Masa Orientasi Siswa SMA berakhir. Setelah semua tugas-tugas yang telah selesai, kukira aku tinggal duduk manis belajar di kelas. Ternyata aku salah.

“Tya, kamu milih ekstrakulikuler apa?’

Virra, teman satu kabupaten yang juga sekelas denganku membuyarkan lamunan. Hari ini ketua kelas menyebarkan angket ekstrakulikuler untuk para siswa. Dulu saat MOS, memang sempat ada pertunjukan tiap ekstrakulikuler. Karena aku anak ndesa yang hijrah ke kota, aku takjub. Nggak terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Saat SMP, semua ekstrakulikuler ya dipilih biasa tanpa ada promosi.

“Ehm, apa ya? Pramuka?” jawab sekenaku.

“Hahaha. Itu sih wajib. Ekstra tambahan. Yang lain coba, penginnya milih apa?”

“Belum tahu nih. Kamu apa?”

“Besok harus dikumpulkan loh. Kalau aku mau ambil ekstra silat kayaknya.”

Ah, aku harus telepon ibu dulu nih. Aku paling nggak bisa memilih. Dulu, baju yang aku pakai pun, ibu yang membelikan. Ekstrakulikuler yang aku pilih, ya ikut teman-teman. Tapi, entah kenapa, aku ingin mencoba berdiskusi dengan ibu kali ini.

Kos berwarna putih dengan tambahan ornamen alam hijau karena lumut di sana sini adalah ciri khas kosku. Ini pertama kalinya aku memilih dengan bebas, kos mana yang aku tempati.

Dulu aku selalu jadi pengikut, entah orang tua atau teman. Sebenarnya kepindahanku ke luar kota karena sekolah bukan alasan langsungku agar jadi anak mandiri. Tapi setelah merasakannya, oh bener juga ya kalau mau mandiri harus mencoba apa-apa sendiri. Begitu kesimpulanku.

Assalamu’alaikum, Bu.”

Di seberang telepon, suara ibu agak hilang. Aku memajumundurkan badanku. Geser kiri dan kanan. Begitulah saat sinyal belum mendukung, aku seperti harus berdansa bersama HP-ku.

Waalaikumsalam. Gimana, ya?

Lalu mengalirlah semua kegelisahanku tadi. Aku nggak meminta saran harus memilih yang mana, tapi apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menentukan pilihan. Kulihat lagi lembaran kertas daftar ekstrakulikuler sekolahku, aku menghela nafas.

Panjang betul, pilihannya berjibun. Dulu sih aku pernah memilih ekstra volley dan karate, tapi sebenarnya aku hanya asal saja. Aku nggak tau, aku bakat di bidang mana.

Dari kecil, aku terkenal jadi cewek macho. Rambutku pendek bob. Tak pernah lebih dari itu sampai SMP. Aku suka hal-hal yang ekstrem, itulah kenapa aku memilih ekstra bidang olahraga. Setelah kujalani, tubuhku yang nggak kuat. Seringnya, tiap selesai latihan, aku ambruk. Pernah sekali, saat itu hari volley diajukan bareng karate. Pukul 14:30 adalah waktu ekstra dimulai. Karena aku harus mengikuti keduanya, kelas karate kumasuki dulu. Setelahnya, lanjut kelas volley walaupun aku sangat telat. Malamnya, aku demam menggigil dan membuatku harus izin sekolah keesokan harinya.

“Kamu merasa suka kalau ngerjain hal-hal apa?”

Kembali ke percakapan kami. Ini pertanyaan pertama ibuku. Aku mengernyitkan dahi.

“Apa ya? Aku suka nyanyi, baca sama jalan-jalan, hehehe,” tukasku setelah lama berpikir.

“Terus ada nggak di daftar ekstra yang ada hubungannya dengan kesukaanmu?”

 Ehm, ini lebih sulit. Ada paduan suara sih, tapi aku sudah pernah ikut di SMP, penginnya ambil yang beda gitu. Yang belum pernah kucoba. Atau karawitan saja ya? Tapi nanti jatuhnya nyinden. Hmm bener-bener sulit.

“Bu, tapi nanti kalau aku sudah milih dan ternyata di tengah jalan aku bosan gimana? Kaya dulu itu tuh.”

“Ya, jangan pernah takut bayangan dulu. Itu kan baru bayanganmu. Dijalani aja belum.”

“Kan aku nanya biar waspada, Bu.”

Bismillah aja. Minta sama Allah, minta ridha-Nya. Kamu kan lagi minta lewat Ibu. Oya, juga nanti telepon Bapak, ya?”

Bener juga kata ibu, minta doa restu dulu yang penting. Perkara nanti, ya tanya lagi. Toh aku punya HP juga. Buat apa kalau nggak buat nanya ke ibu, hehehe.

Setelah memikirkan mana yang aku pilih antara paduan suara dan karawitan, jatuhlah pilihanku. Menurut ibu, karena aku sudah ada pengalaman, kenapa tidak meneruskan paduan suara saja. Setidaknya aku pernah konsisten dan fokus di bidang ini. Sudah tahu bagaimana latihannya, bagaimana interaksinya, bagaimana suasananya. Ya sudah, ikut ibu saja. Bismillah!

***

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur. Hari ini aku capek. Setelah berminggu-minggu latihan padus (paduan suara), hari ini hari terakhir kami latihan untuk upacara tujuh belas Agustus. Latihannya sampai magrib. Dan sekarang rasanya aku nggak enak badan. Kupaksakan mengambil air wudhu, memohon ridha-Nya lagi untuk acara besok. Setelahnya, aku akan telepon cintaku lagi.

“Bu, lagi apa?”

Setelah telepon di seberang menyambung, aku memulai curahan hatiku. Kami membahas ini dan itu. Walapun porsi ceritaku lebih banyak, tapi ibu mendengarkannya dengan saksama.

“Aku nggak enak badan nih, Bu. Besok kudu nyanyi lagi. Rasanya pengen bolos aja.”

“Hus! Kamu tuh ngeluh aja. Sudah, abis sholat Isya kamu buat susu cokelat. Masih ada kan stoknya?”

“Masih, Bu. Nanti aku buat deh.”

“Nah gitu dong. Anak ibu itu kuat. Anak ibu itu bisa kok ngatasin hal-hal kaya gini. Bismillah.”

Ah rasanya ingin kukecup perempuan berusia kepala empat ini. Sayang, jarak sedang memisahkan badan kami, untungnya hati kami tidak.

***

Matahari bersinar terang. Lapangan karesidenan lengang, walaupun banyak orang berbaris rapi berjajar. Semua mata awas menikmati prosesi pengibaran bendera. Merah putih dibentangkan. Sang dirijen mengangkat tangan memberi aba-aba. Satu … dua ….

Indonesia, tanah airku.

Tanah tumpah darahku…

Aku dan teman-teman padusku menyanyikannya dengan khusyuk. Sakitku tadi malam serasa hilang. Terbawa hembusan angin, bahkan menambahkan semangatku lewat kesejukannya. Ah ibu, aku menyanyi sekarang ini, memberikan satu kelebihanku untuk Indonesia, berkat semua bimbinganmu. Bu, terima kasih atas ridhamu yang menjadikan Allah ridha. Apapun pilihannya, yang penting ibu ridha. Sudah itu saja.

Oleh: Dhita Erdittya.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: