Dear, Muslimah.

Apa kabar? Semoga tetap sehat jasmani dan rohani, ya. Aamiin. Aku sedang sedih, nih.

Kenapa?

Karena banyak dari saudari-saudariku demi dibilang update, hits, apalagi ya famous, iya kekinian, mereka rela mengumbar masa lalunya dengan ikut #10YearsChallenge. Semoga kamu tidak termasuk yang meramaikan challenge tersebut, ya. Pengecualian jika 10 tahun yang lalu juga kamu sudah memakai jilbab.

Lah, emang salahnya apa?

Begini teman-teman muslimah di mana pun kalian berada. (Tarik napas dalam-dalam, embuskan). Kalian susah payah untuk berhijrah, berusaha keras untuk menutup ‘mahkota’ terindah kalian, bahkan rela menghapus semua foto-foto lama sebelum kalian berjilbab. Semua kerja keras, dan butuh waktu lama, hancur seketika karena sebuah challenge yang sama sekali tidak penting untuk diikuti sebenarnya. Buat apa?

Kembali pada pertanyaan salahnya apa?

Jelas, salahnya ada pada diri masing-masing, yang dengan bangganya menampakkan foto 10 tahun silam di media sosial. Kenapa harus membongkar kembali ‘aib’ yang sudah lama terkubur, sih? Aku tidak habis pikir dengan orang-orang seperti itu. Sadar enggak, kalau apa yang kalian lakukan itu sama halnya membuka pintu dosa jariyah?

Hemm, duh, maaf, ya. Kalau bahasanya mungkin terbaca kasar. Jujur, pagi ini aku kaget, begitu buka story WhatsApp-nya teman-teman. Ada seorang teman berjilbab, yang melakukan #10YearsChallenge, sedangkan 10 tahun yang lalu dia belum menutup auratnya.

Bayangkan, berapa pasang mata yang melihat foto lamanya? Belum lagi, fotomu lalu disimpan, dan dijadikan sebagai teman halusinasi orang-orang tidak bertanggung jawab. Naudzubillah.

Ah, kan upload-nya di akun sendiri.

Aku sering banget mendengar hal tersebut. Pola pikir yang seperti ini seharusnya tidak ada pada era internet seperti sekarang. Menurut kebanyakan orang, mengunggah foto di akunnya sediri, tidak masalah meskipun tanpa jilbab. Sebab, ketidaktahuan mereka, sehingga mereka yakini kalau upload foto di akunnya sendiri akan aman.

Padahal, tidak semua orang-orang yang ada di akunnya merupakan mahramnya, kan? Benar apa betul, nih?

“Kamu tahu enggak apa persamaan kamu dan tirai warteg?”

“Apa?”

“Sama-sama suka buka tutup. Bedanya, tirai warteg dibuka membangkitkan rasa lapar, sedangkan kamu buka jilbab membangkitkan syahwat.”

Tadi nyinggung dosa jariyah, emang ada?

Menyimak ceramah Ustaz Abdul Somad, bahwasanya jariyah itu berarti mengalir, dosa jariyah yang dosa yang akan terus mengalir meskipun kita sudah meninggal. Karena apa? Ya, itu tadi, mengumbar aurat di sosial media.

Sudah baik-baik berjilbab, rapi, tertutup. Eh, efek #10YearsChallenge disandingkannya foto sekarang dan masa 10 tahun lalu yang tanpa jilbab, bahkan berpakaian minim. Supaya apa? Mau kasih tahu orang-orang kalau kita sudah lebih baik dari 10 tahun yang lalu? Hati-hati riya’.

Justru begini, kalau beranggapan lebih baik dari 10 tahun yang lalu dengan mengunggah foto tanpa jilbab, lah, jadi apa bedanya dengan keadaan 10 tahun silam. Bingung? Aku lebih bingung dengan pola pikir mereka. Huaaaa …

Astaghfirullah. Terus, kalau sudah telanjur gimana?

Bertaubat, dan banyak-banyakin beristigfar. Jadikan pelajaran untuk masa depan, kalau sebelum melakukan suatu hal lebih baik dipikirkan matang-matang. Hal tersebut akan membawa manfaat atau kemudaratan, lalu segera hapus foto yang menunjukkan auratmu, yang sudah diunggah di media sosial.

Yuk, lebih bijak lagi dalam bermain sosial media. Karena sosial media itu layaknya mata pisau, jika baik dalam penggunaannya, maka diri kita akan aman. Namun, jika penggunaanya sudah salah, bisa-bisa diri kitalah yang celaka.

Sudah cukup, kurasa hanya itu sedikit kegelisahan yang kurasakan karena #10YearsChallenge. Semoga tulisan ini bisa menyadarkan siapa saja yang sudah telanjur ikutan, dan menjadi pengingat untuk siapa saja yang ada niat untuk ikutan.

Oleh: Nurwa R.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: