cara bangkit dari kegagalan

Apa Kamu Alami Fobia Tentang Kegagalan?

Kalau kita berbicara mengenai kegagalan, semua orang pasti tidak ingin mengalaminya. Namun, sebetulnya beberapa keberhasilan seringkali diraih melalui kegagalan. Cerita ini mungkin bisa menjadi contoh, sebuah pelajaran tentang keberanian untuk mencari jalan keluar dari kegagalan.

Suatu ketika, seorang pemuda pulang dari Mesir setelah menyelesaikan kuliahnya di Mesir. Berbekal ijazah dari sebuah universitas ternama di Cairo, ia memasukkan lamaran ke hampir semua pesantren di Bandung untuk menjadi guru. Sayangnya, tidak ada satu pun yang menerimanya karena alasan jumlah guru yang jauh lebih banyak dari muridnya.

Kegagalan itu tidak membuatnya menyerah, justru ia mencari apa yang bisa ia kerjakan dengan kemampuan yang dimiliki. Lalu, ia coba untuk menerjemahkan satu buku bahasa Arab dan ia antar ke sebuah penerbit.

“Pak, saya coba menerjemahkan buku bahasa Arab. Silakan, Pak.”

“Haduh, buku ini sudah diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit lain. Kamu nggak riset dulu sih, mau menerjemahkan.” Ditolaklah naskah terjemahan yang ia bawa.

Masih dalam fase gagalnya, ia tidak berhenti begitu saja. Akhirnya terpikirlah untuk membuat buku sendiri, bukan lagi terjemahan. Kalau penerbit tidak mau menerima naskah terjemahan, siapa tahu naskah hasil tulisannya justru diterima. Begitu pikirnya. Saking bekerja keras menyelesaikan naskah, ia sampai sakit, terkena tifus selama satu bulan.

Ketika kemudian naskahnya selesai ditulis, ia kembali datang ke penerbit untuk menawarkan naskah tersebut. Berjumpalah ia dengan kegagalan ketiga. Penerbit tidak juga menerima naskahnya. Bayangkan, sudah sampai sakit, namun usahanya belum juga berbuah manis.

Ia tetap mencari cara supaya bisa bekerja, terpikirlah untuk menerbitkan bukunya sendiri. Dengan meminjam modal dari seorang teman, ia membangun penerbitan sendiri. Naskah yang ia buat dengan susah payah, dicetak dan diterbitkan sendiri. Semua proses ia kerjakan sendiri. Bahkan ia membuat cover buku menggunakan power point, bukan dengan CorelDraw atau aplikasi khusus desain lainnya. Benar-benar tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah. Setelah mencetak 3.000 ekslemplar, dibagikan buku itu kepada teman semasa di Mesir yang juga sudah pulang ke Indonesia. Dikirimlah ke Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi. Rupanya, penjualan tersebut tidak membuahkan hasil karena 700 ekslemplar menghilang, tidak ada kabar.

Peristiwa tersebut membuatnya memutuskan untuk menjual bukunya sendiri dengan membawa ke pameran buku di Bandung. Masih sama seperti sebelumnya, semuanya lakukan sendiri.  Mengangkat buku ke stand, menunggu stand dan menjualnya langsung ke pengunjung. Akhirnya, buku tersebut mulai terjual dengan jumlah yang tidak sedikit. Perlahan, rasa percaya dirinya naik dan semakin semangat untuk terus melakukan hal yang sama, menjual bukunya sendiri.

Usaha penerbitan ini yang kemudian membawanya mendirikan usaha lain. Meskipun ternyata masih juga menemui kegagalan dalam bisnis pulsa karena agen-agen di bawahnya banyak yang tidak membayar. Tapi ia terus maju, terus berprasangka baik kepada Allah hingga bisa mendirikan sebuah bisnis properti. Sampai pada akhirnya, ia bisa membeli rumah seharga 300 juta untuk ditinggali bersama istri dengan cara yang tidak terduga.

Kini, dialah yang kita kenal sebagai Ustadz Hanan Attaki. Dai muda penggerak pemuda hijrah. Kenal, kan?

Cerita Ustadz Hanan, mengingatkan kita bahwa takut akan gagal, tidak membuat kita menemukan keberhasilan. Barangkali, untuk menemukan keberhasilan, kita memang musti gagal dulu. Sebagaimana kalimat yang disampaikan oleh Dahlan Iskan, Mantan Menteri BUMN di era Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY).

Setiap orang memiliki jatah gagal dalam hidupnya. Maka, habiskan jatah gagal Anda semuda mugkin.

Pelajaran penting yang dapat kita petik dari pesan Dahlan Iskan tersebut ialah jangan takut terhadap kegagalan, sebab dari sanalah bermula kesuksesan.

Jika kita berpikir positif, tentu kita akan menyikapi berbagai persoalan dengan melihat sisi baiknya. Sebab, kegagalan itu sesungguhnya merupakan batu loncatan menuju kesuksesan. Sehabis gagal niscaya akan ada kesuksesan yang menunggu. Tentu, kesuksesan hanya bisa dialami oleh mereka yang tidak berhenti berusaha dan tidak gampang menyerah.

Jika kita berpikir positif, kegagalan itu sesungguhnya punya manfaat atau hikmah.

Kita bisa belajar dari kegagalan dan membenahi diri untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Jadi, amatlah jelas perbedaan sisi yang dilihat oleh orang yang berpikir positif dan berpikir negatif. Orang yang berpikir positif akan fokus pada sisi baiknya sehingga ia tidak mudah galau, stres, dan frustasi.

Dengan berpikir positif, kita akan berpikir dari sudut pandang yang lebih baik sehingga masalah hidup yang kita hadapi akan dengan mudah diselesaikan dan tidak berlarut-larut hingga menyebabkan stres. Apabila kita berpikir positif, niscaya kita akan lebih optimis untuk mengatasi permasalahan. Kita akan mencari tahu penyebab masalah atau kegagalan yang kita alami dan bangkit dengan memperbaiki kualitas diri.

Sementara itu, apabila kita berpikir negatif dan bersikap pesimis, niscaya kita akan melihat suatu masalah berada di luar jangkauan diri kita. Tak ayal, kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelesaikan persoalan itu yang sebenarnya ada solusinya. Bahkan, kita akan berlarut-larut dalam masalah dan kegagalan sehingga mudah galau dan stres.

Terkadang, kegagalan memang menjadikan kita frustasi. Tetapi, bagi kita yang berpikir positif, kita akan berprinsip bahwa mundur akan semakin menambah rasa frustasi. Dan, maju berarti kita mengatasi frustasi. Memang tidak mudah. Namun, dengan mengatasi rasa frustasi itulah, kesuksesan bisa kita gapai.

Bagi banyak anak muda, kegagalan merupakan hal yang negatif, merugikan, dan tidak mengenakkan. Namun, kegagalan tidaklah selalu demikian. Kegagalan mungkin bisa merugikan dan tidak mengenakkan diri kita dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang justru akan menguntungkan dan menjanjikan kesuksesan seperti yang kita harapkan.

Kalau diibaratkan, kegagalan itu seperti jamu. Ia pahit untuk diminum, tetapi rasa pahitnya cuma sesaat.

Sedangkan, dampaknya terhadap kesehatan tubuh itu akan bertahan lama. Kegagalan merupakan pertanda baik bahwa kita akan mendapatkan hal yang lebih baik dari sebelumnya. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.

Dengan demikian, kegagalan itu perlu disyukuri. Dengan cara berpikir positif, maka kita dapat bersyukur. Pahamilah, bersyukur atas kegagalan bisa menjadi senjata ampuh untuk menggapai kesuksesan di masa depan. Jangan sebaliknya, kegagalan dibenci, ditakuti, dan kita menjadi menyerah karenanya.

Sebenarnya, menghadapi kegagalan itu sama seperti menghadapi musibah. Cara paling bijak untuk menyikapi musibah ialah mengambil pelajaran atau hikmah darinya. Dengan begitu, kita akan menyadari bahwa di balik berbagai peristiwa yang dianggap merugikan, ternyata ada pelajaran yang bisa menjadi modal berharga untuk melangkah ke depan demi meraih kesuksesan.

Oleh: Iqro’ Firdaus, dari bukunya Muda, Kaya, dan Bahagia. Emang Bisa?

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan