Di kepalamu sedang begitu banyak hal rumit yang tumpang tindih. Logika sebab-akibat juga pertanyaan akan arti sebuah persahabatan. Sebegitu teganya seorang teman menyerobot hak beasiswamu.

Hak? Bukankah beasiswa itu milik siapa saja, asal dia memenuhi syarat? Kamu pun hanya bisa menelan kecewa. Iya, kecewa pada diri sendiri yang tidak bisa mempertahankan beasiswa karena nilaimu menurun.

“Kamu sudah lihat pengumuman beasiswa PPA (Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik)?”

“Belum,” jawabmu pelan saat teman satu kelas bertanya.

“Ntar kalau lihat, jangan kaget ya?”

Kamu heran, kenapa Si Teman bicara seperti itu.

“Aku nggak lolos ya?” tanyamu sedikit gusar. “Emang sih, IP-ku semester ini turun.”

“Lihat aja gih!”

“Di depan ruang Kajur (Kepala Jurusan)?”

“Yup! Di papan pengumuman yang biasanya.”

Kamu pun bergegas, bahkan sampai lupa mengucapkan salam pada teman yang beberapa menit lalu mengajakmu bicara.

Papan pengumuman itu tidak terlalu penuh. Hanya beberapa mahasiswa tampak sedang mencari informasi dengan membaca-baca tulisan yang tertempel di dindingnya. Yah, papan di depan kajur itu memberikan banyak informasi terkait jurusan. Dari info lowongan pekerjaan di area kampus, seleksi asisten dosen, perubahan jadwal PPL (Praktik Kerja Lapangan) bagi mahasiswa semester tujuh, juga pengumuman hasil seleksi beasiswa.

“Permisi,” ucapmu sembari menyibak beberapa orang yang sedang berdiri dan memperhatikan informasi yang tertempel.

Matamu memindai, mencari informasi dengan judul: Hasil Seleksi Beasiswa PPA. Aha! Sekilas kamu melihat, informasi itu ada di pojok kanan. Maka, kaki pun melangkah menuju tempat yang lebih dekat untuk melihat pengumuman agar lebih jelas.

“Permisi.” Lagi-lagi kamu mengucapkan kata itu sembari melewati beberapa orang yang ada di antara papan itu.

“Illa!” seru sebuah suara diiringi tepukan di bahu yang cukup membuatmu kaget.

Kamu pun menoleh dan mendapati seorang kawan telah berdiri di samping. Dia adalah teman sesama penerima beasiswa. Ratih namanya.

Akhirnya, bersama Ratih, kamu menyusuri satu persatu nama di daftar yang tertempel, nama sesuai NIM (Nomor Induk Mahasiswa). Selain mata, ternyata kamu juga menggunakan jemari untuk membantu menyusuri satu persatu daftar nama itu. NIM dengan awalan tahun angkatan yang bukan milikmu kamu lewati.

Hingga tiba pada NIM di tahun angkatanmu, jemari itu berhenti. Meneliti satu persatu nomor dan nama yang tertulis. Tiga kali jemari bagian telunjuk menelusur, tapi nihil. Nomormu tidak tercantum.

“Kamu nggak lolos?” tanya Ratih dengan nada prihatin.

“Iya,” jawabmu mencoba tegar. Padahal, hatimu sedang sangat cemas.

Selama ini, beasiswa itu telah banyak menopang kebutuhanmu. Lalu bagaimana jika tahun ini kamu tidak mendapatkannya? Apakah kamu bisa membayar uang semester tepat di saat daftar ulang?

Memang sejak awal harusnya kamu mengajukan beasiswa BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa) yang khusus diperuntukkan untuk mahasiswa yang kurang mampu. Bukan beasiswa PPA yang lebih fokus pada mahasiswa berprestasi.

Tapi, jumlah perolehan beasiswa dengan selisih nominal lumayan besar, menjadikanmu condong untuk memilih PPA. Rasa percaya dirimu kala itu sungguh-sungguh bermodal nekat.

Tidak ada yang tidak mungkin, pasti aku akan dapatkan beasiswa PPA jika tekun dan rajin belajar. Begitu pikirmu ketika itu.

Memang, dua semester di awal, semangat belajarmu luar biasa. Kamu selalu bangun dini hari dan membaca banyak diktat hingga subuh. Saat jam kosong, waktu luang menunggu dosen datang, atau ketika jadwal rapat organisasi yang kamu ikuti belum mulai, lagi-lagi kamu manfaatkannya untuk belajar. Sampai-sampai teman-teman satu kelas menjulukimu Kutu Buku.

Ternyata belajar dengan giat memang memberikan hasil yang sungguh luar biasa. IP bagus dan namamu mulai dikenal oleh para dosen sebagai mahasiswa aktivis yang cerdas. Tiga koma Delapan dan Tiga koma Sembilan, sangat memuaskan bagi mahasiswa yang juga aktif di organisasi.

Kamu pun mendapatkan beasiswa PPA dengan perolehan nominal yang lumayan besar. Bahkan jauh lebih besar dari pekerjaanmu di sebuah lembaga bimbingan belajar. Dengan uang beasiswa itu, kamu bisa membayar uang Kuliah tepat waktu, juga membiayai hidupmu di kota budaya.

“Illa, kamu hebat! Jarang ada mahasiswa aktivis, nyambi kerja, tapi punya IP yang keren!” puji Alang, ketua BEM.

Kamu kaget dan sedikit tersipu. Ternyata anggapan di awal bahwa Alang galak dan cuek tidak sepenuhnya benar.

***

 Bayar kos, bayar praktik komputer, dan yang pasti bayar uang semester. Duh, bagaimana aku bisa melunasi semua biaya itu?

Kamu berjalan dengan lesu. Di otakmu ada deretan angka dari semua kebutuhan. Satu persatu angka-angka itu berloncatan dan membuatmu semakin pusing.

Illa, kamu di mana?

Kamu baca sebuah pesan watshap yang tidak saja membuat HPmu bergetar, tapi jantungmu lebih berguncang.

Cih! sok banget nyariin, pasti dia mau menertawaiku karena gagal mendapat beasiswa.

Perasaan sedihmu berubah jadi amarah. Kamu ingat, salah satu nama penerima beasiswa adalah Adel. Padahal, di tahun sebelumnya ia tidak mengajukan, bahkan mengatakan bahwa beasiswa itu bukan untuknya, meskipun ia juga mahasiswa cerdas dengan IP sempurna, empat koma nol.

Adel adalah mahasiswi yang sempurna. Ia kaya, cantik, juga pandai. Sikapnya ramah dan tidak pilih-pilih teman. Karena hal itulah, kamu menjadi akrab. Apalagi, kamu dan Adel tergabung dalam organisasi yang sama, BEM Fakultas bidang kesenian.

Tentu saja, kegagalan ini bukan semata karena IP yang turun satu angka di belakang koma. Tapi lebih karena banyak mahasiswa kaya dan cerdas ikut-ikutan mendaftar. Begitu pikirmu menyalahkan orang lain.

Perjalanan kampus-kos yang menguras pikir dan menyempitkan hati itu akhirnya sampai juga. Sungguh, kamu ingin segera istirahat di dalam kamar, seorang diri. Kakimu telah berada tepat di depan pintu gerbang asrama putri ‘Salsabila’ tempatmu kos dengan beberapa teman.

Tapi, demi melihat motor matic warna biru kepunyaan Adel, semangatmu untuk segera sampai kos memudar. Pintu gerbang yang tidak terkunci itu hanya kamu pandangi dengan sorot mata tanpa semangat.

“Illa, buruan masuk!” Seseorang berteriak dari lantai dua. Oh, ternyata itu adalah Adel, sahabatmu yang sedang ingin kamu hindari.

Dengan malas, akhirnya kamu menyeret langkah untuk masuk dan perlahan membuka sepatu lalu menaiki anak tangga.

Sahabatmu itu telah menanti di lorong dengan wajah sumringah. Ia bahkan menyambut dan segera meraih tanganmu.

“Lama banget sih,” ujarnya dengan ceriwis. “Cepet-cepet ke sini, eh, kamunya malah belum nyampe!” tambahnya lagi sembari mengeratkan pegangan tanganmu dan mengayunkannya.

“Aku capek,” ujarmu jujur. Memang kamu sedang capek lahir-batin kan? Capek karena pikiran dan buruk sangkamu, juga capek karena berjalan menuju kos dengan jarak lima kilo meter sembari memanggul kesedihan.

Teman satu angkatanmu itu berhenti. Ia pandangi wajahmu dengan heran. “Kamu sakit? apa ada masalah?” tanyanya penuh perhatian.

Hatimu yang sedang marah sama sekali tak tersentuh dengan perhatian tulus Adel. Justru sikapnya, kamu nilai sok dan berlebihan.

“Aku mau istirahat,” ujarmu begitu sampai di depan pintu kamar. Kamu mengeluarkan kunci lalu masuk, kemudian menutup pintu tanpa salam.

Adel bengong di depan kamarmu, ia heran dan kaget. Kamu yang selama ini terkenal baik dan ramah mendadak mengacuhkannya. Sungguh sahabatmu, Si Kaya yang cantik itu terkejut. Hatinya sedih sekali.

Di dalam kamar, kamu membanting badan dan terisak. Terekam perkataan teman-teman beberapa waktu lalu, Adel suka sama Alang, tapi sepertinya Alang malah suka sama kamu.

***

Matahari nyurup (tenggelam), jendela kamarmu yang menghadap barat terkena sisa sinar keemasannya. Ah, sudah sore! Rupanya kamu tertidur lumayan lama.

“Illa,” panggil seorang teman dari luar.

“Iya.”

“Sudah sore, teman yang lain udah siap-siap mau ngampus!”

Kamu ingat, hari ini jadwal BEM On Air di radio kampus, membahas seputar wacana kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) dari sudut pandang mahasiswa. Alang sebagai nara sumber sudah berpesan agar semua anggota BEM bisa hadir dan menjadi supporter.

“Dan ini ada titipan,” ucap temanmu, masih dari luar pintu kamar.

Kamu pun bangkit, merapikan rambut dan menjangkau pintu kemudian membukanya perlahan.

“Dari Adel,” kata teman yang sedari tadi berbicara dari luar pintu. Ia pun menyodorkan plastik pink dengan amplop coklat yang terbungkus rapi dan kemudian pergi.

Kamu buka plastik itu, juga membuka amplop coklat tebal yang sepertinya sangat kamu kenal aromanya, khas aroma kertas yang keluar dari mesin ATM.

Illa, maaf nggak ngajak kamu diskusi dulu. Awalnya aku mau kasih surprise, tapi sepertinya kamu sedang tidak baik. Jadi, kutuliskan saja pesan ini.

Beberapa paragraf tulisan Adel kamu baca dengan cepat. Jantungmu seakan lepas, kamu pun tergugu.

Pahamlah kamu sekarang, apa alasan Adel yang notabene anak orang kaya tapi mendaftar beasiswa. Ternyata, ia ingin menyelamatkan hakmu. Ia tahu, teman-teman kayanya yang ber-IP empat mendaftar beasiswa dan itu akan menyulitkanmu untuk mendapatkan beasiswa di tahun ini.

Oleh: Sri Bandiyah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: