Apapun yang Terjadi, Jangan Minta Satu Hal Ini Sama Allah

Kalau ingin pandai meminta sesuatu sama Allah, sebenarnya kita bisa belajar dari orang-orang yang terbiasa hidup serba sulit.

Karena kadang mereka ini lebih khusyuk ketika meminta. Feel-nya lebih dapet ketimbang orang yang suasana hatinya sedang happy. Jadi doa yang dikirim ke langit serasa benar-benar doa yang sangat jitu. Ya, mereka tulus memintanya.

Seseorang yang sedang terhimpit masalah utang, dia akan minta dimudahkan jalan untuk melunasinya. Orang yang sakit parah, sering kali minta segera diangkat penyakitnya dan segera sehat seperti sedia kala. Atau seorang jomblo yang sudah jatuh tempo, dia akan berdoa siang malam minta didekatkan dengan jodohnya.

Apa pun yang kita minta pasti akan dikabulkan oleh Allah. Sangat mudah bagi Allah untuk mengabulkan doa-doa. Memang kita enggak pernah tahu kapan doa itu akan terkabul. Itu hak Allah. Mau kapan dan dalam bentuk apa doa itu dikabulkan. Yang jelas doa kita harus tulus dan tidak terputus.

Meskipun kita diperbolehkan minta apa pun sama Allah, tapi ada satu hal yang enggak boleh kita minta. Apa itu? Kematian.

Iya, sesulit apapun situasi yang kita hadapi, kita dilarang meminta kematian. Memangnya ada yang minta kematian? Ada!

Saya pernah mendengar orang-orang yang sudah sakit parah meminta kematian. Mereka sudah bosan menanggung sakit yang tak kunjung hilang. Mereka merasa putus asa dan menganggap mati adalah satu-satunya jalan terbaik untuk bebas dari rasa sakit.

Saya akrab dengan hal semacam ini karena saya seorang perawat. Sering berinteraksi dengan pasien-pasien yang beraneka ragam keluhan sakitnya. Bahkan juga mendampingi pasien menghadapi sakaratul maut.

Bukan hanya pasien, mungkin kita juga pernah mendapati sepasang remaja yang dilanda patah hati. Sedihnya seperti enggak ada obatnya. Mau makan enggak enak, tidur tak nyenyak, pokoknya hidup di dunia ini terasa seolah enggak ada gunanya.

“Aku mau mati saja jika hidup tanpa kamu.” Ehem….

Jangan main-main meminta kematian, Gaes. Meskipun kesempurnaan orang yang menolakmu enggak ketulungan.

Coba renungkan hadits riwayat Bukhari berikut ini:

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Isma’il bin Abu Khalid dari Qais bin Abu Hazim dia berkata:

Aku pernah menjenguk Khubbab, sementara dirinya berobat dengan kay (terapi dengan menempelkan besi panas pada bagian tubuh yang sakit) sebanyak tujuh kali, lalu dia berkata:

“Sesungguhnya para sahabat kami yang telah mendahului kami, mereka telah pergi sementara mereka tidak mendapatkan bagian sedikitpun dari kehidupan dunia melainkan hanya sepetak tanah, sekiranya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melarang kami untuk mengharapkan kematian, niscaya kami akan mengharapkan kematian.”

Di kesempatan lain kami menemuinya lagi sementara dirinya sedang membangun rumahnya, lalu dia berkata, “Seseorang akan diberi balasan dalam semua yang ia belanjakan selain yang ia belanjakan untuk sebidang tanah ini.” (HR. Bukhari No 5240)

Jelas sekali dalam hadits riwayat Bukhari di atas menerangkan bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita mengharap kematian. Meskipun sedang dalam keadaan sakit parah.

Dalam hadits tersebut diceritakan bahwa, Khubbab, seseorang yang hidup pada zaman Rasulullah sedang menjalani terapi dengan menempelkan besi panas pada bagian tubuh yang sakit. Sebanyak tujuh kali. Bisa dibayangkan bagaimana penderitaan yang dialami oleh Khubbab?

Namun, dia tetap menahan diri untuk tidak meminta kematian. Karena dia tahu betul bahwa Rasulullah melarang umatnya meminta kematian.

Coba kita lihat fenomena zaman sekarang, baru diputus pacar saja sudah bilang, “Aku tak bisa hidup tanpamu, sebaiknya aku mati saja.”

Padahal kan pacaran itu bukan hubungan yang serius. Artinya memang belum bisa dianggap sah sebagai suatu bentuk hubungan yang bisa mengubah status seseorang menjadi mahram. Ya, jadinya konyol saja kalau bawa-bawa kematian.

Lalu bagaimana nih, biar kita enggak mudah meminta kematian sama Allah?

Pertama, yakini bahwa semua yang ada di langit dan bumi ini di bawah kendali Allah sepenuhnya.

Keyakinan ini sebagai dasar keimanan kita. Kalau keyakinan ini lemah, hati kita pun akan mudah kehilangan arah. Bisa jadi ketika mendapat sedikit cobaan dari Allah, langsung berontak dan menyalahkan takdir.

Keyakinan yang kuat akan membuat kita memiliki kekuatan untuk mengahadapi setiap cobaan. Karena seberat apapun cobaan yang datang, hati kita tetap menganggapnya sebagai ujian. Sebagai bukti rasa sayang Allah kepada hamba-Nya.

Kedua, perbanyak bersyukur.

Bukan hanya saat mendapat rezeki saja, bersyukur bisa dilakukan setiap saat. Bahkan orang yang terbiasa bersyukur akan selalu merasa hidupnya senang. Karena Allah Swt akan terus melipatgandakan kenikmatan kepada orang-orang yang senantiasa bersyukur.

Lebih hebat lagi kalau kita mampu bersyukur ketika sedang tertimpa musibah. Karena sesungguhnya selalu ada kemudahan setelah kesulitan yang menimpa kita. Bersyukur ketika dalam kesulitan menunjukkan bahwa kita yakin bahwa Allah akan segera memberi kemudahan.

Ketiga, perbanyak zikir ketika sedang tertimpa musibah.

Bisa jadi, masalah yang saat ini kita alami adalah imbas dari kesalahan yang pernah kita lakukan sebelumnya. Mungkin kita kesulitan mengingat kapan dan apa saja kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat. Karena ada kesalahan yang kita sengaja, dan ada pula yang tidak.

Kesalahan yang tidak disengaja inilah yang sulit kita deteksi. Sehingga kita perlu bezikir untuk membersihkan dosa-dosa dari kesalahan-kesalahan tersebut. Kita seharusnya minta diampuni dosa-dosa kita, bukan minta mati yang justru semakin menambah dosa kita.

Keempat, sering-sering mengingat kematian.

Proses dicabutnya nyawa dari raga itu sakitnya luar biasa. Kecuali jika seseorang mati syahid. Dengan mengingat kematian, kita akan senantiasa sadar bahwa kematian itu sangat dekat. Kita selalu menakar seberapa banyak bekal yang sudah kita kumpulkan untuk kehidupan akhirat.

Jangan terlalu percaya diri merasa bekal kita sudah cukup. Jalani hidup sebaik mungkin, tak perlu menuntut Allah untuk mempercepat kematian. Tentu saja setiap hamba Allah sudah jelas kontraknya, kapan nyawanya akan dicabut. Tanpa diminta pun Allah akan menyabut nyawa kita jika sudah habis masa kontraknya.

Kelima, sikapi setiap masalah dengan sabar.

Sabar menyikapi masalah bukan berarti diam menunggu hasil akhir. Melainkan terus berupaya mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi. Bukan pasrah karena lelah, melainkan pasrah karena telah berusaha tanpa kenal lelah.

Yakin saja bahwa Allah akan kasih pertolongan dan solusi yang terbaik untuk kita. Jangan buru-buru memutuskan bahwa hanya kematian solusinya. Karena hidup mati seseorang sepenuhnya di tangan Allah.

Nah, kalau kita sedang ditimpa musibah, sedang dapet masalah, sedang ditinggal pasangan, jangan buru-buru minta putus kontrak sama Allah. Jangan minta kematian, Gaes.

Minta saja yang lain, yang baik-baik. Yang jelas-jelas enggak dilarang sama Allah. Minta jodoh terbaik untuk mantan, misalnya. Ehem.

Oleh: Seno Ners.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan