Ketika kita melakukan puasa wajib, yang kita harapkan tentu saja ridha dan barakah dari Allah. Tapi jika kita sudah capek-capek berpuasa, tapi puasa kita tidak diterima sama Allah, terus apa yang menyebabkannya?

Satu hari setelah selesai shalat Idul Fitri, para sahabat mendengar rasul mengucapkan aamiin sampai tiga kali. Semua sahabat pada heran dengan baginda Rasulullah Saw dan bertanya, “Wahai baginda kenapa engkau mengucap aamiin sampai tiga kali?”

Rasul menjawab, “Apakah kamu tidak tahu, tadi selesai shalat, turun malaikat Jibril kepadaku, lalu ia berkata, “Ya Muhammad, aku ingin berdoa kepada Allah apakah kamu mau mengaminkan? Aku menjawab, “Silakan.”

Berdoalah malaikat Jibril dan Rasulullah Saw mengaminkan. Logikanya apabila malaikat yang berdoa dan Rasulullah yang mengaminkan, apa iya doa itu meleset? Lalu apa isi doanya?

Tiga macam permohonan, maka dari itu Rasulullah Saw mengaminkan sebanyak tiga kali. Yang pertama, doa malaikat Jibril yaitu, aku berdoa kepadaMu jangan Engkau terima ibadah dan puasanya anak yang durhaka kepada bapak ibunya, dan Rasululllah mengucap aamiin.

Mungkin ini yang mendorong kita mudik lebaran untuk sungkem kepada ibu dan bapak. Bapak yang pergi pagi dan pulang malam peras keringat, banting tulang, kepanasan kehujanan hanya untuk mencari nafkan untuk membesarkan kita.

Ibu yang melahirkan kita dalam pilihan hidup dan mati. Sakit, pedih bagai ditarik kulit dari dagingnya, bersatu air mata, keringat dengan darah. Akan tetapi ketika anak sudah menginjak dewasa, sering kali bagaikan kacang lupa akan kulitnya, sehingga orang bilang, “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.”

Maka setelah selai dari shalat Idul Fitri, satu hal yang pertama kita lakukan ialah meminta maaf kepada ibu dan bapak. Biarlah anak itu berkedudukan tinggi, berwawasan luas, kalau sudah durhaka kepada ibu dan bapak, didoakan oleh Jibrill diaminkan oleh Rasulullah Saw agar puasa dan ibadahnya tidak diterima oleh Allah. Lantas mau apa anak seperti itu?

Tidak ada bahagia yang ditegakkan tanpa restu ibu bapak, dan kehancuran, kebinasaan dan kerusakan akan mudah terjadi dengan mendurhakai ibu bapak.

Yang kedua, aku berdoa kepadamu jangan engkau terima puasa dan ibadahnya istri yang durhaka kepada suami.

Perempuan mungkin bertanya, kalau suami yang durhaka kepada istri bagaimana? Masalahnya bukan kedurhakaan. Tapi masalahnya suami itu seorang pemimpin, wanita itu surga manut neraka katut. Seorang pemimpin yang nanti di akhiratnya akan dimintai pertanggungjawaban atas rumah tangganya, bukan istri tapi suami.

Istri diminta taat kepada suaminya apa pun keadaannya, kecuali kalau untuk mendurhakai Allah itu yang tidak wajib taat. Tapi diluar itu kewajiban taat itu berjalan, maka istri setelah turun shalat Idul Fitri bersimpuhlah minta maaf kepada suami.

Bahwa dalam berrumah tangga kita mempunyai kekhilafan, kesalahan, tapi itulah rumah tangga dan di situlah Qur’an berpesan, “Suami istri itu bagaikan pakaian.”

Kalau pakaian yang pertama harus jadi kebanggaan, saya bangga pakai peci, pakai batik. Yang wanita, saya bangga pakai gamis. Suami adalah kebanggaan istrinya, istri adalah kebanggan suaminya. Bagaimanapun suamimu itu tetap arjunamu. Bagaimanapun istri kita itulah srikandi kita.

Fungsi pakaian itu menutup aurat. Kalau suami istri bagaikan pakaian, maka mereka harus saling menutupi kekurangan masing-masing. Bukan hanya istri, suami pun sering mempunyai kekhilafan, maka salinglah memaafkan dan menutupi kekurangan masing-masing.

Yang ketiga, saya berdoa kepadaMu, jangan Engkau terima puasa dan ibadahnya muslim yang tidak mau memaafkan sesama muslim.

Memaafkan memang lebih berat dari meminta maaf, tapi memberi maaf lebih mulia daripada meminta maaf. Namun kalau dua orang muslim bertemu yang terbaik yang lebih dahulu memberi salam dan yang terbaik yang lebih dulu memberi maaf.

Dengan ibadah di bulan Ramadhan, kita berharap hubungan kita baik dengan Allah. Dengan Idul Fitri, kita selalu silaturahmi, saling bermaaf-maafan, halal bihalal.

Ini Bahasa Arab yang di Arab sendiri tidak dipakai “Hallalun bil halallin” tidak ada orang Arab mempunyai tradisi ini. Ini Bahasa Arab yang di-Indonesiakan. Halal dengan halal, maksudnya apa? Kemarin kamu saya pukul, itu haram, tolong dihalalkan dan tolong dimaafkan.

Apa target kita dari sini? Memperbaiki hablum minallah sudah dengan puasa Ramadhan dan akan kita tumbuh kembangkan terus dengan silaturahmi. Kita berharap memperbaiki hablum minannas, hubungan antar sesama manusia. Sengaja atau tidak, terpaksa atau terbiasa, kecil atau besar masing-masing dari kita pasti memiliki kesalahan.

Jika tidak kepada Allah pasti kepada manusia. Orang-orang sufi mengajarkan, “Laa sagha’ir ma’al istimror wa laa qhaba’ir ma’al istighfar.” Tidak ada dosa kecil kalau ditumpuk terus menerus, tidak ada dosa besar kalau digempur oleh istighfar.

Sebesar apa pun dosa itu kalau kita gempur dengan istighfar pasti luluh juga, sekecil apa pun dosa, kalau kita tumpuk tiap hari besar juga lama-lama. Inilah saatnya kita saling memaafkan di antara sesama kita, agar baik hubungan kita kepada Allah dan baik juga hubungan kita kepada sesama manusia.

Ibadah kita tidak rusak dan kita tidak termasuk dalam orang yang bangkrut di akhirat kelak. Karena apa? Karena kita pandai dalam menjaga dua silaturahmi ini, hablum minallah dan hablum minnanas.

Bahkan Rasulullah Saw sendiri mengajarkan kita mencari nillai tambahan, “Bersilaturahmi engkau kepada orang yang marah kepadamu sekalipun.”

Orang yang marah dengan kita, kita datangi untuk niat menjalankan silaturahmi, itulah nilai tambah. Kalau baik dengan yang baik kan biasa saja, kan juga memang harus begitu. Silaturahmi kepada orang yang marah denganmu, berikan sesuatu kepada orang yang batil denganmu, itu nilai tambah.

Maafkan orang yang berlaku dzalim kepadamu. Memaafkan memang lebih berat ketimbang meminta maaf. Sesuai yang saya bahas di atas tadi, tapi memberi maaf lebih mulia ketimbang meminta maaf. Sudah siapkah kita?

Oleh: Tim Trenlis.co.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: