Nggak enak lho jadi penulis itu kalau kita belum menemukan takaran kita. Maksudnya bagaimana?

Sependek penglihatan saya lho ya, para penulis pendatang baru itu kan masih terlihat bingung mau menekuni jenis tulisan apa. Lihat temennya jago buat cerpen, dia coba. Ada temennya sukses nulis buku anak, dia ikutan. Lalu pindah lagi ke tulisan lainnya: novel, kumpulan puisi, sajak-sajak, dan semua dicoba.

Ya mencoba semua jenis tulisan itu memang baik sih, minimal tambah pengalaman. Tapi mau sampai kapan?

Mungkin ada alasan teknis, misalnya dia menulis jenis tulisan karena semua jenis tulisan itu bisa menghasilkan uang. Oh, ya itu alhamdulillah.

Dulu saya pernah menulis biografi tokoh—sebagai ghostwriter—hampir dua tahun lamanya. Dapat uang sih, tapi lama-lama saya nggak bisa membohongi diri sendiri kalau memang mood menulis saya nggak di situ. Kurang sreg di hati.

Meskipun menulis itu bisa menghasilkan uang, tapi saya menulis tidak untuk mendapatkan uang. Itu kalau saya lho ya.

Kenapa begitu? Capek banget nulis demi uang itu. Tapi kita bahasnya ini kapan-kapan saja ya. Hehehe ….

Kembali lagi ke fokus menulis ya, sebenarnya akan bagus kalau bisa fokus karena dalam jangka panjang akan terbentuk branding tersendiri—secara alami ini.

Misalnya, Bang Tere Liye bisa menulis berbagai ragam tulisan, lalu beliau fokus ke novel sampai benar-benar brandingnya sebagai penulis novel. Apakah penghasilan beliau dari menulis menjadi berkurang gara-gara fokus menulis novel?

Logikanya begini, kalau penulis mau fokus pada jenis tulisan tertentu, memang pada dua tahun awal tidak banyak menghasilkan uang. Tapi jangan salah lho, ketika karyanya menumpuk dan pihak penerbit sudah mengenalnya sebagai penulis yang fokus dan pembaca karyanya sudah terbentuk, otomatis penghargaan penerbit pun akan berbeda.

Kita bandingkan, ada satu penulis yang menulis buku anak, buku nonfiksi, menulis novel—yang intinya dalam sebulan dia menulis 3 naskah. Total penghasilan dari ketiganya misalkan 9 juta sampai 12 juta.

Sedangkan penulis yang sudah matang di satu jenis tulisan, novel misalnya, hanya cukup menulis satu naskah saja bisa mendapatkan 10 juta. Ingat lho, penerbit yang sudah paham dengan potensi seorang penulis, mereka mau bayar berapa pun untuk mendapatkan naskah si penulis.

Yang satu garap 3 naskah tiap bulan untuk mendapatkan sekian juta. Yang satu cukup garap 1 naskah saja nilai uangnya hampir sama, bahkan bisa lebih banyak uangnya. Tapi capek menulisnya beda kan? Itulah kekuatan fokus dan branding.  

Baiknya menulis segala jenis tulisan atau fokus saja?

Jadi kalau kamu merasa bisa menulis dan menguasai semua teknik menulis, saran saya sih coba berikan energi besar untuk satu jenis tulisan, lalu jenis tulisan yang lainnya sebagai sambilan saja. Buat skala prioritas lah.

Misalnya kamu jago menulis cerpen, novel, dan buku anak. Coba dari ketiganya, mana yang paling sreg di hatimu?

Katakanlah menulis buku anak lebih kamu sukai. Maka jadikan menulis buku anak itu sebagai core branding. Jadikan itu yang nomor satu. Lalu cerpen yang kedua dan novel yang ketiga.

Artinya, setiap bulan kamu garap naskah buku anak. Porsinya lebih banyak ketimbang menulis cerpen dan novel. Sehingga dalam satu tahun, otomatis buku anak karya kamu jumlahnya akan jauh lebih banyak. Kemudian penerbit dan pembaca mengenalmu sebagai penulis buku anak—yang juga bisa menulis cerpen dan novel.

Dalam 6 bulan misalnya, kamu berhasil menulis 12 buku anak, beberapa cerpen, dan hanya satu novel saja. Tidak masalah, itu sudah keren banget. Yang penting kamu punya skala prioritas.

Kenapa fokus itu sangat penting?

Biar waktu yang sudah berjalan tidak sia-sia. Karena begini, para penulis yang mencurahkan energi, waktu, dan pikirannya pada satu jenis tulisan itu akan menghasilkan kreativitas yang luar biasa keren.

Kenapa bisa begitu? Ya karena setiap bulan dia menulis pada satu bidang itu saja, sehingga mau tidak mau dia dituntut untuk menguasai satu segmen itu dan menciptakan inovasi-inovasi baru. Sehingga dia menguasai satu bidang garapan, tapi sangat mendalam.

Sedangkan orang yang menguasai banyak bidang garap itu biasanya pengetahuan dan penguasaannya masih dangkal.

Nah, di situlah salah satu alasan kenapa penerbit memberikan apresiasi yang berbeda. Bukankah semakin ahli seseorang di satu bidang akan semakin mahal harganya? Sangat logis sekali.

Berkarya itu ukurannya di hatimu.

Bagi saya, menulis ini bagian dari seni dan energinya ada di hati. Buktinya kalau lagi nggak mood, ya nggak nulis. Kalau ada yang memaksakan diri, biasanya hasil karyanya kaku dan kurang enak dibaca.

Serius ini. Saya sudah pelajari beberapa tulisan orang yang sangat produktif, dan memang dari waktu ke waktu ya tulisannya begitu-begitu saja. Bahkan monoton dan cenderung membosankan. Maaf lho ya ini, saya jujur. Hehehe ….

Ketika saat ini kamu belum tahu mau menekuni jenis tulisan apa, cobalah bertanya kepada hatimu sendiri. Cirinya: ketika kamu menulis, kamu merasa plong, happy, bisa menulis tanpa tekanan, dan kamu puas dengan hasilnya. Bila hasil tulisannya kurang bagus, kamu mau merevisinya hingga hasilnya bagus. Semuanya dilakukan dengan hati yang gembira.

Pokoknya, secara alami—dengan sendirinya—kamu mencurahkan semua energi di jenis tulisan itu. Bahkan kamu sama sekali tidak berpikir soal uang, apalagi branding. Jangankan berpikir keduanya, berpikir untuk terbit pun tidak. Inilah pondasi awal untuk berkarya. Kamu flow.

Tapi jangan salah lho. Ada pengalaman penulis yang cukup unik ini. Selama dua tahun dia menulis saja beberapa naskah dan sama sekali belum ada yang terbit. Nah, ternyata di tahun ketiga ada satu karya terbarunya yang terbit dan banyak orang yang suka karyanya.

Apa yang terjadi kemudian? Tentu saja penerbit meminta naskah-naskahnya, maka stok naskah yang dulu pernah dibuatnya itu direvisi dan diperbaiki. Akhirnya, semua naskahnya terbit!

Goal awal menulis memang begitu: panggilan hati. Lalu dengan sendirinya akan konsisten menulis, sampai semua karyanya itu menemukan takdirnya sendiri-sendiri.

Kamu boleh percaya dan boleh tidak, tapi pola berkarya seperti itu benar-benar terjadi.

Lalu bagaimana soal uang? Otomatis akan datang dengan sendirinya, tanpa diminta-minta, tanpa harus tawar-menawar, malah dikasih lebih-lebih melebihi bayangannya sendiri.

Nah.

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: