempuan yang tak pernah dilihatnya, yang digambarkan bisu, tuli, buta, dan lumpuh?

Sungguh hanya Allah lah yang Maha Tahu atas segala apa yang terbaik buat kehidupan kita. Segala ini dan itu yang datang dan pergi dari hidup kita, yang mungkin kita bayangkan sebagai keberuntungan atau kerugian, sungguhlah sepantasnya selalu dirujukkan hanya kepada Kemahatuaan dan Kemahakasihsayangan Allah kepada kita. Tidak selainnya.

“Mungkin saja kamu mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu atau membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Allah lah yang tahu dan kamu tidak tahu.”

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan