Ilustrasi dari Voxpop.

Apakah Perempuan Harus Terus Menunggu Tanpa Kepastian?

Ponselku berdering. Tertera nomor asing di layarnya, telepon rumah berakhiran tiga digit kembar. Nomor cantik, pikirku. Kuusap layar untuk menerima panggilan itu, ditemani degub jantung yang menjadi tidak terkendali. Jarang sekali aku menerima panggilan dari nomor asing.

“Selamat siang, dengan Alma Hanifah?”

“Iya, betul. Saya Alma Hanifah.”

Perempuan di telepon itu mengenalkan diri sebagai Dila, front officer di kantor bimbingan belajar ternama di Yogyakarta. Wanita bersuara lembut itu, memberi kabar bahwa aku diterima menjadi salah satu pengajar di sana. Lusa, aku harus datang ke kantor, bertemu dengan manager untuk menandatangani kontrak kerja.

Sebelum menutup telepon, kuucapkan terima kasih kepada Mbak Dila. Kusampaikan bahwa aku akan mengonfirmasi kehadiran segera, setelah memohon izin kepada Bapak dan Ibu. Rasa syukur meluap-luap, sampai aku tidak sadar mengucapkan kata terima kasih lebih dari lima kali.

Aku langsung mengirim pesan kepada Bapak yang masih berada di kantor, lalu ke luar kamar menuju dapur untuk memberi kabar ini kepada Ibu.

“Buuuuu… Alma dapat pekerjaan!” Kupeluk Ibu dan ia membalas pelukanku lebih erat.

“Alhamdulillah, ya Allah. Selamat ya, Nak.”

Lega rasanya, setelah setahun lebih menganggur, akhirnya aku bisa mendapatkan pekerjaan. Kudapati wajah Ibu berbinar-binar, nyata sekali perasaan khawatir yang selama ini Ibu rasakan seketika pudar. Ia memelukku sekali lagi, lalu mencium kedua pipiku.

***

Malam minggu yang tak lagi kelabu. Sembari menyiapkan keperluan untuk berangkat ke Jogja, aku mengirim chat untuk teman spesialku.

‘Mas Bagas, aku besok ke Jogja. Aku sudah dapat pekerjaan. Senin kita ketemu, ya? Kita ngobrol.’

Kutunggu balasannya, sampai selesai mengemas baju ke dalam ransel. Ia baru membalas tujuh menit setelah chat-ku terkirim.

‘Selamat ya, Al. Aku turut senang. Nanti kuatur waktunya. Belum tahu bisa apa nggak, lagi banyak meeting.’

Pesan balasan dari Mas Bagas membuat perasaanku sedikit mengganjal. Apalagi, seminggu ini kami sedang berselisih paham. Itulah alasan mengapa aku ingin segera menemuinya.

Tak ingin melarutkan diri dalam percakapan yang kurang nyaman, kuputuskan menyudahinya dengan ucapan selamat tidur. Sudah hampir dua tahun aku dan Mas Bagas dekat, kami intens berkabar meskipun terpisah sejauh Semarang dengan Jogja.   

Esok, aku akan berusaha bertemu dengannya, laki-laki yang kini sedang bekerja sebagai junior manager di sebuah perusahaan bergengsi. Laki-laki yang membuatku kesal sekaligus … rindu. Apakah itu yang membuatku jadi sulit tidur malam ini?

***

Minggu pagi, aku sudah siap berangkat. Ransel maroon dan sebuah tas jinjing berisi dua kotak tahu bakso dan satu bungkus wingko babat sudah siap untuk kubawa. Maklum, harus menginap di indekos temanku, malu kan kalau tidak membawakannya buah tangan.

Kakak perempuanku—yang kebetulan sedang ada di rumah—sedikit menggoda saat aku menyalaminya untuk berpamitan.

“Wah, kalo ke Jogja berarti ketemu pacarmu ya, Al? Cie … “

“Ah, siapa sih, Mbak? Aku nggak pacaran kok, Mbak.” Jawabku sambil senyum-senyum malu

“Halah, malu-malu. Padahal hape-mu penuh foto dia, to? Hahaha … “Kata Mbak Alya sambil memegang perutnya yang semakin membuncit karena sedang hamil tua.

Aku cuma ketawa, sambil berlalu dan naik ke motor. Bapak telah siap mengantarku menuju terminal Sukun. Aku melambaikan tangan ke Ibu, Mbak Alya dan Mas Bayu—kakak iparku.

Tak sampai tiga puluh menit perjalanan, aku telah sampai di Sukun. Saat bersalaman dengan Bapak, ia berkata dengan halus

“Alma hati-hati di jalan ya, Ndhuk. Kalau nanti bertemu pacarmu di Jogja, tolong bilang untuk segera ke rumah ketemu Bapak, ya.”

“Ih, Bapak. Bukan pacar kok. Ehm… Alma berangkat dulu nggih, Pak. Assalamu’alaikum … “

Bapak hanya menggelengkan kepala sambil melempar senyum saat aku melambaikan tangan ke arahnya. Begitulah, cara halus Bapak—pria berusia setengah abad—menjaga anak perempuan bungsunya.

***

Pukul 06.00 pagi, Zahra berangkat lebih dahulu. Sementara pergi satu jam setelahnya. Aku menggunakan jasa ojek online dari indekos Zahra—teman SMA sekaligus teman kuliahku—menuju kantor marketing sebuah bimbel di jalan Magelang.

Pagi itu, kukenakan setelan rok dan blus bernuansa krem, berpadu dengan pasmina bunga-bunga. Tidak lupa, kupoles bibirku dengan lipstick warna nude. Kali ini, rasa percaya diriku sedang berada pada puncaknya.

Setelah sampai dan masuk ke bagian depan kantor, resepsionis menanyakan keperluanku. Segera, aku diantar ke sebuah ruangan yang tak begitu luas. Aku duduk berhadapan dengan seorang laki-laki berkemeja biru muda. Beliaulah manager di kantor itu. Setelah sedikit berbasa-basi, ia menyodorkan map berisi kontrak kerja yang harus kupelajari.

Alhamdulillah, aku akan mulai bekerja pekan depan. Isi kontrak tidak begitu memberatkan. Aku hanya perlu melewati tiga bulan masa percobaan dan satu tahun sebagai pengajar di sini. Gaji dan tunjangan atau bonus, kupikir bukan jadi hal yang terlalu kukejar. Aku sadar diri bahwa pengalamanku memang masih minim.

Satu hal terpenting, aku diizinkan untuk menikah di masa kontrak ini. Tanpa ragu, kububuhkan tanda tangan di atas materai. Ketika pena menyentuh kertas, entah kenapa pikiranku melayang pada sosok Mas Bagas. Sepertinya, membicarakan pernikahan memang membuatku mengingat laki-laki itu.

***

Seusai menandatangani kontrak dan diajak keliling serta mengamati suasana bimbel hingga siang, aku pergi menuju Jogja City Mall. Selain karena nanti sore akan bertemu dengan Mas Bagas, aku juga belum bisa pulang ke kos Zahra, ia pasti belum pulang. Sambil menunggu, kuputuskan untuk menonton sebuah film. Tak apalah nonton sendiri, yang penting tidak perlu terlalu lama menunggu Mas Bagas.

Pukul 15.45, film selesai diputar. Aku segera menghubungi Mas Bagas. Dia memintaku menunggunya di arena food court. Duduklah aku di sebuah bangku dalam lokasi bernuansa bohemian. Baiklah, kata Mas Bagas ia akan sampai di sini setengah jam lagi.

***

Mas Bagas duduk di hadapanku setelah membeli makanan di sebuah gerai. Ia memulai percakapan, bertanya seputar pekerjaan baruku. Sampai akhirnya, aku berusaha menanyakan kesiapannya mendatangi Bapak.

“Mas, aku nggak dilarang nikah. Alhamdulillah … Mas kapan mau ke rumah? Sudah ditanya sama Bapak.”

“Sudah aku duga, kamu mau bahas itu lagi. Aku sudah bilang kan di telpon waktu itu … “

“Mas, dari dulu aku selalu manut apa kata kamu. Kamu bilang aku harus wisuda dulu, setelah wisuda malah kamu minta nunggu kamu selesai training kerja. Lagi, pas trainingmu habis dan kamu jadi junior manager, kamu minta aku kerja dulu. Aku sudah dapat pekerjaan, sekarang apa lagi?” Jawabku dengan nada setengah meninggi.

“Al, sebentar lagi di kantor ada promosi jabatan. Aku sudah hampir dua tahun di sana, aku punya kesempatan untuk naik ke level senior manager. Kalau aku bisa naik jabatan, aku bisa ditempatkan di Jakarta atau Surabaya.” Mas Bagas berusaha menjelaskan.

“Lalu?” Aku menjawab lagi dengan bertanya.

“Kalau di Jogja UMR-nya lebih kecil, Al. Aku minta kamu sabar ya, Insyaa Allah karierku setelah ini, akan membuat kita hidup nyaman.”

“Mas, Bapak sudah nggak mau nunggu … “

“Tapi, kamu bisa kan, Al, bilang baik-baik ke Bapak kamu?”

“Bilang apa lagi? Bilang kalau kamu nggak berniat serius sama aku? Bisa!” Aku sedikit membentak, kesal.

“Alma, aku juga pengin nikah. Tapi ya, itu tadi … “

“Udah deh, gini aja, aku tunggu sampai besok malam ya, Mas. Silakan telpon Bapak untuk membicarakan niat kamu ke rumah. Kalau kamu tidak mau, maaf kalau aku tidak mau nunggu lagi. Aku sudah siap menikah, Mas.”

“Al … “

“Sudah, mas. Aku pulang ke Zahra dulu. Nggak usah antar, aku naik ojek online saja.”

Aku dan Mas Bagas, berjalan pulang terpisah. Larut dalam pikiran masing-masing.

***

Selasa malam, aku sudah ada di rumah, aku sudah bilang Bapak bahwa aku memberi tenggat sampai malam ini untuk Mas Bagas. Sampai pukul 11 Malam, handphone Bapak tak juga menerima panggilan.

“Bapak, Alma serahkan semuanya sama Bapak. Kalau anaknya teman kantor Bapak itu memang serius, Alma mau diajak ta’aruf. Apa yang menurut Bapak baik, Insyaa Allah Alma menerima. Alma percaya sama Bapak.”

“Baik, besok Bapak hubungi Ayahnya Fatih, ya. Bapak tanyakan soal niatannya untuk mengenalkan kamu sama Fatih.” Bapak menjawab dengan senyum, lalu memelukku erat. []

Oleh: Hapsari TM.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan