Apakah Kalian ‘Melihat’ Allah di Balik Hujan?

Water is life, begitu kata saluran TV Natgeo Wild Life. Ketika hujan mulai turun, sungai-sungai dan padang-padang mulai berdenyut kehidupannya setelah berhibernasi di masa kering. Rumput-rumput bersembulan, tunas-tunas berloncatan di rerantingan dan dedahanan, lalu kembang-kembang dan buah-buah berhadiran, binatang-binatang pun berbahagia dan beranak-pinak. Dari jenis belalang yang tak terpikirkan hingga burung-burung dan mamalia-mamalia yang lazim dikenal.

Semua itu bermula dari air yang turun dari balik awan-awan. Semua kehidupan bermula memang dari air.

Allah menuturkan dalam al-Qur’an bahwa alam raya ini diciptakan dari air (kini sains mengenalnya sebagai hidrogen). Allah pulalah dalam surat al-Waqi’ah menghikayatkan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang menampar nalar sehat kaum musyrik perihal air ini.

“Apakah kalian tidak melihat air yang kalian minum? Apakah kalian yang nenurunkannya (air hujan) dari balik awan-awan ataukah Kami yang menurunkannya?”

Kini, sains membuktikan bahwa proses terjadinya hujan yang melalui penguapan air di darat (termasuk lautan), lalu naik ke angkasa, dan membentuk awan-awan, kemudian turun dalam bentuk hujan, dan kita bersama seluruh makhluk bumi mereguknya, sepenuhnya selaras dengan ayat-ayat tersebut.

Lalu di baris ayat berikutnya, Allah mendeklarasikan kemahakuasaanNya:

“Jika saja Kami berkehendak maka akan Kami jadikan asin air itu, maka bagaimana bisa kalian tak bersyukur.”

Bayangkanlah semua air di bumi ini (ternasuk air hujan) rasanya menjadi asin. Persis air laut. Bagaimana kita akan meminumnya; bagaimana tanaman bisa tumbuh; dan bagaimana binatang-binatang bisa hidup dan beranak-pinak?

Sudah pasti akan terjadi kematian dan kehancuran.

Sedemikianlah Allah menolong dan manafkahi semua makhkukNya, dari rumput, belalang, kambing, hingga manusia, dengan tidak menjadikan air hujan asin, yang itu artinya kita dimurahkan untuk hidup sehat dan berketurunan dengan mudah, lantas mengapa kita tidak kunjung bersyukur padaNya?

Mengapa sulit sekali bagi kita untuk menjadikan tamsil naqli yang terbukti benar secara sains empiris hari ini sebagai peneguh iman akan kemahakuasaan dan kasih sayang Allah?

Mari berhitung. Umpama air hujan asin, sumur-sumur asin, sungai-sungai asin, bagaimana minum kita? Oke, telah dikenal teknologi penyulingan kini. Air laut pun bisa disuling jadi tawar. Coba hitung, berapa biaya tambahan yang harus kita anggarkan untuk beli air penyulingan? Setiap hari, seumur hidup?

Bila kalian kaya, biaya tak masalah, bagaimana dengan para karyawan? Itu artinya kalian yang kaya harus menambahkan item uang penyulingan air sebagai biaya operasional para karyawan. Tidak mungkin tidak. Berapa banyak itu? Bagaimana kalian memenuhinya?

Lalu pikirkan tentang hewan-hewan ternak yang juga butuh air tawar hasil penyulingan. Berapa banyak biayanya? Bagaimana pula dengan hewan-hewan liar? Bagaimana dengan rumput, mawar, jambu, pisang, dan segala jenis tumbuhan? Berapa biaya yang harus kalian keluarkan untuk membuat semua itu tetap hidup?

Subhanallah. Sampai di sini saja, terlihat jelas betapa dhaifnya kita di hadapan perkara air hujan. Kita yang merasa kaya sekalipun akan tumbang dihabisi anggaran air penyulingan itu. Semua manusia akan karut-marut menghadapi kebutuhan pokok itu? Semua negara akan berlomba untuk mendapatkan sumber daya pokok kehidupan itu.

Kekacauan, kegersangan, keterombang-ambingan, penderitaan, bahkan peperangan dan kematian akan berserak di mana-mana “hanya” karena soal air ini. Ya, air yang tiap saat kita pakai buat minum, mandi, dan memasak dengan murah meriah dan semudah membalikkan telapak tangan ini. Air yang bersumber dari air hujan, yang diturunkan oleh Allah dalam rasanya yang tawar, yang dengannya kehidupan ini berjalan terus. Air hujan yang kita tak sempat memikirkannya, apalagi memandangi dan menyadarinya sebagai bagian dari karunia Allah dan bukti nyata kemahakuasaanNya di depan mata.

Lalu, mengapa kita tak kunjung bersyukur padaNya? Mengapa kita malah condong pada kekufuran?

Mengapa kita tak tahu diri betul dengan terus-menerus mereguk air karuniaNya, tetapi kita tak mengabdi padaNya, malah menentangNya dengan meniadakan keberadaanNya?

Makhluk durhaka macam apa sebenarnya kita ini?

Sungguh, demi Allah, jika kita mampu membuka mata, telinga, dan hati di hadapan hujan yang sedang deras dari langit, ada Allah di situ. Ada manifestasi kemahakuasaanNya di situ. Ada wujud kasih sayangNya di situ. Untuk semua kita, semua makhlukNya, di bumi ini.

“Rabbana ma khalaqta hada bathila subhanaka faqina ‘adabannar, Ya Tuhan kami tidak ada kesia-kesiaan dalam semua ciptaanMu, Maha Suci Engkau dan jauhkanlah kami dari siksa neraka.”

Aamiin.

Oleh: Edi AH Iyubenu

Tinggalkan Balasan