Peristiwa paling dilematis yang pernah kulalui adalah resign, 2016 silam. Bukan karena bosan, bukan pula karena tidak menyukai pekerjaannya. Tapi, ada banyak alasan yang tidak bisa kuceritakan—mungkin, nanti kukisahkan di tulisan lain.

Tidak mudah untuk menghadapi fase menganggur, apalagi banyak yang menyayangkan keputusanku. Kurespon saja dengan senyuman, mereka hanya belum mengerti—mungkin, tidak akan pernah mengerti. Satu yang pasti, aku lega karena orangtuaku mendukung keputusanku melepaskan karier yang baru tujuh bulan kujalani.

“Bu, adik mau kursus TOEFL ya. Buat nambah skill. Barangkali nanti ada kesempatan untuk ikut LPDP,” ucapku di telepon.

“Iya, Nduk. Wis, pokoke istikharah (pokoknya istikharah). Nek wis mantap, metu wae (Kalau udah mantap, keluar aja) terus cepat pulang, ya? Mau pulang ke Jogja dulu, ya boleh.” Jawaban Ibu mengartikan lapangnya peluk hangat, seolah siap menerima kepulangan buah hatinya yang rapuh.

 “Insyaallah, Bu. Mohon doanya.”

Percakapan di ujung telepon, memantapkan langkahku kembali pulang. Memulai hal baru, meninggalkan kesempatan melanjutkan karier sebagai staf business development di sebuah konsultan pendidikan.

Sekembaliku dari Tangerang, aku pulang ke Yogyakarta. Lepas dari perusahaan yang menerimaku pada Desember 2015 itu, aku lalu memutuskan tinggal bersama Mas Tangguh—kakak kandungku. Selain untuk melepas rindu, aku berencana mencari tempat kursus TOEFL. Aku juga mendaftar sebagai tentor di salah satu bimbingan belajar. Aku tidak mau Nganggurku ini murni menganggur.

Semua yang kulakukan kudiskusikan dengan Ibu dulu. Kalau beliau oke, aku langsung bertindak. Kalau Bapak, aku jelas tahu, beliau akan mendukung apa pun keputusanku. Biasanya beliau cuma akan merespon dengan kalimat yang sama, “Sukses ya, Nduk. Jaga ibadah.” Beda dengan Ibu yang lebih bisa menunjukkan ketidaksetujuannya. Aku maklum, setahuku sosok Ibu diciptakan lengkap dengan pandangan yang lebih detail dan kadar khawatir yang lebih pekat dibandingkan Bapak. Ya, kan?

Sebenarnya, aku masih melihat abu-abu dalam keputusan melanjutkan kuliah. Benarkah menjadi dosen adalah panggilan hati? Ya Allah, beri aku petunjuk.

Aku bisa bilang, bahwa tahun 2016 akhir benar-benar jadi masa galauku. Aku tidak paham apa sebabnya. Mungkin ini yang sering orang sebut sebagai quarter-life crisis? Usiaku memang belum menginjak 25 tahun, tapi rasanya sulit menemukan sesuatu yang benar-benar jadi inginku. Seolah, aku tak punya kemampuan mengenali diri sendiri.

Di suasana hati yang bahkan aku sulit menggambarkannya, sering kucoba berbincang dengan Ibu. Kebetulan, setelah mendapatkan tempat kursus dan bekerja paruh waktu sebagai tentor bimbel, aku punya kebebasan waktu. Aku mudah mengatur jadwal pulang ke Wonosobo.

“Insyaallah, Ibu dukung kalau mau lanjut S2. Cari kerja lagi juga oke,” sahut Ibu. “Apa mau nikah aja, Dik?” Ibu menggodaku. Aku tahu persis, Ibu sedang memancingku, berharap aku akan membongkar cerita tentang seorang laki-laki atau kisah romantika remaja akhir.

“Nikah sama siapa?” Aku yang masih jomblo menjawab sambil nyengir. “Insyaallah nanti kalau udah ada yang datang ke rumah ya, Bu.”

Aku tahu Ibu mulai gelisah. Anak perempuannya belum mapan bekerja. Apalagi, di saat teman-teman sebayanya mulai membawa laki-laki ke rumah, anak perempuan Ibu yang satu ini anomali. Belum pernah sekalipun aku mengenalkan seorang laki-laki—sebagai pacar atau calon—kepada Ibu.

Semua energi galau yang kurasakan membawaku kembali menekuni hobi lama, menulis. Aku jadi rajin mencurahkan gelisah di caption instagram. Tiba-tiba menulis jadi obat yang membuatku tetap waras dalam hujan keraguan. Aku juga bilang ke Ibu, kalau aku kembali menulis—memanggil kembali kebiasaan ketika SD dulu. Alhamdulillah, Ibu senang mendengarnya.

***

“Mbak Mawar mau umrah bulan depan.” Ibu bercerita tentang tetanggaku—seniorku di SD dulu. “Udah nyicil beli apartemen juga, tuh. Keren, ya?”

“Wah … hebat ya, Bu. Gajinya pasti gede,” ucapku.

“Iya, belum genap dua tahun aja bisa nyicil apartemen tanpa minta bantuan orangtuanya. Malah, dia bantu orangtuanya. Ya, gitu lah ya, kalau kerja di perusahaan besar.”

Deg! Aku merasa sebelah hatiku retak. Aku tahu, Ibu tak berniat menyindir atau merendahkanku, apalagi Ibu tahu aku bukan anak yang tidak mau berusaha. Tapi, kalimat itu membuatku merasa belum membahagiakan Ibu.

Aku belum punya cukup uang, belum bisa membelikan Ibu macam-macam barang. Belum lagi, gaji terakhirku berubah wujud jadi bermacam-macam jilbab yang belum semuanya laku. Ya, aku memang nekat menggunakan gaji terakhirku untuk modal jualan online. Akhirnya, begitulah, hasilnya belum maksimal. Padahal, Ibu juga bantu aku menjualnya kepada ibu-ibu arisan di kampung. Apa yang bisa membuatku dibanggakan?

Otakku memutar memori tentang satu harapan yang pernah Ibu utarakan. Keinginan yang digenggam Ibu kuat-kuat, beliau ingin anaknya—kalau tidak bisa keduanya—setidaknya salah satu dari aku atau Mas Tangguh menjadi pegawai. Aku tak menampik bahwa harapan itu baik, setidaknya menurut Ibu dan pandangan orang-orang secara umum. Gaji tetap, ada jaminan masa depan plus kehormatan alias gengsi yang sudah pasti akan didapat. Kelihatannya enak to, jadi pegawai?

Dengan ragu yang masih saja enggan beranjak dari hari-hariku, aku terjun ke lautan pendaftar CPNS tahun 2017. Kala itu aku memilih salah satu formasi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang kelak, hanya satu orang saja dari ratusan atau bahkan ribuan pelamar yang akan mendapatkan jabatan itu.

Kalau nantinya aku diterima, aku akan jadi peneliti. Itu kan, cita-citaku di semester empat dulu. Nantinya, itu akan membuatku mudah berkompromi. Lebih mudah menyukai apa yang pernah kita inginkan, bukan?

Alhamdulillah.

Aku merasa bahagia saat menatap layar, melihat hasil seleksi berkas di laman internet. Aku belum lolos ke tahap test selanjutnya. Ternyata, syarat akreditasi jurusan yang diminta adalah A. Sementara saat aku lulus 2015 lalu, jurusanku memiliki akreditasi B. Aneh, kok aku justru senang ya?

Ibu tidak menunjukkan kekecewaan ketika tahu hasil itu. Beliau hanya menanyaiku, apa yang akan kulakukan selanjutnya? Sudahkah aku mengirimkan lamaran ke tempat lain? Maksudnya, Ibu hanya ingin memastikan bahwa aku segera kembali ke jalur yang benar alias bekerja kantoran.

Aku menjawab seadanya saja, memang tak banyak memasukkan lamaran pekerjaan. Paling cuma tiga atau lima lamaran aja. Pun dari semua itu, hanya dua lamaran yang membawaku sampai ke tahap wawancara.

“Sambil cari-cari lowongan lagi coba, Dik,” kata Ibu yang artinya aku masih terlalu sempit ‘menebar jala.’ Aku hanya tersenyum, untuk tidak mengiyakan. Aku … merasa punya keinginan lain yang pernah kusampaikan kepada Ibu. Bolehkah aku jadi penulis saja, Bu? Suara hatiku menjawabnya.

Aku memang sudah menarik keinginan untuk sekolah S2. Ibu tak mempermasalahkannya, meski tetap menanyaiku. Berkali-kali meyakinkan keputusanku. Rasanya, aku memang tak sanggup lagi untuk berjibaku dengan urusan kampus, penelitian ilmiah dan semacamnya. Sepertinya, hobiku lebih siap menyambut tantangan dibanding karier akademisku. 

***

Kalau 2016 adalah tahun galau, maka 2017 adalah tahun penyembuhan. Luka-luka dan trauma perlahan mengering, aku sembuh karena menulis. Menuliskan kegelisahan ternyata memberiku banyak perenungan. Aku mulai memanjangkan uluran jilbab ke dadaku, aku mulai menemukan kembali apa yang sempat hilang selama menjadi karyawan—sungguh, aku banyak kehilangan amalan sunnah, bahkan yang wajib seperti ritual belaka—yang terpenting aku menemukan keinginanku.

Menulis juga mempertemukanku pada keluarga baru, komunitas yang aku tak cuma belajar menulis saja. Aku bahkan merasa seperti ikut kajian, dapat kelas kepribadian juga belajar soal kehidupan dari mereka yang jauh lebih berpengalaman. Di tempat itu juga, aku menemukan kenyataan bahwa menulis bisa dijadikan sebagai profesi.

Temu Penulis Yogyakarta (TPY), komunitas itulah yang menerimaku dengan sangat baik. Meski, aku tak yakin telah layak disebut penulis. Tak lama setelah bergabung, aku mendapat kesempatan untuk menulis di Trenlis. Ya, Allah apakah ini jawaban dari istikharahku?

Aku masih terus bertanya pada Allah, bahkan hingga beberapa waktu belakangan. Memastikan bahwa apa yang aku pilih adalah hal yang baik. Aku juga berdoa, semoga Allah melunakkan hati Ibu hingga dia memberi restu atas pilihan karierku.

Puncak pertentanganku dan Ibu terjadi di 2018, saat pengumuman pendaftaran CPNS di-release. Tentu, Ibu memintaku mendaftar. Aku berusaha menjelaskan apa yang kuinginkan dengan mengutarakan rencanaku.

Tak hanya itu, aku bahkan berusaha memberi gambaran tentang pendapatan. Meskipun aku tidak yakin semua penjelasanku tepat. Pandanganku tentang dunia kepenulisan masih sangat terbatas. Tapi, aku bilang bahwa aku sedang dalam tahap merintis dan belajar. Aku hanya butuh waktu.

“Tapi nanti kalau udah tua gimana? Enggak ada dana pensiun?” tanya Ibu padaku. “Sekarang juga belum ada yang nafkahin, kerja kantoran dulu aja.”

Dari jawaban itu, aku tahu bahwa rasa khawatir Ibu bukan cuma ada karena aku belum mapan. Tapi juga karena aku belum naik pelaminan. Maklum, dulu Ibu menikah di usia 19 tahun. Jadi, diusia 23 tahunku, Ibu mulai gelisah bahkan pernah berniat mengenalkanku pada beberapa laki-laki.

Aku tahu besar rasa sayang Ibu padaku. Aku tidak ingin melawannya, sungguh.

“Bu, minta izin enggak daftar CPNS ya?” Aku merendahkan suaraku yang mulai serak.

“Pokoknya daftar aja dulu!” Nada suara Ibu meninggi. Aku hanya diam.

Hari itu, aku sempat menangis di kamar mandi. Menahan isakku, kusembunyikan supaya Ibu tidak tahu. Aku ingin meredam gejolak hati, berusaha berdamai dengan keinginan Ibu. Sepertinya, aku harus menuruti kemauannya.

Sehari setelahnya, sepertinya Ibu tahu kalau aku menangis. Tentu aku tak bisa menyembunyikan sembap di mataku. Kudengar intonasi Ibu bicara menjadi lebih halus, seperti seorang yang sedang menjaga agar tak melukai lawan bicara. Pun tak membahas lagi soal CPNS.

***

Suatu kali, kuberanikan diri untuk kembali meminta restu. Aku mengawalinya dengan minta maaf. Aku bilang bahwa meskipun tidak dengan cara yang sama dengan teman sebaya atau tetangga-tetanggaku, aku tetap ingin membahagiakannya.

“Bu, kasih waktu ya. Dua tahun aja. Kalau Adik belum bisa jadi penulis, insyaallah Adik daftar CPNS,” ucapku.

“Terserah.” Hanya begitu jawaban Ibu. Ah, Ibu seperti belum ikhlas.

***

Perasaanku haru ketika melihat Whatsapp story Ibu, suatu hari. Ada foto sertifikat penghargaan yang kuterima dari TPY atas banyaknya naskahku yang tayang di website-nya. Ibu men-capture dari storyku dan menambahkan sebuah caption manis.

Selamat putriku, insyaallah Ibu dukung apapun cita-citamu. Semoga terwujud. Barakallah ya.

Mataku basah membacanya. Sejak saat itu, Ibu selalu antusias mendukungku. Tak jarang menampakkannya di whatsapp story. Bahkan kini, tak sekalipun ia memaksaku untuk mencari pekerjaan lain.

Bu, semoga usaha Adik jadi amal jariyah untuk Ibu, ya. Adik sayang sama Ibu. []

Oleh: Hapsari T. M.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: