Apapun Masalahmu, Hindari Curhat Sama Teman Laki-Lakimu

Awalnya aku acapkali curhat dan mendiskusikan tentang pekerjaan terkait dunia pendidikan ke teman laki-laki yang juga satu pekerjaan denganku. Sebut saja namanya Pak Abdi. Aku sudah berkeluarga, Pak Abdi pun demikian halnya. Usia Pak Abdi jauh di atasku dan selama ini aku menganggap dia sebagai seniorku.

Selain sebagai pengajar di bidang sains, Pak Abdi juga menjabat sebagai wakil kepala sekolah. Banyak terjadi polemik di dalam lembaga sekolah tempat aku membagi ilmu dengan murid-muridku itu. Puncaknya saat aku terlibat bersitegang dengan Bu Sinta selaku pimpinan MTS dan Pak Nugroho selaku pimpinan SMK.

MTS dan SMK di tempatku mengajar berada di bawah naungan yayasan yang sama. Kebetulan aku diamanahi mengajar di keduanya. Sebenarnya perseteruan tersebut hanya bermula dari kesalahpahaman saja. Namun meruncing hingga salah satu dari pimpinan sekolah tersebut mengataiku sebagai pengadu domba.

“Bu Nanda, Anda ini benar-benar tukang adu domba. Tukang ngompori yang tidak baik!”

Deg! Jantungku serasa tidak berdetak dalam sesaat. Ini adalah sebutan paling hina yang pernah mampir dalam hidupku.

Tidak hanya aku, nama Pak Abdi juga turut disebut-sebut sebagai pendukung langkahku mengadu domba antara Bu Sinta dan Pak Nugroho. Betapa hancur hatiku, serasa dicabik-cabik dengan sebilah pisau yang baru diangkat dari batu pengasahan.

Ketika pagi menjelang tubuhku terasa gontai dan tidak berenergi mengingat kejadian yang aku alami. Meski sangat berat tetap kulangkahkan kakiku menuju sekolah. Aku butuh teman untuk berbagi dan menumpahkan keluh kesahku sekaligus memberi masukan “aku harus bagaimana”.

Entah mengapa aku memilih mencurahkan segala unek-unek yang menyesakkan dada ini kepada Pak Abdi. Karena selama ini—tepatnya sebelum kasus mencuat—aku juga banyak mengobrolkan tentang situasi sekolah dengannya.

Saat itu aku dan Pak Abdi sedang sama-sama tidak ada jam mengajar. Tanpa sengaja aku dan Pak Abdi duduk satu meja menikmati makan siang di kantin sekolah. Saat itu pula aku sampaikan hal yang sedang mengganjal hatiku sambil menangis sejadi-jadinya.

Aku meminta maaf atas kelalaianku. Karena akulah nama Pak Abdi menjadi ikut tercoreng di mata pimpinan sekolah. Sambil sesenggukan kuutarakan semua beban yang menumpuk di dadaku.

“Pak Abdi mohon maafkanlah atas kecerobohan saya, bukan maksud saya menyeret nama Bapak. Saya tidak menyangka akan seperti ini. Sungguh saya merasa telah merusak nama baik Pak Abdi.”

Dan … panjang lebar aku ceritakan semuanya.

“Ya Allah Bu Nanda, mengapa berpikiran seperti itu. Saya sungguh tidak kenapa-kenapa. Tapi, ya sudahlah untuk menenangkan hati Ibu, saya maafkan. Tapi sungguh saya baik-baik saja lho Bu,” jawab Pak Abdi tenang.

“Sudahlah Bu Nanda, kejadian ini hanya bagian kecil dari urusan dunia. Bu Nanda tidak perlu larut dalam kesedihan. Gunakanlah sabar sebagai senjata.” Terang Pak Abdi menguatkanku.

Aku merasakan ketenangan yang mendalam setelah menyampaikan perihal itu kepadanya. Dan semangatku tumbuh kembali sejengkal demi sejengkal setelah menyimak nasihat-nasihat beliau yang bagiku seperti menemukan sumber mata air di padang nan gersang.

Hingga pada suatu hari aku dibuat terperanjat dengan pengakuan Pak Abdi. Dia mengungkapkan perasaannya dengan jujur bahwa dia mencintaiku. Pada saat kami bersimpang jalan di koridor sekolah, Pak Abdi meluncurkan kata “i love you” kepadaku dengan sangat jelasnya.

Semula aku beranggapan jika Pak Abdi hanya sedang bercanda, namun ternyata esok harinya dia menagih jawaban atas ucapannya. Aku pun hanya menjawab dengan candaan.

“Bapak ini apa-apaan sih, bisa saja becandanya. Nggak lucu ah ..”

“Loh, Bu Nanda, saya sedang tidak bercanda, saya serius.”

Degg!

Dan Pak Abdi terus mendesakku meminta jawaban dengan segera apakah cintanya aku terima atau tidak? Dari situlah aku berkeyakinan kuat jika Pak Abdi memang sedang tidak melawak. Karena sejauh ini aku mengenal Pak Abdi sebagai pribadi yang tenang, serius, dan pendiam. Tidak suka melucu.

Namun bagaimana bisa dia jatuh cinta kepadaku. Pada suatu kesempatan aku beranikan diri untuk bertanya mengenai itu kepadanya. “Kalo boleh tahu, sejak kapan Pak Abdi merasa suka dengan saya?”

“Sejak Bu Nanda curhat ke saya,” jawab Pak Abdi singkat.

Jadi Pak Abdi mulai menyimpan perasaan cinta terhadap diriku tepatnya sejak aku intensif curhat dengannya dan finalnya sejak aku menangis di hadapannya pada beberapa pekan yang lalu.

Dari persoalan yang aku anggap berat menumbuhkan perkara yang lebih rumit lagi, tersebab aku curhat pada teman laki-lakiku. Parahnya, kami berdua sudah memiliki keluarga masing-masing.

Dan aku pun tidak memiliki perasaan sebagaimana perasaan Pak Abdi kepadaku. Kini, nasi telah menjadi bubur. Curhatku pada Pak Abdi tidak akan pernah bisa aku tarik kembali. Dan cinta itu telah mengembang subur di hatinya. 

Menurut kalian, aku harus bagaimana?

Oleh: Zakiyya Sakhie.

Tinggalkan Balasan