Apa Sih Bedanya Ta’aruf dengan Khitbah Itu?

Buat kamu yang sudah memasuki usia jelang dewasa, pasti mulai galau memikirkan soal pasangan hidup. Pikiran melayang seputar jodoh; kapan menikah, dengan siapa, lalu pernikahan seperti apa yang ingin kamu lakukan? Diakui atau tidak, pikiran semacam itu pasti terlintas dalam benak kalian yang kini usianya sudah 22 atau 23 tahun ke atas. Ya kan?

Berpikir semacam itu sebenarnya wajar. Tidak ada yang salah. Justru pikiran atau angan-angan tentang jodoh itu sangat manusiawi. Pasalnya, jodoh memang Allah yang menentukan. Tetapi memang sifat dasar manusia selalu saja penasaran dengan ketentuan Allah yang belum terjadi. Tapi dari pada kamu sibuk berangan-angan dan menghabiskan banyak waktu secara sia-sia, baiknya kamu segera pikirkan langkah yang harus kamu tempuh agar segera menikah.

Secara garis besar, Islam itu mengajarkan setidaknya 3 proses menuju pernikahan. Pertama ta’aruf, kedua khitbah, dan langkah selanjutnya ialah akad nikah. Cuma yang sering membuat bingung, apa sih perbedaan ta’aruf dan khitbah? Bukankah keduanya sama-sama dilakukan sebelum kedua belah pihak sepakat untuk menikah? Baiklah. Berikut ini penulis jelaskan perbedaan ta’aruf dan khitbah secara umum:

Ta’aruf berarti perkenalan, sedangkan khitbah berarti pinangan

Dari arti secara bahasa di atas, sudah jelas sekali perbedaannya. Ta’aruf bermakna proses perkenalan yang sebenarnya bisa digunakan secara umum. Bisa saja seseorang melakukan ta’aruf bukan dalam rangka menuju pernikahan.

Ta’aruf secara bahasa juga bisa digunakan untuk proses saling mengenal baik laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan atau laki-laki dan perempuan untuk menjalin persaudaraan sesama muslim. Hanya saja pada praktiknya, istilah ta’aruf digunakan untuk menggambarkan proses saling mengenal antara laki-laki dan perempuan, yakni tujuan selanjutnya ialah pernikahan. Secara umum, ta’aruf merupakan rangkaian dari proses khitbah. Bila belum saling mengenal, sebelum melakukan khitbah biasanya melakukan ta’aruf terlebih dahulu.

Berbeda sekali dengan khitbah. Karena khitbah merupakan proses pinangan. Seorang laki-laki melamar perempuan untuk memastikan dia sudah dikhitbah orang lain atau belum. Yang pasti, orang yang sudah menjalani proses khitbah, keduanya sudah saling mengenal. Artinya sudah melalu proses ta’aruf. Khitbah juga bisa diartikan, wali dari seorang perempuan meminta kepada seorang laki-laki untuk menikahi putrinya.

Jadi khitbah dalam hal ini berbeda dengan tradisi pertunangan di berbagai daerah di Indonesia. Tidak ada prosesi tukar cincin, membawa seserahan dan lain sebagainya. Bagi orang yang belum saling mengenal, sebelum khitbah pasti dilakukan proses ta’aruf dengan didampingi mahram.

Dalam proses ta’aruf ini, kamu bebas bertanya apa saja tentang calon pasangan kamu. Seorang laki-laki juga diperbolehkan melihat wajah perempuan secara seksama. Intinya sekiranya membuat si laki-laki semakin termotivasi untuk menikahi. Namun kesepakatan ulama, yang boleh dilihat hanya muka dan tangan.

Ta’aruf merupakan proses saling mengenal, sedangkan khitbah keduanya sudah sepakat untuk menikah

Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, ta’aruf merupakan proses saling mengenal satu sama lain. Baik secara fisik, sifat, hobi, visi misi ke depan, hingga kekurangan serta kelebihan masing-masing. Dalam proses ta’aruf, kamu harus tahu sebanyak mungkin informasi seputar si dia. Begitu pula sebaliknya. Dengan tahu sebanyak mungkin informasi tentang dia, proses saling mengenal pun akan lebih cepat.

Berbeda dengan khitbah, yakni salah satu pihak sudah memutuskan untuk memilihnya sebagai calon pendamping hidup, baik itu kamu atau dia. Khitbah dapat dinyatakan oleh pihak laki-laki dengan menanyakan apakah si perempuan tidak memiliki calon lain dan mau menikah dengannya. Atau sebaliknya, wali dari pihak perempuan bertanya kepada pihak laki-laki apakah sudah memiliki calon atau belum? Bila belum, pertanyaan bisa dilanjutkan apakah pihak laki-laki mau bila menikah dengan putri si wali.

Bebas memilih pada masa ta’aruf, sudah memastikan pilihan saat khitbah

Pada proses ta’aruf, kedua pihak sama-sama memiliki kebebasan untuk memilih. Memilih untuk melanjutkan ke proses selanjutnya (khitbah lalu menikah), atau stop di tengah jalan. Sedangkan dalam proses khitbah, salah satu pihak sudah menentukan pilihan untuk lanjut ke pernikahan.

Meski demikian, pihak yang lain masih memiliki dua pilihan: menerima atau menolak pinangan. Itu artinya, proses ta’aruf sangat menentukan diterima tidaknya khitbah yang kamu ajukan. Makanya penulis anjurkan, agar proses ta’aruf berhasil, siapkan diri sematang mungkin sebelum memutuskan menjalani ta’aruf.

Ta’aruf memberikan jeda waktu berpikir, dalam khitbah, waktu pernikahan harus disegerakan

Perbedaan antara khitbah dengan ta’aruf yang terakhir ialah pemberian kesempatan kepada masing-masing pihak untuk berpikir. Dalam ta’aruf, kedua belah pihak berhak untuk jeda sejenak dari komunikasi. Tujuannya untuk berpikir, istikharah, atau meminta saran kepada orang yang lebih paham dan berpengalaman. Atau untuk sekadar memantapkan pilihan antara lanjut atau tidak. Jeda yang boleh diambil memang tetap tidak boleh terlalu lama. Usahakan tidak lebih dari 1 bulan pasca proses ta’aruf.

Sedangkan dalam proses khitbah, jeda waktu berpikir itu hanya berlaku bagi pihak yang dipinang. Hanya untuk menunggu jawaban menerima atau menolak. Jeda yang dapat diambil biasanya tidak sampai 1 minggu. Bila keputusannya menerima, maka tanggal pernikahan harus segera dibicarakan.

Dalam menentukan tanggal pernikahan, lebih cepat akan lebih baik. Karena bila semakin lama menunggu, tipu daya setan baik untuk menggagalkan ataupun menjerumuskan keduanya dalam zina, itu semakin terbuka lebar.  

Nah, itulah perbedaan antara khitbah dengan ta’aruf. Sudah jelas bukan? Daripada pacaran, mending ta’arufan, khitbah, lalu langsung nikah deh. Siap?

Oleh: Gafur Abdullah.

Tinggalkan Balasan