Awas, Cinta Bisa Berawal dari Rasa Benci Lho

“Ojo gething, engko ndak nyanding” ini pepatah Jawa kuno yang awalnya sangat tidak kupercaya, tapi nyatanya benar-benar terjadi dalam hidupku, dalam proses pencarian jodohku.  

Ya, menurutku, dia memang pantas kalau awalnya kubenci, karena dia memang sosok yang angkuh, sombong dan sangat menyebalkan. Entah mengapa imej itu sangat lekat buatku untuk menggambarkan sosok seorang Handoyo, sebelum aku mengenalnya.

Dia adalah teman satu kelas di jurusan dan fakultas yang sama denganku. Praktis kami bertemu tiap hari, walau tak saling bertegur sapa. Buatku, sosoknya yang angkuh dan sok tenang itu, membuatnya seperti manusia paling aneh dan menyebalkan di muka bumi ini. 

Pernah satu waktu, tidak sengaja kami saling berpapasan di koridor kampus, aku berusaha menyapanya dengan senyuman. Tapi apa yang kudapat, dia malah melengos, pura-pura tidak melihatku. Huhh … rasanya saat itu harga diriku sebagai wanita hancur dan terinjak-injak. 

Dan sejak saat itu pula, aku berjanji demi apapun, aku tak akan lagi menyapa laki-laki sombong itu dan tersenyum padanya. Tidak sama sekali!

Akhirnya dia menjadi satu-satunya teman laki-laki seangkatanku yang tidak pernah mengobrol sepatah kata pun denganku diantara 40-an teman laki-laki yang lain.    

***

“Eh, bukan gitu, salah, fenotip itu adalah sifat makhluk hidup dan genotip itu yang menentukan fenotip.”

Aku sedikit tersentak kaget mendengar penjelasan Handoyo yang diarahkan padaku, walau sebenarnya aku tidak sedang menunggu penjelasannya, karena aku sedang berdiskusi dengan temanku yang lain.  

Aku memilih diam dan tidak menanggapi sedikit pun penjelasannya yang tanpa basa-basi itu. Entahlah, rasanya masih sakit hati, kalau ingat waktu dicuekin olehnya. Aku ingin dia juga merasakan sakit hati yang sama. 

Bukan bermaksud balas dendam, tapi hanya untuk memberinya pelajaran, bahwa dicueki itu sakit. Hahsatu sama. Begitu gumamku dalam hati, dengan perasaan menang.  Kulihat sekilas dia tampak menunduk. Entah kesal atau malu.  Aku tidak peduli.

Sore itu, aku, Handoyo dan beberapa orang teman kami memang menjadi kelompok asisten mata kuliah yang bertugas mendampingi adik kelas melaksanakan praktikum di laboratorium kampus. Aku juga tidak menyangka bisa jadi satu kelompok asisten bareng dia.

Handoyo termasuk mahasiswa pintar yang meraih beasiswa tiap tahun karena prestasinya. Hampir tiap semester IP-nya cumlaude. Jadi tak heran jika di beberapa mata kuliah dia diterima sebagai asisten pendamping praktikum. Beda denganku yang hanya satu atau dua mata kuliah saja. 

Tapi entah mengapa, itu juga tidak membuatku jadi simpati padanya sedikit pun. Pernah saat ia menjadi asisten dan harus menguji adik kelas dengan tes lisan, aku sempat tak sengaja melihatnya sedang memberi pertanyaan-pertanyaan yang sulit pada si adik kelas. 

Aku pikir, dia tidak punya hati, memberi pertanyaan seperti proses interogasi polisi terhadap kaum kriminal saja.  Sampai-sampai adik kelas itu hampir menangis karena tidak bisa menjawabnya. Dan itu sekali lagi membuatku makin muak dan makin membencinya.

***

Boleh percaya atau tidak, sejak SMA aku memang sudah mengkhayalkan sosok jodoh yang kuinginkan hadir mendampingiku. Seorang pria tampan yang lembut, ramah, setia, penuh perhatian dan tanggung jawab. Sosok yang ideal banget buat remaja 15 tahun seperti aku. 

Aku tidak pernah mempunyai cita-cita untuk gonta-ganti pacar seperti teman-temanku. Saat itu, entah saking polosnya atau memang karena saking nggak ngeh urusan memilih jodoh dan berumah tangga yang sebenarnya, aku tidak punya bayangan mencari jodoh yang kaya dan mapan. 

Bahkan justru berpikir sebaliknya. Aku ingin hidup dari nol dengan suamiku tanpa mengemis pada siapa pun.  Haahaa … beda banget dengan remaja zaman now yang jodohnya sudah tertarget sebelumnya.

“Wuk, mbok Ibu ki dikenalke karo pacarmu, nek pancen wes duwe konco cedak, mbok yo dijak dolan kene, kowe ki wes SMA lho, biyen Ibu ki pas SMA wes okeh banget sing nyedaki,”

“Nggih Buk, tapi kulo dereng gadah pacar.”

Itulah percakapan rutinku dengan ibu yang seolah khawatir, kalau anak gadisnya ini tidak laku-laku. 

Maklum saja, aku dikenal sebagai gadis yang pendiam dan pemalu, jarang gaul apalagi ngobrol dan dekat dengan laki-laki. Kehidupanku bisa dikatakan sangat monoton, lurus-lurus saja.

Pulang sekolah, langsung pulang, nggak sempet mampir ngemall atau nongkrong di rumah temen dengan alasan kerja kelompok seperti teman-temanku. Sampai di rumah, setelah makan dan sholat, sorenya langsung ikut les tambahan atau ikut ekskul. Malamnya ya belajar.

Waktu itu memang aku merasa seperti cuma aku saja yang belum punya pacar karena jujur teman-teman wanitaku rata-rata sudah punya pacar. Punya pacar kala itu bagai sebuah prestasi yang membanggakan bagi seorang remaja. Tidak punya pacar sama dengan tidak gaul dan tidak laku alias kuper. Tapi belakangan setelah aku bersuami, justru aku bersyukur Allah menjadikanku sosok seperti itu.

Menjelang kelulusan aku makin gelisah. Kali ini ibu kembali memasang target padaku. Kekhawatiran ibu tentang aku yang masih belum juga punya pacar, mau tidak mau mempengaruhi pikiranku juga. 

“Kamu ini udah mau kuliah lho Wuk, ayo to, gek ndang cari pacar.”

Aku diam mendengar ibu mulai lagi mendorong untuk punya pacar. Padahal dalam hati aku sedih, apa iya ya aku ini nggak laku, kok ibu sampai bilang seperti itu terus. 

Apa ibu tidak tahu ya, kalau anaknya ini hanya ingin mencari calon suami. Tidak mau dekat dengan banyak laki-laki yang belum tentu punya niat baik dan serius menjalin hubungan. 

Lagian kan aku ini masih 17 tahun. Aku ingin protes pada ibu, tapi tidak bisa, aku takut ibu marah kalau aku membantahnya. Jadi aku memilih diam dan mendengarkan ceramahnya.

***

Akhirnya aku diterima di universitas negeri di kota ini, di fakultas yang sama sekali bukan menjadi pilihanku. Iya bukan pilihanku, tapi pilihan bapak. Lagi-lagi demi tidak menyusahkan orang tua, aku manut, nrimo dengan takdir Allah. 

Aku yakin ada hikmah di balik semua takdir yang tidak kusukai itu. Siapa tahu aku bertemu jodohku di sini. Siapa tahu fakultas yang tidak kusukai ini akan mempertemukanku pada jodohku. Aku sungguh tidak sabar, jika memang di sinilah aku akan bertemu dengan pangeranku itu.

Bayangkan, remaja umur 17 tahun sudah berpikir kapan bertemu jodohnya. Tentu saja ini tak lain dan tak bukan karena dorongan dari ibu yang terus-terusan menanyakan siapa pacarku, siapa pacarku? Ya, otomatis aku ingin membuktikan bahwa aku juga bisa punya pacar. 

***

Menjelang tahap akhir kuliah, harapanku untuk bertemu jodoh di fakultas ini masih saja belum menemui jawabannya.  Beberapa teman laki-laki dan kakak kelas pernah mencoba mendekati, bahkan menyatakan perasaannya. Tapi aku bergeming, karena diantara mereka tak satupun yang bisa membuatku yakin bahwa mereka benar-benar serius. Dan saat itu, ibu masih saja terus dengan kekhawatirannya.

“Han, kamu jadi ambil parameter apa untuk penelitian kelompok kita?”

“Nisbah daging dan tulang aja.”

“Itu maksudnya apa?”

“Ya, ntar aku ambil datanya setelah daging dan tulang karkas kita pisahin, nanti aku ukur berapa perbandingannya dari masing-masing perlakuan.”

“Oh, gitu.”

Haaa … akhirnya terjadi juga peristiwa penting yang melunturkan gengsi dan janjiku untuk tidak mengajak ngobrol si pria aneh nan angkuh itu.

Ya, itu adalah obrolan pertamaku dengan Handoyo, selama 6 semester satu kelas dengannya. Walau sebenarnya aku terpaksa banget membuka percakapan. Ya karena nggak enak saja sih sebenarnya, masa sudah satu kelompok penelitian, masih saja gengsi untuk ngajakin ngobrol. 

Ntar gimana dengan nasib penelitianku, skripsiku, kan aku butuh bantuan dia juga nantinya untuk mengumpulkan dan mengolah data.

 Eh, tapi baru saja aku melihat sosok yang berbeda saat sorot mata tajamnya menatapku, walau sekilas saja, namun sanggup membuatku terkesima sesaat oleh penjelasannya yang cerdas itu. Ah, jangan-jangan aku sudah mulai suka sama sosok angkuh itu. Tidak mungkin. 

Dia bukan tipeku sama sekali. Lagian kenapa juga aku mau sekelompok penelitian akhir bareng dia. Tapi kalau tidak sekelompok sama dia, musti sama siapa lagi. Ini satu-satunya kelompok penelitian yang pembimbingnya paling baik, penelitiannya juga mudah. Kalau aku tidak ambil, lalu mau lulus kapan. Perasaanku bergejolak bertarung melawan gengsi.

Ya sudahlah, akhirnya hari-hari dalam masa penelitian kulewati bersama Handoyo dan 5 orang temanku. Awalnya memang komunikasi kami kaku, sangat kaku. Dan entah mengapa itu hanya antara aku dan dia. Yang aku lihat di depanku, Handoyo bisa akrab dengan kedua orang teman wanita yang juga sekelompok dengan kami. Aneh.

***

“Halo, assalammu’alaikum, bisa bicara dengan Nana?”

“Iya, saya sendiri, ini siapa ya?”

“Na, ini aku Handoyo, kamu lagi sakit ya, tadi pagi Rima bilang kamu sakit.”

“Ehh … Han … emmm … iyaaa … anuuu … nggak apa kok.”

Aku kaget setengah mati, ketika tiba-tiba saja laki-laki sombong itu menelponku, hanya untuk menanyakan keadaanku, yang hari ini terpaksa tidak masuk karena sedang flu berat. Aku masih tidak percaya. Jantungku berdegup, berkejaran mencari muaranya. 

Apa yang sedang terjadi padaku Ya Allah. Kenapa aku jadi gugup begini dan kenapa pula laki-laki aneh itu begitu perhatian padaku. Jangankan menelepon, senyum sedikit saja padaku tak pernah dilakukannya. Jangan-jangan dia …

“Na, kamu sakit apa?” suaranya memecahkan rasa geerku.

“Nggak kok Han, ehh, cuma flu aja kok.”

“Tadi banyak lho yang nanyain kamu.”

“Haa, masa, emang siapa Han yang nanyain aku?”

‘Itu, ayam-ayam kita di kandang … Hahahaaaa ….”

Dia tergelak mentertawaiku yang berhasil dikerjainya dan segera menutup telepon pertamanya dengan ucapan yang manis banget, mendoakan agar aku cepet sembuh dan bisa masuk lagi. 

Aku masih belum percaya dengan telepon Handoyo malam itu. Sosok yang selama ini kukenal sangat angkuh dan cuek padaku, nyatanya, baru sehari saja aku tidak masuk, dia sudah begitu perhatian sampai-sampai aku jadi begitu tersanjung seperti ini. 

Tersanjung? Iya, aku harus jujur, kalau aku sangat bahagia menerima perhatian kecil Handoyo malam itu. Aku ingin berusaha menolak bahagia itu, tapi aku tak bisa.

Sejak itu, hubunganku dengan Handoyo seperti berjalan sendiri dengan indahnya. Komunikasi kami mulai cair. Hanya dalam sebulan kami bersama di penelitian itu, kami jadi makin dekat dan mengenal satu sama lain. 

Dia beda sekali dengan gambaran sifat sehari-harinya, sebelum aku mengenalnya. Dan belakangan baru aku tahu, bahwa kehidupannya sangat sederhana. Dia hanya tinggal bersama ibunya. Ayahnya sudah tiada sejak dia SMA.

Fokusnya selama ini hanya untuk kuliah, karena janji pada kakaknya untuk kuliah dengan sungguh-sungguh. Tidak ada kata pacaran dalam kamusnya. Dia hanya mencari calon istri. 

Wow, ini benar-benar seperti jawaban dari pencarian jodohku selama ini. Rasa benci padanya yang selama ini terpendam lama, mendadak menemui titik kehancurannya.

Aku luluh dan sekarang sangat kagum luar biasa padanya.  Duh, rupanya ini yang dimaksud bahwa batas antara benci dan cinta itu hampir tidak ada. 

“Na, aku benar-benar ingin menjalin hubungan serius denganmu, kamu mau kan jadi istriku?”

Ya Robb, dia melamarku dan aku tidak menyangka aku berada dalam posisi sebahagia ini. Tatapan tajamnya menunggu jawabanku dengan penuh kecemasan. Tanpa pikir panjang lagi aku langsung menyambutnya dengan anggukan dan senyuman.

Tidak sedikit pun dalam dirinya ada yang membuatku ragu dan tidak mempercayainya. Berbeda sangat berbeda dengan laki-laki lain yang pernah berusaha dekat denganku yang rata-rata hanya ingin bermain-main saja.

Aku terharu karena akhirnya aku punya jawaban untuk ibu kali ini. Akhirnya aku bisa menghapuskan kekhawatiran ibu tentang jodohku. Dan akhirnya penantianku menemukan ujungnya pada orang yang selama ini aku benci. 

Jadi, jangan pernah membenci seseorang sebelum kita mengenalnya dengan baik, karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi orang yang paling kita cintai, meskipun kita tidak bisa menghindari rasa benci yang memang awalnya hadir begitu saja tanpa rekayasa.

Oleh: Nailuss Sa’adah.

Tinggalkan Balasan