“Walapun satu per satu dari kami tumbang, namun rasa tolong menolong kami tak hilang.”

Pengalaman berharga ini tak pernah lekang dari ingatanku. Dua belas tahun yang lalu, saat aku masih menjadi siswa SMA kelas XII, kos menjadi rumah keduaku. Tak pernah berpikir bahwa “rumah” ini akan membawa hari-hari penuh cinta di dalam kehidupanku saat pertama kali menginjakkan kaki. Maklum, aku tak terlalu mudah berteman. Namun, bukan hidup namanya jika tak berputar.

“Mbak, Na kenapa? Kok tadi aku lihat dia lemes banget pas di atas motor?”

Aku tadi berpapasan dengan teman sekos yang membawa Na. Mereka boncengan bertiga.

“Tadi ambruk, Ya. Demam menggigil. Mbak Al yang nemuin dia di kamar pas sakit.”

“Ya Rabb, Na kenapa ya? Duh, jadi nggak sabar nengokin nih, Mbak. Di rumah sakit mana ya?”

“Nanti Mbak Al ngabarin kok. Anak sekos juga nanti bareng-bareng ke sana. Orang tuanya juga sudah dikabari.”

Aku terharu dengan persahabatan kami di kos ini. Kos Karmel namanya. Disingkat dari nama jalan Karang Melati. Aku belum ada setahun di sini, tapi rasanya seperti menemukan keluarga baru yang sangat peduli satu sama lain.

Kami bersepuluh, termasuk aku, adalah anak-anak kos yang merantau dari awal sekolah menengah atas, bahkan ada satu di antara kami yang baru pindah sari SMP dan ngekos bareng kakak sepupunya. Kebahagiaan salah satu anak kos akan menjadi kebahagiaan anak kos lain. MIsalnya saat ada yang ulang tahun, kami semua akan ditraktir. Memang sederhana saja sih nraktirnya, paling cuma pisang goreng Bu Jajan yang selalu mampir ke kos tiap pagi. Namun, persahabatan kami akhirnya diuji juga.

Setelah Na sakit dan dirawat di salah satu RS Negeri di kota kami merantau, aku didaulat mengantarkan baju dan keperluannya selama di RS. Aku mencoba meminjam motor matic Bapak Kos malam itu.

“Assalamu’alaikum, Pak. Ini Tya.”

Aku mengetuk pintu rumah Bapak Kos yang persis di sebelah kos kami. Sepertinya Bapak Kos sudah tidur, namun beberapa detik kemudian lampu ruang utama menyala.

“Ada apa, Mbak? Kok belum tidur?”

Bapak kos menanyaiku karena jam memang sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB kala itu.

“Na tadi dibawa ke RS, Pak. Saya mau pinjam motornya boleh? Mau nganter keperluan Na di RS.”

“Ya Allah, terus gimana kabarnya sekarang?”

“Ini saya juga baru mau mencari kabarnya, Pak. Nanti saya kabari, ya.”

Setelah Bapak kos memberiku izin dan menyerahkan kunci, aku meminta salah satu teman kos untuk menemani. Kami berdua menyusuri jalanan kota yang lengang. Sampai di RS, kami tak masuk ke dalam. Kami hanya bertemu di pagar pembatas dan menyerahkan keperluan Na, juga meminta kabar. Na sakit tipus. Setelah itu, kami pamit. Aku dan temanku langsung menyampaikan kabar saat sampai di kos dan tak lupa mengembalikan kunci motor.

Paginya, aku merasakan tubuhku aneh. Aku lemas sekali. Padahal tadi malam aku masih bisa menaiki motor. Aku yang tak kuat duduk, akhirnya hanya berbaring. Teman-teman kos lain sibuk dengan waktu paginya. Mengantre kamar mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Mereka belum sadar kalau aku sakit.

Pukul 6:50 WIB, aku terbangun setelah ketiduran. Sepertinya teman-teman kos sudah pergi semua. Karena kamarku kumatikan saat tidur, dari luar tidak kelihatan kalau aku masih di dalam kamar. Pun pintu kamar memang ditutup dari semalam. Aku mencoba menguatkan diri, aku bangun dan mengambil HP. Tapi ternyata tubuhku menolak untuk bangun. Aku mencoba meminta pertolongan. Sepertinya masih ada salah satu temanku yang belum berangkat.

“Mmmbaaak …”

Aku mencoba bersuara, ternyata suaraku lirih sekali. Bagaimana ini ya Rabb, aku sakit. Setidaknya, aku ingin makan dulu. Perutku keroncongan.

Lama aku menunggu. Berharap teman kos tadi melintas di depan kamar agar dia bisa mendengar suaraku. Tapi sampai pukul 7.00 WIB, jam masuk sekolah, tak ada yang melintas.

Tiba-tiba, tok tok tok!

“Ya, kamu masih di dalam apa?”

Aku terkesiap.

“Mbak Al!”

Entah dari mana energiku bisa menghasilkan suara itu. Aku memintanya membuka pintu kamarku dari jendela. Kamarku dikunci dari dalam, tapi aku tak bisa membukanya sendiri. Setelah Mbak Al masuk, Mbak Al melihat sebentar kondisiku lalu mengecek keningku.

“Panas. Kamu demam, ya. Sudah makan belum?”

Ah, aku terharu. Doaku terkabul.

“Belum, Mbak. Aku dari tadi nggak kuat keluar.”

“Eh, Mbak kok nggak sekolah?” tanyaku lagi.

“Ya sudah, aku bawakan makananku ya. Iya ini, lagi dapat jam siang, kan sudah mulai ujian praktik.”

Mbak Al bergegas keluar. Lalu beberapa menit kemudian balik lagi membawa makanannya.

“Mbak Al, ini kan makananmu.”

“Nggak apa-apa. Tadi aku sudah makan kok. Ini beli lebih, makan dulu ya.”

Setelah makan, aku mendengar suara seseorang dari luar.

“Ya, kamu sakit?”

Mendadak kamarku ramai. Mbak Ndah adalah orang yang tadi kudengar tergopoh-gopoh dari luar.

“Yuk kita ke RS, sekarang.”

Mbak Ndah menawarkan, tidak, tepatnya “memaksa” membawaku ke RS. Aku yang tadinya nggak mau merepotkan akhirnya pasrah. Ternyata di luar ada teman Mbak Ndah dan motornya. Kami bertiga berbocengan ke RS terdekat. Mbak Al melambaikan tangan sesaat motor bergerak maju.

Sesampainya di RS, aku mendapati diriku terbaring di IGD. Diagnosis dokter pertama kalinya adalah tipus. Aku yang mendengarnya heran, kok bisa “nular” ya? Lalu aku mencoba tidur, setelah mendapat bangsal. Saat terbangun, Ibuku sudah ada di sampingku.

Semenjak kejadian dua orang dari kos kami sakit, satu per satu seluruh anak kos sakit. Ada yang tipus dan ada pula yang kena demam berdarah. Kami saling bergantian menjaga dan memberikan pertolongan saat dibutuhkan. Sepertinya pola makan kami memang agak buruk, juga kami lalai membersihkan kamar mandi. Ada jentik-jentik nyamuk di sana. Kami rapat darurat dan membuahkan aturan baru yang menguntungkan kami semua.

Persahabatan kami di sini diuji. Ternyata, berbuat baik akan mendapatkan kebaikan pula. Walau usia kami muda saat itu, kami bisa menjadi keluarga kedua yang saling peduli. Merasa senasib dan sepenanggungan. Hidup anak kos!

Oleh: Dhita Erdittya.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: