Ilustrasi dari Hipwee

Apa Kabar Ibu di Rumah? Tengoklah, Sebelum Semuanya Terlambat

“Bu … siapa yang tinggal di rumah kosong itu?” tanyaku penasaran setelah melihat ada seorang wanita duduk di samping rumah tua yang dulunya digunakan untuk produksi jamur tiram.

“Oh … itu Bu Siti, ibunya Mbak Ana, istrinya Mas Joko. Dia sudah tiga bulan tinggal di rumah itu,” jelas ibu sambil menggoreng telur kesukaan si bungsu.

“Lhoo … kok tinggal di situ? Kenapa tidak tinggal dirumah mas Joko?” Aku semakin penasaran, karena saat mudik tahun kemaren rumah tua itu belum berpenghuni.

“Panjang ceritanya. Yuuukkk … kita sarapan!” ibu memilih untuk tidak bercerita dan mengajak kami sekeluarga untuk sarapan bersama di ruang tengah.

Udara malam ini begitu panas, akhirnya aku memutuskan untuk duduk di teras depan sambil minum es coklat dan ditemani sepiring pisang goreng buatan ibu tadi sore. Malam ini terasa begitu sunyi karena kebetulan bapak dan ibu ada acara hajatan di rumah tetangga desa. Adikku sedang mengerjakan tugas di kamarnya. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada rumah tua di depan sana. Gelap sekali. Seperti tidak ada kehidupan di sana. Aku pun semakin penasaran, dan aku putuskan untuk berjalan mendekati rumah itu.

“Uhukkk … uhukkkk,” terdengar suara batuk dari dalam rumah.

Astaghfirullahaladzim,” ucapku lirih sambil menghentikan langkah kakiku.

Aku yakin ada seseorang di dalam sana. Akhirnya aku beranikan diri untuk mengetuk pintu sambil berucap salam.

Assalamualaikum,” ucapku pelan sambil mengetuk pintu.

Waalaikumsalam,” terdengar seseorang menjawab salam dari dalam rumah.

Pintu rumah tidak segera dibuka, tetapi selang beberapa menit aku mendengar langkah kaki mendekati pintu dan pintu pun terbuka. Di dalam rumah hanya ada cahaya dari lampu minyak yang diletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Bu Siti terlihat sedang tidak sehat. Langkahnya tertatih dan suaranya pun terdengar serak.

“Kamu siapa, nak?” tanya Bu Siti lirih.

“Saya Hasan, bu. Saya tinggal di depan situ, putranya Pak Daud,” jelasku kepada Bu Siti.

“Oh iya, yang merantau ke Jakarta ya? Mari silakan masuk, tapi maaf sekali ibu tidak punya kursi, kita duduk di atas tempat tidur ibu saja ya nak,” ajak Bu Siti mempersilahkan masuk. Aku pun mengikutinya masuk ke dalam dan duduk di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu. Tidak ada kasur disana, hanya ada alas tikar dan satu bantal lusuh.

“Ibu sendirian tinggal disini?” tanyaku dengan hati-hati. Aku takut menyinggung perasaannya, tetapi aku ingin tahu jawaban dari rasa penasaranku selama ini.

“Iya nak. Ibu baru 3 bulan tinggal di sini, tetapi tetangga di sini semuanya baik,” jelas Bu Siti sambil membawakan segelas air putih untukku.

Lama aku berada di rumah Bu Siti. Meskipun baru ketemu, tetapi dia tidak sungkan untuk cerita banyak hal kepadaku. Terutama tentang anak-anaknya yang sudah selama 5 tahun tidak pernah mengunjunginya. Bahkan sekedar untuk berkirim kabar saja tidak.

Bu Siti memiliki 4 orang anak perempuan yang kesemuanya sudah menikah. Semuanya tinggal bersama suami mereka masing-masing. Ketiga anak Bu Siti tinggal di luar pulau jawa. Suami mereka ditugaskan disana, sedangkan satu anaknya tinggal tidak jauh dari rumah tua ini. Sebelum tinggal dikampung ini, Bu Siti tinggal di Bekasi bersama suaminya.

Setelah anak-anaknya menikah, Bu Siti hanya tinggal berdua dengan suaminya, Pak Nasrun. Setahun yang lalu Pak Nasrun kembali ke haribaan-Nya karena serangan jantung dan meninggalkan banyak hutang. Sebagai jaminan karena tidak bisa membayar hutang, akhirnya rumah Bu Siti disita. Tidak ada harta yang tersisa, tidak ada saudara yang bisa di mintai pertolongan. Bu Siti memutuskan untuk mengikuti anak bungsunya yang tinggal bersama suaminya di Purwokerto.

Anak yang paling dekat dengan Bu Siti adalah Mbak Ana. Dia adalah anak bungsu yang menikah dengan Mas Joko, tetanggaku. Aku hafal betul perangai Mas Joko itu seperti apa, jadi aku tidak heran kalau dia tega meperlakukan ibu mertuanya seperti ini. Jangankan memberi penerangan listrik, untuk makan sehari-hari saja Bu Siti harus berjuang sendiri yaitu dengan menjual kayu bakar atau melinjo yang dicarinya paruh waktu di hutan ujung sana. Melihat keadaan Bu Siti yang seperti itu, tidak jarang para tetangga memberikan uluran bantuan, baik berupa makanan atau pun uang. Entah apa yang ada di dalam pikiran anak dan menantunya itu, sampai begitu tega menelantarkan ibunya sendiri.

***

Tidak terasa waktu liburku sudah hampir habis. Lusa aku sudah mulai kembali bekerja, itu artinya besok pagi aku harus kembali ke Jakarta. Sebelum kembali ke Jakarta, ingin rasanya aku berbuat sesuatu untuk meringankan beban Bu Siti. Semenjak pertemuanku dengannya dua hari yang lalu, seharian ini aku belum melihatnya. Biasanya dia terlihat menyapu di halaman rumah atau duduk-duduk di samping rumah, tetapi hari ini tidak tampak sama sekali.

“Tolong!”

“Tolong!”

Suara itu membuatku terperanjat dan lari ke halaman rumah. Aku melihat Mbak Ana berdiri di depan rumah tua itu sambil berteriak minta tolong. Wajahnya sudah dipenuhi linangan air mata. Aku berlari mendekatinya dan berusaha mengorek keterangan darinya.

“Mbak … ada apa?” tanyaku panik.

“Ibu mas … ibu saya …,” dia tidak bisa berkata-kata lagi dan menunjuk ke dalam rumah.

Seketika aku berlari dan masuk ke dalam. Di atas tempat tidur bambu itu terbujur kaku tubuh Bu Siti. Badannya semuanya dingin. Aku pun menitikkan air mata saat aku tahu sudah tidak ada nafas yang tersisa.

Innalillahi waina illaihi roji’un,” ucapku lirih sambil menangkupkan kedua tangan Bu Siti.

Tangisan Mbak Ana pun pecah. Dia begitu histeris dengan kematian ibunya. Dia sangat menyesali perbuatannya karena sudah menelantarkan ibunya. Bahkan dia tidak tahu kalau ternyata ibunya sakit sampai ajal menjemputnya. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter, ternyata Bu Siti sakit diare sampai mengalami dehidrasi akut, itulah yang menjadi penyebab kematiannya.

Kasihan betul nasib Bu Siti, di sisa usianya dia harus banyak menderita. Memiliki banyak anak tetapi tidak ada satu pun yang memperhatikannya. Tidak ada anak yang mau mengurus di usia senjanya. Selama bertahun-tahun Bu Siti menahan rindu, rindu ingin berkumpul dengan anak-anaknya. Bahkan anak yang paling dekat dengannya pun begitu tega membiarkannya hidup sebatang kara dengan kondisi rumah yang tak layak. Inilah yang disebut kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah.

Oleh: Ari Madega.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan