kisah muslimah yang melepas jilbab

Awalnya, Aku Hanya Ingin Tampil Trendi Saja

Pada saat tertentu, kita bisa saja bertemu dengan orang yang menganggap diri kita sangat baik; mendekati sempurna. Dan, pada saat itu juga kita merasa sangat kotor, penuh debu, atau lumpur dosa.

Aku menatap wajah dalam cermin. Kulit sudah bersih. Model rambut baru ala Polwan. Sedikit cat warna pirang menghiasi bagian atas rambut. Sebagai pemilik wajah, aku juga ikut ‘pangling’ melihat diri sendiri. Mohon maaf bagi yang mendadak mual.

“Cantik banget. Semoga besok menang ya?” kata Mbak pemilik salon sambil merapikan beberapa produk perawatan ke wadahnya.

Kutarik dua sisi bibir, dan mengangguk yakin.

Kawan …

Ini adalah tahun keduaku melepas jilbab. Ya. Aku sengaja buka-tutup jilbab demi lebih tampil trendi. Oh, maaf. Aku tidak bermaksud mengatakan kalian yang berjilbab tidak trendi. Trendi di sini tentu saja menurutku. Karena, aku berteman dengan banyak gadis trendi yang tidak berjilbab.

Aku lulusan sebuah pesantren. Ayat tentang menutup aurat tentu saja hapal di luar kepala. Surat Annur ayat 31, atau juga Al-Ahzab ayat 59. Tapi, aku janji, tidak akan lama begini. Serius. Aku hanya ingin merasakan bagaimana kalau tampil trendi saat bersama yang lain.

“Sudah selesai. Makasih ya sudah percaya sama aku.”

Aku hanya memberi sepulas senyum saat pemilik salon memberitahu perawatan sudah selesai. Segera pamit pulang, karena harus segera ke kabupaten bertemu dua teman lain. Malamnya, kami berangkat naik kereta ke Jakarta. Ada pertandingan karate tingkat nasional di sana. Aku ikut bertanding, sekaligus jadi Manajer tim. Maklum, semua orang sibuk bekerja, dan aku yang dianggap bisa meninggalkan kesibukan untuk mengikuti event tersebut.

***

Hotel ini terletak di lokasi yang sangat ramai. Kendaraan-kendaraan besar dari Tanjung Priuk juga melintasi jalan di depannya. Kata temanku, ini hotel baru. Kami beruntung bisa menginap di sini. Entahlah, aku merasa biasa saja.

“Di sini kita bareng atlet Gorontalo, Palembang, dan entah mana lagi.”

Aku mendengar cerita Ita—temanku—sambil mengusapkan Counterpain ke betis.

“Oh ya?”

“Iya, Mbak. Ada yang wajahnya bersih banget. Bibirnya merah, seperti pakai lipstik.”

“Cowok?”

“Ya iyalah. Ngapain juga aku ngomongin sesama cewek.”

Aku tertawa dan Ita melempar hand protector, tapi tangan kiriku sempat menangkapnya.

Ita juga ikut tertawa, tapi, dia mendadak diam. Ada yang aneh. Aku berdiri dan mendekatinya. Kedua alis dan matanya memberi isyarat ada sesuatu.

“Pintu masuk.”

Dia memberitahu hal yang kurang jelas, tapi aku langsung membalikkan badan. Melihat ke arah yang dimaksud Ita. Ternyata ada cowok tinggi berkulit … eh, jangan-jangan ini?

Cowok itu terlihat gugup saat aku melihat ke arahnya. Dia memberi hormat, kemudian menuju ke selatan. Berbelok ke kiri, dan tubuhnya tidak terlihat lagi.

“Itu tadi orangnya, Mbak.”

“Lumayan.”

“Ih. Ya ganteng banget, Mbaaak …. Bukan Cuma lumayan.”

“Udah, ah! Kita turun, yo! Pemanasan sebentar.”

Bibir Ita mencucu. Dia masih ingin membahas cowok tadi, tapi aku kurang tertarik. Mau tidak mau, dia harus mau pemanasan.

***

Aku mendongak, menarik napas dan mengeluarkannya lewat mulut. Sebelumnya, kugembungkan kedua pipi. Di depanku, ada Manajer tim dari Palembang, dia baru saja mengatakan hal yang mengejutkan. Hal yang membuat hangat kedua pipi, dan juga menambah debaran jantung.

“Aqwam belum pernah pacaran, meski banyak gadis yang menyukainya. Dia jatuh hati padamu, sejak pertama melihat.”

Kenapa dia tidak bilang sendiri?

“Dia akan menemuimu, nanti.”

Manajer tim dari Palembang memberi hormat, menepuk pundakku, dan izin pergi. Aku bergeming. Embusan angin membuat rambut berkibar-kibar.

Suara salam terdengar pelan. Ini pertama kalinya aku mendengar salamnya orang Islam di waktu pertandingan. Biasanya, kami sebatas menyapa dengan ‘hei’atau ‘osh’.

Aku membalikkan badan. Kulihat cowok yang diceritakan Ita, berdiri tegak dengan sedikit gugup. Bibir ini gemetar menjawab salamnya. Mendadak seperti ada yang runtuh di dalam dada.

Dia mengatakan apa yang dirasa.

Menilaiku dengan penilaian hampir sempurna.

“Maafkan aku. Aku tidak sebaik yang kau pikir. Berharap, yang kau ucap menjadi doa baik. Kita berteman saja, ya?”

Dia menarik napas panjang. Jika ada istilah cinta lokasi, mungkin itu yang terjadi, tapi sungguh aku tidak berani menerimanya.

***

Setelah bertemu dengan Aqwam, aku banyak diam. Betapa kulihat debu dosa di diri ini sangat menebal. Aku ingin trendi dengan melepas jilbab, dan menurutnya aku sangat baik. Terlepas dari apakah itu gombal atau iseng. Aku merasa malu pada diri sendiri.

Inikah teguran?

Oleh: Kayla Mubara.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan